Jan 12 2010

Menguak Sang Pemimpi

“Speachless…”

Itulah sambutan yang muncul dalam hatiku. Aspek-aspek yang detail mampu ditampilkan dalam enkranisasi debutan Mira Lesmana ini. Aku sudah baca keempat karya Andrea Hirata. Dari keempat buku tersebut, sebenarnya yang bikin aku terkesan dan ingin membacanya berulang kali adalah bukunya yang ketiga, Edensor. Perjalanan keliling dunia ketika dia kuliah di Prancis sangat menginspirasiku untuk bisa membayangkan bagaimana situasi dikala itu. Eropa memang selalu menarik orang awam sepertiku. Dan yang paling mengharukan adalah bukunya yang keempat, Maryamah Karpov. Perjuangan cinta sekaligus penutup tetralogi catatan seorang Andrea Hirata ini membuat titik-titik air mata ku leleh.

Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi menjadi pembuktian, bahwa enkranisasi tidak selalu jelek. Sempet kecewa dengan film-film hasil adaptasi dari novel yang jauh dari imajinasiku (ex: Ayat-Ayat Cinta, Da Vinci Code). Isinya yang kurang “berisi” membuatku memilih membaca novel aslinya daripada harus melihat film dengan judul yang sama tersebut.  Tapi berbeda dengan enkranisasi kebanyakan, ternyata film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi lebih bagus dari novelnya!!! Pengalaman pembacaanku ketika bersama Laskar Pelangi setiap malam selama seminggu hanya akan membuatku tertidur “lebih cepat”. Dan sempet tercengang dengan filmnya yang lebih bisa mengombang-ambingkan perasaanku. Dari yang diem karena “nggumun” ampe diem sesenggukan (nangis yang tak tahan karena malu ma orang2 sebelah), lengkap pokoknya. Gag heran kalo film ini mendapat berbagai penghargaan. Salut ma Mira Lesmana selaku produser dan Riri Reza sebagai sutradaranya.

Continue reading