Jan 17 2010

Green Canyon bener-bener Green Oey!!

P1140027Alloh Maha Indah… Semua “buatanNya” menyimpan keajaiban-keajaiban yang tak ada duanya. Melihat goresan “tangan-Nya”, diri ini jadi merasa kecilllll.. banget….  Untuk itulah kita sebaiknya menghargai sebuah seni, karena Alloh suka dengan keindahan, sedangkan keindahan itu identik dengan seni.  Mempunyai waktu liburan yang gag cukup panjang, cukup membuat otak berputar enaknya mau kemana. Jadi, daripada wisata di mall (baca: belanja), lebih bijak jika kita wisata alam yang bisa menyehatkan pikiran dan mata. Kalau di Arizona (Amerika) terkenal dengan Grand Canyon, maka Cijulang (Indonesia) terkenal dengan Green Canyonnya. Perbedaannya terletak pada awal kata, Green dan Grand, tapi memberikan arti yang cukup besar (gag kalah ya??).

P1140016Start petualangan dimulai dari Kertosono pukul dua siang. Setelah melalui perjalanan selama lima jam lewat jalur darat, kami sekeluarga (formasi berempat: sopir, bapak, ibu, dan difana) berhenti dan menginap di Yogyakarta. Keesokan harinya perjalanan yang membosankan dimulai dari pukul 5 pagi dan sampai di tempat tujuan pukul 3 sore. 10 jam perjalanan yang benar-benar  melelahkan. Green Canyon atau sering disebut oleh masyarakat setempat Cukang Taneuh yang berarti jembatan tanah, terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Ciamis, Jawa Barat. Akses kesana tidak semudah yang dibayangkan. Selain jalan aspalnya yang berlubang (sangat banyak dan besar-besar) sehingga mobil tidak bisa melaju cepat, jalannya pun sempit. Sempet down juga sie, udah capek, jalanan gag enak, mana hujan lagi. Feelingku gag mungkin ketemu hari itu dweh. Tapi ketika sampai di dermaga Green Canyon, kepenatanku rasanya lari entah kemana gitu. Senyam-senyum sambil menghirup udara yang jauh dari panas. Pandanganku gag bisa lepas dari kanan kiri sungai, berkeliaran. Keluhanku akhirnya terbayar sudah.

Continue reading


Dec 15 2009

Martapura, “Bangil”nya Kalimantan Selatan

PC120001Martapura, kota santri yang memiliki berjuta pesona. Kota yang dikenal dengan sebutan seribu sungai ini memang memiliki dataran yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain, sehingga bentuk rumahnya berupa rumah panggung. Unik, ternyata rumah panggung masih bisa mudah ditemukan di daerah Kalimantan Selatan (yang biasanya cuma bisa liat di tipi kini di depan mata ^^). Rumah panggung terbuat dari kayu besi atau kayu ulin. Disebut kayu besi karena memang ketahanannya yang luar biasa, umurnya bisa lebih dari 50 tahun!!!(bisa ampe jadi nenek2 aku…) PC120115Selain memberikan efek dingin, kayu ulin juga memberikan efek nyaman low… Cozy abis gitu… kayak di villa-villa mahal di daerah Batu, Malang. PC120062

Tapi ingat, rumah panggung memiliki aspek negatif. Coba bayangkan, hampir sebagian besar rumah penduduk menggunakan kayu sebagai bahan utamanya!!! Hik… Hutanku…. Hik… Hutan kita… :’( Ga heran kalo tiap tahun berhektar-hektar lahan gundul… habis di babat untuk keperluan manusia. Serba salah sich… diantara dua pilihan, mau melestarikan adat atau melestarikan alam??? >_<

Di Jawa, Bangil terkenal sebagai kota santri yang khusuk, demikian juga di Martapura. Jika bulan puasa tiba dan kebetulan kita menginap di sekitar Kalimantan Selatan, ada PERDA nya untuk menghormati orang yang berpuasa low. Ga boleh sembarangan maem. Jadi sampe kita melas-melas minta diladeni juga ga bakalan disiapin maem disiang bolong. Waduh…. kalo cewek lagi “dapet” piye… ga bisa maem dunk…. (boleh tapi harus cari sendiri Difana….atau belajar masak sono low… -_-“).PC120026

Continue reading


Nov 23 2009

PaRaLayaNg YuuuUUukkk,,,,

Meskipun bukan waktunya liburan, tak ada salahnya mencoba olahraga yang satu ini. Paralayang adalah olahraga yang membutuhkan nyali cukup besar. Untuk pemula, hanya dibutuhkan waktu setengah jam, itupun jika anginnya bagus, tapi kalo cuaca pas jelek hanya bisa terbang sekitar 15 menit. Tempatnya yang tidak jauh dari Surabaya juga memudahkan aku beserta rombonganku untuk mencoba permainan ini (halah rombongan, padahal cuma tiga orang,hehe..). Tepatnya di Kota Batu, Malang.IMG_4182

Sempet deg-deg an juga waktu tau tempat start nya yang ternyata tuiiinnnngggii… sekitar 1500 mter low!! Hik… nyali sempat menciut, keringat dingin mulai membasahi sepatu nike merah, flu akut yang kurasakan sebelum berangkat tiba-tiba hilang saking stress nya (lebay mode on). Hik..pokoknya ga percaya dweh aku bisa mendarat selamat dan sukses. :p

IMG_4169

Aku menjadi “penerbang pertama” diantara Mas Dolfi dan Mbak Krissa (konsekuensinya fotoku paling banyak, hihihi…). Kalo kamu liat foto-fotoku sebelum penerbangan, bakalan keliatan twuh wajahku yang super dag dig dug (ga pake duer, kan g belajar nge bom). Tapi karena dari awal sudah niat (soale waktu di Bali dulu pengen nyoba parasailing gjd, anginnya ga memungkinkan ?), akhirnya kuberanikan diri. Sambil bergumam (hidup, mati, hidup, mati, hidup… hore aku hidup loh?!) penuh kepasrahan, aku pun mengikuti tahap-tahap instrukturnya.

Yang bikin aku teriak keras itu, waktu paralayang tersebut terbang sebelum waktunya. Iya.., jadi sebelum terbang itu mesthinya berjalan beberapa langkah dulu, menuju “jurang” udara…. Belum sampe jalan lakok badanku sudah terangkat udara tho… ya otomatis aku teriak sekencang-kencangnya. AAAAAAAAA………. (baru nyadar, badanku kurang lemak, huh!!) Continue reading


Nov 20 2009

Kebijaksanaan Suku Tengger

“Mencuri.”

“Mencuri apa?”

“Apapun.”

-Hening-

Itu adalah potongan dialog antara kami dengan seorang warga Suku Tengger yang membuat kami saling berpandangan. Beruntung sekali bisa ikut dalam penelitian dosenku (Bapak Listiyono Santoso) yang harus berinteraksi dengan mereka. Karena tidak semua mahasiswanya bisa ikut (tentu saja harus kompromi dulu dunk..xixixi).  Judul penelitian dosenku kemarin adalah “Kearifan Ekologis Tengger.”

PA250196PA250175

Tugas kami disana mewawancarai beberapa warga setempat tentang filosofi alam bagi mereka. Tanggapan mereka tentang lingkungan hidup memberikan kontribusi yang cukup penting dalam penelitian ini. Tak hanya itu, aku yang sudah lama tidak ke Bromo (terakhir aku masih teka, jadi lupa-lupa ingat gitu, hehehehe..) kembali menemukan suatu keistimewaan dari peradaban tradisional. Kalo katanya Pak List, “Menjaga tradisi tanpa harus menjadi tradisionalisme. Membangun masa depan dengan mempertimbangkan tradisi.” 🙂 Continue reading