Dec 30 2009

Apa Sich Ikon Indonesia?

Setelah berkeliling ke negeri tetangga dan melihat secuil keindahan Indonesia, ada pertanyaan yang cukup mengusik pikiranku sebagai warga negara yang peduli pada ibu pertiwi. Sebenernya apa sie ikon Indonesia yang pasti? Seperti orang yang kebingungan memilih barang-barang bagus, saking banyaknya, terkadang pilihan-pilihan tersebut menjadi tidak sesuai dengan harapan. Sempet iri dengan negara-negara lain yang bangga dengan ikon “pasti”, yang mereka bentuk sendiri. Singapore terkenal dengan ikon Merlionnya. Kemana-mana selalu ada patung berkepala singa dan tubuh ikan yang konon, di Singapore pernah ditemukan makhluk unik seperti ini. Entah mengapa, mereka pede menjadikan makhluk ini menjadi ikon yang setiap orang bangga mengabadikan bentuknya sebagai oleh2 hasil kunjungan wisatawan (padahal yo biasa ae….gitu aku juga ikut2an foto..xixixi..).

DSCN2686

Continue reading


Dec 24 2009

25 Hari Menuju Penyempurnaan Agama

Kututup album foto berwarna merah marun yang mulai pudar pada warnanya. Aku menyanyangi guru ngajiku. Namanya Bu Nur. Mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Berjilbab dan berkulit sawo matang. Memiliki tinggi badan lebih kurang 160 cm dan berat badan 55 kg. Tinggal dirumah mungil dengan ibundanya. Kemana-mana menggunakan jasa sepeda bututnya. Laju kehidupannya pun monoton jauh dari kemewahan. Sebenarnya sosok Bu Nur sama seperti perempuan desa pada umumnya. Guratan-guratan kelelahan nampak di wajah, halus tapi jelas terukir. Mengajar ngaji dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih dan hidup serba sederhana. Tapi ada yang membedakan antara dia dengan wanita sebayanya. Bu Nur belum menikah. Usia yang telat nikah di lingkungan pedesaanku kala itu, bahkan di perkotaan.

Bu Nur si perawan tua. Beliau tegar menghadapi sang waktu. Meskipun banyak gunjingan miring, dirinya hanya bisa tersenyum, pasrah. Istiqomah menjalankan peran kehidupan sebagai seorang guru ngaji ia lalui. Sadar bahwa lahir, jodoh, rezeki serta mati sudah ada yang mengaturnya. Dan dia hanya seorang manusia yang ingin menjalani takdir. Aku sendiri adalah bekas anak didiknya di Masjid At-Taqwa yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Aku ingat pertama kali diajar olehnya ketika berusia 6 tahun. Hebat nian wanita ini. Mengajarkan aku dari yang buta tentang Al-Qur`an hingga proses penghafalannya dengan sabar. Bersama teman-teman sebayaku, sore hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan senja beramai-ramai. Setelah menyelesaikan proses hafalan surat-surat pendek di Juz 30, kami sering mengobrol dengannya. Dalam lingkaran itu, ada sekitar tujuh orang perempuan yang senang menimba ilmu padanya. Tapi aku yang paling dekat dengan Bu Nur. Sering aku sekedar maen dan memberikan oleh-oleh yang dititipkan ibuku untuk Bu Nur. Aku menyayanginya. Posisiku sebagai anak tunggal menjadikan beliau sebagai kakakku. Mungkin bisa juga sebagai teman, bahkan orang tua. Cerita seputar teman laki-laki yang cukup menarik perhatianku menjadi topik yang istimewa antara aku dan Bu Nur waktu itu.

Continue reading


Dec 19 2009

Bumi Berputar..Demikian juga dengan Kehidupan

“Bapak asli sini?”
“Iya mbak….”
“Ga pernah kemana-mana gitu?”
“Hm… sempet kerja di Kalimantan Timur sie mbak… tapi cuma sebentar. Mbak asli mana?”
“Surabaya pak (ngaku-ngaku…kalo aku bilang asli kertosono mungkin orangnya bakalan nanya: Kertosono itu ada di “atlas” ga mbak?). Bapak udah lama kerja sebagai sopir bemo?”
“Hm… Lumayan mbak..” (dan raut wajahnya mulai berubah).

PC120024
Perjalananku ke Martapura kemarin tak luput dengan kendaraan yang bernama bemo. Bemo yang murah dan berjasa ini lebih nyaman dinaiki daripada bemonya Surabaya low (atau mungkin kebetulan yang pas tak tumpangi ini friendly abis,hehehe..). Sebenernya aku bukan orang yang selalu mengadakan “wawancara” (sebutan tmn2ku kalo aku udh mulai sok kenal) di suatu tempat yang baru. Hanya saja kalo aku lagi mood ngobrol… orang yang keliatan judes pun tak deketin juga.. tak ajak ngobrol ngalor ngidul… tapi kalo mood lagi jelek… perjalanan Surabaya-Jakarta (naek kereta) juga bisa jadi hari bisu berjuta bahasa. Anehnya… orang disampingku kebanyakan ngajak ngobrol duluan twuh.. ^^

Continue reading


Dec 15 2009

Martapura, “Bangil”nya Kalimantan Selatan

PC120001Martapura, kota santri yang memiliki berjuta pesona. Kota yang dikenal dengan sebutan seribu sungai ini memang memiliki dataran yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain, sehingga bentuk rumahnya berupa rumah panggung. Unik, ternyata rumah panggung masih bisa mudah ditemukan di daerah Kalimantan Selatan (yang biasanya cuma bisa liat di tipi kini di depan mata ^^). Rumah panggung terbuat dari kayu besi atau kayu ulin. Disebut kayu besi karena memang ketahanannya yang luar biasa, umurnya bisa lebih dari 50 tahun!!!(bisa ampe jadi nenek2 aku…) PC120115Selain memberikan efek dingin, kayu ulin juga memberikan efek nyaman low… Cozy abis gitu… kayak di villa-villa mahal di daerah Batu, Malang. PC120062

Tapi ingat, rumah panggung memiliki aspek negatif. Coba bayangkan, hampir sebagian besar rumah penduduk menggunakan kayu sebagai bahan utamanya!!! Hik… Hutanku…. Hik… Hutan kita… :’( Ga heran kalo tiap tahun berhektar-hektar lahan gundul… habis di babat untuk keperluan manusia. Serba salah sich… diantara dua pilihan, mau melestarikan adat atau melestarikan alam??? >_<

Di Jawa, Bangil terkenal sebagai kota santri yang khusuk, demikian juga di Martapura. Jika bulan puasa tiba dan kebetulan kita menginap di sekitar Kalimantan Selatan, ada PERDA nya untuk menghormati orang yang berpuasa low. Ga boleh sembarangan maem. Jadi sampe kita melas-melas minta diladeni juga ga bakalan disiapin maem disiang bolong. Waduh…. kalo cewek lagi “dapet” piye… ga bisa maem dunk…. (boleh tapi harus cari sendiri Difana….atau belajar masak sono low… -_-“).PC120026

Continue reading


Dec 10 2009

Kekerasan “Fisik” Di Masa Pacaran

Kekerasan fisik dalam menjalin hubungan cinta mulai marak akhir-akhir ini. Bukan karena para artis yang menjadi sorotan media massa membuka aibnya dengan gamblang, tapi karena dalam sehari-hari kita sering menjumpai permasalahan serupa di sekitar kita. Tak hanya tetangga, teman terdekat pun bisa menjadi salah satu korbannya. Setelah menjadi sepasang suami istri atau ketika dalam tahap berpacaran saja kekerasan-kekerasan tersebut nampak oleh mata. Hal itu bisa menimbulkan trauma (cacat psikologis) yang cukup mendalam bagi penderita kekerasan.

Cinta yang awalnya manis bisa berubah menjadi mengerikan jika masing-masing dari pasangan sedang emosi. Padahal kunci menjadi pasangan adalah harus selalu “merasa bersalah”, jadi ketika akan marah, maka redamlah amarah tersebut. Tapi cukup susah mempraktekkan anjuran ini. Saat emosi mendominasi, yang dirasa masing-masing individu adalah “harus menang dan menang”.

Publik figur yang sedang jadi buah bibir karena masalah kekerasan fisik adalah Cici Paramida dan Oki “Pasha Ungu”. Masyarakat cukup dikejutkan dengan pemberitaan Cici Paramida yang mengalami kekerasan dari suaminya sendiri. Padahal dia baru beberapa bulan yang lalu menikah di Mekah. Ternyata Mekah pun tak jadi jaminan utuhnya suatu pernikahan. Pasha “Ungu”, yang keliatan adem ayem setelah perceraiannya, tiba-tiba harus menjalani persidangan akibat perilaku buruk terhadap mantan istrinya. Oki, seorang wanita yang telah menemani kehidupannya selama tiga belas tahun dan memberikannya dua putra serta satu putri, “harus” dipukuli mantan suaminya. Dramatis memang, tapi nyata.

Masa berpacaran tak jauh beda dengan pasangan suami istri. Apalagi di zaman yang semakin bebas ini. Rasa memiliki yang berlebihan membuat suatu hubungan berjalan tidak sewajarnya. Sebenarnya, esensi dari berhubungan adalah memberikan suatu kenyamanan antar pasangan, memberikan semangat, memberikan kasih sayang, bukan menjadikan orang yang disayangi sebagai pelampiasan atas kemarahan diri sendiri. Tapi faktanya, lain. Contohnya adik kost penulis, dia berpacaran dengan seorang lelaki yang sedikit aneh. Ketika gemes (yang mengaku sayang setengah mati), si lelaki mencubit kekasihnya sampe berwarna merah gelap. Esok harinya bekas cubitan tersebut jadi gosong-gosong, seperti memar. Hal itu membuat penulis merasa bergidik. Apakah rasa gemes, kangen, dan sayang harus sampai menimbulkan rasa sakit untuk pasangannya sendiri? Lalu dimana letak cinta itu? Dimana sikap melindungi yang diagung-agungkan seorang lelaki kepada wanitanya? Anehnya lagi, adik kost penulis merasa tidak sakit. Dia merasa baik-baik saja dan senyam-senyum di esok harinya. Tak jarang “cubitan-cubitan mesra” yang menimbulkan cap di tubuhnya jadi sering terukir ganas. Kok bisa ya?

Begitu juga dengan kabar yang barusan penulis peroleh. Di FIB Unair, ada seorang lelaki menjorokkan pasangannya (kejadiannya di kantin, tentu saja dilihat oleh berpasang-pasang mata) hingga tersungkur kemudian pingsan. Berita itu langsung menjadi topik hangat yang sedang diperbincangkan. Tak hanya antar mahasiswa, tapi dosen-dosen di ruang jurusan Sastra Indonesia pun membicarakannya. Masih berpacaran saja sudah melakukan hal-hal kejam, bagaimana kalau sudah menjadi sepasang suami istri? Pasti akan lebih parah. Itu menurut asumsi penulis.

Kekerasan fisik, apapun bentuknya, adalah suatu hal yang harus kita laporkan. Oleh karena itu, sebesar apapun cinta yang kita rasakan pada mereka yang melakukan kekerasan, tetap saja tidak dapat dibiarkan terjadi. Dengan demikian si pelaku dapat mendapatkan penanganan yang tepat (konseling dan terapi). Mendiamkan kekerasan yang terjadi, baik yang kita alami maupun yang dialami oleh teman kita, sama saja artinya kita membiarkan kekerasan itu terjadi, dan hal itu tentu bukan suatu hal yang kita inginkan. Tidak pada mereka, tidak pula pada diri kita. Langkah awal yang mungkin dapat kita lakukan untuk mengurangi bentuk kekerasan dalam pacaran adalah selalu membuka ruang dialog bersama pasangan untuk melakukan introspeksi selama hubungan pacaran berlangsung (makanya…gak usah pacaran aja ya…hehehe..).

Yuk… saling menyayangi tanpa menimbulkan kekerasan fisik yuk… ^_~


Dec 8 2009

…UKS…

Senin pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir murid-murid kelas tiga SMUN 2 Surabaya mengikuti upacara bendera, setelah beberapa minggu yang lalu mereka sibuk dengan ujian-ujian kelulusan, melelahkan. Diantara mereka banyak yang berpakaian lengkap, tak ingin melewatkan sang merah putih dengan masuk BK (Bimbingan Konseling) gara-gara tidak memakai atribut wajib. Sepatu hitam mengkilat, sabuk hitam bermerk, topi yang sudah sedikit apek, serta dasi yang sedikit kurang rapi bertengger di tubuh masing-masing siswa (sekalipun berjilbab). 🙂

Tentu saja tak hanya ada siswa kelas tiga saja yang siap, tapi ada juga siswa kelas satu dan dua, serta para ibu guru yang ikhlas mengikuti upacara pagi itu. Anggota pasus tampak rapi dalam jajaran balok dari yang rendah di awal hingga tinggi ke belakang. Pasukan PMR tengah siaga jika ada yang tiba-tiba pingsan. Posisi petugas PMR ini terpisah antara satu dengan yang lainnya. Dia berdiri di belakang siswa perkelas. Di deretan siswa yang sedang bertugas, ada Andah yang masih duduk di kelas 2 Ipa 2. Cantik dan penuh aura. Bertugas di belakang kelas 3 Ipa 7. Tak biasanya Andah mau bertugas di belakang kelas itu, selain ramai, kelas tersebut juga memiliki predikat yang kurang baik di mata sekolah. Meskipun tampak lesu, dia meminta kawan-kawannya, agar diijinkan berdiri di kelas yang diinginkannya. Kontan siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 ramai dengan adanya Andah yang bertugas dibelakang barisan mereka.

Karena upacara yang terakhir, wejangan-wejangan yang dilontarkan kepala sekolah lebih lama dari biasanya. Lama-kelamaan keadaan semakin tidak kondusif, siswa-siswa tidak berada dalam barisannya, memperhatikan wejangan-wejangan tersebut saja tidak. Dan yang paling terasa pagi itu adalah panasnya yang semakin menyengat. Andah yang sedari awal kurang sehat, tiba-tiba saja terjatuh. Padahal sejatinya dia sedang bertugas menolong yang kurang sehat, tapi ternyata dia sendiri yang pingsan. Kontan hal tersebut membuat siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 bingung.

Continue reading


Dec 5 2009

…meNikaH… ^_^

Menikah. Satu kata yang cukup dinanti. Diminati.IMG_4732

Menikah. Pertemuan seorang lelaki dengan wanita yang di sahkan oleh agama dan undang-undang.IMG_4772

Menikah. Memadu kasih, merajut impian yang terencana dengan matang.

Menikah. Pintu gerbang kehidupan yang “sebenarnya” telah dibuka.

Menikah. Perjalanan yang berkelok-kelok tak terduga siap menanti. Laiknya jet coaster. Atau tornado.

Menikah. Dibutuhkan dua insan yang kuat dan tegar untuk bisa melalui waktu dengan mudah.

Menikah. Fondasi awal adalah agama. Iman yang teruji dengan cobaan menunjukkan kualitas.

IMG_4548Menikah. Kesuksesan berkat kegigihan. Kegagalan merupakan acuan.

Menikah. Membuahkan generasi baru yang sanggup merubah dunia, merubah yang berliku menjadi lurus..

Menikah. Hingga ajal memisahkan menjadi suatu kesetiaan…

Happy wedding my sister…. Dek Ine and Mas Yoga… ^^ IMG_4574


Dec 3 2009

?AwaN?

Lihat!!! Ada kerajaan awan,,,

Menabstract_0101ggulung tebal dipadang sinar

Berlari-lari dalam dua, tiga, empat, gumpalan

Saling mencinta hingga lupa untuk berpendar

Tampakkan dirimu,,,

Jangan tutup mata birumu

Biru atau abu-abu..

Biru…abu…biru..abu…dan biru…

Ada apa dengan biru?

Sebiru itukah hingga perlu kau mengharu?

Tinggalkan resah karena resah hanya untuk orang susah

Datanglah pada matahari….atau pada bulan…

Bantuan sinar mereka membuat dirimu berkilau… berarti…

Awan…semangatmu tak boleh mati!!!

Bangkit!!! Bangkit!!!! Bangkit!!!


Dec 2 2009

….SaMa Aja tErnyaTa….

Ternyata semua cowok yang terlalu capek dengan aktivitasnya itu sama aja. Demikian kesimpulan yang kudapat, hasil aku ngobrol dengan mbak kostku yang berpengalaman. Dia sudah berpacaran hampir 6tahun (luama ya….). Dan konflik yang muncul seringkali karena masalah yang sepele. Tidur. Lebih tepatnya tertidur. Adek kostku pun pernah marah-marah luar biasa sama pacarnya ketika dia mau pulang kampung dan sang pacar tertidur. Temen kostku juga, padahal di hari ulang tahunnya, dia mau dinner tapi sang cowok kecapeken karena habis futsal dan tertidur. Lupa kalo hari itu hari spesial pujaan hatinya. Payah.

Okey, memang egois sekali jika tidur jadi masalah besar. Tapi beda hal nya kalo keadaan tersebut berulang-ulang. Bukankah seorang wanita juga memiliki batas kesabaran?

IMG_1582

Ketika seorang wanita marah atau ngambek, sejujurnya dia ingin dimengerti (kayak lagunya Ada Band aja). Tapi memang begitu keadaannya. Apalagi ketika seorang wanita itu berjauhan dengan orang yang disayanginya, pasti hanya “berkabar” yang bisa menghiburnya. Miris rasanya jika keinginan dari seorang wanita itu tidak disambut dengan pemahaman kekasihnya. Ngambek yang dimaksud untuk menarik perhatian si lelaki, bukannya perhatian yang didapat malah dingambeki balik. Walah… unik bgt… Waduh duuh, yang kayak gini sapa yang ga dewasa ya? Yang wanitanya atau yang lelakinya?? 🙁

Parahnya lagi kalo ternyata si lelaki tidak punya kesabaran dan tidak ada usaha untuk memperbaiki keadaan. Sebenarnya alangkah baik jika perbaikan itu dilakukan oleh kedua belah pihak, namun jika kondisinya seperti ini, gak yakin bisa berjalan beriringan (gengsi atau egois? Dua-duanya mungkin). Menuntut?? Iya… Wanita menuntut kesabaran. Wanita menuntut waktu. Tapi hanya “orang pilihan” saja yang bisa bertahan dengan itu.

Jika memang kejengkelan yang tersisa, hanya ada dua: wanita dan air mata. Huruf-huruf yang saling berhubungan. Sekuat apapun wanita bertahan, setegar apapun raganya terlihat tenang, namun air mata juga yang membasuh jiwanya untuk menunjukkan kejujuran. Meski tak selamanya air mata itu teridentifikasi dengan kesedihan, terharu juga bisa jadi membiru karena bahagia. Tapi itu jarang.

Pembahasan menjadi semakin melebar. Dari kebiasaan lelaki yang menikmati aktivitasnya, hingga wanita yang terkadang ga mau ngalah (atau kalah?). Wujud sosok wanita yang diimpikan pun menjadi sirna jika sudah tertimpa masalah. Tapi sekali lagi perlu penekanan, hanya orang-orang tertentu yang bisa bertahan. Menunggu. Yakin pasti ada.

Menyenangkan bisa berbagi cerita dengan sesama wanita dalam satu atap. Meskipun mendengarkan cerita mereka dengan bumbu air mata di pelupuk matanya, tapi dengan begitu, aku jadi tahu, banyak wanita yang mempunyai problema yang sama. Ga sendiri yang terkesan posesif bgt. Jadi ingat, bahwa pasangan adalah cerminan pribadi diri sendiri. Kalo lelakinya secuek itu, berarti jati diri wanita tersebut sesungguhnya juga sama cueknya, cuma tersamar oleh beberapa hal. Hm…. jadi harus berubah. Perubahan itu pasti.. tapi perlu waktu… apalagi wanita…

Okey…. Berharap yang terbaik untuk esok hari……. dan “nanti”.

Kebersamaan dengan mereka. Sepele memang. Tapi penting.

Difana sangat sayang…….. :'(


Dec 1 2009

PojOk KamPus

Fakultas Ilmu Budaya terletak di Universitas Airlangga kampus B. Mestinya fakultas ini menjadi fakultas yang lebih bermoral dan berbudaya baik, daripada fakultas-fakultas yang lain. Karena banyak orang dari mancanegara yang ingin belajar dan memahami budaya kita, Indonesia. Tapi tidak demikian dengan kenyataannya. Sudah keempat kalinya proyektor fakultas dicuri orang. Yup, empat proyektor hilang tak berbekas. 🙁

Bisa dibayangkan, bagaimana mereka akan membawa “oleh-oleh” kebudayaan yang sempat terjadi di fakultas tempat bertemunya bule-bule itu?? Huufff… Malu ya??? >_<

IMG_0771

Pada pencurian yang pertama, tiga proyektor hilang ketika sehari sebelumnya ada acara dikampus. Waktu itu, heboh sekali, sampai mendatangkan polisi untuk mendeteksi siapa yang berhasil mendapatkan proyektor dengan mudah (tiga sekaligus dalam semalam low…keren ya…). Namun hasilnya nihil. Polisi didatangkan hanya untuk “terlihat” peduli saja. Tidak ada penanganan lebih lanjut untuk kasus ini. Dan tadi pagi, kami dicengangkan kembali oleh hilangnya proyektor di kelas yang paling mewah di fakultas.

Bu Adi: Maaf saudara-saudara… Ada gangguan dengan proyektornya

Aku: (melihat ke atas) hah??

Bu Adi: proyektor kita habis dicuri.

Aku: maneh????

Walah-walah… mungkin uang dari hasil penjualan tiga proyektor sebelumnya sudah habis, makanya pencurine beraksi lagi. Banyak yang beranggapan kalo pencurinya tak lain adalah orang dalam sendiri. Kalau bukan orang dalam, tak kan mungkin secepat itu bisa mengambil proyektor yang tempatnya sangat tinggi serta di kerangkeng dengan rapat. Menurut cerita dari komik “Detektif Conan” kan seperti itu. Kalo ada pencurian atau pembunuhan, pelakunya mesti orang dalam, yang tak jauh-jauh dari “target operasi”. Selain mereka sudah menguasai medan dengan baik, mereka juga pasti sudah mengawasi penjaganya (bukan penjaganya yang mengawasi pencurinya, dasar maling!!! Bisa… Aja…).

Polisi pun mengaku bingung menentukan indeks (petunjuk) dari sidik jari pelaku. Busyet… Keren nie pencurinya, lebih cerdas. Upaya apa ya, yang bisa membuat efek jera bagi pelaku dan yang “akan” jadi pelaku lagi? Mungkin jika mencuri hukumannya potong tangan akan lebih praktis. Orang mencuri bakalan takut duluan membayangkan hukuman yang akan mereka rasakan jika sampai ketahuan. Tapi apa ya tega, orang yang mau motong tangan oranglain itu? Apalagi, hukum di Indonesia bukan hukum Islam, tapi hukum yang lebih pluralistik.

Pertahanan apalagi yang bisa digunakan untuk mengantisipasi “awasan” si pencuri ya? Kok yo gak ikut prihatin, lawong fakultasku masih tergolong baru. Masih butuh penanganan ekstra untuk membangun fakultas yang belum berumur dewasa ini. Ac aja kadang hidup kadang mati. Orang merokok masih lalu lalang. Lantai kinclong pun baru kami rasakan. Gitu proyektor yang dikerangkeng kok yo dicuri… Gak hanya satu pisan.. nyurine rombongan`e.. Kecewa berat aku… :((((

Aku berharap, pencurinya segera tertangkap. Semoga ini menjadi pencurian terakhir yang terjadi di FIB. Bagaimanapun juga… Aku cinta fakultasku kok… Pasti suatu saat akan berkembang dengan eksistensinya sendiri… mengukir prestasi…

Ada saran untuk keamanan di fakultasku ???

NB: barusan aku nanya salah satu petugas fakultas, ternyata FIB sudah pernah kehilangan LIMA proyektor,,, gag cuma empat.. gag tau dweh satunya ilang diruangan brapa n kapan… FIB.. FIB… 🙁