Feb 23 2012

Cuma Ingin Bilang,”Terima Kasih”.

Tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini. Mungkin karena keseringan makan jajannya keponakan yang masih berumur satu tahun, tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Memang benar, ketika kita dewasa, kita tak dapat mengingat kejadian demi kejadian sewaktu kita kecil secara detail. Ada bagian yang terasa nyata, ada juga bagian yang terasa “mengada-ada”. Begitu pula dengan yang saya alami. Potongan demi potongan kejadian berusaha saya ingat dan saya kumpulkan mengenai si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya), sayangnya ingatan tersebut belum bisa menjadi “film” yang utuh.

Ini berhubungan juga dengan biskuit Regal. Maaf, bukan promosi, tapi saya memang suka sekali makan biskuit, apa saja, termasuk biskuit Regal ini. Selain mengeyangkan, rasanya enak, harganya murah pula. Sifat lambung saya yang gampang lapar dan gampang kenyang, mengharuskan saya membawa camilan kemana-mana. Dulu saya juga suka sekali makan Chiki (maaf sebut merk) rasa keju, dan ketika mencoba Lays (eh, sebut lagi) yang rasa rumput laut, lidah saya langsung jatuh cinta. Tapi karena semakin mengerti bahayanya makan makanan bermicin yang dikonsumsi setiap hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti camilan dengan biskuit (lagi).

Continue reading


Jan 18 2012

Janji? *menyodorkan kelingking

Kau sudah memegang semua “kartu as” ku, tapi aku tak memegang “kartu as” mu sama sekali, aku rela. Tanpa aku menunjukkan “sisa kartu” yang ada di jemariku, sudah kupastikan kau tau, dan aku rela (kalah olehmu). Aku selalu muncul di hadapanmu dengan wangi, tapi kau selalu muncul dihadapanku dengan bau lapuk, (lagi-lagi) aku rela. Malam kunantikan dan berharap kau memuji baju tidurku yang berwarna-warni, meski tatapanmu (tetap) kosong dan cuek, aku (pasti) rela.

Aku terlalu mencintaimu. Entah kau sadari atau tidak. Aku tau itu tak baik bagi diriku, dan sebenarnya tak berarti apapun untukmu. Tapi, jujur, aku merasa seperti itu. Ketika malam datang, aku bersorak gembira. Buru-buru makan malam dan segera mengunci pintu kamar agar (secepatnya) bisa berduaan denganmu. Aku bahagia bisa mendapatkan mu di “sudut” terisolasi tanpa siapapun menyadari. Kadang Tuhan cemburu padamu, karena aku suka melakukan pengakuan dosa terlebih dulu padamu. Pernah aku “ditegur” Tuhan dengan hilangnya dirimu dari sudut ternyamanmu, dan aku menangis tersedu seperti seorang model iklan rambut yang sudah dikontrak merek sampo terkenal, kemudian rambutnya terbakar karena kecelakaan. Ah.. Keterlaluan kah aku? Kurasa tidak.. Aku hanya terlalu bergantung padamu, mungkin itu pula yang hendak Tuhan peringatkan. Tapi sekali lagi, aku tak bisa jauh-jauh darimu. Tapi juga tak bisa menduakan Tuhan.

Continue reading


May 25 2010

A Letter from Her for Him

Berkawan dengan seseorang itu harus ikhlas memayungi dia di kala hujan, ikhlas memberikan tempat yang sejuk di kala panas menyengat, dan juga ikhlas menyediakan waktu kosong untuk mendengar segala keluh kesahnya. Demikian juga dengan temanku yang bernama Intan ini. Dia bingung untuk menceritakan masalahnya secara langsung padaku, tak sempat katanya. Tempat tinggalnya pun berbeda provinsi denganku, maka dari itu dia menuliskan sebuah email untukku berupa luapan perasaan yang tengah dirasakannya ketika dirundung masalah. Masalah cewek apalagi kalo bukan cowok. Awal mula bukan maksudku untuk mau membeberkan masalahnya, tapi aku cuma ingin menunjukkan, bahwa roda kehidupan itu berputar, kadang di atas kadang juga dibawah. Dia ingin selalu di atas, dia ingin selalu menang, dia ga mau di bawah. Hm… dia seorang wanita yang idealis (padahal menurutku dia orang yang ga perfect2 bgt, kekurangannya jelas keliatan mata lah), tapi dia sering ceroboh. Jarang bisa mengalah, makanya aku sebagai kawan yang tau wataknya dengan baik, yang bisa menyeimbangi keteledorannya dalam menggampangkan masalah, mau berbagi masalah dengannya.

Continue reading


Jan 22 2010

wAniTaku

Pergilah, katamu padaku. Dan aku diam bergeming menatapmu. Pergi, katamu lagi sembari menatap wajahku dengan berkaca-kaca. Dan aku masih tetap melihatmu tak percaya. Pergi.. aku mohon, suaramu lirih tapi cukup menamparku pelan. Benih kebimbangan muncul berupa air yang keluar dari matamu. Ingin kuseka air matamu kala itu, memelukmu. Andai kau tau apa yang kurasakan saat itu, aku yakin kau akan memberikan kesempatan yang lebih besar padaku. Aku juga bisa melakukan sesuatu lebih dari yang kau bayangkan. Aku tetap diam berdiri tak bergerak sedikitpun, dan kau membalikkan badan, berlari kencang meninggalkanku sendiri.

Continue reading


Dec 24 2009

25 Hari Menuju Penyempurnaan Agama

Kututup album foto berwarna merah marun yang mulai pudar pada warnanya. Aku menyanyangi guru ngajiku. Namanya Bu Nur. Mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Berjilbab dan berkulit sawo matang. Memiliki tinggi badan lebih kurang 160 cm dan berat badan 55 kg. Tinggal dirumah mungil dengan ibundanya. Kemana-mana menggunakan jasa sepeda bututnya. Laju kehidupannya pun monoton jauh dari kemewahan. Sebenarnya sosok Bu Nur sama seperti perempuan desa pada umumnya. Guratan-guratan kelelahan nampak di wajah, halus tapi jelas terukir. Mengajar ngaji dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih dan hidup serba sederhana. Tapi ada yang membedakan antara dia dengan wanita sebayanya. Bu Nur belum menikah. Usia yang telat nikah di lingkungan pedesaanku kala itu, bahkan di perkotaan.

Bu Nur si perawan tua. Beliau tegar menghadapi sang waktu. Meskipun banyak gunjingan miring, dirinya hanya bisa tersenyum, pasrah. Istiqomah menjalankan peran kehidupan sebagai seorang guru ngaji ia lalui. Sadar bahwa lahir, jodoh, rezeki serta mati sudah ada yang mengaturnya. Dan dia hanya seorang manusia yang ingin menjalani takdir. Aku sendiri adalah bekas anak didiknya di Masjid At-Taqwa yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Aku ingat pertama kali diajar olehnya ketika berusia 6 tahun. Hebat nian wanita ini. Mengajarkan aku dari yang buta tentang Al-Qur`an hingga proses penghafalannya dengan sabar. Bersama teman-teman sebayaku, sore hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan senja beramai-ramai. Setelah menyelesaikan proses hafalan surat-surat pendek di Juz 30, kami sering mengobrol dengannya. Dalam lingkaran itu, ada sekitar tujuh orang perempuan yang senang menimba ilmu padanya. Tapi aku yang paling dekat dengan Bu Nur. Sering aku sekedar maen dan memberikan oleh-oleh yang dititipkan ibuku untuk Bu Nur. Aku menyayanginya. Posisiku sebagai anak tunggal menjadikan beliau sebagai kakakku. Mungkin bisa juga sebagai teman, bahkan orang tua. Cerita seputar teman laki-laki yang cukup menarik perhatianku menjadi topik yang istimewa antara aku dan Bu Nur waktu itu.

Continue reading


Dec 8 2009

…UKS…

Senin pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir murid-murid kelas tiga SMUN 2 Surabaya mengikuti upacara bendera, setelah beberapa minggu yang lalu mereka sibuk dengan ujian-ujian kelulusan, melelahkan. Diantara mereka banyak yang berpakaian lengkap, tak ingin melewatkan sang merah putih dengan masuk BK (Bimbingan Konseling) gara-gara tidak memakai atribut wajib. Sepatu hitam mengkilat, sabuk hitam bermerk, topi yang sudah sedikit apek, serta dasi yang sedikit kurang rapi bertengger di tubuh masing-masing siswa (sekalipun berjilbab). 🙂

Tentu saja tak hanya ada siswa kelas tiga saja yang siap, tapi ada juga siswa kelas satu dan dua, serta para ibu guru yang ikhlas mengikuti upacara pagi itu. Anggota pasus tampak rapi dalam jajaran balok dari yang rendah di awal hingga tinggi ke belakang. Pasukan PMR tengah siaga jika ada yang tiba-tiba pingsan. Posisi petugas PMR ini terpisah antara satu dengan yang lainnya. Dia berdiri di belakang siswa perkelas. Di deretan siswa yang sedang bertugas, ada Andah yang masih duduk di kelas 2 Ipa 2. Cantik dan penuh aura. Bertugas di belakang kelas 3 Ipa 7. Tak biasanya Andah mau bertugas di belakang kelas itu, selain ramai, kelas tersebut juga memiliki predikat yang kurang baik di mata sekolah. Meskipun tampak lesu, dia meminta kawan-kawannya, agar diijinkan berdiri di kelas yang diinginkannya. Kontan siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 ramai dengan adanya Andah yang bertugas dibelakang barisan mereka.

Karena upacara yang terakhir, wejangan-wejangan yang dilontarkan kepala sekolah lebih lama dari biasanya. Lama-kelamaan keadaan semakin tidak kondusif, siswa-siswa tidak berada dalam barisannya, memperhatikan wejangan-wejangan tersebut saja tidak. Dan yang paling terasa pagi itu adalah panasnya yang semakin menyengat. Andah yang sedari awal kurang sehat, tiba-tiba saja terjatuh. Padahal sejatinya dia sedang bertugas menolong yang kurang sehat, tapi ternyata dia sendiri yang pingsan. Kontan hal tersebut membuat siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 bingung.

Continue reading


Nov 22 2009

Pengorbanan

“Ayahhh…. Kita mau kemana?”, tanya si anak dengan wajah polosnya.

“Ke tempat yang sekiranya kamu bisa bermain dengan bebas nak”, pandangan ayah masih lurus ke depan.

“Berarti kita akan ke toko mainan seperti beberapa bulan yang lalu?”, tanya si anak lagi dengan mata yang tampak berbinar-binar.

“Bukankah kau belum pernah masuk toko itu?”, dahi sang ayah yang sudah keriput tampak lebih mengerut. Tua.

“Iya ayah… Ardi memang belum pernah masuk ke toko itu… Tapi melihat mainan yang bertumpuk-tumpuk di toko itu, Ardi senang yah..”, giginya yang rata terlihat mulai tumbuh. Meskipun tak sehat dan berwarna putih kekuningan.

Sang ayah hanya bisa tersenyum kecil. Kekhawatiran yang semula dia simpan dengan rapi, sebenarnya bisa dipahami dari sorot matanya. Dia terharu melihat keceriaan anaknya yang baru berumur 6 tahun tersebut. Ingin sekali sang Ayah berbicara banyak hal dengan Ardi, tapi Ayah tetaplah orang yang tertutup. Selalu ingin terlihat baik-baik saja didepan buah hatinya.

“Lalu kenapa kita membawa tas sebanyak ini ayah?”

“Sapa tau perjalan kita membutuhkan baju yang banyak untuk menghangatkan tubuh-tubuh kita, sayang.”

“Perjalanan kesana kan tidak jauh Ayah. Dulu cuma butuh sehari, eh dua hari ya yah?

“Dua hari anakku.”

“Kenapa semua baju-bajuku dibawa yah?”

Continue reading


Nov 16 2009

Sisa Sepotong Cinta

“Asem….!!! Brengsek!!! Cukup.. Cukup… Aku sudah cukup bersabar dalam hal ini. Aku bersumpah dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, menginginkan kejadian paling buruk menimpanya. Aku percaya akan hukum karma. Hidupnya pun tak akan tenang dihantam awan. Bukan Clara namanya jika tidak bisa membuat detik dalam kehidupannya menjadi tak berarti. Cuih!”

“Tapi..sebenarnya bukan itu maksud dari seorang yang begitu mencintaimu. Ingatkah kau bahwa dia selalu mengantarkanmu kemana pun kau pergi. Mengajarkan sesuatu yang susah menjadi mudah. Tak lupa, selalu membawa kan bekal untukmu dipagi hingga malam hari.”

“Itu dulu. Kini cintanya menguap begitu saja.”

“Karena kamu tak merawatnya.”

“Aku merawatnya kok.. Mencoba untuk menjadi pupuk atau air segar baginya.”

“Pupuk yang sudah tak layak pakai dan air keruh”.

“Ya kalau itu yang kamu mau terserah. Aku hanya ingin dia lebih menderita daripada yang aku alami sekarang.  Aku mengutuk dia dalam kepedihanku. Huh!!”

Clara nampak menggerakkan gigi atas dan gigi bawah. Nampaknya dia sangat geregetan melihat sesosok foto laki-laki yang selama ini menghiasi dompet Roxy putihnya. Dipandangi dan dibelai-belai foto itu. Antara geretan dan rasa ingin bertemu nampak dari raut mukanya. Kemudian raut wajahnya berubah. Nampak dari sudut mantanya ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah dari tadi ia pendam.

“Coba pikirkan lagi akibat dari tindakan yang tak kau pikirkan matang-matang. Sebenarnya dia masih sangat mencintaimu. Dia pun begitu karena salahmu sendiri.”

Continue reading