Nov 23 2012

Hidup itu Masalah yang Harus Disyukuri

Saya pengguna aktif jejaring sosial yang bernama twitter. Menurut saya, jejaring sosial ini lebih efektif untuk “mencari ilmu” daripada jejaring sosial yang lain. Selain kita bisa mem-follow akun yang menurut kita penting, kita tidak perlu repot-repot untuk membaca timeline orang yang tidak kita kenal (maklum, jejaring sosial yang sangat populer lainnya sudah terkontaminasi orang-orang yang tidak saya kenal). Hm… Banyak informasi yang saya dapat dari sini. Akun-akun  yang tersedia pun sangatlah bervariatif. Ada akun berita, dakwah, humor, sejarah, pengetahuan, bahkan tweet orang-orang yang sangat menginspirasi.

Saya sering sebel kalau ada orang yang sudah mem-follow saya kemudian bilang “folback donk”. Yach.. Twitter kok cuma untuk mencari follower. Saya sebenernya paling ogah dibegituin. Kayaknya kok pamrih bener. Karena, kalau menurut saya tweet orang ini bermanfaat, pasti saya sudah follow dari jauh-jauh hari.

Oke.. Sekarang saya sedang tidak ingin membahas tentang follower-follower saya. Yang ingin saya bahas sekarang adalah tentang teman-teman yang saya follow. Saya paling seneng baca tweet temen-temen yang memang hatinya “lembut”. Dalam arti kata jarang mengeluh, jarang menyumpah serapahi orang, atau jarang menggiring pikiran orang kearah yang negative thingking. Minimal isi tweetnya fresh gitu, berisi candaan, harapan, atau berpikir positif. Dengan begitu, pembaca seperti saya pun tidak merasa “berdosa” jika mengikuti tweetnya. Tapi akhir-akhir ini saya sedikit terganggu dengan banyaknya tweet dari teman-teman yang mengeluh tentang banyak hal. Tentang anaknya, nasabahnya, kliennya, orang tuanya, dan tidak menutup kemungkinan tentang kehidupannya. Mau di unfollow kok saya tega bener ya?

Continue reading