Oct 13 2017

Teman Main Kirana

Entah kenapa, tulisan yang berbau parenting di zaman sekarang sangat laku sekali. Entah karena pendidikan zaman ortu kita yang kurang benar, atau publik mulai kehilangan panutan untuk mendidik anak, atau memang semakin derasnya informasi yang masuk untuk ibu-ibu baru tanpa filter kebenaran yang hakiki (halah). Menjadi orang tua memang ga ada sekolahnya. Kita sebagai orang tua dituntut untuk learning by doing. Nah begitu pun dengan saya. Saya pun tak luput dari “harus” membaca tulisan-tulisan tersebut untuk mendidik anak saya yang menurut saya paling tepat. Saya lebih suka membaca buku tentang parenting langsung daripada ndengerin “katanya-katanya”. Seperti tulisan Teh Kiki dengan homeschooling yang diusungnya, Ayah Edi yang sangat pengertian dengan anak dominan otak kanan, (ada satu lagi yang saya lupa namanya gara-gara bukunya di lemari bawah, wekekeke) mengajarkan bagaimana mental wirausaha sedari kecil. Semua tulisan-tulisan itu baik jika sesuai dengan kondisi orang tua dan anak.

Continue reading


Aug 14 2017

Anak Sekolahan!

Yeay! Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba! Hari pertama sekolah! Fazna semangat banget bangun pagi bareng Papa, sarapan, mandi, dan dianterin emaknya. Mungkin karena sebelumnya dia belum pernah sekolah, jadi berasa excited karena bakal ketemu teman-teman sebayanya. Meski dia termasuk anak yang gampang bergaul, tapi Fazna suka sebel kalo ketemu anak yang karakternya superior. Dia lebih cocok bergaul dengan anak yang suka mengalah. Nah.. Kekhawatiran emaknya nih, takutnya ntar Fazna sekelas dengan anak-anak yang berkarakter superior itu, bukannya malah belajar, ntar yang ada jadi berantem di kelas.

Fazna Selalu Bahagia Kalau ke Sekolah

Continue reading


Jun 7 2017

Review Melodi Damarabika

“Mungkin memang bukan pacaran, tapi kalau sudah dewasa kan tidak perlu menyebut kata cinta untuk tahu itu cinta. Hanya dengan terus bersama, dan tidak mau lepas dengannya, itu sudah bisa dibilang ada rasa. Dan kalau dia pun merasakan hal yang sama, itu bisa dibilang sebuah hubungan.” (Hal. 182)

Cinta memang tak bisa memilih. Tak juga bisa untuk dikendalikan. Dia hanya perlu untuk disadari. Begitu juga dengan cinta Rara dan Tyo. Dua orang dengan dua kepribadian justru bisa bersatu karena perbedaan itu saling melengkapi kelebihan mereka. Rara adalah wanita yang cerdas, yang bersahabat dengan buku tapi tak pintar bergaul, sedangkan Tyo adalah lelaki yang suka bermain musik, pintar bergaul, dan agak alergi dengan buku.

“Tak perlu terlalu memahami, kami hanya perlu ada untuk satu sama lain, meski dalam hening.” (Hal. 93).

Dua insan ini dulunya satu almamater ketika masih SMA. Menurut hemat saya sih, sebenarnya, dua orang ini sudah punya “rasa” sedari SMA, tapi mereka masih belum yakin atau malah mengabaikan rasa itu. Ibu-ibu mereka bersahabat baik, hingga Rara dan Tyo sudah merasa seperti saudaranya sendiri. Tapi kejadian di malam Prom Night menjadikan hubungan mereka retak. Ya, Tyo sebenarnya bermaksud melindungi Rara dari kejahilan teman-temannya, tapi maksud dan cara yang dilakukan Tyo salah menurut Rara. Rara mengganggap “penyelamatan” itu sebagai pengkhianatan atas persahabatan yang telah mereka jalin. Dan parahnya, “penyelamatan” itu dilakukan ketika Tyo dalam keadaan mabuk, jadi Tyo tak merasa itu tindakan yang fatal bagi hubungan mereka.

Tyo tetap tak menyadari bahwa Rara masih marah dengannya, hingga beberapa tahun kemudian akhirnya mereka bertemu kembali disaat Tyo sudah menjadi artis kelas dunia karena kelihaiannya dalam menciptakan lagu, bermain musik, dan tentu saja karena ketampanannya. Dia “bersembunyi” dari dunia keartisannya di dekat rumah Rara, di Jogja. Dan di situlah akhirnya mereka menjalin persahabatan lagi hingga berbuah cinta.

“Karena Ra, tanpa teman, puncak gunung sekali pun hanyalah tempat yang sepi. Dan Tyo sepertinya sedang berada di sana sendirian. Tanpa keluarga dan tanpa sahabat. Mungkin karena itu dia sembunyi dari dunia. Dan dia temukan lagi hangatnya keluarga melalui kita. Kalau semua memang sempurna dalam hidupnya, trus kenapa dia ada di sini hari ini? Mesti ono sing kurang.” (Hal. 104).

Continue reading


May 23 2017

Review Lelaki Harimau

Buku ini tipis, tapi berbobot. Cuma butuh satu pertanyaan, mengapa Anwar Sadat dibunuh Margio, untuk akhirnya Eka Kurniawan sebagai penulis, memberikan pengalaman pembacaan yang sangat apik bagi saya. Seperti novel Eka Kurniawan lainnya, alurnya yang maju mundur ga bikin bingung, malah bikin ketagihan.

Di dalam novel ini, ada poin yang bisa diambil, yaitu tentang KDRT. Anak yang tumbuh dengan hardikan dan pukulan setiap hari (yang dilakukan oleh bapaknya), sangat mempengaruhi kejiwaan (istri dan) anak-anaknya. Margio dan Mameh, adiknya, adalah anak-anak yang tumbuh dengan tidak kebahagiaan ini, bisa dikatakan mereka adalah korban.

Continue reading


Apr 28 2017

Review Cantik itu Luka

Seseorang telah “meracuni” saya untuk membaca novel karya Eka Kurniawan. Sepintas saya pernah dengar judul novel ini sewaktu saya kuliah dulu, karena novel ini memang terbit pertama kali pada Desember 2002. Tapi baru akhir-akhir ini saya membaca dan mengoleksi novel karya Eka Kurniawan untuk kepentingan sesuatu (doain agar segera terwujud ya!).

Sebagai penulis (amatiran), ketika saya membaca sebuah novel, kadang saya membaca sebagai penulis (amatiran) atau sebagai benar-benar pembaca. Jika membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai penulis, wihhhh.. dasyat banget! Penokohannya, alurnya, dan ceritanya begitu kuat, hingga saya tak perlu dua kali untuk membacanya agar mengingat semuanya. Tapi kalau membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai pembaca dengan background saya yang kurang memahami hal-hal yang dianggap “tabu” oleh masyarakat, jadinya agak ngeri, jijik, ngawur, dan sederet ungkapan tak percaya lainnya.

Novel ini menceritakan tentang seorang pelacur paling mahal dan paling cantik bernama Dewi Ayu di sebuah kota bernama Halimunda. Dia memiliki 3 anak perempuan yang sama-sama cantiknya (yang  tentu saja tak tahu bapaknya yang mana), dan 1 anak perempuan yang sangat buruk rupa. Masing-masing anak memiliki cerita sendiri-sendiri yang menarik untuk diikuti dan saling berkaitan.

Jangan kaget karena dalam novel ini begitu banyak cerita inseas (perkawinan sedarah). Dua dari tiga menantu Dewi Ayu pernah berhubungan dengan mertuanya sendiri, yack! Meski tokohnya banyak, sebenarnya kalau dicermati, “suara”nya hampir mirip, seperti Sodancho dan Maman Gendeng. Sama-sama kasar tapi juga sangat kuat.

Oiya, dalam novel ini juga ada beberapa kutipan yang membuat saya agak takut karena saya orang yang yang gampang membayangkan:

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.(Cantik itu Luka; Hal 1) Continue reading


Mar 27 2017

(Hampir) Kehilangan

Beberapa minggu yang lalu saya hampir kehilangan seseorang yang sudah seperti bagian dari keluarga saya sendiri. Tiba-tiba saja, asisten rumah tangga saya, Ayu, pergi tanpa pamit lewat surat yang diletakkan di sofa tempat saya biasa duduk. Dia menyatakan bahwa dia tidak ingin bekerja kepada saya lagi. Seketika terasa ada “lubang” yang menganga di hati saya saat itu. Dia yang sudah seperti adik saya sendiri telah menginginkan pergi dari sisi saya. Nangis? Iya.. Saya nangis. Entahlah.. Saya paling ga bisa “ditinggal”. Fazna? Jangan ditanya.. Hampir setiap dia bosan, dia selalu bertanya,”Mbak Ayu mana?”

Beberapa hari sejak kepergiannya, ritme kehidupan saya berubah. Benar-benar totally house wife lah, hehehe. Tapi anehnya saya menikmatinya. Jadi flash back zaman-zaman di Auckland, “sendiri”. Perlahan-lahan saya mulai mengikhlaskan Ayu, yang saya pikir akan menyusul ibunya di Malaysia. Mem-WA dia untuk kapan-kapan kita bertemu, tapi jangan sampai Fazna melihat dia, karena saya saja berat ditinggal Ayu, apalagi Fazna. Kami dengannya sudah “melekat”.

Di saat kami sudah mulai mengikhlaskannya, tiba-tiba seminggu kemudian saya ditelpon olehnya dalam keadaan nangis. Kontan saya kaget dan sangat khawatir dengan keadaannya. Dia dimana? Diapakan oleh siapa? Saya penasaran sekaligus tak tahu apa-apa tentang keberadaannya. Akhirnya kami mengobrol di WA. Singkat cerita, dibantu oleh teman saya untuk melacak keberadaannya, Ayu ternyata sudah bekerja di tempat lain, tapi masih di Jakarta juga. Dia masuk di sebuah yayasan penyalur baby sitter, dengan maksud mencari pengalaman lain (dan tentu saja gaji lebih besar). Tapi setelah ditempatkan di sebuah rumah tangga, yang kebetulan majikannya berlatar belakang budayanya berbeda, dia tidak menikmati pekerjaannya, dia tidak kerasan. Dia mengirim foto kepada saya dalam keadaan nangis. Katanya dia kangen Fazna dan ingin kembali bekerja kepada saya.

Masya Alloh, rasanya campur-campur. Ada perasaan senang mendengar dia ingin kembali, ada perasaan sebal karena merasa ditinggal, dikhianati, tapi ada perasaan kasihan juga karena mengingat dia jauh dari ibunya sedari kecil. Memaafkan memang tak mudah, tapi belajar memaafkan itu harus. Tak ada manusia yang benar-benar sempurna. Saya pernah membaca sebuah hadist (entah shohih entah kurang), intinya dalam sehari saya atau semua majikan harus memaafkan 70x kesalahan asistennya dalam sehari. Nah lo.. Jadi Kesindir kan..

Sebagai manusia, tentu saya juga pernah salah dalam membimbingnya. Saya ingat, sebelum sore kepergiannya, paginya dia saya ingatkan untuk beberapa item pekerjaan rumah tangga yang belum terselesaikan dari seminggu yang lalu. Iya.. seminggu yang lalu. Mungkin saya agak keras mengingatkannya, mungkin dia juga pas suntuk, sorenya dia memutuskan pergi dari saya.

Kepergiannya kemarin membuat kami saling belajar. Saya dituntut untuk lebih sabar karena mencari asisten rumah tangga itu tak mudah dan saya dituntut untuk lebih tidak bergantung pada orang lain, karena ketika suatu saat dia pergi untuk benar-benar tak kembali, saya siap. Di sisi dia, dia juga belajar, bahwa bekerja itu tak selalu melulu tentang gaji. Majikan yang bisa meleluasakan asistennya untuk berkembang itu biasanya bisa lebih membuat nyaman.

Sebenarnya cerita drama ini sangat panjang. Tapi biarlah keluarga kami yang tahu. Intinya, marilah belajar memaafkan, sering ngomong dari hati ke hati, agar lebih plong dan kuat menjalani kehidupan. Toh masih ada kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan lagi. Bismillah.. Doain hubungan kami langgeng dan saling menguntungkan yaaa. 🙂


Feb 17 2017

Outbond Amanah

Beberapa hari yang lalu, kami, Bani Hadi Sofkhan diberi kesempatan untuk jalan-jalan ke Agrowisata Amanah Tawangmangu. Ini akibat kami terlalu sering main ke Malang, akhirnya ketika ada wacana main ke tempat yang baru, kami langsung menyambutnya dengan gembira. Bukan musim liburan kok masih liburan? Itu dikarenakan saya diperlukan untuk pulang kampung ke Kertosono dan bertepatan dengan sisa cuti suami tahun lalu yang harus habis di bulan Januari kemarin, alhasil berangkatlah keluarga besar kami untuk liburan, sekalian, hehehe.

Formasi Lengkap Bani Sofkhan

Alhamdulillah tempatnya benar-benar untuk keluarga. Wisata yang pas untuk balita hingga uti-uti. Dan yang bikin salut dari agrowisata ini adalah, semua karyawannya yang berjumlah lebih kurang 90 orang itu berasal dari masyarakat setempat. Mandiri banget ya! Mengingat serbuan pekerja-pekerja asing asal Tiongkok yang meresahkan masyarakat, penguasaha-pengusaha asli pribumi serasa membawa angin segar bagi “orang kecil”. Luasnya yang berhektar-hektar (saya lupa persisnya berapa hektar), tersedianya sumber mata air yang bersih dan deras, sayuran-sayuran organik, perikanan, perkebunan, dan peternakan, lengkap di satu lokasi. Udara yang sejuk serta berbagai fasilitas yang disediakan seperti wifi, home bakery, serta kolam renang ikut menunjang alasan kenapa harus kesini.

Sapi-nya super besar! Ada kambing, ada kelinci, sehat-sehat dan kandangnya bersih! Continue reading


Jan 15 2017

Hallo 2017!

Wahhhh.. Sudah berganti tahun ya! Tak terasa sudah Januari 2017 saja. Alhamdulillah.. Liburan akhir dan awal tahun kemarin terlewati bersama keluarga besar Bani Achda. Meskipun ga lengkap 100% karena suatu hal (maklum keluarga sangat besar), tapi tetap disyukuri saja.

Kemarin, Bani Achda main ke Pantai Carita, Anyer, dateng dengan 3 rombongan mobil, full. Kami menyewa kondominium tepat di bibir pantai. Kondominiumnya ga jelek, tapi juga ga bagus banget, jadi ya biasa saja. Ada dapur, ada rice cooker, air galon, piring, dan teman-temannya, kami membawa bahan logistik dari rumah, jadi bisa menghemat uang makan (hehehe.. emak-emak banget). Kamarnya ada 3 dengan 2 kamar mandi. Meski ke pantai itu males gosong, tapi kalau sudah lihat pantai dengan pasir yang bersih dan ombak yang bergelung manja itu rasanya ga tahan kalau ga nyemplung, hahaha. Masya Alloh.. Seneng! Alhamdulillah masih diberi nikmat bermain di pantai. Suami senang, anak bahagia, emaknya apalagi.. Hehehe..

Kedapetan mobil yang penumpangnya anak-anak semua, hihihi. Alhamdulillah 4 jam perjalanan on terus ga pernah sepi.. 

Fazna senang banget main di pantai! Ga kapok meski kegulung ombak, mata pedih, dan hujan rintik-rintik, hehe. Continue reading


Dec 20 2016

Pulang

“Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Sesungguhnya kematian itu adalah suatu kepastian. Seperti rejeki, seperti kiamat. Cuma cara, waktu, lokasi, dan kondisi itu yang harus kita persiapkan sebaik-sebaiknya karena kita tak pernah tahu kapan tugas kita selesai di dunia, kapan harus “pulang” mempertanggung jawabkan kehidupan kita masing-masing di hadapan-Nya. Dia tak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan umatnya. Jika ujian terasa berat, maka bisa jadi karena umat tersebut memang umat pilihan, umat yang kuat.

Dalam bahasa Jawa, suami atau istri disebut Garwo, kepanjangan dari Sigaring Nyowo atau Sigaring Jiwo. Jika ditranslate ke dalam Bahasa Indonesia berarti belahan jiwa. Begitu dekatnya seorang pasangan hingga dia pantas menduduki kata “belahan” jiwa. Coba bayangan bagaimana bila jiwa mu dibelah. Separuhnya ada dirimu, separuhnya ada di pasanganmu. Jika “belahan” mu tak ada, terasa ada yang kurang lengkap. Dan jika “pasangan” mu itu sudah selesai tugasnya di dunia, dan harus “pulang” terlebih dahulu, terasa ada yang “hilang” dalam hidupmu. Ini yang dialami teman saya dua hari yang lalu.

Minggu pagi tanggal 18 Desember 2016, suami dari teman saya menyelesaikan tugasnya di dunia dengan 12 kru pesawat hercules lainnya, di Wamena. Kaget.. Benar-benar kaget dan ga menyangka sama sekali. Innalillahi wa innailahirojiun..

Foto atas : pernikahan Rika dan suaminya, Pak Hanggo. Foto bawah : nama-nama korban dalam kecelakaan pesawat hercules (pesawat hasil hibah dari Australia)

Continue reading


Nov 29 2016

Movember

Huehehehe.. Judulnya keren banget ya? Yang jelas kata itu bukan ide saya, tapi “movember” adalah kata yang saya temui pada spanduk di salah satu mal yang saya kunjungi bulan ini. Pertama kali baca, saya langsung senyum-senyum sendiri. Unik sekaligus mengingatkan. “Movember” seperti menjadi alarm untuk saya sendiri, karena di bulan ini, Nopember, adalah bulan dimana jatah umur saya di dunia berkurang setiap tahunnya. Hhhmmm.. jadi ingin curhat.

Astagfirullohaladhim.. Sudah 29 tahun saya hidup di dunia ini. Saya merasa banyak ga manfaatnya. Seharian lebih banyak pegang hape melayani customer daripada pegang Al-Qur`an (duh). Ngaji cuma 15-30 menit tiap habis subuh, tapi betah berjam-jam mantengin instagram (gara-gara bacaan dirumah habis -alesan lagi-). Ngafalin Al-Qur`an sehari 1 ayat aja berasaa berattttt.. Padahal ngafalin toko-toko online shop cepet banget, bahkan ga mau ‘kehilangan’ nama tokonya. Jadi ketika ketemu kata “movember” berasa ‘ditampar’ saja.

Sesuai judulnya “movember”, sepertinya saya harus bisa move on di bulan Nopember ini, harus punya resolusi untuk kehidupan saya berikutnya (ga perlu nunggu tahun baru untuk berusaha menjadi lebih baik ya, hehe). Saya ingin hidup saya lebih bermanfaat! Realistisnya sih, tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang mubadzir. Tidak banyak melamun dengan ‘seandainya’ (duh, godaan setan banget ini untuk kufur nikmat). Mengingat lagi bahwa fungsi ibu sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya. Karena saya ingin anak-anak kami lebih pintar daripada bapak ibunya,  maka sudah seharusnya saya lebih perhatian dengan perkembangan si bocah. Tapi akhir-akhir ini saya dilanda kemalasan luar biasa dan ga tau mainan edukatif apalagi untuk menstimulasi si bocah (padahal kalo mau nyari, ada ya di internet!). Menjadi istri yang baik untuk suaminya (nah.. rajin masak Dif..).

Hehehe.. Maaf, sisi lain saya memang agak suka nyinyir. Oke-oke.. Saya mengaku bahwa saya terlalu sering ‘memperhatikan’ hape saya hingga malas berolah raga, malas masak, malas mencari materi baru untuk bocah (mentang-mentang ada nanny-nya), malas ngafalin Al-Qur`an, dan malas ikut lomba nulis lagi (huhuhu.. barusan melewatkan event lomba nulis yang hadiahnya bikin ngiler). Semoga setelah ini saya lebih disiplin lagi menggunakan waktu.

Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya ga harus memusuhi hape juga sih, karena di dalam hape sekarang sudah ada Al-Qur`an dan ada memo untuk menulis ide tulisan yang tiba-tiba muncul. Jadi ini hanya soal manajemen waktu saja. Insya Alloh kedepannya saya harus lebih bisa mengatur jadwal kehidupan saya (cieee.. jadwal kehidupan, hehe.. semoga usia saya berkah ya Alloh.. aammiiinn). Ingatkan saya ya!