Oct 17 2014

Memaknai Setiap Tanda

“Tuhan, perkenankanlah aku menemani ibuku saat ia menjemput ajal…”, Ayu Utami, 121.

Kematian itu pasti bagi setiap mahkluk hidup. Datangnya bisa cepat atau lambat. Jika ingat mati, atau orang yang kita sayangi mati, rasanya hidup harus dibikin sebermanfaat mungkin untuk orang lain. Harus berlomba-lomba menabung kebaikan. Ayu Utami sering mendengung-dengungkan spiritualisme kritis di buku-bukunya, termasuk di bukunya kali ini, Simple Miracles, Doa dan Arwah.

“Spiritulisme kritis adalah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis”, Ayu Utami, 56. Maksud dari spiritualisme kritis yang saya tangkap dalam buku ini adalah, bahwa spiritual itu jangan ditelan bulat-bulat begitu saja, ada hal-hal yang mendasari tiap hukum tersebut (sebab-akibat). Dan sebagai manusia yang beragama dan beradat, kita wajib mengkaji hukum-hukum tersebut, agar kita paham, mana yang benar, cocok, dan baik untuk masing-masing individu tanpa ada paksaan. Dalam buku ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan dari penulis, tentang kehidupan setelah mati, memandang skeptis kepercayaan orang Jawa bahwa 40 hari setelah wafatnya seseorang, sebenernya roh tersebut masih berputar-putar di dalam rumahnya, betulkah hari Jum`at Kliwon dan Selasa Kliwon adalah hari keramat untuk orang Jawa, dan lain-lain.

4

Continue reading