Aug 28 2015

Kapan Haji?

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali-Imron : 97)

Karena sebentar lagi bulan haji, maka tema kajian Mamah Dedeh kali ini membahas tentang haji. Duhhhh.. Jadi pengen banget kesanaaaa. Hikkk.. Semoga saya beserta suami serta teman-teman pembaca yang dirahmati Alloh ini segera dimampukan untuk kesana. Aaammiieenn..

Haji termasuk dalam rukun Islam nomer 5 yang salah satu syaratnya adalah mampu. Mampu atau sanggup sendiri memiliki 2 maksud:

1. Mampu dengan sendirinya

Maksud dari kriteria “mampu dengan sendirinya” adalah, apabila memiliki tabungan yang cukup dan badan masih sehat, haji harus disegerakan, jangan ditunda-tunda lagi. Karena ditakutkan tahun depan tidak semampu tahun ini atau kesehatan tak sesehat tahun ini. Jika kondisinya mampu dan sehat tapi merasa tidak dipanggil, plis deh ya.. Alloh, melalui Nabi Ibrahim sudah mengumandangkan panggilan haji sejak 3600 tahun yg lalu. Jadi yuk dibaca itu Al-Qur`an beserta terjemahannya, jangan jadi pajangan saja, jangan ngeliatin instagram aja (wakakaka.. ini mah aku banget! Duh.. Maaf Gustiiii).

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Al-Hajj : 27).

2.  Mampu dengan bantuan orang lain

a. Orangnya kaya, tapi kondisinya sakit, maka hajinya bisa dilaksanakan orang lain. Hukumnya wajib. Ayo temen-temen yang bapak ibunya, pakde budhe, saudara-saudara lain yang belum haji, tapi mampu meskipun kondisinya sedang sakit, dikasih tahu ya, bahwa kewajiban hajinya bisa dilaksanakan orang lain.

b. Orangnya kaya, tapi sudah meninggal dunia, maka hajinya bisa dilaksanakan orang lain. Ini hukumnya juga wajib, sama dengan yang diatas.

c. Hidupnya ga kaya, tapi anak turunnya bisa menghajikan orang tuanya (atau saudara yang lain) maka hukum hajinya sunnah.

Continue reading


Aug 25 2015

Mencetak Generasi Rabbani

Sering banget membaca tips dan trik mencetak generasi Rabbani yang menggiurkan bagi ibu-ibu rumah tangga macam saya. Pengen banget punya anak yang sholeh sollihah, tapi dimulai darimana? Bagaimana? Modelnya seperti apa?

Nah.. Kemarin saya berkesempatan ikut dalam bedah buku “Mencetak Generasi Rabbani” karangan Ummu Ihsan Choiriyah dan Abu Ihsan al-Atsary. Bedah bukunya dimulai dari awal hingga akhir halaman, dan dibahas sub bab demi sub bab (jadi nyesel ga bisa rutin kajian.. zzzzz).

Pembahasan sub bab kali ini dipandu oleh Ustad Subhan Bawazier. Seorang ustad asli Arab Betawi yang pembawaannya lucu seru! Dari awal hingga akhir kajian bawaannya diajak ketawa mulu, jadi ga ngantuk sama sekali.

IMG-20150821-WA0024

Foto by @thye3110

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa salah satu cara mencetak generasi Rabbani adalah dengan mendorong anak kita untuk memiliki sahabat yang baik.

“Karena kadang omongan teman itu lebih didengar, dari omongan orang tuanya bu. Kalau misalnya anak kita sedang tak sependapat dengan kita, biasanya dia kan ‘kabur’ dari rumah ya buk, nah disitulah sosok sahabat berperan. Kalau sahabatnya baik, pasti anak kita disuruh pulang, minta maaf ke kita, trus nasihatnya ‘mumpung orang tuamu masih hidup’. Tapi kalau temannya ga baik, tahu anak kita kabur dari rumah, yang ada dia malah seneng karena merasa punya teman. Hati-hati lho bu, anak-anak itu tergantung dari agama temannya,” terang si ustad nyentrik ini.

Continue reading


Aug 6 2015

Cerita Menyapih

Kali ini saya melakukan penyapihan yang secara teoritis “kurang benar” alias tidak menyapih dengan cinta, hehehe. Menyapih dengan cinta atau Weaning With Love atau yang biasa disingkat dengan WWL ini sudah booming cukup lama di kalangan ibu-ibu menyusui. Teknik menyapih ini mengusahakan agar si bayi yang sudah berusia dua tahun mau melepaskan “zona nyamannya”.

Beberapa bulan yang lalu adalah momen yang cukup berat bagi saya untuk berhenti meng-ASI Fazna. Mungkin hal ini juga pernah dialami oleh ibu-ibu di seluruh dunia. Tentu saja berat. Anak saya yang waktu itu akan berusia dua tahun masih sangat bergantung pada saya, apalagi menjelang tidur atau terbangun di malam hari. Tapi setelah berkonsultasi dengan dokter, tekad saya pun akhirnya menjelma menjadi kegigihan untuk menyapih Fazna. Alasan medis membuat saya tega (atau sebaiknya diksinya saya ganti konsisten ya, hehehe) untuk menyapihnya.

Continue reading