Dec 20 2016

Pulang

“Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Sesungguhnya kematian itu adalah suatu kepastian. Seperti rejeki, seperti kiamat. Cuma cara, waktu, lokasi, dan kondisi itu yang harus kita persiapkan sebaik-sebaiknya karena kita tak pernah tahu kapan tugas kita selesai di dunia, kapan harus “pulang” mempertanggung jawabkan kehidupan kita masing-masing di hadapan-Nya. Dia tak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan umatnya. Jika ujian terasa berat, maka bisa jadi karena umat tersebut memang umat pilihan, umat yang kuat.

Dalam bahasa Jawa, suami atau istri disebut Garwo, kepanjangan dari Sigaring Nyowo atau Sigaring Jiwo. Jika ditranslate ke dalam Bahasa Indonesia berarti belahan jiwa. Begitu dekatnya seorang pasangan hingga dia pantas menduduki kata “belahan” jiwa. Coba bayangan bagaimana bila jiwa mu dibelah. Separuhnya ada dirimu, separuhnya ada di pasanganmu. Jika “belahan” mu tak ada, terasa ada yang kurang lengkap. Dan jika “pasangan” mu itu sudah selesai tugasnya di dunia, dan harus “pulang” terlebih dahulu, terasa ada yang “hilang” dalam hidupmu. Ini yang dialami teman saya dua hari yang lalu.

Minggu pagi tanggal 18 Desember 2016, suami dari teman saya menyelesaikan tugasnya di dunia dengan 12 kru pesawat hercules lainnya, di Wamena. Kaget.. Benar-benar kaget dan ga menyangka sama sekali. Innalillahi wa innailahirojiun..

Foto atas : pernikahan Rika dan suaminya, Pak Hanggo. Foto bawah : nama-nama korban dalam kecelakaan pesawat hercules (pesawat hasil hibah dari Australia)

Continue reading