Nov 29 2017

Panen Rambutan

Seperti di Kertosono, rumah Cinere tempat Fazna tinggal pun punya pohon rambutan. Bedanya, kalau pohon rambutan di Kertosono sekarang mati gara-gara salah takar pupuk oleh kakak saya (hahaha.. ngaku Mas Dop!), sedangkan di Cinere, selalu berbuah lebat ketika musim rambutan tiba. Dulu waktu saya masih SD (di Kertosono), ketika musim rambutan atau musim mangga tiba, saya selalu mengajak teman-teman saya main kerumah saya (yang pernah saya ajak naik genting mana suaranya? Hihihi). Naik talang air, manjat pohon, atau nangkring di genting rumah (iya.. genting rumah yang sudut kemiringannya 45 derajat.. hehe) sembari makan buah hasil petikan sendiri itu rasanya nikmat banget. Hmmm.. Ga tau ya kenapa dulu saya ga pernah dilarang oleh orang tua. Mungkin mereka ga sadar, anak-anak beserta teman-temannya ini melakukan hal yang mengkhawatirkan atau bahkan mereka terlalu capek memperingatkan, hahha.. beti, beda tipis! Sekarang kalau lihat genting rumah sendiri selalu mbatin, dulu kok berani ya.. hahaha..

Nah, karena saya mengalami bagaimana nikmatnya sensasi metik buah dari pohon dan bisa langsung dimakan, akhirnya saya mengundang teman-teman Fazna (beserta ibunya) untuk memanen buah rambutan di rumah Cinere. Alhamdulillah.. Akhirnya ada yang mbantuin ngehabisin rambutan itu.. Hehehe.. Lha buahnya buanyak dan ga mungkin juga saya habisin sekeluarga sendiri. Udah dikasih-kasihin tetep aja masih banyak buahnya! Bahkan ada yang sampai busuk di pohon gara-gara ga ada yang bisa ngambil. Duh.. sayang kan.. Mubazir!

Tapi alhamdulillah.. Ketika open house kemarin (begitu ibu-ibunya bilang) bukan teman-teman Fazna aja yang seneng, Fazna pun juga seneng banget teman-temannya main kerumahnya. Maklum, Fazna ga tinggal di kompleks yang banyak anak, jadi kehidupan sosialnya memang kurang ideal. Jadi ketika tahu teman-temannya mau main kerumahnya, dia happy banget! Alhamdulillahhh..

Kebetulan pohon rambutan di Cinere pendek-pendek, jadi anak kecil pun bisa menggapainya. Tapi meski begitu, ibu-ibunya tetep mbantuin kok.. buat dibawa pulang, hihihi.. Continue reading


Nov 20 2017

ARAS Festival

Awal Nopember lalu, sekolah Fazna lagi sibuk-sibuknya. Nama acaranya adalah ARAS (Ar-Rida Al Salam) Festival, yang menandai miladnya ARAS juga. Semua sibuk, dari muridnya (playgroup hingga SMP), wali kelasnya, wali muridnya, satpamnya (karena mbantuin bawa barang, wkwkkw) sibuk semua! Nah.. Ini adalah hal baru bagi saya dan Fazna (karena dulu playgroupnya ga disini). Kebetulan di awal ajaran kemarin saya ditunjuk sebagai Korlas (koordinator kelas) yang bertugas untuk menjembatani wali murid dengan wali kelas. Hmmmm.. Saya ga keberatan sih karena saya cuma ibu rumah tangga yang suka ngeblog dan nyambi bisnis online, hehehe. Tapi kalau tahun depan ditunjuk lagi, lebih baik saya menyilakan ibu-ibu yang lain, hihihi.

Setiap tahun, ARAS punya tema untuk masing-masing kelas. Tahun lalu, temanya adalah negara. Jadi setiap kelas menampilkan ciri khas negaranya, baik makanan ketika market day (yang terbuka untuk umum), dekorasi kelas, hingga pemilihan kostum sesuai dengan tema. Sedangkan tahun ini, untuk playgroup dan TK, temanya adalah musim (autumn, winter, summer, spring, rainy). Untuk SD dan SMP, temanya provinsi di Indonesia (dari Sabang hingga Merauke). Fazna dan teman-teman sekelasnya dapat musim spring. Duh agak PR juga dapat musim semi yang penuh bunga-bunga, hihihi. Hampir seminggu 2x menjelang ARAS Festival, wali murid dan wali kelas berjibaku menghias kelas agar secantik mungkin, karena keindahan kelas dilombakan lho! Kalau menang dapat uang yang kembali untuk anak-anak juga.

Saya merasa amazing lihat semangat ibu-ibu wali kelas yang totalitas banget menghias kelasnya. Saya ga ngira kalau mereka niat-niat banget dekornya, wkwkwk. Jadi nyesel kenapa kemarin males-malesan.. Huhuhu.. Yuk lihat dekor-dekor ARAS Festival yuk!

   Hasil Dekor Kelas Spring Continue reading


Mar 27 2017

(Hampir) Kehilangan

Beberapa minggu yang lalu saya hampir kehilangan seseorang yang sudah seperti bagian dari keluarga saya sendiri. Tiba-tiba saja, asisten rumah tangga saya, Ayu, pergi tanpa pamit lewat surat yang diletakkan di sofa tempat saya biasa duduk. Dia menyatakan bahwa dia tidak ingin bekerja kepada saya lagi. Seketika terasa ada “lubang” yang menganga di hati saya saat itu. Dia yang sudah seperti adik saya sendiri telah menginginkan pergi dari sisi saya. Nangis? Iya.. Saya nangis. Entahlah.. Saya paling ga bisa “ditinggal”. Fazna? Jangan ditanya.. Hampir setiap dia bosan, dia selalu bertanya,”Mbak Ayu mana?”

Beberapa hari sejak kepergiannya, ritme kehidupan saya berubah. Benar-benar totally house wife lah, hehehe. Tapi anehnya saya menikmatinya. Jadi flash back zaman-zaman di Auckland, “sendiri”. Perlahan-lahan saya mulai mengikhlaskan Ayu, yang saya pikir akan menyusul ibunya di Malaysia. Mem-WA dia untuk kapan-kapan kita bertemu, tapi jangan sampai Fazna melihat dia, karena saya saja berat ditinggal Ayu, apalagi Fazna. Kami dengannya sudah “melekat”.

Di saat kami sudah mulai mengikhlaskannya, tiba-tiba seminggu kemudian saya ditelpon olehnya dalam keadaan nangis. Kontan saya kaget dan sangat khawatir dengan keadaannya. Dia dimana? Diapakan oleh siapa? Saya penasaran sekaligus tak tahu apa-apa tentang keberadaannya. Akhirnya kami mengobrol di WA. Singkat cerita, dibantu oleh teman saya untuk melacak keberadaannya, Ayu ternyata sudah bekerja di tempat lain, tapi masih di Jakarta juga. Dia masuk di sebuah yayasan penyalur baby sitter, dengan maksud mencari pengalaman lain (dan tentu saja gaji lebih besar). Tapi setelah ditempatkan di sebuah rumah tangga, yang kebetulan majikannya berlatar belakang budayanya berbeda, dia tidak menikmati pekerjaannya, dia tidak kerasan. Dia mengirim foto kepada saya dalam keadaan nangis. Katanya dia kangen Fazna dan ingin kembali bekerja kepada saya.

Masya Alloh, rasanya campur-campur. Ada perasaan senang mendengar dia ingin kembali, ada perasaan sebal karena merasa ditinggal, dikhianati, tapi ada perasaan kasihan juga karena mengingat dia jauh dari ibunya sedari kecil. Memaafkan memang tak mudah, tapi belajar memaafkan itu harus. Tak ada manusia yang benar-benar sempurna. Saya pernah membaca sebuah hadist (entah shohih entah kurang), intinya dalam sehari saya atau semua majikan harus memaafkan 70x kesalahan asistennya dalam sehari. Nah lo.. Jadi Kesindir kan..

Sebagai manusia, tentu saya juga pernah salah dalam membimbingnya. Saya ingat, sebelum sore kepergiannya, paginya dia saya ingatkan untuk beberapa item pekerjaan rumah tangga yang belum terselesaikan dari seminggu yang lalu. Iya.. seminggu yang lalu. Mungkin saya agak keras mengingatkannya, mungkin dia juga pas suntuk, sorenya dia memutuskan pergi dari saya.

Kepergiannya kemarin membuat kami saling belajar. Saya dituntut untuk lebih sabar karena mencari asisten rumah tangga itu tak mudah dan saya dituntut untuk lebih tidak bergantung pada orang lain, karena ketika suatu saat dia pergi untuk benar-benar tak kembali, saya siap. Di sisi dia, dia juga belajar, bahwa bekerja itu tak selalu melulu tentang gaji. Majikan yang bisa meleluasakan asistennya untuk berkembang itu biasanya bisa lebih membuat nyaman.

Sebenarnya cerita drama ini sangat panjang. Tapi biarlah keluarga kami yang tahu. Intinya, marilah belajar memaafkan, sering ngomong dari hati ke hati, agar lebih plong dan kuat menjalani kehidupan. Toh masih ada kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan lagi. Bismillah.. Doain hubungan kami langgeng dan saling menguntungkan yaaa. 🙂


Dec 20 2016

Pulang

“Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Sesungguhnya kematian itu adalah suatu kepastian. Seperti rejeki, seperti kiamat. Cuma cara, waktu, lokasi, dan kondisi itu yang harus kita persiapkan sebaik-sebaiknya karena kita tak pernah tahu kapan tugas kita selesai di dunia, kapan harus “pulang” mempertanggung jawabkan kehidupan kita masing-masing di hadapan-Nya. Dia tak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan umatnya. Jika ujian terasa berat, maka bisa jadi karena umat tersebut memang umat pilihan, umat yang kuat.

Dalam bahasa Jawa, suami atau istri disebut Garwo, kepanjangan dari Sigaring Nyowo atau Sigaring Jiwo. Jika ditranslate ke dalam Bahasa Indonesia berarti belahan jiwa. Begitu dekatnya seorang pasangan hingga dia pantas menduduki kata “belahan” jiwa. Coba bayangan bagaimana bila jiwa mu dibelah. Separuhnya ada dirimu, separuhnya ada di pasanganmu. Jika “belahan” mu tak ada, terasa ada yang kurang lengkap. Dan jika “pasangan” mu itu sudah selesai tugasnya di dunia, dan harus “pulang” terlebih dahulu, terasa ada yang “hilang” dalam hidupmu. Ini yang dialami teman saya dua hari yang lalu.

Minggu pagi tanggal 18 Desember 2016, suami dari teman saya menyelesaikan tugasnya di dunia dengan 12 kru pesawat hercules lainnya, di Wamena. Kaget.. Benar-benar kaget dan ga menyangka sama sekali. Innalillahi wa innailahirojiun..

Foto atas : pernikahan Rika dan suaminya, Pak Hanggo. Foto bawah : nama-nama korban dalam kecelakaan pesawat hercules (pesawat hasil hibah dari Australia)

Continue reading


Nov 29 2016

Movember

Huehehehe.. Judulnya keren banget ya? Yang jelas kata itu bukan ide saya, tapi “movember” adalah kata yang saya temui pada spanduk di salah satu mal yang saya kunjungi bulan ini. Pertama kali baca, saya langsung senyum-senyum sendiri. Unik sekaligus mengingatkan. “Movember” seperti menjadi alarm untuk saya sendiri, karena di bulan ini, Nopember, adalah bulan dimana jatah umur saya di dunia berkurang setiap tahunnya. Hhhmmm.. jadi ingin curhat.

Astagfirullohaladhim.. Sudah 29 tahun saya hidup di dunia ini. Saya merasa banyak ga manfaatnya. Seharian lebih banyak pegang hape melayani customer daripada pegang Al-Qur`an (duh). Ngaji cuma 15-30 menit tiap habis subuh, tapi betah berjam-jam mantengin instagram (gara-gara bacaan dirumah habis -alesan lagi-). Ngafalin Al-Qur`an sehari 1 ayat aja berasaa berattttt.. Padahal ngafalin toko-toko online shop cepet banget, bahkan ga mau ‘kehilangan’ nama tokonya. Jadi ketika ketemu kata “movember” berasa ‘ditampar’ saja.

Sesuai judulnya “movember”, sepertinya saya harus bisa move on di bulan Nopember ini, harus punya resolusi untuk kehidupan saya berikutnya (ga perlu nunggu tahun baru untuk berusaha menjadi lebih baik ya, hehe). Saya ingin hidup saya lebih bermanfaat! Realistisnya sih, tidak menggunakan waktu untuk hal-hal yang mubadzir. Tidak banyak melamun dengan ‘seandainya’ (duh, godaan setan banget ini untuk kufur nikmat). Mengingat lagi bahwa fungsi ibu sebagai madrasah pertama untuk anak-anaknya. Karena saya ingin anak-anak kami lebih pintar daripada bapak ibunya,  maka sudah seharusnya saya lebih perhatian dengan perkembangan si bocah. Tapi akhir-akhir ini saya dilanda kemalasan luar biasa dan ga tau mainan edukatif apalagi untuk menstimulasi si bocah (padahal kalo mau nyari, ada ya di internet!). Menjadi istri yang baik untuk suaminya (nah.. rajin masak Dif..).

Hehehe.. Maaf, sisi lain saya memang agak suka nyinyir. Oke-oke.. Saya mengaku bahwa saya terlalu sering ‘memperhatikan’ hape saya hingga malas berolah raga, malas masak, malas mencari materi baru untuk bocah (mentang-mentang ada nanny-nya), malas ngafalin Al-Qur`an, dan malas ikut lomba nulis lagi (huhuhu.. barusan melewatkan event lomba nulis yang hadiahnya bikin ngiler). Semoga setelah ini saya lebih disiplin lagi menggunakan waktu.

Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya ga harus memusuhi hape juga sih, karena di dalam hape sekarang sudah ada Al-Qur`an dan ada memo untuk menulis ide tulisan yang tiba-tiba muncul. Jadi ini hanya soal manajemen waktu saja. Insya Alloh kedepannya saya harus lebih bisa mengatur jadwal kehidupan saya (cieee.. jadwal kehidupan, hehe.. semoga usia saya berkah ya Alloh.. aammiiinn). Ingatkan saya ya!


Jun 27 2016

Apa Kabar Cinta?

Baru kali ini saya mengikuti seminar Teh Kiki setelah sebelumnya sempat mengobrol (karena kebetulan beliau adalah kakak ipar tetangga saya) dan selesai membaca dua bukunya yang selalu best seller. Aduuuhhhh.. Malu banget rasanya dengan diri ini. Baru punya anak satu saja stock sabarnya sold out melulu, nah Teh Kiki, anaknya lima (dan sekarang sedang hamil anak keenam) tapi stock sabarnya ga habis-habis.

“Zaman sekarang ya, memiliki anak cowok sama khawatirnya dengan memiliki anak cewek. Pornografi begitu merajarela. Bayangkan, uploader tertinggi usia remaja berasal dari Indonesia! Cara termudah untuk menghancurkan sebuah negara adalah dengan pornografi. Jika narkoba hanya merusak tiga bagian otak, maka pornografi merusak lima bagian otak. Pornografi itu menghilangkan minat baca, menjadikan anak malas, dan menjadikan anak nekad,” kata Teh Kiki.

“Ingin menikahkan anak tanpa pacaran itu mulainya sejak bayi. Usahakan tidak memberikan tontonan yang tidak mendidik. Semisal cerita tentang princess, jangan kaget kalau pas remaja, anak kita ingin pacaran dan genit dengan laki-laki. Lha asupan bacaan dan tontonannya sedari kecil Frozen, Putri Salju, Cinderella, dll. Anak-anak krisis idola karena orang tua ‘salah’ memberikan idola. Begitu juga dengan yang laki-laki. Usahakan tidak memberikan tontonan yang berupa kekerasan fisik,” lanjut Teh Kiki. Duh.. Reminder banget bagian ini. Soalnya Fazna suka banget dengan Frozen, tapi sebenarnya dia lebih suka lagunya saja sih. Kalau jalan ceritanya, dia dari awal saya samar-samarin. Misalnya dalam buku tersebut ada laki-laki dan perempuan saling berpelukan, biasanya saya cerita kalau yang boleh beradegan seperti itu hanyalah papa dan mama. Tapi mulai detik ini saya akan lebih selektif lagi mencari buku-buku yang lebih mendidik. Sementara buku-buku princes-princes-an saya sembunyikan, hehehe. Kepada penerbit-penerbit buku, pleaseeeee.. Bikin buku cerita tentang sirah nabawi beserta gambarnya yang bagus-bagus dan terjangkau ya (karena biasanya buku-buku Islami anak, gambarnya kurang bagus. Sekalinya ada yang bagus, harganya melambung. Makanya terjangkau itu penting, agar bisa dinikmati semua kalangan. Kalau yang bisa membeli dan membaca kalangan atas saja, bagaimana pendidikan di kalangan bawah?)! Insya Alloh saya akan bersuka hati membelinya. Continue reading


Jan 27 2015

Hadiah Zwitsal

Alhamdulillahhh.. Hadiah lomba nulis Zwitsal kemarin mendarat dengan selamat di Cinere! Kebetulan bapak ibu saya lagi berkunjung.. Langsung deh foto-foto.. Hehehe..

a2

Continue reading


Jan 6 2015

Kronologi Lomba Zwitsal

tb2Langsung tertarik nulis deh lihat pengumuman ini..

Berbekal bismillah, akhirnya saya pun memutuskan untuk ikutan lomba ini dan mengirimkannya. Berbicara tentang bagaimana kasih sayang Ibu kepada anak dan cucunya adalah hal yang semua orang bisa. Untuk saya pribadi, tentu saja saya berharap jadi pemenang, meskipun bukan pemenang utama. Beberapa hari kemudian sebelum pengumuman pemenang lomba nulis di Fanpage-nya Zwitsal, tiba-tiba saya mendapat email seperti ini:

tb5

Continue reading


Dec 23 2014

Ibuku, Malaikat Tak Bersayap

Dear Ibu, aku sayang karena ibu adalah orang yang tak mempunyai alasan untuk tak disayangi. Ibu, ajari aku untuk menjadi wanita yang mempunyai hati selembut hatimu, tegar seperti karaktermu, dan kuat seperti pendirianmu. Aku tak tahu akan menjadi wanita seperti apa jika bukan karena pengasuhanmu.

Hampir 2 tahun yang lalu, ketika detik-detik pertama aku akan menjadi seorang ibu, engkau adalah satu-satunya sosok yang menyemangati aku dengan kasih sayang. Aku yang saat itu belum berpengalaman, mendapati tuntutanmu yang begitu berarti. Berpisah dengan suamiku sejak usia kehamilanku menginjak 7 bulan, membuat mentalku sedikit terbebani. Istri mana yang tidak mengharapkan kedatangan suaminya disaat-saat genting seperti itu? Istri mana yang tidak sedih ketika suaminya tidak bisa pulang cepat karena kerja diluar negeri? Tapi aku sangat bersyukur, memiliki orang tua, terutama ibu yang sangat peduli. Aku tak pernah menyalahkan keadaan, justru aku dapat mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa, meskipun aku sudah menikah dan mempunyai anak, ternyata aku masih sangat membutuhkan ibu sampai kapan pun.

11

 

(Foto ini diambil beberapa hari setelah melahirkan dan hendak pulang. Wajahku sangat kucel, Fazna masih merah, tapi ibuku tetap cantik).

Continue reading


Dec 20 2014

First Trophy!

Horeeeee… Alhamdulillah.. Untuk pertama kalinya Fazna dapet piala! Wekekeke.. Gara-garanya akhir-akhir ini Mak Fazna sering ikut lomba foto bayi. Hahaha.. Bener-bener pekerjaan ibu rumah tangga ya. Alhamdulillah deh akhirnya jadi juara.. Meski bukan juara umum, tapi lumayan lah dapet juara harapan 1.

 17(abaikan tangan kiri yang masih bawa nori, hihihi)

Continue reading