Jun 7 2017

Review Melodi Damarabika

“Mungkin memang bukan pacaran, tapi kalau sudah dewasa kan tidak perlu menyebut kata cinta untuk tahu itu cinta. Hanya dengan terus bersama, dan tidak mau lepas dengannya, itu sudah bisa dibilang ada rasa. Dan kalau dia pun merasakan hal yang sama, itu bisa dibilang sebuah hubungan.” (Hal. 182)

Cinta memang tak bisa memilih. Tak juga bisa untuk dikendalikan. Dia hanya perlu untuk disadari. Begitu juga dengan cinta Rara dan Tyo. Dua orang dengan dua kepribadian justru bisa bersatu karena perbedaan itu saling melengkapi kelebihan mereka. Rara adalah wanita yang cerdas, yang bersahabat dengan buku tapi tak pintar bergaul, sedangkan Tyo adalah lelaki yang suka bermain musik, pintar bergaul, dan agak alergi dengan buku.

“Tak perlu terlalu memahami, kami hanya perlu ada untuk satu sama lain, meski dalam hening.” (Hal. 93).

Dua insan ini dulunya satu almamater ketika masih SMA. Menurut hemat saya sih, sebenarnya, dua orang ini sudah punya “rasa” sedari SMA, tapi mereka masih belum yakin atau malah mengabaikan rasa itu. Ibu-ibu mereka bersahabat baik, hingga Rara dan Tyo sudah merasa seperti saudaranya sendiri. Tapi kejadian di malam Prom Night menjadikan hubungan mereka retak. Ya, Tyo sebenarnya bermaksud melindungi Rara dari kejahilan teman-temannya, tapi maksud dan cara yang dilakukan Tyo salah menurut Rara. Rara mengganggap “penyelamatan” itu sebagai pengkhianatan atas persahabatan yang telah mereka jalin. Dan parahnya, “penyelamatan” itu dilakukan ketika Tyo dalam keadaan mabuk, jadi Tyo tak merasa itu tindakan yang fatal bagi hubungan mereka.

Tyo tetap tak menyadari bahwa Rara masih marah dengannya, hingga beberapa tahun kemudian akhirnya mereka bertemu kembali disaat Tyo sudah menjadi artis kelas dunia karena kelihaiannya dalam menciptakan lagu, bermain musik, dan tentu saja karena ketampanannya. Dia “bersembunyi” dari dunia keartisannya di dekat rumah Rara, di Jogja. Dan di situlah akhirnya mereka menjalin persahabatan lagi hingga berbuah cinta.

“Karena Ra, tanpa teman, puncak gunung sekali pun hanyalah tempat yang sepi. Dan Tyo sepertinya sedang berada di sana sendirian. Tanpa keluarga dan tanpa sahabat. Mungkin karena itu dia sembunyi dari dunia. Dan dia temukan lagi hangatnya keluarga melalui kita. Kalau semua memang sempurna dalam hidupnya, trus kenapa dia ada di sini hari ini? Mesti ono sing kurang.” (Hal. 104).

Continue reading