Dec 24 2009

25 Hari Menuju Penyempurnaan Agama

Kututup album foto berwarna merah marun yang mulai pudar pada warnanya. Aku menyanyangi guru ngajiku. Namanya Bu Nur. Mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Berjilbab dan berkulit sawo matang. Memiliki tinggi badan lebih kurang 160 cm dan berat badan 55 kg. Tinggal dirumah mungil dengan ibundanya. Kemana-mana menggunakan jasa sepeda bututnya. Laju kehidupannya pun monoton jauh dari kemewahan. Sebenarnya sosok Bu Nur sama seperti perempuan desa pada umumnya. Guratan-guratan kelelahan nampak di wajah, halus tapi jelas terukir. Mengajar ngaji dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih dan hidup serba sederhana. Tapi ada yang membedakan antara dia dengan wanita sebayanya. Bu Nur belum menikah. Usia yang telat nikah di lingkungan pedesaanku kala itu, bahkan di perkotaan.

Bu Nur si perawan tua. Beliau tegar menghadapi sang waktu. Meskipun banyak gunjingan miring, dirinya hanya bisa tersenyum, pasrah. Istiqomah menjalankan peran kehidupan sebagai seorang guru ngaji ia lalui. Sadar bahwa lahir, jodoh, rezeki serta mati sudah ada yang mengaturnya. Dan dia hanya seorang manusia yang ingin menjalani takdir. Aku sendiri adalah bekas anak didiknya di Masjid At-Taqwa yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Aku ingat pertama kali diajar olehnya ketika berusia 6 tahun. Hebat nian wanita ini. Mengajarkan aku dari yang buta tentang Al-Qur`an hingga proses penghafalannya dengan sabar. Bersama teman-teman sebayaku, sore hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan senja beramai-ramai. Setelah menyelesaikan proses hafalan surat-surat pendek di Juz 30, kami sering mengobrol dengannya. Dalam lingkaran itu, ada sekitar tujuh orang perempuan yang senang menimba ilmu padanya. Tapi aku yang paling dekat dengan Bu Nur. Sering aku sekedar maen dan memberikan oleh-oleh yang dititipkan ibuku untuk Bu Nur. Aku menyayanginya. Posisiku sebagai anak tunggal menjadikan beliau sebagai kakakku. Mungkin bisa juga sebagai teman, bahkan orang tua. Cerita seputar teman laki-laki yang cukup menarik perhatianku menjadi topik yang istimewa antara aku dan Bu Nur waktu itu.

Continue reading