Nov 16 2009

Sisa Sepotong Cinta

“Asem….!!! Brengsek!!! Cukup.. Cukup… Aku sudah cukup bersabar dalam hal ini. Aku bersumpah dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, menginginkan kejadian paling buruk menimpanya. Aku percaya akan hukum karma. Hidupnya pun tak akan tenang dihantam awan. Bukan Clara namanya jika tidak bisa membuat detik dalam kehidupannya menjadi tak berarti. Cuih!”

“Tapi..sebenarnya bukan itu maksud dari seorang yang begitu mencintaimu. Ingatkah kau bahwa dia selalu mengantarkanmu kemana pun kau pergi. Mengajarkan sesuatu yang susah menjadi mudah. Tak lupa, selalu membawa kan bekal untukmu dipagi hingga malam hari.”

“Itu dulu. Kini cintanya menguap begitu saja.”

“Karena kamu tak merawatnya.”

“Aku merawatnya kok.. Mencoba untuk menjadi pupuk atau air segar baginya.”

“Pupuk yang sudah tak layak pakai dan air keruh”.

“Ya kalau itu yang kamu mau terserah. Aku hanya ingin dia lebih menderita daripada yang aku alami sekarang.  Aku mengutuk dia dalam kepedihanku. Huh!!”

Clara nampak menggerakkan gigi atas dan gigi bawah. Nampaknya dia sangat geregetan melihat sesosok foto laki-laki yang selama ini menghiasi dompet Roxy putihnya. Dipandangi dan dibelai-belai foto itu. Antara geretan dan rasa ingin bertemu nampak dari raut mukanya. Kemudian raut wajahnya berubah. Nampak dari sudut mantanya ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah dari tadi ia pendam.

“Coba pikirkan lagi akibat dari tindakan yang tak kau pikirkan matang-matang. Sebenarnya dia masih sangat mencintaimu. Dia pun begitu karena salahmu sendiri.”

Continue reading