Sep 21 2016

The Nanny

“Lho, kalau keluarga dan tetangga-tetanggamu pada kerja di luar negeri, kenapa kamu ga sekalian kerja ke sana?” tanya saya kepada gadis lugu ini ketika pertama kali kami ngobrol dari hati ke hati.

“Terakhir ketemu Ibu saya, waktu saya masih SD kelas 2 mbak. Setelah itu Ibu saya berangkat ke Malaysia dan ga berkabar sama sekali. Katanya nyari uang untuk sekolah saya dan kakak saya, tapi malah ga ada wujudnya. Jadi saya sekolah sampai SMP saja mbak. Ibu saya seperti hilang ga balik-balik, saya trauma. Makanya setiap saya disuruh kerja ke luar negeri ama Bulik saya, saya ga mau,” sahutnya pasrah.

Oalahhhh.. Pantas.. Sewaktu dia bilang rumahnya Srengat, Blitar, Jatim, saya heran, kenapa dia mau kerja di tempat saya ya? Karena daerah tempat tinggalnya ini terkenal dengan warganya yang gemar kerja ke luar negeri sebagai TKI. Ternyata begitu alasannya. Alhamdulillah.. Berarti dibalik musibah ada hikmah yang bisa diambil, hikmahnya adalah bertemu dengan saya, hehehe.

Continue reading


Jun 27 2016

Apa Kabar Cinta?

Baru kali ini saya mengikuti seminar Teh Kiki setelah sebelumnya sempat mengobrol (karena kebetulan beliau adalah kakak ipar tetangga saya) dan selesai membaca dua bukunya yang selalu best seller. Aduuuhhhh.. Malu banget rasanya dengan diri ini. Baru punya anak satu saja stock sabarnya sold out melulu, nah Teh Kiki, anaknya lima (dan sekarang sedang hamil anak keenam) tapi stock sabarnya ga habis-habis.

“Zaman sekarang ya, memiliki anak cowok sama khawatirnya dengan memiliki anak cewek. Pornografi begitu merajarela. Bayangkan, uploader tertinggi usia remaja berasal dari Indonesia! Cara termudah untuk menghancurkan sebuah negara adalah dengan pornografi. Jika narkoba hanya merusak tiga bagian otak, maka pornografi merusak lima bagian otak. Pornografi itu menghilangkan minat baca, menjadikan anak malas, dan menjadikan anak nekad,” kata Teh Kiki.

“Ingin menikahkan anak tanpa pacaran itu mulainya sejak bayi. Usahakan tidak memberikan tontonan yang tidak mendidik. Semisal cerita tentang princess, jangan kaget kalau pas remaja, anak kita ingin pacaran dan genit dengan laki-laki. Lha asupan bacaan dan tontonannya sedari kecil Frozen, Putri Salju, Cinderella, dll. Anak-anak krisis idola karena orang tua ‘salah’ memberikan idola. Begitu juga dengan yang laki-laki. Usahakan tidak memberikan tontonan yang berupa kekerasan fisik,” lanjut Teh Kiki. Duh.. Reminder banget bagian ini. Soalnya Fazna suka banget dengan Frozen, tapi sebenarnya dia lebih suka lagunya saja sih. Kalau jalan ceritanya, dia dari awal saya samar-samarin. Misalnya dalam buku tersebut ada laki-laki dan perempuan saling berpelukan, biasanya saya cerita kalau yang boleh beradegan seperti itu hanyalah papa dan mama. Tapi mulai detik ini saya akan lebih selektif lagi mencari buku-buku yang lebih mendidik. Sementara buku-buku princes-princes-an saya sembunyikan, hehehe. Kepada penerbit-penerbit buku, pleaseeeee.. Bikin buku cerita tentang sirah nabawi beserta gambarnya yang bagus-bagus dan terjangkau ya (karena biasanya buku-buku Islami anak, gambarnya kurang bagus. Sekalinya ada yang bagus, harganya melambung. Makanya terjangkau itu penting, agar bisa dinikmati semua kalangan. Kalau yang bisa membeli dan membaca kalangan atas saja, bagaimana pendidikan di kalangan bawah?)! Insya Alloh saya akan bersuka hati membelinya. Continue reading


Aug 6 2015

Cerita Menyapih

Kali ini saya melakukan penyapihan yang secara teoritis “kurang benar” alias tidak menyapih dengan cinta, hehehe. Menyapih dengan cinta atau Weaning With Love atau yang biasa disingkat dengan WWL ini sudah booming cukup lama di kalangan ibu-ibu menyusui. Teknik menyapih ini mengusahakan agar si bayi yang sudah berusia dua tahun mau melepaskan “zona nyamannya”.

Beberapa bulan yang lalu adalah momen yang cukup berat bagi saya untuk berhenti meng-ASI Fazna. Mungkin hal ini juga pernah dialami oleh ibu-ibu di seluruh dunia. Tentu saja berat. Anak saya yang waktu itu akan berusia dua tahun masih sangat bergantung pada saya, apalagi menjelang tidur atau terbangun di malam hari. Tapi setelah berkonsultasi dengan dokter, tekad saya pun akhirnya menjelma menjadi kegigihan untuk menyapih Fazna. Alasan medis membuat saya tega (atau sebaiknya diksinya saya ganti konsisten ya, hehehe) untuk menyapihnya.

Continue reading


Apr 28 2015

Toilet Training

Fazna sudah genap berusia 2 tahun. Banyak PR (Pekerjaan Rumah) menanti saya, sebagai ibu yang full mendampingi dia sehari-hari. Lepas dari clodi (cloth diaper) siang dan malam, serta lepas ngASI atau yang lebih dikenal dengan menyapih. Dua hal yang membuat kesabaran saya diuji, hehehe.

Untuk program menyapih, sudah mulai saya terapkan ketika Fazna berusia kurang lebih 20 bulan dengan ibunya yang sering-sering sembunyi (alias keluar rumah, wekekek), memberi pengertian, mengganti jam ngASI-nya disiang hari dengan camilan-camilan serta susu pengganti berupa susu UHT. Memang sih, kalau ibunya “menghilang” si anak ga terlalu “mencari-cari”, karena kalau sudah dikasih biskuit ya pasti dimakan dan kenyang. Tapi kalau malam hari masih belum bisa diterapkan (help-help.. butuh pencerahan), lha masih sekamar dengan bapak ibunya juga. Motivasi saya untuk segera menyapih adalah, selain di Al-Qur`an dianjurkan sampai 2 tahun, Fazna termasuk anak berpostur mungil di usianya. Dokter yang menangani Fazna pun menganjurkan untuk segera menyapih agar makannya banyak, dan dia bisa berada di postur ideal.

Ada banyak suka dan duka di beberapa bulan terakhir (tepatnya sih kurang lebih 3 bulan yang lalu), saat Fazna mulai toilet training. Waktu pertama kali copot clodi, wajahnya keliatan bengong gitu waktu pipisnya merembes mengenai kakinya. Butuh waktu untuk membiasakan dia agar bisa bilang “pipis” sebelum pipisnya benar-benar keluar. Pipisnya dimana saja? Jawabannya dimana-mana, hahaha. Di tempat bermainnya, sepatu emaknya, dikamar eyang mami, di teras, dan dikamar. Yeah.. Lengkap sudah (please.. kalau ibu dan anak belum siap, mending diundur dulu deh toilet trainingnya agar kedua belah pihak ga senewen). Sebagai ibu, kadang kesabaran saya menemui ujungnya. Bayangin, dia pipis disaat saya sudah bersih alias sudah mandi, seprei kamar juga baruuuuu.. saja diganti, trus tiba-tiba pipis! Astagaaaa.. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli celana training pipis atau biasa disebut training pants.

Continue reading


Apr 28 2015

2 Tahun Fazna!

Yeayyyyy.. Alhamdulillah.. Fazna genap berusia 2 tahun! Hehehe.. Kebetulan Uti dan Kung nya dari Kertosono pas di Jakarta, jadi syukurannya barengan. Apalagi ulang tahunnya Kung (25 April), Uti (20 April), ama Eyang Mami (19 April) cuma selisih beberapa hari..

up9

 

Meski yang datang cuma keluarga saja, insyAlloh berlangsung ceria dan penuh khidmat..

up2

 

Continue reading


Jan 27 2015

Hadiah Zwitsal

Alhamdulillahhh.. Hadiah lomba nulis Zwitsal kemarin mendarat dengan selamat di Cinere! Kebetulan bapak ibu saya lagi berkunjung.. Langsung deh foto-foto.. Hehehe..

a2

Continue reading


Dec 20 2014

First Trophy!

Horeeeee… Alhamdulillah.. Untuk pertama kalinya Fazna dapet piala! Wekekeke.. Gara-garanya akhir-akhir ini Mak Fazna sering ikut lomba foto bayi. Hahaha.. Bener-bener pekerjaan ibu rumah tangga ya. Alhamdulillah deh akhirnya jadi juara.. Meski bukan juara umum, tapi lumayan lah dapet juara harapan 1.

 17(abaikan tangan kiri yang masih bawa nori, hihihi)

Continue reading


Nov 25 2014

Laundry Treatment with RLR

Hampir satu semester clodi (cloth diaper)-nya Fazna ga pernah di stripping (stripping adalah perawatan yang perlu dilakukan untuk membuat usia clodi lebih panjang alias awet). Sebenarnya kalau telaten sebulan sekali ngerendem clodi di air panas sampai kurang lebih 3x, sudah cukup. Dulu awal-awal punya clodi, rajin amat stripping setiap bulan, tapi lama kelamaan males juga.. Hahahaha, dasar emak-emak males. Terussssss.. Karena ada asisten rumah tangga baru, jadi nyucinya ngaco deh. Clodi Fazna pernah dikasih pewangi, pelembut, dan disetrika (untung yang disetrika cuma 2-3 insert)! Hadehhhh.. Sempet patah hati saya. Memang sih, setelah dikasih pewangi, clodinya Fazna lebih harum. Tapi kalau sudah kena pipis sekali saja, bau pesingnya dua kali lipat dari biasanya! Kebayang dong, pengen cium-cium Fazna trus bau pesing alhasil jadi ilfeel, wekekeke (maaf ya nak).

Akhirnya berbekal googling, bertemulah saya dengan RLR. Katanya, bubuk ini ajaib karena bisa menuntaskan semua persoalan clodi yang pesing, kusam, kaku, dan cepat bocor bahkan mengatasi kulit bayi yang tiba-tiba ruam. Berdasarkan review clodi addict juga bagus-bagus, dan semua menyarankannya. Okelah dealll.. Setelah semua clodi dicuci bersih pakai deterjen, dalam keadaan kering atau basah, mulailah stripping treatment dengan RLR. Oiya, menurut penunjuknya, RLR ini bisa dicampur dengan deterjen untuk mencuci clodi yang kotor. Tapi menurut logika saya, lha ini kan perawatan, masak ya dicampur dengan deterjen sehari-hari. Akhirnya saya memutuskan untuk mencuci bersih dulu, baru kemudian menggunakan RLR.

rlr

 

Penampakan RLR

Cara penggunaannya persis kayak deterjen biasa. 1 bungkus bisa untuk 18-24 clodi beserta double insert-nya. Cara kerja RLR ini adalah mengeluarkan residu-residu deterjen yang selama ini dipakai. Jadi diharapkan bisa kembali seperti sedia kala dengan performa seperti clodi baru (belinya bisa dibanyak onlineshop di Instagram ya). Karena clodi Fazna agak banyak, akhirnya saya membaginya jadi dua sesi. Kalau menurut review sih, busanya akan sangat banyak bahkan melimpah ruah. Tapi menurut saya ga banyak-banyak banget. Mungkin karena saya menggunakan deterjen yang khusus clodi, Ultraco (saya ga dibayar sama dua produk ini lho ya, hehehe). Cuma direndam 20-30 menit, terus dibilas deh. Oiya.. Bilasnya cukup capekkkkkk. Bisa lebih dari 12x bilasan (nah lo) pokoknya sampai ga berbusa lagi. Bagi yang ga mau capek, bisa di mode rinse di mesin cuci. Tapi karena asisten rumah tangga saya sanggup, maka saya memilih membilasnya dengan tangan.

Continue reading


Jun 9 2014

8 Review Brand Clodi (Part 2)

Setelah me-review clodi brand lokal, kini saatnya saya akan me-review clodi brand import, yang katanya ada harga ada rupa.. Ah masak? Check this out..

  1. Ecoposh

Jauh sebelum saya “keracunan” clodi, saya sudah jatuh hati saja ngelihat warna-warnanya Ecoposh. Kalem-kalem dan keliatan eksklusif gitu. Padahal waktu itu saya belum tahu kegunaannya apa barang ini. Katanya, outer dan insert-nya full daur ulang dari plastik-plastik dan bambu. Alhamdulillah pada suatu ketika (halah), bisa terbeli juga! Dan setelah nyobain, hasilnya ga semenakjubkan ekspetasi saya kok. Bagus, tapi ga yang buagus gitu. Malah, karena outer-nya terbuat dari bambu, kalau sudah penuh jadi merembes. Duhhh.. Hal yang paling bikin males kalau clodi anak ngrembes itu adalah, baju emaknya harus ganti semua. Najis.. Najis.. Wkwkwk.. Ngrembes saja sih sebenarnya.. Ga sampe yang netes-netes gitu. Tapi karena clodi ini tidak terlapisi bahan PUL (tahan air) seperti clodi-clodi lainnya, pantat bayi justru bisa bernafas dengan leluasa (cocok untuk bayi yang sensitif). Bagi Fazna, Ecoposh paling pas dipakai malam hari, karena kesannya hangat, pipisnya ga banyak, terus kalau dirapetin ga sampai yang merah-merah gitu kulitnya. Ajaibnya.. Meski full bambu, tampilannya ga bulky lho. Jika dipakai di siang hari, 4,5 jam udah mulai merembes. Kalau dipakai di malam hari, biasanya saya pakaikan dari jam 9 sampai jam 7 pagi, ga ada masalah. Oiya, Ecoposh ini juga punya pelindung samping, biar pipisnya ga kemana-mana. Minusnya Ecoposh adalah keringnya lamaaa.. Buat yang clodinya “kejar tayang” alias cuci kering pakai, sepertinya Ecoposh ga masuk dalam kriteria ini ya. Keringnya minimal 3 hari. Jadi outer-outer lainnya sehari udah kering, dia belum kering sendiri. Insert-insert yang lain 2 hari saja sudah kering, insertnya Ecoposh 3 hari saja belum tentu kering. Makanya saya jarang memilih insert berbahan bambu karena keringnya lama. Jadi, Ecoposh mendapat nilai 8 lah, karena performanya sip tapi harganya ga sip.

Continue reading


Jun 6 2014

8 Review Brand Clodi (Part 1)

Kali ini saya ingin me-review brand-brand clodi yang pernah dipakai Fazna. Tulisan saya ini murni hasil pengalaman, bukan karena ada niat iklan atau menjelek-jelekkan suatu brand. Karena semua konsumen berhak untuk menceritakan pengalamannya.  Mengingat perut dan paha bayi yang berbeda-beda tiap anak, serta cutting clodi yang berbeda-beda pula pada setiap brandnya, maka saya pun mencoba satu per satu yang menurut saya memang layak dicoba.

  1. Pempem

Ini adalah clodi brand lokal pertama saya punya, dan clodi pertama saya miliki. Setelah prewash 3x (yang salah satu tahap pencuciannya pakai deterjen), saya cobakan ke Fazna. Clodi ini trim (tipis), ga bulky (kalau bahasa Jawanya nggedebel), dan outer-nya (bagian luarnya) terbilang agak kaku (tapi yang agak kaku gini yang enak). Insert-nya ga tebal dan ga tipis, sehingga proses pengeringannya ga lama-lama amat. Daya serapnya lumayan, karena lapisan stay dry -nya memang cukup kering. Penggunaannya maksimal 4 jam. Pernah iseng saya pakaikan lebih dari 4 jam, yang ada bocor samping, jadi pesing deh. Clodi ini cocok dipakai di siang hari. Warna dan motifnya buanyakkk.. Sampai bingung pilih yang mana. Lubang masuk insertnya juga lebar. Noda bekas pup juga gampang dibersihin. Kalau Fazna sudah waktunya jam pup, biasanya kupakaikan clodi ini, hehehe.. Karena memang mudah dibersihin. Kekurangannya brand clodi ini adalah dia tidak mengeluarkan tipe pull-up (sebutan untuk clodi yang bisa dipakaikan seperti pospak jenis celana) dan lapisan stay dry-nya yang agak panas. Jadi cara memakaikannya harus ditidurin dulu. Kalau anaknya masih banyak tidur sih ga ada masalah, tapi kalau sudah banyak polah, ya harus dikasih mainan yang bisa dipegang untuk bisa tetep tidurin selagi makein clodi ini. Nilai yang pantas untuk Pempem adalah 7 untuk range 1-10.

Continue reading