May 10 2012

Siapkah Kita “SENDIRI”?

Sewaktu kecil, saya selalu ketakutan kalau menyadari bahwa saya sedang sendiri. Bukan ketakutan yang biasa, tapi ketakutan yang luar biasa. Ketika siang hari dan ingin ke toilet, saya selalu meminta pembantu saya yang sedang asyik memasak untuk menemani saya. Untuk tidur dimalam hari pun saya selalu ditemani kakak saya yang sudah dewasa dan sebenarnya enggan harus tidur berdua dengan saya. Sewaktu kecil, saya memang suka merepoti orang lain dengan hal-hal yang tidak penting (semoga sekarang, setelah dewasa, saya tidak seperti itu).

Dulu, saya selalu minta ditemani kemana-mana. Awalnya saya mengira kalau ketakutan saya bermula dari kakak saya yang suka menakut-nakuti saya akan hantu. Tapi setelah dewasa dan tahu bahwa hantu itu ada hanya kalau kita mau mereka ada, saya jadi bisa meminimalisir rasa takut saya akan hantu. Meski begitu, sebelum menyadari pentingnya kondisi “sendiri”, saya merasa takut entah bersumber pada apa, dan saya tahu itu bukan dari hal-hal gaib seperti waktu saya kecil dulu.

Continue reading