Oct 13 2017

Teman Main Kirana

Entah kenapa, tulisan yang berbau parenting di zaman sekarang sangat laku sekali. Entah karena pendidikan zaman ortu kita yang kurang benar, atau publik mulai kehilangan panutan untuk mendidik anak, atau memang semakin derasnya informasi yang masuk untuk ibu-ibu baru tanpa filter kebenaran yang hakiki (halah). Menjadi orang tua memang ga ada sekolahnya. Kita sebagai orang tua dituntut untuk learning by doing. Nah begitu pun dengan saya. Saya pun tak luput dari “harus” membaca tulisan-tulisan tersebut untuk mendidik anak saya yang menurut saya paling tepat. Saya lebih suka membaca buku tentang parenting langsung daripada ndengerin “katanya-katanya”. Seperti tulisan Teh Kiki dengan homeschooling yang diusungnya, Ayah Edi yang sangat pengertian dengan anak dominan otak kanan, (ada satu lagi yang saya lupa namanya gara-gara bukunya di lemari bawah, wekekeke) mengajarkan bagaimana mental wirausaha sedari kecil. Semua tulisan-tulisan itu baik jika sesuai dengan kondisi orang tua dan anak.

Continue reading


Jun 7 2017

Review Melodi Damarabika

“Mungkin memang bukan pacaran, tapi kalau sudah dewasa kan tidak perlu menyebut kata cinta untuk tahu itu cinta. Hanya dengan terus bersama, dan tidak mau lepas dengannya, itu sudah bisa dibilang ada rasa. Dan kalau dia pun merasakan hal yang sama, itu bisa dibilang sebuah hubungan.” (Hal. 182)

Cinta memang tak bisa memilih. Tak juga bisa untuk dikendalikan. Dia hanya perlu untuk disadari. Begitu juga dengan cinta Rara dan Tyo. Dua orang dengan dua kepribadian justru bisa bersatu karena perbedaan itu saling melengkapi kelebihan mereka. Rara adalah wanita yang cerdas, yang bersahabat dengan buku tapi tak pintar bergaul, sedangkan Tyo adalah lelaki yang suka bermain musik, pintar bergaul, dan agak alergi dengan buku.

“Tak perlu terlalu memahami, kami hanya perlu ada untuk satu sama lain, meski dalam hening.” (Hal. 93).

Dua insan ini dulunya satu almamater ketika masih SMA. Menurut hemat saya sih, sebenarnya, dua orang ini sudah punya “rasa” sedari SMA, tapi mereka masih belum yakin atau malah mengabaikan rasa itu. Ibu-ibu mereka bersahabat baik, hingga Rara dan Tyo sudah merasa seperti saudaranya sendiri. Tapi kejadian di malam Prom Night menjadikan hubungan mereka retak. Ya, Tyo sebenarnya bermaksud melindungi Rara dari kejahilan teman-temannya, tapi maksud dan cara yang dilakukan Tyo salah menurut Rara. Rara mengganggap “penyelamatan” itu sebagai pengkhianatan atas persahabatan yang telah mereka jalin. Dan parahnya, “penyelamatan” itu dilakukan ketika Tyo dalam keadaan mabuk, jadi Tyo tak merasa itu tindakan yang fatal bagi hubungan mereka.

Tyo tetap tak menyadari bahwa Rara masih marah dengannya, hingga beberapa tahun kemudian akhirnya mereka bertemu kembali disaat Tyo sudah menjadi artis kelas dunia karena kelihaiannya dalam menciptakan lagu, bermain musik, dan tentu saja karena ketampanannya. Dia “bersembunyi” dari dunia keartisannya di dekat rumah Rara, di Jogja. Dan di situlah akhirnya mereka menjalin persahabatan lagi hingga berbuah cinta.

“Karena Ra, tanpa teman, puncak gunung sekali pun hanyalah tempat yang sepi. Dan Tyo sepertinya sedang berada di sana sendirian. Tanpa keluarga dan tanpa sahabat. Mungkin karena itu dia sembunyi dari dunia. Dan dia temukan lagi hangatnya keluarga melalui kita. Kalau semua memang sempurna dalam hidupnya, trus kenapa dia ada di sini hari ini? Mesti ono sing kurang.” (Hal. 104).

Continue reading


May 23 2017

Review Lelaki Harimau

Buku ini tipis, tapi berbobot. Cuma butuh satu pertanyaan, mengapa Anwar Sadat dibunuh Margio, untuk akhirnya Eka Kurniawan sebagai penulis, memberikan pengalaman pembacaan yang sangat apik bagi saya. Seperti novel Eka Kurniawan lainnya, alurnya yang maju mundur ga bikin bingung, malah bikin ketagihan.

Di dalam novel ini, ada poin yang bisa diambil, yaitu tentang KDRT. Anak yang tumbuh dengan hardikan dan pukulan setiap hari (yang dilakukan oleh bapaknya), sangat mempengaruhi kejiwaan (istri dan) anak-anaknya. Margio dan Mameh, adiknya, adalah anak-anak yang tumbuh dengan tidak kebahagiaan ini, bisa dikatakan mereka adalah korban.

Continue reading


Apr 28 2017

Review Cantik itu Luka

Seseorang telah “meracuni” saya untuk membaca novel karya Eka Kurniawan. Sepintas saya pernah dengar judul novel ini sewaktu saya kuliah dulu, karena novel ini memang terbit pertama kali pada Desember 2002. Tapi baru akhir-akhir ini saya membaca dan mengoleksi novel karya Eka Kurniawan untuk kepentingan sesuatu (doain agar segera terwujud ya!).

Sebagai penulis (amatiran), ketika saya membaca sebuah novel, kadang saya membaca sebagai penulis (amatiran) atau sebagai benar-benar pembaca. Jika membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai penulis, wihhhh.. dasyat banget! Penokohannya, alurnya, dan ceritanya begitu kuat, hingga saya tak perlu dua kali untuk membacanya agar mengingat semuanya. Tapi kalau membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai pembaca dengan background saya yang kurang memahami hal-hal yang dianggap “tabu” oleh masyarakat, jadinya agak ngeri, jijik, ngawur, dan sederet ungkapan tak percaya lainnya.

Novel ini menceritakan tentang seorang pelacur paling mahal dan paling cantik bernama Dewi Ayu di sebuah kota bernama Halimunda. Dia memiliki 3 anak perempuan yang sama-sama cantiknya (yang  tentu saja tak tahu bapaknya yang mana), dan 1 anak perempuan yang sangat buruk rupa. Masing-masing anak memiliki cerita sendiri-sendiri yang menarik untuk diikuti dan saling berkaitan.

Jangan kaget karena dalam novel ini begitu banyak cerita inseas (perkawinan sedarah). Dua dari tiga menantu Dewi Ayu pernah berhubungan dengan mertuanya sendiri, yack! Meski tokohnya banyak, sebenarnya kalau dicermati, “suara”nya hampir mirip, seperti Sodancho dan Maman Gendeng. Sama-sama kasar tapi juga sangat kuat.

Oiya, dalam novel ini juga ada beberapa kutipan yang membuat saya agak takut karena saya orang yang yang gampang membayangkan:

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.(Cantik itu Luka; Hal 1) Continue reading


Oct 17 2014

Memaknai Setiap Tanda

“Tuhan, perkenankanlah aku menemani ibuku saat ia menjemput ajal…”, Ayu Utami, 121.

Kematian itu pasti bagi setiap mahkluk hidup. Datangnya bisa cepat atau lambat. Jika ingat mati, atau orang yang kita sayangi mati, rasanya hidup harus dibikin sebermanfaat mungkin untuk orang lain. Harus berlomba-lomba menabung kebaikan. Ayu Utami sering mendengung-dengungkan spiritualisme kritis di buku-bukunya, termasuk di bukunya kali ini, Simple Miracles, Doa dan Arwah.

“Spiritulisme kritis adalah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis”, Ayu Utami, 56. Maksud dari spiritualisme kritis yang saya tangkap dalam buku ini adalah, bahwa spiritual itu jangan ditelan bulat-bulat begitu saja, ada hal-hal yang mendasari tiap hukum tersebut (sebab-akibat). Dan sebagai manusia yang beragama dan beradat, kita wajib mengkaji hukum-hukum tersebut, agar kita paham, mana yang benar, cocok, dan baik untuk masing-masing individu tanpa ada paksaan. Dalam buku ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan dari penulis, tentang kehidupan setelah mati, memandang skeptis kepercayaan orang Jawa bahwa 40 hari setelah wafatnya seseorang, sebenernya roh tersebut masih berputar-putar di dalam rumahnya, betulkah hari Jum`at Kliwon dan Selasa Kliwon adalah hari keramat untuk orang Jawa, dan lain-lain.

4

Continue reading


Feb 28 2014

Menjadi Perantau Ala A. Fuadi

Bagi yang pernah merantau, khususnya ke luar negeri dalam waktu yang lama, pasti akan tertohok setelah selesai membaca ketiga buku best sellernya A. Fuadi, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara. Seorang scholarship hunter yang saat ini sudah mendapat 9 beasiswa dari berbagai universitas dan negara, membuat dia piawai menceritakan kegigihannya dalam menggapai mimpinya. Diawali dengan ceritanya yang harus dipaksa mondok di sebuah Pondok Madani di Ponorogo, masuk di perguruan tinggi negeri di Bandung, ditinggal wafat ayahnya dan harus membiaya kedua adik beserta ibunya di Bukit Tinggi, kemudian mencari pekerjaan di Jakarta yang ketika itu sedang krisis moneter, proses pencarian jodoh, hingga mendapat beasiswa dan pekerjaan di luar negeri yang membuat dia bimbang antara pulang atau tetap tinggal di negeri orang.

Pengen curcol dikit nih, setelah mempunyai anak, kecepatan membaca saya turun beberapa derajat karena merawat anak. Malem-malem berniat menyelesaikan buku demi buku, eh udah ketiduran.. Malem-malem bangun mau ngetik, eh si anak ikut bangun juga.. Jauh banget ketika zaman belum punya anak, hehehe.. Jadi ya terputus-putus nih share ringkasannya, mohon maklum ya..

Continue reading


Dec 2 2013

Menguak Moslem Millionare by Ippho Right

Jika membaca buku tulisan Ippho pada bagian awal saja, saya merasa bahwa orang ini money oriented banget. Kita seolah-olah “dipaksa” kaya oleh orang ini. Tapi setelah membaca hingga akhir halaman, saya menyadari bahwa yang ditulis orang ini bener banget. Moslem Millionare adalah buku keempat dari seri Otak Kanannya. Dalam buku ini, kita disuruh berpikir out of box, menjadi orang yang berpikiran lain daripada yang lain. Selain itu, kita diberi tips dan trik, sikap, serta langkah-langkah yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menjadi Moslem Millionare.

Semangatnya untuk menjadi kaya itu luar biasa. Dia tahu bahwa kaya miskin adalah ujian, dan tentu saja, seperti kebanyakan orang-orang pada umumya, dia memilih untuk menjadi kaya. “Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, dan distribusi seluas-luasnya”, hal 39. Maksudnya, kita “diutus” menjadi orang kaya yang amanah, dimana kekayaan kita digunakan untuk kebaikan orang lain, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan kita. Banyak orang kaya yang tidak bisa mengatur keuangannya, alhasil diakhir hidupnya malah memiliki utang yang tak sedikit jumlahnya, karena berusaha memenuhi gaya hidupnya yang hedon. Ada tanggung jawab besar, ketika orang menjadi kaya dan sukses. Sebagai seorang muslim, kita harus percaya bahwa ketika kita sukses, berarti Tuhan telah mempercayai kita untuk membagi-bagikan “titipan” rejeki-Nya kepada orang yang berhak. “Rejeki itu dekat dengan cinta, dimana rejeki akan berpihak pada orang yang pandai mencintai dan mengasihi”, hal 14. Hmmmm.. Contohnya, ketika orang tua kita akan pergi, kepada siapa mereka akan menitipkan uang belanja kepada anaknya-anaknya? Tentu saja kepada anak yang bisa amanah dan pandai mengatur keuangan, kan? Lah manusia saja seperti itu, apalagi Tuhan..

Continue reading


Jan 28 2012

Bahagia dalam Potongan-Potongan Hidup

cover depanSepertinya saya sudah lama sekali tidak me-review sebuah buku. Mungkin ngerasa sudah ga kuliah lagi kali ya.. Jadi, tiap selesai baca buku cuma bergumam “hmmm…”, “oooo..”, “keren…”, “wihhh..”. Dan seminggu kemudian, sedikit demi sedikit lupa pada bagian-bagian yang seharusnya diingat karena udah distabilo atau dicatat ulang (pembaca macam apa saya ini?). Kalau dulu jaman kuliah sih, masih telaten menandai bagian-bagian yang penting. Lebih tepatnya “dipaksa” telaten dan teliti karena me-review novel-novel yang tebel bisa jadi tugas yang awalnya terasa membosankan (curhatan khas anak sastra :p) tapi lama-kelamaan jadi sebuah kebiasaan yang  menyenangkan.

Nah, kali ini saya ingin me-review buku yang cukup best seller di Indonesia. Buku ringan bergenre komedi yang jarang ada di toko buku. Apalagi kalau bukan hasil tulisan Raditya Dika yang terbaru, Manusia Setengah Salmon. Ini adalah buku keenam yang ditulisnya, setelah kelima buku sebelumnya selalu jadi best seller dan yang judulnya ga jauh dari binatang-binatang. Kenapa baru kali ini saya me-review bukunya, karena bukunya kali ini benar-benar keren! Lebih dari sekedar lucu dan lebih bisa bikin terharu. Ada beberapa bagian yang bisa membuat saya ngakak sendiri sampai muka saya terasa panas dan jadi merah (bukan karena disetrika lho ya :p). Ada juga bagian yang membuat saya berhenti sejenak dari aktivitas membaca, meletakkan buku, dan kemudian merenung. Unik sekali!

Continue reading


Dec 13 2010

Kritik atas Perahu Kertas

Aku suka sirik sama orang-orang di tipi. Bukan karena tampang ato gaya kehidupan mereka. Bukan pula ketenaran dan sekelumit masalah yang menaungi kehidupan mereka (ya iyalah). Tapi aku lebih sirik dengan yang namanya “kenyamanan”. Membawakan acara gosip, berhaha hihi sejenak dengan teman yang sama-sama presenter terlihat sangat tidak “kerja”. Sing of song ga sampe 5 menit jg terdengar menyenangkan. Keliling dunia dengan iming-iming mengetahui situasi dan kondisi negara lain tentu sangat menggiurkan (pekerjaan yang siapa pun pasti ga nolak). Memasak dengan berbagai kreasi menu ciptaan sndiri dengan rona tanpa terpaksa membuat semua orang ingin menjadi koki seperti dia. Pemain bola yang sangat bernafsu untuk membentangkan bendera negara di podium yang paling tinggi, dan aku yakin mereka memiliki niat yang ikhlas untuk menjadikan negaranya sebagai juara. Mereka semua sangat terlihat enjoy dengan apa yang keliatan di tipi. Bagaimana sebuah hobi bisa berjalan beriringan dengan pekerjaan. Yach.. Itu yang membuat aku sirik. Pekerjaan  yang menghasilkan pundi-pundi uang dan tidak jauh-jauh dengan hobinya sendiri.

Continue reading


Oct 27 2010

Bukan bodoh…Tapi penakut…

Udah baca pembahasan bagian pertamanya tho? (Lek belum, baca edisi yang dibawah dulu ya..hehe). Lanjut ke bagian kedua yuk… Pada bagian yang kedua dalam novel dwiloginya Andrea Hirata ini berjudul “Cinta di Dalam Gelas”. Sebenarnya, setelah menuntaskan novel ini, aku agak bingung dengan judul-judul yang tertera pada masing-masing bagian. Keliatannya kok ga sinkron dengan isinya ya? Atau mungkin aku yang ga bisa cerna mksdnya?hehehe,,,

IMG_1554

Pada bagian yang kedua, Ikal lebih banyak menceritakan tentang Maryamah. Maryamah dikenal dengan nama Enong di desanya. Diceritakan, Maryamah ini adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal tertimbun longsoran timah ketika dia duduk di kelas 6 SD, beberapa hari setelah Ayahnya membelikan kamus bahasa Inggris satu miliyar. Oiya, Enong ini suka banget dengan pelajaran bahasa Inggris. Jadi ketika ayahnya berniat membelikan kamus (yang harganya tidak murah), Enong sangat senang.

Continue reading