Jul 14 2012

Pernikahan itu Belajar

Belajar untuk bersyukur, belajar untuk bersabar, belajar untuk memahami kondisi pasangan masing-masing, belajar untuk berkomunikasi yang baik, belajar untuk menjadi pribadi yang selalu terpuji di mata-Nya, belajar..belajar..dan belajar.. Itulah pernikahan. Pernikahan itu belajar. Ya.. Begitu petuah seorang kawan baik untuk kado pernikahan saya. Intinya, belajar.

Setelah tinggal di Jakarta hampir tiga minggu (untuk mengurusi surat-surat yang perlu diurus sebagai syarat keberangkatan saya menyusul suami), insyAlloh besok saya pulang ke Kertosono. Begitu banyak ilmu yang saya dapatkan selama saya disini. Pelajaran pertama adalah memasak. Jangan tertawa, saya memang seorang wanita, tapi wanita yang biasa tahu bahwa makanan sudah siap di meja makan tanpa ngerti proses seperti apa sebelumnya. Kini, saat saya harus dilepaskan orang tua untuk hidup mandiri, mau tak mau saya harus bisa memasak. Sebagai seorang istri (cie…sudah jadi istri ya :p), saya harus bertanggung jawab atas apa yang akan dimakan suami dan juga anak-anak kami (soon :p, amien). Bertanggung jawab penuh atas komposisi, bahan, kehalalan, serta rasa masakan saya untuk dikonsumsi keluarga. Dan alhamdulillahnya.. Ibu mertua saya suka masak! Saya banyak belajar dari beliau. Meski belum secanggih mami.. Saya sudah bisa caranya memotong daging, ngulek bahan-bahan sampai halus, membedakan mana brokoli dan gobis (ya iyalah :p).. Hehehe.. Alhamdulillah sih, sudah muncul perasaan “suka” masak. Karena awalnya saya ogah-ogahan kalau disuruh masak. Saya pun “mencuri” tahu tentang masakan apa yang disukai suami saya. Eh, ternyata suami suka makan apapun, tapi yang paling disukai adalah semur daging! Hihihihi… Tak lupa saya mencatat bahan serta bagaimana cara membuatnya dari ibu mertua. Sebagai seorang istri, saya ingin masakan saya dikangenin suami dan anak-anak (soon :p, amien), hehehe. Jadi karena sudah menikah, saya pun akhirnya mau belajar memasak. Intinya, belajar :).

Continue reading


Jul 5 2012

Halal!

Ini ceritaku dan ceritamu. Tuhan sengaja memberikan ruang rindu yang cukup besar untukku dan untukmu. Menguji kesabaran kita diantara kerinduan yang sudah halal kita berikan satu sama lain. Ya.. Ternyata merindu orang yang sudah halal lebih berat daripada dulu ketika belum halal.. Right?