<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Difana Jauharin</title>
	<atom:link href="http://difana.com/blog/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://difana.com/blog</link>
	<description>tulisan dan artikel lainnya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 12:41:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Closing Weekly Meeting</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1279</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1279#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 11:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Every week on Friday after get exam, my course has event the name is “Weekly Meeting”. This event has purpose to make ourselves more confident, speak in stage and in formal situation. In the last weekly meeting, my job is being a speaker. This is my second speech in HEC 2. The schedule in closing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Every week on Friday after get exam, my course has event the name is “Weekly Meeting”. This event has purpose to make ourselves more confident, speak in stage and in formal situation. In the last weekly meeting, my job is being a speaker. This is my second speech in HEC 2. The schedule in closing of weekly meeting almost same in <a href="http://difana.com/blog/?p=1252">closing study club</a>. So.. There is a speech from speakers (one of them is me), role play, music, and dance. Check this out!</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01922.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1280" title="MC Formal" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01922.jpg" alt="" width="410" height="547" /></a>MC Formal</p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-1279"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/dif.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1281" title="me" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/dif.jpg" alt="" width="536" height="835" /></a>Speech! <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01944.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1282" title="chief" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01944.jpg" alt="" width="410" height="547" /></a>Chief of Weekly Meeting</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01946.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1283" title="MC Informal as Detective" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01946.jpg" alt="" width="547" height="410" /></a>MC Informal</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01957.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1284" title="Role Play" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01957.jpg" alt="" width="547" height="410" /></a>It`s about Role Play</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01963.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1285" title="Music" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/DSC01963.jpg" alt="" width="671" height="503" /></a>The Last Performance</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">One by one schedule of my course end.. Time Flies ya&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1279</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapkah Kita &#8220;SENDIRI&#8221;?</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1275</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1275#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 15:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1275</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu kecil, saya selalu ketakutan kalau menyadari bahwa saya sedang sendiri. Bukan ketakutan yang biasa, tapi ketakutan yang luar biasa. Ketika siang hari dan ingin ke toilet, saya selalu meminta pembantu saya yang sedang asyik memasak untuk menemani saya. Untuk tidur dimalam hari pun saya selalu ditemani kakak saya yang sudah dewasa dan sebenarnya enggan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sewaktu kecil, saya selalu ketakutan kalau menyadari bahwa saya sedang sendiri. Bukan ketakutan yang biasa, tapi ketakutan yang luar biasa. Ketika siang hari dan ingin ke toilet, saya selalu meminta pembantu saya yang sedang asyik memasak untuk menemani saya. Untuk tidur dimalam hari pun saya selalu ditemani kakak saya yang sudah dewasa dan sebenarnya enggan harus tidur berdua dengan saya. Sewaktu kecil, saya memang suka merepoti orang lain dengan hal-hal yang tidak penting (semoga sekarang, setelah dewasa, saya tidak seperti itu).</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya selalu minta ditemani kemana-mana. Awalnya saya mengira kalau ketakutan saya bermula dari kakak saya yang suka menakut-nakuti saya akan hantu. Tapi setelah dewasa dan tahu bahwa hantu itu ada hanya kalau kita mau mereka ada, saya jadi bisa meminimalisir rasa takut saya akan hantu. Meski begitu, sebelum menyadari pentingnya kondisi “sendiri”, saya merasa takut entah bersumber pada apa, dan saya tahu itu bukan dari hal-hal gaib seperti waktu saya kecil dulu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1275"></span>Saya masih ingat, ketika ujian akhir di kelas enam sekolah dasar. Waktu itu hanya siswa kelas enam saja yang masuk sekolah, dan adik-adik kelas saya sengaja diliburkan oleh pemerintah. Saya yang mulanya biasa saja, tiba-tiba disergap perasaan dag dig dug karena merasa “sendiri” dibangunan yang cukup besar di usia saya saat itu. Saya bisa merasakan dahi saya berkenyit dan dada saya berdetak lebih cepat. Meskipun saya tidak suka ujian “sendiri”, toh ternyata saya menikmati dan lebih berkonsentrasi di kondisi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketidak sadaran saya akan pentingnya “sendiri” berlanjut hingga SMA. Dulu saya selalu merasa lebih <em>pede</em> jika bersama dengan teman-teman. Saya merasa lebih eksis dan dihargai publik jika saya jalan bergerombol. Pokoknya saya merasa malu jika saya harus berjalan sendiri. Begitu pula ketika saya melihat ada orang yang hanya seorang diri, saya pasti mengganggap orang itu aneh dan <em>kuper</em>. Tapi sekarang, setelah umur saya hampir menginjak seperempat abad, saya malah cukup terganggu dengan keberadaan remaja-remaja bergerombol yang sedang mencari jati diri itu. Mereka tidak membuat saya terkesan. Saya malah tertarik untuk memperhatikan seseorang yang sedang sendiri, dan sering memikirkan apa yang dia pikirkan. Saya suka iseng, dengan menjadikan pikiran saya ada di pikiran orang yang saya perhatikan (mungkin karena saya kurang kerjaan kali ya).</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi “sendiri” masih menjadi <em>momok</em> yang mengerikan bagi saya di awal-awal kuliah. Ingin sekostan dengan orang yang dikenal-kenal saja. Mengambil mata kuliah dengan teman-teman yang hanya itu-itu saja. Lagi-lagi saya tidak ingin “sendiri”. Padahal di saat-saat sendiri, sebenarnya saya telah membaca buku yang keren-keren, saya telah “bercerewet” dengan menghabiskan kertas yang cukup banyak. Bahkan saya pernah naek taksi (bukan karena sombong, tapi ini karena bapak saya tidak memperbolehkan saya memakai sepeda motor) keliling kota dan makan sendiri di mall tanpa kuatir ada yang menunggu atau saya tunggui. “Enak juga jalan-jalan sendiri”, gumam saya saat  itu. Meski tak bisa dipungkiri bahwa berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai adalah waktu yang menyenangkan, tapi dalam kondisi “sendiri”, tanpa saya sadari, saya menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini berlaku pula saat sidang skripsi yang tentu saja membuat saya deg-degan. Mencari tema sendiri, menulis huruf demi huruf sendiri, dan tentu saja mempertanggung jawabkannya di depan para dosen, sendiri. Meski lelah, ternyata saya (lagi-lagi) bisa menikmati setiap detik dalam proses “sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada saja orang yang datang dan pergi sesuka hati dalam kehidupan kita tanpa bisa kita cegah. Dengan kata lain, kita harus siap “sendiri”, sebisa mungkin untuk tak bergantung dengan orang lain. Seperti kata papa,”Pesuruh yang sempurna adalah diri sendiri”, maka saya dilatih untuk tidak merepotkan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ternyata ketakutan saya akan “sendiri” selama ini, bukan bersumber pada hantu seperti waktu saya kecil, tapi lebih kepada takut karena belum siap untuk “sendiri”. Tapi semakin dewasa ternyata saya bisa memahami, bahwa ada kalanya kondisi “sendiri” itu menjadi penting. Seperti ketika saya ujian di kelas enam SD, seperti saya yang suka membaca dan menulis, seperti saya yang jalan-jalan sendiri, seperti saya yang harus mempertanggung jawabkan skripsi saya, itu semua saya lakukan dalam kondisi “sendiri”. Hal ini bisa disejajarkan dengan mau tak mau, sepi atau seramai apapun dunia kita saat ini, toh kita juga akan dan harus menghadap kepada-Nya dalam keadaan “sendiri”. Disaat roh kita hanya bisa melihat tubuh kita yang telah membiru, disaat itu pula perbuatan, perkataan, dan semua yang kita lakukan di dunia akan ditimbang keberadaannya. Sekali lagi, kita mati dalam keadaan “sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, setiap saya merasa “sendiri”, saya selalu memotivasi diri dengan seruan,”Tenang Difana.. Maju terus.. Jangan takut sendiri.. <em>Ntar</em> matimu juga sendiri <em>lho</em>&#8230; <em>Ntar</em> di kuburan juga sendiri <em>lho</em>.. Semangat&#8230; Semangatttt.. ”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>So</em>, sudah siapkah kita “sendiri”?</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/IMG00745-20101104-0746.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1276" title="blue" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/05/IMG00745-20101104-0746.jpg" alt="" width="1087" height="1200" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1275</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Closing Study Club</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1252</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1252#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 13:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1252</guid>
		<description><![CDATA[Closing study club was a little event in my course. This event has a purpose to close my study club in HEC 2. For formal study, I was studying inside of my class room (with a real teacher), but for informal study, I was studying out side of the class room. Can you guess, who [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01846.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1256" title="My Senior Class" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01846.jpg" alt="" width="839" height="617" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Closing study club was a little event in my course. This event has a purpose to close my study club in HEC 2. For formal study, I was studying inside of my class room (with a real teacher), but for informal study, I was studying out side of the class room. Can you guess, who was teaching me in informal class? Yes.. My senior was teaching me. Actually, most of them were younger than me! They were graduated from senior or junior high school. In the afternoon, they were teaching me same as like my teacher in the formal class. Here, I could asked anything about the lessons I didn`t know. It was like private class.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1252"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG-20120412-02115.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1257" title="During Study Club" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG-20120412-02115.jpg" alt="" width="855" height="628" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">When the night, we had debate class (in front all of student). The topics was very interesting. Like &#8220;Speaking vs Grammar&#8221;, which more important that the other? Who was suitable to be a leader in the government  &#8220;Women vs Men&#8221;?  Did you agree to stop &#8220;Smoking&#8221;? Because the big income in our coutry are from cigarette factory, but smoking is very dangerous in our life. Yach.. That was my example topics of my debate. I could improve my vocab in this session.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG-20120326-02087.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1258" title="Debate Session" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG-20120326-02087.jpg" alt="" width="855" height="628" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Now, it`s done. They will be a real teacher in some city in Indonesia with the real student. For celebrate their farewell, we had &#8220;Clossing Study Club Event&#8221;. And I had a job, to be  an English Translator. Hihihi.. I remember.. When i was child, i did this job (just flash back.. :p).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC017651.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1260" title="English Translator" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC017651.jpg" alt="" width="201" height="335" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01829.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1261" title="With Friends" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01829.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01830.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1267" title="My Teacher in HEC 2" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01830.jpg" alt="" width="839" height="617" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Oke.. In this event we have welcome dance (ladies and gentlement), role play, sing a song, and we enjoyed it! These picture of even:</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01813.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1263" title="Role Play" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01813.jpg" alt="" width="465" height="620" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01825.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1264" title="Sing a song" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01825.jpg" alt="" width="839" height="617" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">With my tutor (Mr. Hasbi -from Bandung-), and my friends in my study club (Miss Arina, Mr. Amin -from Thailand-, Mr. Bosscho -from Riau-). We had dinner  together.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01727.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1268" title="With Miss Arina" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01727.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01726.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1265" title="Classic Cafe" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01726.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01745.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1269" title="Classic Cafe" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01745.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Nice to be your student!</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01861.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1266" title="Salam-salaman" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/DSC01861.jpg" alt="" width="876" height="644" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1252</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Happy Born Day Mommmmm&#8230;. *peluk cium</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1248</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1248#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 14:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1248</guid>
		<description><![CDATA[Rencananya ingin memberi surprise untuk mama bareng ketiga saudaraku lainnya, Mas Dolfi, Mbak Dina, dan Mas Rori tanpa mama atau pun papa tahu. Tapi rencana berubah ketika papa menelepon saya, sesaat saya (di Pare) akan dijemput Mbak Dina dan Mas Dolfi dari Kediri ke Kertosono. “Nduk, neng ndi (dimana)?”, tanya papa. “Lagi dikostan nunggu Mas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rencananya ingin memberi <em>surprise</em> untuk mama bareng ketiga saudaraku lainnya, Mas Dolfi, Mbak Dina, dan Mas Rori tanpa mama atau pun papa tahu. Tapi rencana berubah ketika papa menelepon saya, sesaat saya (di Pare) akan dijemput Mbak Dina dan Mas Dolfi dari Kediri ke Kertosono.</p>
<p>“Nduk, <em>neng ndi</em> (dimana)?”, tanya papa.</p>
<p>“Lagi dikostan nunggu Mas Dolfi, mau dijemput Mas Dolfi”, jawab saya santai.</p>
<p>“Loh.. Lha Dolfi lho masih di Kediri, ini udah deket kostanmu, udah ku jemput aja!”, kata papa.</p>
<p>“Loh.. Aaaa.. Emm.. Aaaa.. Aku udah di jalan pah sama Mas Dolfi”, saya mulai gusar.</p>
<p>“Loh.. <em>Lha jaremu</em> (katamu) lagi dikostan?”, tanya papa curiga.</p>
<p>“Aaa&#8230; Eemmm..Iiii.. Iya ini bareng temen-temenku mau ke Kediri..”, saya mulai meyakinkan.</p>
<p>“<em>Piye tho</em> (gimana sie) ndukkkk.. <em>Ojo ngapusi</em> (jangan membohongi) papa, umur papa sudah 61 tahun. Papa <em>ngerti kowe ngapusi</em> (tahu kamu berbohong). <em>Kowe iki katene rabi, ojo numpak</em> angkot sembarangan (kamu ini mau menikah, jangan naik angkot).. Hayo ngaku <em>saiki neng ndi</em> (sekarang dimana)? Jangan bikin kuatir!!”, nadanya papa marahhhh..bangeeetttt..</p>
<p><span id="more-1248"></span>Dan mengakulah saya dengan terisak-isak, bahwa kami, anak-anaknya mau memberi kejutan untuk mama yang hari ini berulang tahun. Tapi tentu saja saya mengajukan satu syarat, jangan membocorkan rahasia ini, karena kami tahu, papa bukanlah seorang penjaga rahasia yang baik. Saya memang sensitif kalau mendengar suara orang marah. Pasti kaget dan jadi nangis.</p>
<p>“Kak, padahal umurnya kakak sudah mau 25 tahun, sudah mau nikah juga, tapi kok masih nangis?”, tanya adik kost saya, Nabila, sambil tertawa.</p>
<p>“Lha aku dimarahi lho. Lagian kalo sudah mau 25 tahun, ga boleh nangis gitu?”, jawab saya sambil <em>melap</em> sisa air mata saya.</p>
<p>Ya..ya..ya.. Saya tahu, papa marah sebegitunya karena takut saya keluyuran kemana-mana, apalagi naik angkutan umum, apalagi mau nikah gitu. Papa memang mempunyai kekuatiran yang berlebihan kepada anak-anaknya. Hehehe.. Dulu saya memang suka “berpetualang” (kemana saja) tanpa minta ijin terlebih dahulu, untuk itulah papa trauma kalau tiba-tiba saya tidak ada di tempat yang semestinya (contohnya: kostan). Karena kalau minta ijin, pasti bakalan susah untuk dilegalkan. Ternyata papa masih saja lupa, kalau sekarang anak bungsunya sudah besar. Meski masih suka “berpetualang”, anak bungsunya sudah mau minta ijin dulu kok (hehehe).</p>
<p>Setelah dimarahi oleh papa, gantian deh saya dimarahin Mbak Dina karena dituduh sebagai pembocor rahasia. Haduh.. Duh.. Duh.. Dimarahi sana sini. Maaf.. Saya membocorkan rahasia ini karena ada dalam kondisi yang tidak terencana sebelumnya. Katanya Mas Dolfi, hari ini yang jadi korban adalah saya -_-“.</p>
<p>Beruntung ketika sampai rumah Kertosono, Mama masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya tahu. Ada saya, Mas Dolfi, Mbak Dina, Biyan, Dubey, serta Ibhy yang menjadi kado untuk Mama. Mas Rori dan Mbak Lutfia sudah menunggu dirumah terlebih dahulu. Tanpa Papa, kami pun berkumpul bersama di rumah tercinta. Hehehe.. Maaf ya Pah.. Jadi tidak ikut berfoto bersama kami.. Padahal papa mestinya ikut karena ulang tahun papa yang sebenarnya dekat dengan mama, tanggal 25 April. Momen yang paling penting hari ini adalah, mama bisa tersenyum bahagia&#8230;</p>
<p>Di usia yang ke 57 tahun ini.. Semoga mama diberi umur yang panjang serta barokah, bahagia dunia akhirat dan semakin dicintai oleh Alloh.. Amieennnn&#8230;  Mama.. We love you so much&#8230; <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG_1735.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1249" title="luv mom" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/04/IMG_1735.jpg" alt="" width="692" height="461" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1248</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eh, Beneran Sudah Nikah?</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1238</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1238#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Mar 2012 14:31:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1238</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillahirrobbilalamin&#8230; Finally,, My beloved friend got married.. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah.. Mawaddah.. dan Warohmah ya Zah&#8230; Amiennn.. Saat Akad Nikah Punya tetangga yang seumuran itu enak.. Apalagi satu sekolah.. Baik sekolah formal maupun non formal.. Satu SD.. Satu SMP.. Satu guru ngaji.. Satu guru karate.. Dan tentu saja orang tua saya seperti orang tuanya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Alhamdulillahirrobbilalamin&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Finally,, My beloved friend got married..</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga menjadi keluarga yang Sakinah.. Mawaddah.. dan Warohmah ya Zah&#8230; Amiennn..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02080.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1239" title="akad nikah" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02080.jpg" alt="" width="707" height="613" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Saat Akad Nikah</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1238"></span>Punya tetangga yang seumuran itu enak.. Apalagi satu sekolah.. Baik sekolah formal maupun non formal.. Satu SD.. Satu SMP.. Satu guru ngaji.. Satu guru karate.. Dan tentu saja orang tua saya seperti orang tuanya, begitu pun sebaliknya. Jadi yang diobrolin pun tidak jauh-jauh dari lingkungan rumah kami..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02084.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1240" title="Foto-foto :D" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02084.jpg" alt="" width="855" height="642" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02086.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1241" title="Foto-foto" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02086.jpg" alt="" width="855" height="642" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Bersama-sama dengan teman-teman SMP 1 Kertosono</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya persahabatan yang berdasarkan “tetanggaan” ini berjumlah tiga orang. Ada saya sebagai wanita yang berpredikat “paling lelet”, ada Ika Usfarina sebagai wanita yang berpredikat “paling pinter”, dan yang terakhir Aziza Silvia sebagai  wanita yang berpredikat “paling polos” diantara kami. Kata Ayu Utami dalam Bilangan Fu, jika bisa diibaratkan, persahabatan kami itu seperti bentuk segitiga. Masing-masing individu memiliki porsinya sendiri-sendiri. Jika tidak ada “satu bagian”, maka kami tidak bisa disebut “segitiga”. Jika tidak ada “satu bagian”, maka dua diantara kami hanya akan berupa sebuah “sudut”. Tidak bisa menjadi bentuk “segitiga”, dimana bentuk ini adalah ruang yang biasa kami isi dengan cinta dan kasih sayang. Begitulah persahabatan kami.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG_8806.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1242" title="Segitiga" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG_8806.jpg" alt="" width="899" height="599" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Segitiga Persahabatan (sayang Ika tidak bisa datang di pernikahan Aziza)</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah sesuatu yang mengharukan dan mengejutkan ketika kami akan menikah (insyAlloh) di tahun ini dengan bulan-bulan yang hampir bersamaan tanpa terencana sebelumnya. Bayangkan.. Teman sedari kecil akan menikah secara hampir bersamaan! Hihihi.. Saya tidak habis pikir, mengapa kita begitu kompak sekali, bahkan ketika akan menempuh hidup dengan seorang suami pun harus hampir bersamaan, hihihi. Hmmmm.. Semua jadi terasa cepat berlalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling muda yang paling cepat menikah. Ini mengapa judul tulisan saya “Eh, beneran sudah nikah?” karena saya masih belum percaya.. Si “paling polos” sudah menikah.. Hehehe..</p>
<p style="text-align: justify;"> Selamat ya Zah&#8230; Semoga pernikahanmu diberi keberkahan dari Sang Maha Pengatur.. Amien..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02085.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1243" title="yeay!" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120325-02085.jpg" alt="" width="808" height="937" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/1076xcitefun-friendship-notes-23.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1244" title="&lt;3" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/1076xcitefun-friendship-notes-23.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1238</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My New Friends, My New Class, and My New Experience</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1229</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1229#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Mar 2012 15:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir dua minggu saya tinggal disini. Lebih tepatnya menimba ilmu yang sekiranya saya perlukan untuk beberapa bulan ke depan. Tak salah dan tak keliru, saya sedang memperlancar kemampuan bahasa Inggris saya. Karena waktu yang saya punya tidak banyak, akhirnya saya memilih paket belajar yang hanya selama tiga bulan saja, yaitu dari bulan Maret, April, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah hampir dua minggu saya tinggal disini. Lebih tepatnya menimba ilmu yang sekiranya saya perlukan untuk beberapa bulan ke depan. Tak salah dan tak keliru, saya sedang memperlancar kemampuan bahasa Inggris saya. Karena waktu yang saya punya tidak banyak, akhirnya saya memilih paket belajar yang hanya selama tiga bulan saja, yaitu dari bulan Maret, April, dan Mei.</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120309-02017.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1230" title="Foto Bersama" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120309-02017.jpg" alt="" width="855" height="628" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Hayooo, saya yang mana? :p</p>
<p>Desa ini terkenal dengan sebutan Kampung Inggris, dan berlokasi di Pare, Kediri. Menurut saya, kampung ini lebih dari sekedar kampung “Inggris”, karena member-membernya (banyak) yang dari luar Jawa dan ada beberapa member yang berasal dari luar negeri. Jadi bisa dibayangkan betapa heterogennya (bahasa) teman-teman saya. Ada yang dari Riau, Makasar, Kalimantan, Ambon, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lain-lain. Jadi selain memperlancar bahasa Inggris, kami saling belajar bahasa daerah dan berbagi ciri khas kota masing-masing. Agak sebel juga sih, kalau menemukan percakapan seperti ini,</p>
<p><span id="more-1229"></span></p>
<p>“What`s ur name?”</p>
<p>“My name Difana.”</p>
<p>“Where do you come from?”</p>
<p>“I come from Kertosono.”</p>
<p>“Where`s Kertosono?” T_T</p>
<p>Dan ternyata banyak sekali yang tidak tahu dimana Kertosono. Saya merasa jadi “duta” Kertosono jika harus menjelaskan dimana dan apa ciri khas nya Kertosono.</p>
<p>Oiya, di kelas saya saja, ada dua member dari Thailand lho! Jadi lucu gitu mendengarkan mereka berbicara bahasa Thailand. Bahasa Thailand mengenal bahasa bunyi, yang maksudnya jika bunyinya beda maka artinya beda pula, jadi ketika mereka berbicara, saya seperti mendengarkan mereka bernyanyi, hihihi.</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/150320129.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1231" title="Say Cheese :D" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/150320129.jpg" alt="" width="855" height="642" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Namanya Miss Arina (tengah-jilbab pink). Dia seorang muslim Thailand.</p>
<p>Mengapa desa ini bisa menjadi begitu populer? Kalau menurut analisis saya, metode yang diajarkan di HEC, (cabang dari BEC, kursusan pertama yang ada di desa ini), mirip dengan Pondok Madani di Ponorogo. Kok saya bisa tahu? Tepat beberapa hari sebelum saya masuk HEC, saya baru saja membaca buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Metodenya persis banget. Setiap yang baru saja diajarkan harus dibunyikan keras-keras agar kami segera ingat dengan ilmu yang baru saja kami dapat. Setelah mendapat ilmu dari guru kami di kelas, kami juga ada study club yang fungsinya untuk memperjelas tema-tema pelajaran di kelas. Dan yang menjadi tentor kami adalah “kakak-kakak” yang periodenya masuk di atas kami. Rata-rata usia mereka jauh lebih muda dibanding usia saya, tapi bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus. Saya jadi malu sendiri.. Kemana saja saya waktu SMA, kok sampai sekarang masih menghafalkan grammer-grammer?</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02039.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1232" title="Mejeng depan kelas" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02039.jpg" alt="" width="855" height="628" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Dengan Miss Nadya, teman satu kostan yang berasal dari Kendal.</p>
<p>Selama belajar, setiap member harus memakai papan nama masing-masing, jika tidak maka akan diberi sangsi, persis di Pondok Gontor. Kalau terlambat masuk diatas lima menit, benar-benar disuruh pulang, tanpa ampun deh! Pakaian untuk para lelaki pun pun harus dimasukkan celana, biar rapi.</p>
<p>Oiya.. Kursusan disini juga unik banget. Kelasnya tidak memakai meja! Pertama kali saya masuk, saya hanya menduga-duga,”Oh, mungkin ini masih hari pertama, jadi ga pake meja”. Eh.. Ternyata hari kedua dan seterusnya tetap tidak memakai meja, hehehe.. Agak kurang nyaman sih sebenarnya.. Dan saya belum menemukan jawabannya, kenapa hanya ada kursi di kelas kami.</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02041.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1233" title="Kondisi kelas" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02041.jpg" alt="" width="503" height="642" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Foto ini saya ambil secara diam-diam dari belakang <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setiap hari Jum`at, kami ada ujian. Ujiannya macam-macam, ada ujian tulis, ada juga ujian oral. Dan setiap ujian, kami diwajibkan memakai baju hitam putih, persis seperti orang mau melamar pekerjaan, hehehe.</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120309-02015.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1234" title="Ujian" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120309-02015.jpg" alt="" width="744" height="443" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Suasana Ujian Tulis di Luar Kelas</p>
<p>Alhamdulillah.. Selama dua minggu ini saya masih enjoy-enjoy saja nih, belum menemukan kendala yang berarti. Bismillahhh.. Dengan restu Alloh, semoga saya berhasil menyelesaikan apa yang saya mulai sehingga saya bisa lancar menggunakan bahasa internasional ini. Amien!</p>
<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02038.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1235" title="Sebelum Berangkat" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/IMG-20120312-02038.jpg" alt="" width="467" height="622" /></a></p>
<p>Keep on fighting till the end! #motto kelas saya :p</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1229</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata Enak</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1225</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1225#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 05:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang gandrung banget dengan hand body lotion produk ini! Maaf.. Bukan iklan.. Tapi saya langsung suka dengan aromanya ketika pertama kali mencoba. Rasanya, saya jadi (harus) rajin mandi biar bisa pakai hand body lotion ini, hihihihi. Karena aromanya tahan lama, jadi kalau pas lagi siang-siang dan bete, cium saja anggota badan yang tadi pagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/DSC01720.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1226" title="Vaseline" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/03/DSC01720.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a>Saya sedang <em>gandrung banget</em> dengan <em>hand body lotion</em> produk ini! Maaf.. Bukan iklan.. Tapi saya langsung suka dengan aromanya ketika pertama kali mencoba. Rasanya, saya jadi (harus) rajin mandi biar bisa pakai <em>hand body lotion</em> ini, hihihihi. Karena aromanya tahan lama, jadi kalau pas lagi siang-siang dan <em>bete</em>, cium saja anggota badan yang tadi pagi dikasih <em>lotion</em>, eh, <em>ga</em> jadi <em>bete</em> deh!</p>
<p>Maklum, mungkin dasarnya saya suka segala hal tentang cokelat <em>kali</em>, jadi sekarang <em>seneng banget</em> ada <em>hand body lotion</em> aroma cokelat. Padahal, sebelumnya, saya <em>ga</em> suka pakai <em>hand body lotion</em> lho. Karena ketika memakai <em>hand body lotion</em>, tubuh menjadi terasa semakin lengket jika berkeringat, dan itu <em>ga</em> enak menurut saya.</p>
<p>Tapi, sekarang saya (mau) rajin pakai <em>hand body lotion</em> jenis ini. Ringan, nyaman, dan bikin kulit lebih lembut!</p>
<p>Silahkan mencoba! <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1225</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuma Ingin Bilang,&#8221;Terima Kasih&#8221;.</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1218</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1218#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 16:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[Tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini. Mungkin karena keseringan makan jajannya keponakan yang masih berumur satu tahun, tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Memang benar, ketika kita dewasa, kita tak dapat mengingat kejadian demi kejadian sewaktu kita kecil secara detail. Ada bagian yang terasa nyata, ada juga bagian yang terasa “mengada-ada”. Begitu pula dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini. Mungkin karena keseringan makan jajannya keponakan yang masih berumur satu tahun, tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Memang benar, ketika kita dewasa, kita tak dapat mengingat kejadian demi kejadian sewaktu kita kecil secara detail. Ada bagian yang terasa nyata, ada juga bagian yang terasa “mengada-ada”. Begitu pula dengan yang saya alami. Potongan demi potongan kejadian berusaha saya ingat dan saya kumpulkan mengenai si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya), sayangnya ingatan tersebut belum bisa menjadi “film” yang utuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini berhubungan juga dengan biskuit Regal. Maaf, bukan promosi, tapi saya memang suka sekali makan biskuit, apa saja, termasuk biskuit Regal ini. Selain mengeyangkan, rasanya enak, harganya murah pula. Sifat lambung saya yang gampang lapar dan gampang kenyang, mengharuskan saya membawa camilan kemana-mana. Dulu saya juga suka sekali makan Chiki (maaf sebut merk) rasa keju, dan ketika mencoba Lays (eh, sebut lagi) yang rasa rumput laut, lidah saya langsung jatuh cinta. Tapi karena semakin mengerti bahayanya makan makanan bermicin yang dikonsumsi setiap hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti camilan dengan biskuit (lagi).</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/Marie_Biscuits__hypen__8_dot_8oz_BE-500x5001.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1220" title="Marie_Biscuits__hypen__8_dot_8oz_BE-500x500" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/Marie_Biscuits__hypen__8_dot_8oz_BE-500x5001.jpg" alt="" width="500" height="181" /></a><span id="more-1218"></span>Ada beberapa potongan kejadian yang sempat saya ingat dari masa lalu:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>saat itu saya masih TK;</li>
<li>setiap mau berangkat sekolah;</li>
<li>di depan cermin;</li>
<li>dikuncir Ibu;</li>
<li>disuapin Yu` (panggilan untuk abdi dalem di rumah saya);</li>
<li>biskuit Regal;</li>
<li>si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) yang datang setiap pagi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Bukan karena manja, tapi kata Ibu, saya anak yang suka <em>nelat</em>. Alhasil tiap mau berangkat, pasti Ibu dan Yu` sibuk mendandani serta menyiapkan perlengkapan sekolah saya. Disaat yang bersamaan, ketika rambut saya yang sedang diproses menjadi “Kuncir Kuda Poni” ala Ibu dan disuapin Yu` agar tidak kelaparan di sekolah, saya selalu menunggu si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Setiap hari si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) selalu datang tepat ketika saya sedang dikenai kegiatan 2 <em>in</em> 1 ini. Saya lupa wajahnya seperti apa, yang jelas dia seorang kakek tua yang cukup jangkung, berkaca mata tebal, dan berpakaian model safari warna hijau lumut atau cokelat muda. Selebihnya saya tidak ingat ciri-ciri lain si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya).</p>
<p style="text-align: justify;">Biskuit Regal yang dibawa si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) tidak utuh berupa satu bungkus merah seperti di toko kelontong saat itu, tapi biskuit ini dibungkus dalam satu plastik bening yang masing-masing diisi dengan dua buah biskuit dan kemudian di steples. Seperti anak kecil normal lainnya, saya suka diberi. Meskipun hanya diberi dua plastik, yang berarti saya membawa empat buah biskuit ke sekolah, saya tetap senang. Tapi kemudian saya tidak ingat, apakah biskuit tersebut sempat saya bagikan kepada teman-teman saya, atau saya makan sendiri. Kata teman-teman TK saya, waktu kecil, saya galak. Suka menang sendiri dan tidak suka berbagi. Mendengar cerita mereka yang seperti itu, kemungkinan besar jawaban dari pertanyaan saya adalah biskuit tersebut saya makan sendiri. Maaf.</p>
<p style="text-align: justify;">Si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini bukan kakek kandung saya dan tak memiliki hubungan darah dengan keluarga saya sedikit pun. Tapi setiap pagi, beliau rajin datang membawa biskuit Regal yang bisa saya bawa untuk bekal sekolah sebagai pengganjal perut saya yang gampang lapar itu. Kebetulan saya anak terakhir dari tiga bersaudara yang tinggal di suatu desa yang tidak cukup besar. Karena kata Ibu saya suka <em>nelat</em>, saya suka ditinggal oleh kakak-kakak saya yang sudah siap lebih dulu. Oleh karena itu, biskuit yang dibawa si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) selalu hanya buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika saya bertanya pada Ibu, “Bu, Ibu <em>inget ga</em>, dulu ada kakek yang suka <em>ngasi</em> aku biskuit?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Loh.. Masih <em>inget tho</em> kamu?”, tanya ibu balik.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Inget</em> lah.. Kan waktu itu <em>udah</em> TK. Namanya siapa ya Bu? Aku lupa”, lanjut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku juga <em>lupa`e sopo nama`e</em>.. Pokoknya orangnya itu dulu yang suka bersih-bersih masjid samping rumah dan sayang <em>banget</em> sama kamu. Kata dia sama Ibu dulu, dia sengaja <em>dateng</em> telat biar bisa <em>ngasih</em> biskuit itu cuma buat kamu, bukan untuk mbak-mbakmu. Dia minta tolong Ibu agar merahasiakan hal ini dari saudara-saudaramu, biar mbak-mbakmu <em>ga</em> ada yang iri. Bahkan <em>sampe</em> beberapa hari sebelum dia akhirnya “berpulang”, dia masih suka <em>mbawain</em> kamu biskuit Regal lho”, sahut Ibu yang sedang menyapu sambil berlalu. Saya kaget. Saya terharu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi ingatan saya kabur, tepat di bagian kapan terakhir si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini memberi saya biskuit. Tahu-tahu saya tumbuh besar dan si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) menghilang dari setiap penantian pagi saya. Saya baru ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya)  lagi ketika ada biskuit Regal yang sekarang selalu ada di toples meja makan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmmm.. Mengenai keberadaannya yang tiba-tiba “hilang”, mungkin dulu saya masih setia menunggu beliau di pagi hari, sampai akhirnya si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) “berpulang”, saya tidak tahu atau tak mau tahu, kemudian saya lupa. Mungkin juga dulu saya masih terlalu kecil hingga belum tahu arti sebenarnya dari “berpulang” yang Ibu maksud. Ah.. Ternyata menyebalkan menemukan suatu “film” yang tak utuh. Bagian-bagian terpenting putus, dan yang ada hanya potongan-potongan “gambar” yang harus saya rangkai sendiri karena penasaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari bagaimana si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini tiba-tiba “menghilang”, ada satu hal yang mengganjal di hati saya. Saya belum pernah berterima kasih, kepada si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Sekali pun belum pernah. Bayangkan, bagaimana rajin dan rutinnya beliau memberi saya kesenangan, dan saya tak membalas apa pun atas kesenangan yang pernah beliau beri, sedikit pun. Bahkan namanya saja saya tidak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, saya pikir, ucapan yang paling berat di ucapkan di dunia ini adalah tentang “minta maaf”. Tapi ternyata saya salah. Karena, ternyata ucapan yang paling berat di ucapkan di dunia ini adalah tentang “terima kasih”.</p>
<p style="text-align: justify;">Al Fatehah untuk si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1218</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Musim) Ibu Baru</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1207</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1207#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 15:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1207</guid>
		<description><![CDATA[Kebahagiaan pasangan yang baru menikah akan semakin lengkap dengan hadirnya sang buah hati. Setelah hampir setahun menikah, teman-teman saya ini (segera) dipercaya Tuhan untuk merawat dan mendidik hasil benih-benih cinta mereka. Yukkk.. Nengokin keimutan mereka sebelum tumbuh menjadi “penguasa dunia”.. Hehehe.. Sepertinya tahun ini menjadi tahun “Ibu Baru” untuk sahabat-sahabat saya. Di Pernikahan Krisdiana tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan pasangan yang baru menikah akan semakin lengkap dengan hadirnya sang buah hati. Setelah hampir setahun menikah, teman-teman saya ini (segera) dipercaya Tuhan untuk merawat dan mendidik hasil benih-benih cinta mereka. Yukkk.. <em>Nengokin</em> keimutan mereka sebelum tumbuh menjadi “penguasa dunia”.. Hehehe..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01601.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1208" title="belle" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01601.jpg" alt="" width="465" height="620" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1207"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sepertinya tahun ini menjadi tahun “Ibu Baru” untuk sahabat-sahabat saya. Di <a href="http://difana.com/blog/?p=984">Pernikahan Krisdiana</a> tahun lalu yang cukup mengagetkan banyak pihak, sahabat saya yang biasa kami panggil Kade ini, dapat memiliki momongan langsung tanpa menunggu waktu yang cukup lama. Namanya, Salsabila Putri Jasmine. Ada yang manggil Jasmine, ada yang manggil Putri, tapi aku boleh panggil “Bila” saja kan Mama Kade? “Bila.. Bila..” Lucu yaaa&#8230; Matanya sipit kayak Papanya (mentang-mentang musim artis Korea yaaa).. Kulitnya merah kayak pipi Mamanya kalau habis dicubit.. Perpaduan yang unik.. Hihihihi..</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01605.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1209" title="DSC01605" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01605.jpg" alt="" width="839" height="629" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01599.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1214" title="unyuuuu" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/DSC01599.jpg" alt="" width="465" height="620" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Anak perempuan yang lahir di tanggal 27 Januari 2012 ini, dilahirkan Mama Kade dengan kondisi normal tanpa kekurangan apa pun. Meski Kade sempat diprediksi harus melahirkan putrinya dengan caesar karena sungsang, toh si calon cantik dengan berat 3kg dan panjang 48 cm ini bisa dilahirkan dengan normal. Alhamdulillaaahhhh&#8230; Semoga menjadi anak yang sholihah ya Bila.. Cantik di dalam juga cantik di luar.. Amieeennn.. <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01169.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1212" title="New Happy Mom" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01169.jpg" alt="" width="620" height="718" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01175.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1213" title="ka:ki--&gt;Viradin, Kade, Me" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01175.jpg" alt="" width="480" height="640" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jika Kade “dititipi” anak perempuan yang imut, <a href="http://difana.com/blog/?p=781#more-781">Putri dan Bagus</a> ini “dititipi” anak laki-laki yang calonnya gagah banget. Namanya Farhan Nauval Abdillah. Meski panggilannya Farhan, aku boleh manggil “Fafa” saja ya (kok aku suka ganti-ganti nama anak orang <em>tho</em>? Hihihi.. Yang penting tetep keliatan keren, <em>ga papa</em> kan? :p). Si calon gagah yang dilahirkan normal pada tanggal 1 Januari 2012 (enak ya.. ulang tahunnya dirayakan <em>sak</em> dunia) ini lahir dengan berat 3 kg dan panjang 45 cm. Sekali lagiii.. Alhamdulillaaahhhh.. Semoga menjadi anak yang sholeh ya Fafa.. Bermanfaat di dunia dan di akhirattt.. Amiiieeennn.. <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01944.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1211" title="Putri n her son" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/IMG-20120212-01944.jpg" alt="" width="862" height="642" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ga</em> nyangka ya.. Sahabat-sahabat saya sekarang sudah memiliki keluarga kecil yang sempurna. Menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kalian, menjadi panutan ketika si kecil beranjak dewasa, serta menjadi orang yang dipilih Tuhan untuk bisa bertanggung jawab atas titipan-titipan yang diberikan olehNya. <em>Ga </em>semua orang diberi kenikmatan-kenikmatan seperti ini lho.. Betapa beruntungnya kalian.. Subhanalloh&#8230; <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kata Ustad Maulana dalam @IslamItuIndah, memiliki anak lelaki itu adalah sebuah kebanggaan, sedangkan memiliki anak perempuan itu adalah sebuah kebahagiaan. Hayo pilih yang manaaaa? Aku pilih dua-duanya boleh<em> ga</em> ya Rabb? Hehehe.. <em>Ngajak </em>nego<em> lakok`an</em>.. Beneran <em>nih</em>.. Saya juga <em>kepingin</em> punya anak perempuan dan anak laki-laki yang normal, berbakti kepada kedua orang tua, dan selalu mencintaiMu lebih dari siapa pun ya Rabb. Boleh kan ya Rabb? <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tapi apa iya ya, anak perempuan itu membawa kebahagiaan? Semoga saya termasuk anak perempuan yang bisa membahagiakan orang tua saya.. Amiennn.. <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1207</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Bershalawat</title>
		<link>http://difana.com/blog/?p=1197</link>
		<comments>http://difana.com/blog/?p=1197#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 13:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diva</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://difana.com/blog/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang bertanya, “Kenapa kita mendoakan Nabi Muhammad? Kenapa kita bersusah payah melantunkan shalawat untuk Nabi Muhammad yang sudah jelas-jelas masuk surga? Apa pula manfaatnya buat kita?” Bagi yang pemahaman Islam-nya dangkal seperti saya, pasti pernah memiliki pertanyaan seperti itu. Atau minimal selama ini kita memang bershalawat, tapi tidak tahu tujuan lainnya, selain agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Banyak orang yang bertanya, “Kenapa kita mendoakan Nabi Muhammad? Kenapa kita bersusah payah melantunkan shalawat untuk Nabi Muhammad yang sudah jelas-jelas masuk surga? Apa pula manfaatnya buat kita?”</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang pemahaman Islam-nya dangkal seperti saya, pasti pernah memiliki pertanyaan seperti itu. Atau minimal selama ini kita memang bershalawat, tapi tidak tahu tujuan lainnya, selain agar dapat pahala saja. Kenapa.. Kenapa.. Dan kenapa.. Sampai beberapa hari yang lalu saya mengikuti pengajian dalam rangka Maulid Nabi di Masjid Al-Kautsar, Kertosono. Mendengarkan ceramah Ustad Mashuri yang berasal dari Jombang ini, membuat saya sedikit paham alur sunahnya bershalawat untuk Nabi kita tercinta.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/muhammad-saw-3-copy.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1198" title="muhammad-saw" src="http://difana.com/blog/wp-content/uploads/2012/02/muhammad-saw-3-copy.jpg" alt="" width="303" height="298" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Tahu <em>diba`an</em>? Itu <em>lho</em>.. Jenis shalawatan yang dilantunkan bersama-sama dan biasanya dilakukan di masjid seminggu sekali. Dulu waktu saya masih SD, sering <em>banget</em> diajak Mbak Dina (kakak saya nomer dua) ke masjid. Belum fasih dan belum hafal <em>banget</em>, masuk SMP saya sudah jarang ke masjid untuk <em>diba`an</em> karena ga ada Mbak Dina yang <em>ngajakin</em> (malasnya jangan jadi contoh ya). Nah.. Ustad Mashuri kemarin ini mengulas tentang isi <em>diba’an</em>. InsyAlloh, berikut adalah rangkuman yang masih bisa saya ingat dan saya tulis (eh, lebih tepatnya diketik <em>ding</em>!).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1197"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Jauh sebelum bumi diciptakan, di surga sana Alloh sebagai Sang Maha Penguasa memberikan pengumuman untuk penghuni-penghuni surga, bahwa Alloh akan menciptakan cahaya yang rahmatan lil`alamin (kasih sayang untuk semua). Seketika itu, “heboh” lah keadaan surga. Cahaya yang seperti apa? Cahaya yang bagaimana? Siapa yang beruntung sebagai pembawa cahaya tersebut?</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian terjadilah percakapan antara Malaikat dan Alloh, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapakah ya Alloh, cahaya yang Engkau maksud? Apakah cahaya itu berwujud Nabi Adam sebagai manusia pertama yang Kau ciptakan di surga? Tapi bukankah beliau terbuat dari tanah?”, tanya salah satu malaikat kepada Alloh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan dia”, jawab Alloh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu siapa ya Alloh? Apakah dia Nabi Nuh, nabi yang telah selamat dari banjir yang teramat besar itu?</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan dia”, jawab Alloh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hmm&#8230; Apakah dia Nabi Ibrahim? Nabi pertama yang telah menamai ajaran Mu sebagai agama Islam?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan pula”, jawab Alloh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkinkah dia Nabi Musa, satu-satunya Nabi yang bisa berbicara dengan Engkau langsung ya Alloh?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan”, jawab Alloh.</p>
<p style="text-align: justify;">“Atau&#8230; Nabi Isa kah dia, nabi yang semua ucapannya selalu dipercaya seluruh manusia di muka bumi?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan”, jawab Alloh. “Cahaya itu bernama Nabi Muhammad. Nabi terakhir sepanjang zaman”, jelas Alloh lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi.. Bukankah dia manusia yang tercipta dari tanah ya Alloh?”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Alloh pun mulai menjelaskan runtutan cahaya ini berproses. Cahaya ini lebih dahulu diciptakan Alloh sebelum Nabi Adam diciptakan. Ketika diciptakan dari tanah, Alloh telah menyisipkan cahaya suci itu di (tulang) pinggangnya Nabi Adam. Nabi Adam menjadi makhluk mulia karena adanya cahaya itu. Dia adalah satu-satunya nabi yang “dilahirkan” di surga.</p>
<p style="text-align: justify;">Cahaya itu terus menerus turun sampai pada Nabi Nuh. Sama dengan Nabi Adam, Nabi Nuh pun menjadi makhluk yang mulia, karena dia berhasil selamat dan menyelamatkan orang-orang yang percaya pada ajarannya, dari banjir bandang yang teramat dahsyat (masih ingat <a href="http://difana.com/blog/?p=116">film 2012</a>? Saya rasa film itu terinspirasi dari cerita Nabi Nuh ini).</p>
<p style="text-align: justify;">Cahaya itu masih turun temurun hingga sampai ke Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun menjadi makhluk mulia karena kecerdasannya dalam berdebat untuk melawan orang-orang yang masih setia menyembah berhala. Lagi-lagi Nabi Ibrahim menjadi makluk yang mulia karena Beliau “membawa” cahaya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampailah cahaya tersebut pada Nabi Musa. Nabi Musa adalah nabi yang paling dekat dengan Alloh, karena Beliau adalah satu-satunya nabi yang bisa berbicara langsung kepada Alloh tanpa perantara siapa pun. Suatu ketika, Nabi Musa bertanya kepada Alloh, orang seperti apa yang bisa masuk surga Alloh. Dan Alloh pun menunjukkan salah satu calon orang yang pantas masuk surga-Nya. Di salah satu gua yang sempit seperti yang ditunjuk Alloh sebelumnya, Nabi Musa menemui seorang kakek yang sedang berdzikir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kek.. Kata Alloh, Kakek adalah salah satu calon penghuni surgaNya”, sapa Nabi Musa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya tentu saja saya masuk surga ya Nabi, karena selama 700 tahun hidup saya, saya gunakan untuk selalu beribadah padaNya”, jawab si kakek mantap.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, Nabi Musa bermimpi bahwa si kakek tersebut meninggal dan masuk neraka. Ketika bangun, bertanyalah Nabi Musa, “Kenapa si kakek yang sebelumnya adalah calon penghuni surga, ternyata masuk neraka ya Alloh?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dia masih ‘calon’ penghuni surga. Kakek ini terlalu sombong hanya karena dia sudah beribadah 700 tahun untuk-Ku. Padahal untuk masuk surga, syaratnya adalah bisa mendapatkan rahmat dari-Ku, bukan berdasarkan jumlah tahunan dia beribadah”, Alloh langsung menjawab pertanyaan Nabi Musa, tanpa perantara Malaikat Jibril (yang biasanya bertugas menyampaikan wahyu). Nabi Musa menjadi mahkluk yang mulia, lagi-lagi karena Beliau “membawa” cahaya itu (waduh..kakek yang beribadah 700 tahun saja tidak jadi masuk karena setitik kesombongan, bagaimana kita yang rata-rata hanya berumur 60 tahun ya?).</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, cahaya tersebut sampai juga pada Nabi Isa. Nabi Isa mendapatkan tugas dari Alloh untuk memberitahu seluruh umat manusia, bahwa akan lahir cahaya yang dimaksud Alloh selama ini. Cahaya itu bukan dirinya sendiri, tapi cahaya tersebut akan disebarkan oleh nabi terakhir sepanjang zaman. Nabi Isa menjadi makhluk yang mulia, yang setiap perkataannya selalu dipercaya umat diseluruh dunia, karena (lagi-lagi) Beliau “membawa” cahaya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan sampailah cahaya tersebut pada seorang yang bernama Sayid Abdullah. Beliau adalah ayah dari Nabi Muhammad kelak. Sayid Abdullah pernah dilamar oleh seorang wanita yang sangat cantik, kaya, serta ahli ibadah, tapi Sayid Abdullah menolak karena telah dijodohkan orang tua nya dengan wanita yang bernama Aminah, ibu Nabi Muhammad. Ketika Aminah akhirnya mengandung, wanita yang cantik serta ahli ibadah tersebut berkunjung ke rumah Abdullah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya Abdullah, aku kemari tidak untuk melamarmu lagi. Tahukah kau, kenapa dulu aku terpesona dan sangat tertarik padamu? Karena kau sangat bercahaya saat itu. Dan entah bagaimana akhirnya, cahaya tersebut kini berpindah di rahim Aminah, dan kau tak mempesona seperti dulu”, terang wanita cantik tersebut. Karena wanita cantik ini ahli ibadah, dia sampai melihat cahaya yang tak bisa dilihat manusia biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mengandung Nabi Muhammad, Aminah pun sempat mengalami keanehan-keanehan. Seperti ketika malam hari dan Aminah hendak tidur. Padahal lampu kamar sudah dimatikan, tirai kamar sudah di tutup, tapi kamar Aminah pun masih terang benderang karena cahaya tersebut berasal dari perutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar.. Cahaya itu berproses dari masa ke masa. Cahaya itu adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Cahaya itu meminjam jasmani Nabi Muhammad sebagai perantaranya. Cahaya itu adalah rahmat yang disebarkan oleh nabi akhirul zaman, Nabi Muhammad. Cahaya itu Alloh yang punya, dan Nabi Muhammad bertugas untuk menyebarkan cahaya tersebut untuk kebahagiaan seluruh manusia di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika bisa diibaratkan, cahaya itu adalah lampu-lampu dirumah yang setiap malam kita nyalakan. Kita tak bisa menyentuh listrik secara langsung, karena tegangannya yang sangat kuat. Tapi kita memerlukan cahaya tersebut untuk menerangi bagian-bagian “tergelap” kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini, cahaya tersebut telah menyebar di seluruh dunia. Kita bertugas untuk “mengumpulkan” cahaya-cahaya itu dengan cara selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad, nabi yang sudah membuat bumi ini bersinar-sinar. Alloh sendiri yang menyuruh kita untuk selalu bershalawat, bukan Nabi Muhammad. Kini, sudah tahu kan, untuk apa kita banyak-banyak bershalawat? Agar kita menjadi manusia mulia seperti Nabi Adam, agar kita menjadi manusia yang selamat seperti Nabi Nuh, agar kita bisa menjadi manusia yang cerdas seperti Nabi Ibrahim, agar kita bisa menjadi manusia yang dekat dengan Alloh seperti Nabi Musa, agar kita bisa menjadi manusia yang dipercaya orang seperti Nabi Isa, dan agar kita bisa menjadi manusia yang dirahmati Alloh seperti Nabi Muhammad.</p>
<p style="text-align: justify;"> “Bismillahirrahmaanirrahim.. Allahumma shalli`alaa sayyidina muhammadin wa`alaa aali sayyidina muhammad”, menurut saya, shalawat yang ini paling enak kalau dibaca di sepertiga malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kalau lagi deg-degan, tergesa-gesa, atau tidak bisa tidur, saya paling senang bershalawat seperti ini, ”Shallaullah alaa Muhammad” sampai merasa tenang dan akhirnya tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Bershalawat bisa berbagai macam bentuknya. Dari yang panjang seperti shalawat <em>nariyah</em> dan <em>diba`an</em>, hingga yang pendek-pendek, seperti yang di atas. Shalawat juga dalam rangka kita mengingat Rasulullah sebagai suri tauladan manusia..</p>
<p style="text-align: justify;">Innallaha wa malaaikatuhu yuu sholluu ‘ala nnabi, yaa ayyuhalladzi na’amanu shollu ‘alaihi wassallim mutaslimaa (sesungguhnya Alloh dan malaikat itu bershalawat atas nabi, dan orang-orang yang beriman juga bersholawat atasnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat.. Tugas kita adalah “mengumpulkan” cahaya sebanyak-banyaknya, agar rahmat Alloh tercurah untuk kita! Yuk.. selalu bershalawat di segala suasana! <img src='http://difana.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://difana.com/blog/?feed=rss2&#038;p=1197</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

