Dec 23 2014

Ibuku, Malaikat Tak Bersayap

Dear Ibu, aku sayang karena ibu adalah orang yang tak mempunyai alasan untuk tak disayangi. Ibu, ajari aku untuk menjadi wanita yang mempunyai hati selembut hatimu, tegar seperti karaktermu, dan kuat seperti pendirianmu. Aku tak tahu akan menjadi wanita seperti apa jika bukan karena pengasuhanmu.

Hampir 2 tahun yang lalu, ketika detik-detik pertama aku akan menjadi seorang ibu, engkau adalah satu-satunya sosok yang menyemangati aku dengan kasih sayang. Aku yang saat itu belum berpengalaman, mendapati tuntutanmu yang begitu berarti. Berpisah dengan suamiku sejak usia kehamilanku menginjak 7 bulan, membuat mentalku sedikit terbebani. Istri mana yang tidak mengharapkan kedatangan suaminya disaat-saat genting seperti itu? Istri mana yang tidak sedih ketika suaminya tidak bisa pulang cepat karena kerja diluar negeri? Tapi aku sangat bersyukur, memiliki orang tua, terutama ibu yang sangat peduli. Aku tak pernah menyalahkan keadaan, justru aku dapat mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa, meskipun aku sudah menikah dan mempunyai anak, ternyata aku masih sangat membutuhkan ibu sampai kapan pun.

11

 

(Foto ini diambil beberapa hari setelah melahirkan dan hendak pulang. Wajahku sangat kucel, Fazna masih merah, tapi ibuku tetap cantik).

Continue reading


Dec 20 2014

First Trophy!

Horeeeee… Alhamdulillah.. Untuk pertama kalinya Fazna dapet piala! Wekekeke.. Gara-garanya akhir-akhir ini Mak Fazna sering ikut lomba foto bayi. Hahaha.. Bener-bener pekerjaan ibu rumah tangga ya. Alhamdulillah deh akhirnya jadi juara.. Meski bukan juara umum, tapi lumayan lah dapet juara harapan 1.

 17(abaikan tangan kiri yang masih bawa nori, hihihi)

Continue reading


Nov 25 2014

Laundry Treatment with RLR

Hampir satu semester clodi (cloth diaper)-nya Fazna ga pernah di stripping (stripping adalah perawatan yang perlu dilakukan untuk membuat usia clodi lebih panjang alias awet). Sebenarnya kalau telaten sebulan sekali ngerendem clodi di air panas sampai kurang lebih 3x, sudah cukup. Dulu awal-awal punya clodi, rajin amat stripping setiap bulan, tapi lama kelamaan males juga.. Hahahaha, dasar emak-emak males. Terussssss.. Karena ada asisten rumah tangga baru, jadi nyucinya ngaco deh. Clodi Fazna pernah dikasih pewangi, pelembut, dan disetrika (untung yang disetrika cuma 2-3 insert)! Hadehhhh.. Sempet patah hati saya. Memang sih, setelah dikasih pewangi, clodinya Fazna lebih harum. Tapi kalau sudah kena pipis sekali saja, bau pesingnya dua kali lipat dari biasanya! Kebayang dong, pengen cium-cium Fazna trus bau pesing alhasil jadi ilfeel, wekekeke (maaf ya nak).

Akhirnya berbekal googling, bertemulah saya dengan RLR. Katanya, bubuk ini ajaib karena bisa menuntaskan semua persoalan clodi yang pesing, kusam, kaku, dan cepat bocor bahkan mengatasi kulit bayi yang tiba-tiba ruam. Berdasarkan review clodi addict juga bagus-bagus, dan semua menyarankannya. Okelah dealll.. Setelah semua clodi dicuci bersih pakai deterjen, dalam keadaan kering atau basah, mulailah stripping treatment dengan RLR. Oiya, menurut penunjuknya, RLR ini bisa dicampur dengan deterjen untuk mencuci clodi yang kotor. Tapi menurut logika saya, lha ini kan perawatan, masak ya dicampur dengan deterjen sehari-hari. Akhirnya saya memutuskan untuk mencuci bersih dulu, baru kemudian menggunakan RLR.

rlr

 

Penampakan RLR

Cara penggunaannya persis kayak deterjen biasa. 1 bungkus bisa untuk 18-24 clodi beserta double insert-nya. Cara kerja RLR ini adalah mengeluarkan residu-residu deterjen yang selama ini dipakai. Jadi diharapkan bisa kembali seperti sedia kala dengan performa seperti clodi baru (belinya bisa dibanyak onlineshop di Instagram ya). Karena clodi Fazna agak banyak, akhirnya saya membaginya jadi dua sesi. Kalau menurut review sih, busanya akan sangat banyak bahkan melimpah ruah. Tapi menurut saya ga banyak-banyak banget. Mungkin karena saya menggunakan deterjen yang khusus clodi, Ultraco (saya ga dibayar sama dua produk ini lho ya, hehehe). Cuma direndam 20-30 menit, terus dibilas deh. Oiya.. Bilasnya cukup capekkkkkk. Bisa lebih dari 12x bilasan (nah lo) pokoknya sampai ga berbusa lagi. Bagi yang ga mau capek, bisa di mode rinse di mesin cuci. Tapi karena asisten rumah tangga saya sanggup, maka saya memilih membilasnya dengan tangan.

Continue reading


Oct 25 2014

Ngaji Bersama Mama Dedeh

Biasanya cuma bisa liat di tivi, alhamdulillah kemarin saya diberi kesempatan untuk bertemu dan ikut ceramahnya beliau, Mama Dedeh. Tiap pagi, saya dan suami kalau liat acara yang judulnya “Mama dan A`a” di salah satu tivi swasta ini, isinya ketawa mulu. Habis lucu plus serius sih cara menyampaikan isi ceramahnya, jadi sangat mudah diterima untuk masyarakat.

Jadi, ceritanya kemarin diajakin Mbak Aztry, Mbak ipar saya untuk ikut pengajian di Rumah Ilmu Al-Hilya, deket rumah. Rupanya rumah ini sering banget dijadikan tempat menimba ilmu Islam. Mulai dari kajian untuk akhwat, pasutri (pasangan suami istri), tematik, kitab-kitab dan fiqih, serta kelas tahsin. Alhamdulillahhh.. Lengkap banget ya.. Dan ustzad atau ustazdah yang diundang pun ganti-ganti. Bagi yang disekitaran Cinere-Depok, boleh lho dateng. Alamatnya di Jalan Bukit Barisan Raya Blok J/222. Selain masuknya free, disini juga disediakan air mineral dan snack yang free juga. Hmmm.. Jadi pengen sering-sering dateng kesini ya.. *coleksuami

b

Continue reading


Oct 19 2014

Taman Kahfi

Taman Kahfi? Hm… Sebenarnya taman ini tak bernama (atau mungkin belum ya).. Hahahha.. Habis saya cari-cari, plang namanya ga ketemu-ketemu sih.. Tapi karena terletak di Jalan Al-Kahfi, jadi saya pribadi menamainya Taman Kahfi, hihihi..

Saya sering banget lewat jalan ini, dan dari luar taman ini terlihat hijau dan rindang.. Duh, di Jakarta begini paling seneng lihat yang hijau-hijau terbentang luas. Eh kebetulan si tetangga, Bu Ridwan, mau diajakin kesana. Asekkkk.. Cuci Mata.. Yuk ah lihat kondisi si taman..

b c Continue reading


Oct 17 2014

Memaknai Setiap Tanda

“Tuhan, perkenankanlah aku menemani ibuku saat ia menjemput ajal…”, Ayu Utami, 121.

Kematian itu pasti bagi setiap mahkluk hidup. Datangnya bisa cepat atau lambat. Jika ingat mati, atau orang yang kita sayangi mati, rasanya hidup harus dibikin sebermanfaat mungkin untuk orang lain. Harus berlomba-lomba menabung kebaikan. Ayu Utami sering mendengung-dengungkan spiritualisme kritis di buku-bukunya, termasuk di bukunya kali ini, Simple Miracles, Doa dan Arwah.

“Spiritulisme kritis adalah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis”, Ayu Utami, 56. Maksud dari spiritualisme kritis yang saya tangkap dalam buku ini adalah, bahwa spiritual itu jangan ditelan bulat-bulat begitu saja, ada hal-hal yang mendasari tiap hukum tersebut (sebab-akibat). Dan sebagai manusia yang beragama dan beradat, kita wajib mengkaji hukum-hukum tersebut, agar kita paham, mana yang benar, cocok, dan baik untuk masing-masing individu tanpa ada paksaan. Dalam buku ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan dari penulis, tentang kehidupan setelah mati, memandang skeptis kepercayaan orang Jawa bahwa 40 hari setelah wafatnya seseorang, sebenernya roh tersebut masih berputar-putar di dalam rumahnya, betulkah hari Jum`at Kliwon dan Selasa Kliwon adalah hari keramat untuk orang Jawa, dan lain-lain.

4

Continue reading


Oct 11 2014

Rimba Baca (Lagi)

Yihaaaa… Ke Rimba baca lagiiii.. Tempat yang homie untuk para pecinta buku di daerah Jakarta Selatan. Berawal dari diajak tetangga, Bu Ridwan, akhirnya kami ketagihan untuk datang dan datang lagi. Pengen banget jadi membernya, karena banyak keuntungan-keuntungan yang di dapat, tapi sayang minat baca Fazna masih belum kuat. Dikenakan 350 ribu per tahun serta bebas dari biaya pendaftaran. Maksimal boleh  meminjam lima buku selama lima hari. Jika selama lima hari bukunya masih belum selesai dibaca, boleh mundur sampai lima hari lagi. Nah.. kalau lebih dari lima hari yang kedua ini, baru deh kena denda 5000 per buku setiap harinya. Oiya, kalau mau survey dulu juga ga dilarang. Bayar 35 ribu per anak, tapi ga boleh pinjem buku. Jadi ya bacanya disitu.

4

Yang bikin betah sih karena design rumahnya memang diperuntukkan untuk membaca dan bermain untuk anak-anak maupun dewasa. Yuk ah check this out..

5

Keterangan:

1. Ini rak baca untuk anak yang berumur 0-3 tahun. Trus sampingnya lagi untuk anak yang berumur 4-8 tahun. Rata-rata hampir semua bukunya berbahasa Inggris. Ada sih yang berbahasa Indonesia, tapi itu 1% dari semua jumlah buku yang ada. (Maaf ya fotonya “bocor”, ada pak tukang yang sedang membenahi lantai parkitnya yang dimakan rayap, hehehe).

2. Ini rak baca untuk 9-12 tahun. Disampingnya ada toiletnya yang bersih dan wangiiiii (penting ya Dif? Entahlah, saya suka toilet yang bersih dan wangi. Tapi bukan berarti mau tidur situ lho ya.. Hahahaha).

3. Resepsionis. Tempat kita mendaftar dan tersedia buku-buku bersegel, stiker, pamlet iklan, dll yang dijual. Di depannya tersedia pula rak sepatu, jadi wajib melepaskan alas kaki, agar kita lebih hommie.

4. Kantin mungil yang lumayan menyediakan berbagai macam makanan dan minuman untuk mengganjal perut.

Continue reading


Sep 22 2014

Mudik 2014

Waaahhh.. Sepertinya saya sudah lama sekali ga mengunjungi rumah mungil ini *bersih-bersih pojok blog. Heheheh.. Setelah piala dunia yang akhirnya dimenangkan oleh Jerman, setelah Ramadhan dan lebaran pertama di keluarga suami, dan setelah selesai “libur” lebaran sebulan lebih di Kertosono, akhirnya baru bisa pegang laptop lagi *duhlebaynya.

Sekilas info.. Suami saya getol banget lihat bola. Apalagi kalau tim Spanyol yang main. Sayang dan diluar dugaan, Spanyol main buruk dan harus pulang lebih awal. Tapi memang Jerman pantas juara lah.. Mainnya bagus banget kok. Oiya.. Saya baru tahu kalau ketika suami begadang lihat bola, stock cemilan busui (ibu menyusui) tiba-tiba habis saja. Hehehe.. *untung diganti yang lebih banyak ya beb. Ya ini sih seperti tradisi baru, karena keluarga di Kertosono ga ada yang hobi bola, jadi ga ada yang begadang.

Selama Ramadhan tahun ini pula, saya ga ke masjid sama sekali pemirsa! Bahkan pas Idul Fitri tet! Sedihnyaaaa.. Tentu bukan prestasi yang dibanggakan ya. Ga bisa taraweh bareng-bareng, ga bisa itikaf bareng-bareng, dan memang kebetulan puasa saya bolong tepat 14 hari. Hehehehe.. Ramadhan kali ini jadi berasa ga Ramadhan. Mana Fazna juga ga ada yang ngejagain lagi. Sempet kepikiran mau membawa dia ke masjid, tapi takutnya bukannya ibadah, yang ada nanti dianya gangguin orang salat. Jadilah saya harus merasa cukup dengan beribadah di rumah. Semoga Alloh ridhooooo (amien) dan masih belum terlambat kan untuk meminta maaf kepada temen-temen? Maafin Difana sekeluarga yaaaa..

23

Continue reading


Jun 9 2014

8 Review Brand Clodi (Part 2)

Setelah me-review clodi brand lokal, kini saatnya saya akan me-review clodi brand import, yang katanya ada harga ada rupa.. Ah masak? Check this out..

  1. Ecoposh

Jauh sebelum saya “keracunan” clodi, saya sudah jatuh hati saja ngelihat warna-warnanya Ecoposh. Kalem-kalem dan keliatan eksklusif gitu. Padahal waktu itu saya belum tahu kegunaannya apa barang ini. Katanya, outer dan insert-nya full daur ulang dari plastik-plastik dan bambu. Alhamdulillah pada suatu ketika (halah), bisa terbeli juga! Dan setelah nyobain, hasilnya ga semenakjubkan ekspetasi saya kok. Bagus, tapi ga yang buagus gitu. Malah, karena outer-nya terbuat dari bambu, kalau sudah penuh jadi merembes. Duhhh.. Hal yang paling bikin males kalau clodi anak ngrembes itu adalah, baju emaknya harus ganti semua. Najis.. Najis.. Wkwkwk.. Ngrembes saja sih sebenarnya.. Ga sampe yang netes-netes gitu. Tapi karena clodi ini tidak terlapisi bahan PUL (tahan air) seperti clodi-clodi lainnya, pantat bayi justru bisa bernafas dengan leluasa (cocok untuk bayi yang sensitif). Bagi Fazna, Ecoposh paling pas dipakai malam hari, karena kesannya hangat, pipisnya ga banyak, terus kalau dirapetin ga sampai yang merah-merah gitu kulitnya. Ajaibnya.. Meski full bambu, tampilannya ga bulky lho. Jika dipakai di siang hari, 4,5 jam udah mulai merembes. Kalau dipakai di malam hari, biasanya saya pakaikan dari jam 9 sampai jam 7 pagi, ga ada masalah. Oiya, Ecoposh ini juga punya pelindung samping, biar pipisnya ga kemana-mana. Minusnya Ecoposh adalah keringnya lamaaa.. Buat yang clodinya “kejar tayang” alias cuci kering pakai, sepertinya Ecoposh ga masuk dalam kriteria ini ya. Keringnya minimal 3 hari. Jadi outer-outer lainnya sehari udah kering, dia belum kering sendiri. Insert-insert yang lain 2 hari saja sudah kering, insertnya Ecoposh 3 hari saja belum tentu kering. Makanya saya jarang memilih insert berbahan bambu karena keringnya lama. Jadi, Ecoposh mendapat nilai 8 lah, karena performanya sip tapi harganya ga sip.

Continue reading


Jun 6 2014

8 Review Brand Clodi (Part 1)

Kali ini saya ingin me-review brand-brand clodi yang pernah dipakai Fazna. Tulisan saya ini murni hasil pengalaman, bukan karena ada niat iklan atau menjelek-jelekkan suatu brand. Karena semua konsumen berhak untuk menceritakan pengalamannya.  Mengingat perut dan paha bayi yang berbeda-beda tiap anak, serta cutting clodi yang berbeda-beda pula pada setiap brandnya, maka saya pun mencoba satu per satu yang menurut saya memang layak dicoba.

  1. Pempem

Ini adalah clodi brand lokal pertama saya punya, dan clodi pertama saya miliki. Setelah prewash 3x (yang salah satu tahap pencuciannya pakai deterjen), saya cobakan ke Fazna. Clodi ini trim (tipis), ga bulky (kalau bahasa Jawanya nggedebel), dan outer-nya (bagian luarnya) terbilang agak kaku (tapi yang agak kaku gini yang enak). Insert-nya ga tebal dan ga tipis, sehingga proses pengeringannya ga lama-lama amat. Daya serapnya lumayan, karena lapisan stay dry -nya memang cukup kering. Penggunaannya maksimal 4 jam. Pernah iseng saya pakaikan lebih dari 4 jam, yang ada bocor samping, jadi pesing deh. Clodi ini cocok dipakai di siang hari. Warna dan motifnya buanyakkk.. Sampai bingung pilih yang mana. Lubang masuk insertnya juga lebar. Noda bekas pup juga gampang dibersihin. Kalau Fazna sudah waktunya jam pup, biasanya kupakaikan clodi ini, hehehe.. Karena memang mudah dibersihin. Kekurangannya brand clodi ini adalah dia tidak mengeluarkan tipe pull-up (sebutan untuk clodi yang bisa dipakaikan seperti pospak jenis celana) dan lapisan stay dry-nya yang agak panas. Jadi cara memakaikannya harus ditidurin dulu. Kalau anaknya masih banyak tidur sih ga ada masalah, tapi kalau sudah banyak polah, ya harus dikasih mainan yang bisa dipegang untuk bisa tetep tidurin selagi makein clodi ini. Nilai yang pantas untuk Pempem adalah 7 untuk range 1-10.

Continue reading