Apr 28 2017

Review Cantik itu Luka

Seseorang telah “meracuni” saya untuk membaca novel karya Eka Kurniawan. Sepintas saya pernah dengar judul novel ini sewaktu saya kuliah dulu, karena novel ini memang terbit pertama kali pada Desember 2002. Tapi baru akhir-akhir ini saya membaca dan mengoleksi novel karya Eka Kurniawan untuk kepentingan sesuatu (doain agar segera terwujud ya!).

Sebagai penulis (amatiran), ketika saya membaca sebuah novel, kadang saya membaca sebagai penulis (amatiran) atau sebagai benar-benar pembaca. Jika membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai penulis, wihhhh.. dasyat banget! Penokohannya, alurnya, dan ceritanya begitu kuat, hingga saya tak perlu dua kali untuk membacanya agar mengingat semuanya. Tapi kalau membaca novel karya Eka Kurniawan ini sebagai pembaca dengan background saya yang kurang memahami hal-hal yang dianggap “tabu” oleh masyarakat, jadinya agak ngeri, jijik, ngawur, dan sederet ungkapan tak percaya lainnya.

Novel ini menceritakan tentang seorang pelacur paling mahal dan paling cantik bernama Dewi Ayu di sebuah kota bernama Halimunda. Dia memiliki 3 anak perempuan yang sama-sama cantiknya (yang  tentu saja tak tahu bapaknya yang mana), dan 1 anak perempuan yang sangat buruk rupa. Masing-masing anak memiliki cerita sendiri-sendiri yang menarik untuk diikuti dan saling berkaitan.

Jangan kaget karena dalam novel ini begitu banyak cerita inseas (perkawinan sedarah). Dua dari tiga menantu Dewi Ayu pernah berhubungan dengan mertuanya sendiri, yack! Meski tokohnya banyak, sebenarnya kalau dicermati, “suara”nya hampir mirip, seperti Sodancho dan Maman Gendeng. Sama-sama kasar tapi juga sangat kuat.

Oiya, dalam novel ini juga ada beberapa kutipan yang membuat saya agak takut karena saya orang yang yang gampang membayangkan:

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.(Cantik itu Luka; Hal 1) Continue reading