Nov 22 2009

Pengorbanan

“Ayahhh…. Kita mau kemana?”, tanya si anak dengan wajah polosnya.

“Ke tempat yang sekiranya kamu bisa bermain dengan bebas nak”, pandangan ayah masih lurus ke depan.

“Berarti kita akan ke toko mainan seperti beberapa bulan yang lalu?”, tanya si anak lagi dengan mata yang tampak berbinar-binar.

“Bukankah kau belum pernah masuk toko itu?”, dahi sang ayah yang sudah keriput tampak lebih mengerut. Tua.

“Iya ayah… Ardi memang belum pernah masuk ke toko itu… Tapi melihat mainan yang bertumpuk-tumpuk di toko itu, Ardi senang yah..”, giginya yang rata terlihat mulai tumbuh. Meskipun tak sehat dan berwarna putih kekuningan.

Sang ayah hanya bisa tersenyum kecil. Kekhawatiran yang semula dia simpan dengan rapi, sebenarnya bisa dipahami dari sorot matanya. Dia terharu melihat keceriaan anaknya yang baru berumur 6 tahun tersebut. Ingin sekali sang Ayah berbicara banyak hal dengan Ardi, tapi Ayah tetaplah orang yang tertutup. Selalu ingin terlihat baik-baik saja didepan buah hatinya.

“Lalu kenapa kita membawa tas sebanyak ini ayah?”

“Sapa tau perjalan kita membutuhkan baju yang banyak untuk menghangatkan tubuh-tubuh kita, sayang.”

“Perjalanan kesana kan tidak jauh Ayah. Dulu cuma butuh sehari, eh dua hari ya yah?

“Dua hari anakku.”

“Kenapa semua baju-bajuku dibawa yah?”

Continue reading