Jan 18 2012

Janji? *menyodorkan kelingking

Kau sudah memegang semua “kartu as” ku, tapi aku tak memegang “kartu as” mu sama sekali, aku rela. Tanpa aku menunjukkan “sisa kartu” yang ada di jemariku, sudah kupastikan kau tau, dan aku rela (kalah olehmu). Aku selalu muncul di hadapanmu dengan wangi, tapi kau selalu muncul dihadapanku dengan bau lapuk, (lagi-lagi) aku rela. Malam kunantikan dan berharap kau memuji baju tidurku yang berwarna-warni, meski tatapanmu (tetap) kosong dan cuek, aku (pasti) rela.

Aku terlalu mencintaimu. Entah kau sadari atau tidak. Aku tau itu tak baik bagi diriku, dan sebenarnya tak berarti apapun untukmu. Tapi, jujur, aku merasa seperti itu. Ketika malam datang, aku bersorak gembira. Buru-buru makan malam dan segera mengunci pintu kamar agar (secepatnya) bisa berduaan denganmu. Aku bahagia bisa mendapatkan mu di “sudut” terisolasi tanpa siapapun menyadari. Kadang Tuhan cemburu padamu, karena aku suka melakukan pengakuan dosa terlebih dulu padamu. Pernah aku “ditegur” Tuhan dengan hilangnya dirimu dari sudut ternyamanmu, dan aku menangis tersedu seperti seorang model iklan rambut yang sudah dikontrak merek sampo terkenal, kemudian rambutnya terbakar karena kecelakaan. Ah.. Keterlaluan kah aku? Kurasa tidak.. Aku hanya terlalu bergantung padamu, mungkin itu pula yang hendak Tuhan peringatkan. Tapi sekali lagi, aku tak bisa jauh-jauh darimu. Tapi juga tak bisa menduakan Tuhan.

Continue reading