Sep 11 2019

Lift the Flap Usborne

Ini adalah buku-buku pertama Fazna yang ingin saya review. Buku-buku terbitan Usborne terkenal karena atraktif dan menarik sekali untuk anak-anak. Sayangnya saya telat tahu penerbit ini. Padahal buku-buku untuk usia dibawah 3 tahun-nya itu super gemas. Mungkin nanti kalau Fazna punya adik (aaammiinnn), buku-buku terbitan Usborne lainnya akan menjadi incaran saya selanjutnya, hehe.

Lift The Flap Usborne Terjemahan

Buku lift the flap ini adalah buku langka. Semakin langka karena ini adalah episode terjemahan. Serian buku ini terakhir diterbitkan sekitar tahun 2003. Lho kok akhirnya sekarang saya bisa punya? Jangan salah.. Serian ini berhasil saya kumpulkan setelah membeli dari 4 penjual buku baru, dan 4 penjual buku bekas. Nyarinya pun dari berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Bukalapak, Shopee, hingga Tokopedia. Memang ada cerita dan peluh di setiap buku-buku Fazna (ihirrr). Hmmm, sebenarnya serian ini kurang 1 buku yang berjudul Unicorn. Tapi karena saya ga suka ngajarin hewan fiktif, akhirnya saya ga membelinya. Yang judul naga pun sebenarnya saya juga enggan membeli, tapi karena dia harus dibeli bundle dengan yang lain, jadi ya terbeli deh akhirnya.

Ilustrasinya menarik bukan?
Baru tahu juga kalo tawon dan lebah itu ternyata berbeda

Dan ternyata kegigihan saya tidak sia-sia. Fazna yang kemarin masih terbata-bata membaca, jadi lumayan lancar setelah didatangkan buku ini. Meski cerita dan pengenalan hewan-hewannya ga spesifik banget, alias cuma di permukaan saja, tapi buku ini memiliki ilustrasi yang bagus, serta ada bagian lift the flap (bagian kertas yang bisa dibuka-tutup) di setiap halamannya.

Range harga yang saya dapatkan dari penjual, baik buku baru atau bekas adalah sekitar Rp. 50.000,- sampai Rp. 120.000,-. Sebenarnya agak mahal untuk kategori buku bekas, tapi mengingat sudah tidak diterbitkan lagi dan susah banget didapetin, jadi ya terima nasib saja kalau dapet harga tinggi, hehehe. Buku ini bisa diperkenalkan ke anak-anak mulai usia 2 tahun keatas. Tapi ketika membaca harap didampingi ya, karena bagian lift the flap-nya rawan sobek akibat kegemesan bocah, hihi.

Jadi, buku ini worth it to buy ga? Menurut saya worth it banget.. Beli kalau ketemu buku ini ya! ^_^


Sep 9 2019

Buku-Buku Anak yang Menyenangkan

Ngomongin tentang buku anak, sebenarnya saya termasuk awam. Saya baru rutin membelikan Fazna buku (hingga mau berburu [benar-benar berburu] buku anak) sekitar tiga tahun belakangan ini. Sebelumnya lebih senang pinjam temen, atau beli yang memang untuk usia Fazna saat itu saja. Sampai akhirnya saya iseng ikut grup jastip (jasa titip) BBW (Big Bad Wolf), diskon di gudang Gramedia, dan live shopping di toko buku Malaysia. Dari situ, mata batin saya tercerahkan. Begitu banyak ibu-ibu yang mati-matian memberikan yang terbaik untuk anaknya, salah satunya lewat buku. Halloooowww.. Kaget banget saya ngeliat ibu-ibu pada ganas nimbun buku. Kemana saja saya selama ini? Sastra mulu yang dibaca, ampe lupa “nutrisi otak” yang harusnya didapatkan si bocah di usia golden age-nya. Demi mengejar ketertinggalan kami, detik itu juga (sampai sekarang) akhirnya saya rutin menyisihkan sebagian uang pribadi saya untuk membeli buku-buku Fazna yang harganya variatif, dari yang ribuan sampai jutaan (puluhan juta belum ya Faz, wekeke, semoga Mama Papa dimampukan terus ya nak).

Rutinitas kami membaca buku bersama sebenarnya berlangsung ketika dia berusia 2 tahunan. Bedanya kalau dulu bukunya itu-itu saja, sekarang bingung mau ngambil buku yang mana, hehehe. Waktu itu Fazna susah sekali diajak tidur, padahal sudah jam 9 atau jam 10 malam. Akhirnya dengan berbekal buku cerita dan lampu kamar diredupkan, mulailah saya bercerita dengan suara yang berbeda-beda (tergantung tokoh yang ada pada buku). Dari situ Fazna terlihat lebih tenang, dan lebih mudah untuk tidur. Sampai sekarang, meski dia sudah bisa baca sendiri, dia masih susah tidur jika belum ada buku yang didongengkan untuk dia.

Rak buku Fazna.. Dan masih banyak buku Fazna yang belum “punya rumah”

Kenapa akhirnya saya memutuskan untuk me-review buku-buku Fazna di blog saya? Hmmmm.. Alasan yang pertama adalah banyaknya ibu-ibu pembelajar. Kenapa disebut-sebut ibu pembelajar? Karena tiap saya posting buku baru di intagram saya, banyak yang kepo tentang isi, harga, worth it to buy ga, dll. Pengen tahu = kepo = naluri pembelajar. Nah daripada saya jelasin satu per satu padahal pertanyaannya sama saja, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya di blog saya (sebab kalau menulis di instagram tempatnya terbatas), dengan tag baru yaitu “Buku Fazna”. Semoga tag baru ini bisa memenuhi naluri ibu-ibu pembelajar ya.

Alasan yang kedua adalah yang ter-update. Umumnya blogger suka menuliskan segala hal yang berkaitan dengan pengalamannya sehari-hari. Sebagai ibu rumah tangga yang rutinitasnya begitu-begitu saja, yang membuat hari-hari saya berwarna adalah cerita Fazna di sekolah, dan tentu saja buku-buku Fazna yang hampir selalu ada saja yang baru tiap minggunya *semoga suami ga baca ini, hihihi. Nah, karena kebanyakan saya baca buku-buku anak daripada novel-novel, jadi untuk sekarang akan lebih mudah bagi saya untuk sharing ke teman-teman tentang buku anak, hehe.

Alasan yang ketiga adalah ngeracun. Wkwkwkw.. ngeracun sehat tapi ya? Hihihi. Di era digital ini siapa sih yang betah ga liat media sosial sehari saja? Saya termasuk ibu yang suka berburu buku online, maka ketika akan membelinya, saya lebih senang untuk searching isinya dari berbagai macam media sosial. Bisa dari instagram, mbah google, bahkan youtube. Dari sana, biasanya saya bisa mendapatkan kemantapan hati, take it or leave it. Buku-buku anak zaman sekarang itu luar biasa kerennya lho, kayaknya sayang kalau kecanggihan buku anak zaman sekarang cuma dinikmati oleh sebagian kalangan saja.

Membaca memang mempunyai sejuta manfaat dan itu kami rasakan. Terlepas dari pengetahuan baru yang bisa kami dapatkan, membaca buku bersama terbukti membuat kami nyaman. Aktifitas seharian yang menyebabkan kami bisa saling kesal atau marah, terasa bisa melebur menjadi pengungkapan bahwa kami sebenarnya sayang satu sama lain.

Mungkin Fazna “belum jadi sangat baik sekarang”. Masih suka iseng ke temannya dan masih kurang fokus dalam belajar, tapi saya memilih berikhtiar menjadikannya baik lewat doa (tentu saja) dan buku. Entah di buku keberapa, dan di judul apa perilakunya berubah menjadi baik, kami berdua sedang berusaha. Bismillahhhh…


Aug 22 2019

Malas?! Pergilah, plis!

Assalamu`alaikum teman-teman.. ^_^

Ga terasa ternyata sudah lama banget saya ga nulis.. Dilihat dari tulisan terakhir di blog ini, setahun lebih saya ga nulis! Ini kayaknya rekor terlama saya ga nulis di blog, meski saya masih menulis di media yang lain, hehehe.

Padahal dulu ketika Fazna masih belum sekolah, saya berjanji untuk nanti jika Fazna sudah TK (pulangnya jam 11 siang), saya akan lebih aktif nulis. Eh giliran sudah TK beneran, yang ada waktu longgar saya habis untuk bersih-bersih rumah dan pantengin sosial media, wkwkwkw. Dasar emak-emak..

Nah, ketika Fazna mau masuk SD kemarin, saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih sering ke perpustakaan (karena saya KTP Depok, jadi hanya boleh pinjam di perpustakaan Depok) guna menambah ilmu terbatas saya. Alasan saya lebih milih pinjam buku di perpustakaan daripada beli buku baru adalah yang pertama, karena saya CUMA ingin tahu. Saya cuma ingin baca sekali doang, dan ga ingin buku-buku tersebut menjadi koleksi saya di rumah. Yang kedua, karena saya masih belum punya lemari buku baru, wkwkwkw. Perlu diketahui, lemari buku saya sudah tergeser dengan buku-buku Fazna. Alhasil buku-buku saya cuma kesimpen di kardus, dan ditaruh di lantai 2, huhuhu.. Sedih. Dan alasan yang ketiga adalah karena ingin berhemat, hehehe, kayaknya alasan terakhir itu adalah alasan semua ibu-ibu ya. Oiya, kebetulan genre buku favorit saya kalau bukan novel sastra, biografi tokoh, ya sejarah (apa pun). Dan kalau ditengok di Gramedia, buku-buku golongan tersebut susah kalau nyari yang murah, jadi budget bulanan untuk beli buku hampir bisa dipastikan sudah kepake untuk beli buku Fazna (dan saya pun tak menyesal), hehehe. Sayangnya Perpus Depok masih belum selengkap bayangan saya, bahkan untuk kesananya saya harus menempuh waktu kurang lebih setengah jam. Jadi masih belum bisa rutin kesananya, padahal tempatnya lumayan enak, next saya fotoin ya tempatnya.

Intinya, saya ingin waktu luang saya lebih bermanfaat lah (selain aktivitas jualan saya ya), yang mungkin bisa memberatkan amal saya kelak. Fazna sudah kelas 1 SD (di yayasan yang sama dengan TK-nya dulu) dan pulangnya jam 2 siang. Kalau eskul, dia bisa pulang jam 3 siang. Itu belum bonus main setelah pulang eskul *alamak. Kalau teman-teman mau milih, enaknya blog ini lebih sering diisi dengan curhatan kehidupan saya pribadi (duhhhh.. macam artis saja), aktivitas Fazna (berasa Rafathar ya? Wkwkw), review buku dewasa yang sudah saya baca, review buku Fazna, atau update make up dan skin care yang saya pake (ihirrr.. macam beauty blogger saja)? Komen, like, dan subsribe ya? Wkwkwkw.. Ditunggu.. 🙂