Dec 17 2013

Bye Bye Bipoooo..

Sejak saya melahirkan Fazna, waktu saya tersita hanya untuknya. Sebagai full mommy, dirumah isinya ya ngurusin dia. Apalagi sekarang sudah makan tiga kali sehari, sudah bisa duduk, merangkak kemana-mana, praktis udah ga bisa ditinggal sendiri ini anak. Dan ini ngefek kepada adopsian saya, Bipo.

Saya jadi ingat pertama kali Bipo tiba-tiba saja ada dirumah. Perasaan senang dan bahagia menghinggapi perasaan saya saat itu. Cuma saya dan bapak saya yang terbilang “care” ngurusin dia. Mulai dari menyalonkannya, imunisasi, menyisiri bulu-bulunya yang putih bersih, mengajak bermain, beli pasir wangi serta makanan yang bergizi, sampe mengobati bagian tubuhnya yang sakit, hampir semua kegiatan Bipo menjadi tanggung jawab saya. Tapi setelah saya menikah, dan punya anak, semua kegiatan itu tak pernah saya lakukan lagi. Hal itu jelas bukan tanpa alasan. Ada Fazna yang jauh lebih membutuhkan saya.

Continue reading


Dec 2 2013

Menguak Moslem Millionare by Ippho Right

Jika membaca buku tulisan Ippho pada bagian awal saja, saya merasa bahwa orang ini money oriented banget. Kita seolah-olah “dipaksa” kaya oleh orang ini. Tapi setelah membaca hingga akhir halaman, saya menyadari bahwa yang ditulis orang ini bener banget. Moslem Millionare adalah buku keempat dari seri Otak Kanannya. Dalam buku ini, kita disuruh berpikir out of box, menjadi orang yang berpikiran lain daripada yang lain. Selain itu, kita diberi tips dan trik, sikap, serta langkah-langkah yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menjadi Moslem Millionare.

Semangatnya untuk menjadi kaya itu luar biasa. Dia tahu bahwa kaya miskin adalah ujian, dan tentu saja, seperti kebanyakan orang-orang pada umumya, dia memilih untuk menjadi kaya. “Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, dan distribusi seluas-luasnya”, hal 39. Maksudnya, kita “diutus” menjadi orang kaya yang amanah, dimana kekayaan kita digunakan untuk kebaikan orang lain, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan kita. Banyak orang kaya yang tidak bisa mengatur keuangannya, alhasil diakhir hidupnya malah memiliki utang yang tak sedikit jumlahnya, karena berusaha memenuhi gaya hidupnya yang hedon. Ada tanggung jawab besar, ketika orang menjadi kaya dan sukses. Sebagai seorang muslim, kita harus percaya bahwa ketika kita sukses, berarti Tuhan telah mempercayai kita untuk membagi-bagikan “titipan” rejeki-Nya kepada orang yang berhak. “Rejeki itu dekat dengan cinta, dimana rejeki akan berpihak pada orang yang pandai mencintai dan mengasihi”, hal 14. Hmmmm.. Contohnya, ketika orang tua kita akan pergi, kepada siapa mereka akan menitipkan uang belanja kepada anaknya-anaknya? Tentu saja kepada anak yang bisa amanah dan pandai mengatur keuangan, kan? Lah manusia saja seperti itu, apalagi Tuhan..

Continue reading