Feb 18 2018

Taman Safari Bogor

Ini baru pertama kalinya saya ke Taman Safari Bogor, begitu juga dengan Fazna. Udik? Iya… Hihihi.. Habis, tiap pulang ke Kertosono, kami menyempatkan main ke Malang, yang tentu saja hewan-hewannya pun tak kalah banyak, jadinya kami pun ga kepikiran mau ke Taman Safari Bogor, hihihi. Tapi berhubung dua minggu yang lalu kami punya kesempatan ke Bogor, ya sudahlah, sekalian, biar ga udik-udik banget, hehehe.

Continue reading


Jan 31 2018

Taman Tirtoyoso Kediri

Nahhh.. Baru kali ini saya ke Taman Tirtoyoso Kediri, tidak untuk berenang, tapi benar-benar ke tamannya, hehe. Sebelumnya, Taman Tirtoyoso ini terkenal dengan kolam renangnya. Dulu zaman saya masih SMA, kolam renangnya cuma ada dua, yang besar dan yang kecil. Sekarang, dalamnya sudah direnovasi besar-besaran, terutama bagian kolam renang anak-anak. Jadi seperti mini waterpark-lah.. cukup kalau bikin Fazna senang, hehe. Tapi kali ini kami tidak masuk kolam renangnya, karena kami main di tamannya. Di tamannya ada apa saja ya?

Ada taman kelincinya! Meskipun di sekolah Fazna ada kelincinya juga, tapi dia happy banget bisa pegang, gendong, dan kejar kelinci sepuasnya. Seingat saya, masuk taman kelinci ini ga bayar deh, cuma bayar parkir doang. Sebaiknya, kesininya bawa makanan kelinci ya, biar kelinci-kelincinya mau semakin dekat dengan kita.

Continue reading


Jan 23 2018

Libur Sekolah

Pertengahan Desember lalu Fazna libur sekolah. Ga tanggung-tanggung liburnya, hampir tiga minggu! Hehehe.. Alhamdulillah jadi bisa mudik ke Kertosono. Baru mendarat di Surabaya kami langsung ke Grand City. Karena musim liburan, biasanya di mal-mal banyak sekali permainan-permainan musiman, seperti dibawah ini. Berawal dari lihat insta-story-nya teman, saya jadi tahu kalau di mal tersebut sedang ada arena bermain salju. Langsung ke TKP deh!

Nah, si Fazna ini terobsesi banget dengan salju-saljuan gara-gara film Frozen, hehehe. Meskipun sekarang favoritnya berubah dari Frozen ke My Little Pony, tapi dia tetap excited dengan salju-saljuan itu. Beruntung pas pulang (dan transit dirumah Surabaya) kemarin pas ada arena bermain salju.


Continue reading


Jan 21 2018

Kenangan

Hallo semua.. Tumben nih saya bisa nulis malem-malem, hehe.. Dikarenakan suami lagi lembur di kantor, Fazna juga sudah tidur, gara-gara td siang ga mau tidur siang, jadi saya bisa me time sekarang, mumpung hari Sabtu sih, jadi saya ngebolehin Fazna untuk ga tidur siang.

Btw, sebenarnya saya ga ingin menulis apa pun tentang dia, sekarang, lusa atau kapan pun. Tapi ga tau, rasanya ada yang mengganjal gitu, datangnya timbul tenggelam. Padahal sudah cerita ke suami, ke sahabat deket, relaksasi (sendiri), tapi tetep berasa ada luka yang menganga. Mungkin saya terlalu melekat dengannya, mungkin saya terlalu ketergantungan dengannya, atau mungkin saya yang terlalu melankolis alias lebay. Tiap mengingat dia atau ngomongin dia, saya selalu nangis, ga bisa ga. Pura-pura kuat, ujung-ujungnya juga nangis (seperti saat ini).  Continue reading


Nov 29 2017

Panen Rambutan

Seperti di Kertosono, rumah Cinere tempat Fazna tinggal pun punya pohon rambutan. Bedanya, kalau pohon rambutan di Kertosono sekarang mati gara-gara salah takar pupuk oleh kakak saya (hahaha.. ngaku Mas Dop!), sedangkan di Cinere, selalu berbuah lebat ketika musim rambutan tiba. Dulu waktu saya masih SD (di Kertosono), ketika musim rambutan atau musim mangga tiba, saya selalu mengajak teman-teman saya main kerumah saya (yang pernah saya ajak naik genting mana suaranya? Hihihi). Naik talang air, manjat pohon, atau nangkring di genting rumah (iya.. genting rumah yang sudut kemiringannya 45 derajat.. hehe) sembari makan buah hasil petikan sendiri itu rasanya nikmat banget. Hmmm.. Ga tau ya kenapa dulu saya ga pernah dilarang oleh orang tua. Mungkin mereka ga sadar, anak-anak beserta teman-temannya ini melakukan hal yang mengkhawatirkan atau bahkan mereka terlalu capek memperingatkan, hahha.. beti, beda tipis! Sekarang kalau lihat genting rumah sendiri selalu mbatin, dulu kok berani ya.. hahaha..

Nah, karena saya mengalami bagaimana nikmatnya sensasi metik buah dari pohon dan bisa langsung dimakan, akhirnya saya mengundang teman-teman Fazna (beserta ibunya) untuk memanen buah rambutan di rumah Cinere. Alhamdulillah.. Akhirnya ada yang mbantuin ngehabisin rambutan itu.. Hehehe.. Lha buahnya buanyak dan ga mungkin juga saya habisin sekeluarga sendiri. Udah dikasih-kasihin tetep aja masih banyak buahnya! Bahkan ada yang sampai busuk di pohon gara-gara ga ada yang bisa ngambil. Duh.. sayang kan.. Mubazir!

Tapi alhamdulillah.. Ketika open house kemarin (begitu ibu-ibunya bilang) bukan teman-teman Fazna aja yang seneng, Fazna pun juga seneng banget teman-temannya main kerumahnya. Maklum, Fazna ga tinggal di kompleks yang banyak anak, jadi kehidupan sosialnya memang kurang ideal. Jadi ketika tahu teman-temannya mau main kerumahnya, dia happy banget! Alhamdulillahhh..

Kebetulan pohon rambutan di Cinere pendek-pendek, jadi anak kecil pun bisa menggapainya. Tapi meski begitu, ibu-ibunya tetep mbantuin kok.. buat dibawa pulang, hihihi.. Continue reading


Nov 20 2017

ARAS Festival

Awal Nopember lalu, sekolah Fazna lagi sibuk-sibuknya. Nama acaranya adalah ARAS (Ar-Rida Al Salam) Festival, yang menandai miladnya ARAS juga. Semua sibuk, dari muridnya (playgroup hingga SMP), wali kelasnya, wali muridnya, satpamnya (karena mbantuin bawa barang, wkwkkw) sibuk semua! Nah.. Ini adalah hal baru bagi saya dan Fazna (karena dulu playgroupnya ga disini). Kebetulan di awal ajaran kemarin saya ditunjuk sebagai Korlas (koordinator kelas) yang bertugas untuk menjembatani wali murid dengan wali kelas. Hmmmm.. Saya ga keberatan sih karena saya cuma ibu rumah tangga yang suka ngeblog dan nyambi bisnis online, hehehe. Tapi kalau tahun depan ditunjuk lagi, lebih baik saya menyilakan ibu-ibu yang lain, hihihi.

Setiap tahun, ARAS punya tema untuk masing-masing kelas. Tahun lalu, temanya adalah negara. Jadi setiap kelas menampilkan ciri khas negaranya, baik makanan ketika market day (yang terbuka untuk umum), dekorasi kelas, hingga pemilihan kostum sesuai dengan tema. Sedangkan tahun ini, untuk playgroup dan TK, temanya adalah musim (autumn, winter, summer, spring, rainy). Untuk SD dan SMP, temanya provinsi di Indonesia (dari Sabang hingga Merauke). Fazna dan teman-teman sekelasnya dapat musim spring. Duh agak PR juga dapat musim semi yang penuh bunga-bunga, hihihi. Hampir seminggu 2x menjelang ARAS Festival, wali murid dan wali kelas berjibaku menghias kelas agar secantik mungkin, karena keindahan kelas dilombakan lho! Kalau menang dapat uang yang kembali untuk anak-anak juga.

Saya merasa amazing lihat semangat ibu-ibu wali kelas yang totalitas banget menghias kelasnya. Saya ga ngira kalau mereka niat-niat banget dekornya, wkwkwk. Jadi nyesel kenapa kemarin males-malesan.. Huhuhu.. Yuk lihat dekor-dekor ARAS Festival yuk!

   Hasil Dekor Kelas Spring Continue reading


Oct 13 2017

Teman Main Kirana

Entah kenapa, tulisan yang berbau parenting di zaman sekarang sangat laku sekali. Entah karena pendidikan zaman ortu kita yang kurang benar, atau publik mulai kehilangan panutan untuk mendidik anak, atau memang semakin derasnya informasi yang masuk untuk ibu-ibu baru tanpa filter kebenaran yang hakiki (halah). Menjadi orang tua memang ga ada sekolahnya. Kita sebagai orang tua dituntut untuk learning by doing. Nah begitu pun dengan saya. Saya pun tak luput dari “harus” membaca tulisan-tulisan tersebut untuk mendidik anak saya yang menurut saya paling tepat. Saya lebih suka membaca buku tentang parenting langsung daripada ndengerin “katanya-katanya”. Seperti tulisan Teh Kiki dengan homeschooling yang diusungnya, Ayah Edi yang sangat pengertian dengan anak dominan otak kanan, (ada satu lagi yang saya lupa namanya gara-gara bukunya di lemari bawah, wekekeke) mengajarkan bagaimana mental wirausaha sedari kecil. Semua tulisan-tulisan itu baik jika sesuai dengan kondisi orang tua dan anak.

Continue reading


Aug 14 2017

Anak Sekolahan!

Yeay! Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba! Hari pertama sekolah! Fazna semangat banget bangun pagi bareng Papa, sarapan, mandi, dan dianterin emaknya. Mungkin karena sebelumnya dia belum pernah sekolah, jadi berasa excited karena bakal ketemu teman-teman sebayanya. Meski dia termasuk anak yang gampang bergaul, tapi Fazna suka sebel kalo ketemu anak yang karakternya superior. Dia lebih cocok bergaul dengan anak yang suka mengalah. Nah.. Kekhawatiran emaknya nih, takutnya ntar Fazna sekelas dengan anak-anak yang berkarakter superior itu, bukannya malah belajar, ntar yang ada jadi berantem di kelas.

Fazna Selalu Bahagia Kalau ke Sekolah

Continue reading


Jun 7 2017

Review Melodi Damarabika

“Mungkin memang bukan pacaran, tapi kalau sudah dewasa kan tidak perlu menyebut kata cinta untuk tahu itu cinta. Hanya dengan terus bersama, dan tidak mau lepas dengannya, itu sudah bisa dibilang ada rasa. Dan kalau dia pun merasakan hal yang sama, itu bisa dibilang sebuah hubungan.” (Hal. 182)

Cinta memang tak bisa memilih. Tak juga bisa untuk dikendalikan. Dia hanya perlu untuk disadari. Begitu juga dengan cinta Rara dan Tyo. Dua orang dengan dua kepribadian justru bisa bersatu karena perbedaan itu saling melengkapi kelebihan mereka. Rara adalah wanita yang cerdas, yang bersahabat dengan buku tapi tak pintar bergaul, sedangkan Tyo adalah lelaki yang suka bermain musik, pintar bergaul, dan agak alergi dengan buku.

“Tak perlu terlalu memahami, kami hanya perlu ada untuk satu sama lain, meski dalam hening.” (Hal. 93).

Dua insan ini dulunya satu almamater ketika masih SMA. Menurut hemat saya sih, sebenarnya, dua orang ini sudah punya “rasa” sedari SMA, tapi mereka masih belum yakin atau malah mengabaikan rasa itu. Ibu-ibu mereka bersahabat baik, hingga Rara dan Tyo sudah merasa seperti saudaranya sendiri. Tapi kejadian di malam Prom Night menjadikan hubungan mereka retak. Ya, Tyo sebenarnya bermaksud melindungi Rara dari kejahilan teman-temannya, tapi maksud dan cara yang dilakukan Tyo salah menurut Rara. Rara mengganggap “penyelamatan” itu sebagai pengkhianatan atas persahabatan yang telah mereka jalin. Dan parahnya, “penyelamatan” itu dilakukan ketika Tyo dalam keadaan mabuk, jadi Tyo tak merasa itu tindakan yang fatal bagi hubungan mereka.

Tyo tetap tak menyadari bahwa Rara masih marah dengannya, hingga beberapa tahun kemudian akhirnya mereka bertemu kembali disaat Tyo sudah menjadi artis kelas dunia karena kelihaiannya dalam menciptakan lagu, bermain musik, dan tentu saja karena ketampanannya. Dia “bersembunyi” dari dunia keartisannya di dekat rumah Rara, di Jogja. Dan di situlah akhirnya mereka menjalin persahabatan lagi hingga berbuah cinta.

“Karena Ra, tanpa teman, puncak gunung sekali pun hanyalah tempat yang sepi. Dan Tyo sepertinya sedang berada di sana sendirian. Tanpa keluarga dan tanpa sahabat. Mungkin karena itu dia sembunyi dari dunia. Dan dia temukan lagi hangatnya keluarga melalui kita. Kalau semua memang sempurna dalam hidupnya, trus kenapa dia ada di sini hari ini? Mesti ono sing kurang.” (Hal. 104).

Continue reading


May 23 2017

Review Lelaki Harimau

Buku ini tipis, tapi berbobot. Cuma butuh satu pertanyaan, mengapa Anwar Sadat dibunuh Margio, untuk akhirnya Eka Kurniawan sebagai penulis, memberikan pengalaman pembacaan yang sangat apik bagi saya. Seperti novel Eka Kurniawan lainnya, alurnya yang maju mundur ga bikin bingung, malah bikin ketagihan.

Di dalam novel ini, ada poin yang bisa diambil, yaitu tentang KDRT. Anak yang tumbuh dengan hardikan dan pukulan setiap hari (yang dilakukan oleh bapaknya), sangat mempengaruhi kejiwaan (istri dan) anak-anaknya. Margio dan Mameh, adiknya, adalah anak-anak yang tumbuh dengan tidak kebahagiaan ini, bisa dikatakan mereka adalah korban.

Continue reading