Harta Karun (2-End)

Jika prangko adalah koleksi yang kumulai dari umur 10 tahun, yang berarti kelas empat SD, ada koleksi yang lebih tua lagi dari prangko; kertas surat. Benda pos kedua yang kukoleksi adalah kertas surat. Dan ini adalah kertas surat pertama yang kubeli, kalau ga salah waktu itu aku masih kelas satu SD. Tanpa kutahu untuk kugunakan berkirim surat kepada siapa, jika diajak ke toko alat tulis, aku selalu minta dibelikan kertas surat bergambar lucu.

IMG-20111029-01433

Bahkan ketika bapakku pergi ke luar kota dan menginap di hotel, dan kebetulan di hotel tersebut ada kertas surat beserta amplopnya, maka bapak pun membawakan barang “berharga” itu sebagai oleh-oleh untukku. Meskipun tidak lucu, aku tetap menyimpannya sebagai tanda menghargai. Lihat tahunnya, 1992, itu brrti aku berumur 5 tahun, masih TK! Hihihi.. Tau apa aku tentang surat menyurat umur segitu..

IMG-20111029-01435

Akhirnya.. Kertas surat tersebut berguna setelah aku bisa merangkai kalimat demi kalimat menjadi sebuah percakapan yang ingin dibalas oleh seseorang. Iya.. Aku sudah bisa berkirim surat dan mencari sahabat pena. Umurku sekitar 11 sampai 12 tahun waktu itu, kelas 5-6 SD. Kau masih inget majalah anak-anak, Bobo? Yang ada kisah Nirmala, Oki, Bona, dan Rongrong? Aku langganan majalah ini sampe lulus SMP. Sebenarnya aku ga pengen berhenti berlangganan, tapi kata bapak, aku bukan anak-anak lagi. Sempet dongkol karena majalah langgananku dihentikan.. Tapi punya kuasa apa anak bungsu berusia 15 tahun..

Lewat majalah Bobo, aku mencari nama-nama dan alamat-alamat bocah yang sepantaran denganku. Aku suka menulis dan aku ingin mendapat surat balasan dari seseorang yang tak ku kenal atau bahkan tak ku ketahui wajahnya seperti apa. Setelah mendapatkan 5 nama yang cukup unik dan bertempat tinggal di luar pulau, satu persatu mereka ku kirimi surat. Seminggu, sebulan, tiga bulan, dan sampe detik ini, ternyata tak ada respon dari nama-nama tersebut. Aku kecewa.. Ternyata aku ga ditanggepin. Padahal aku cuma ingin punya sahabat pena yang mau berbagi waktu denganku. Huhuhu…

Tapi usahaku mencari sahabat pena ga berhenti sampe disitu. Punya saudara yang tinggal di Surabaya adalah sasaran selanjutnya untuk kujadikan sahabat pena. Dek Ine namanya. Meski kami berbeda generasi (dia lebih tua 4 tahun dari aku), kurasa aku akan mendapat balasan dari orang yang menyenangkan seperti dia. Dan memang dia membalas suratku, tapi dalam jangka waktu yang lama. Sepertinya dia memang orang yang menyenangkan, tapi tidak dalam menulis surat untuk sekedar menjadi sahabat pena, hehehe.

Eits, aku belum putus asa dalam mencari sahabat pena. Seringnya ikut bapak ibu bepergian kemana-kemana (maklum anak ragil), membuat aku bertemu dengan bocah baru, anaknya temen bapak yang kebetulan jg diajak (anak ragil juga ternyata). Aku ingat namanya, Galuh. Cewek cantik yang berkulit kuning langsat dan berambut hitam legam. Iya.. Aku suka rambutnya yang dibiarkan terurai lurus dan lebat itu. Maklum, rambutku tak seindah milik Galuh, jadi aku mengagumi dia, pertama-tama karena rambutnya, kedua karena kedewasaannya (dia lahir satu tahun sebelum aku lahir). Kutanya, mau enggak jadi sahabat penaku, ternyata dia mau. Menjadi sahabat penanya berjalan lancar hingga tiga bulan kedepan, dua minggu sekali kami saling memberi kabar. Setelah itu tiba-tiba dia “lenyap” dari peredaran. Aku tak tahu kenapa surat terakhirku tak berbalas. Oiya.. Galuh ini rumahnya Kediri, tapi dia dengan senang hati meladeniku dan membalas tiap suratku dengan prangko yang unik-unik. Ketika kudatangi rumahnya, tetangganya bilang kalau dia sudah pindah, yang tetangganya sendiri pun tak tahu kemana pindahnya. Aku kecewa.. Sahabat pena satu-satunya telah hilang tanpa berkabar apapun untuk aku. Hilang. Hingga kini.

Kali ini namanya Nana. Dia gadis ceria dan memulai perkenalannya denganku tanpa ragu-ragu. Pertama bertemu, kami seperti sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu. Dia menyapa, dan kami tiba-tiba sangat akrab. Dia berumur 2 tahun lebih muda dari aku. Kami bertemu di area kolam renang Selorejo, Malang. Bapak golf dan ibu belanja, sedangkan aku diantar sopir untuk berenang sendiri. Dan disitulah aku bertemu Nana. Bahkan kau tau, kami bilas bersama-sama! Jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku masih kelas 6 SD saat itu. Yang terpenting adalah, dia mau menjadi sahabat penaku. Seperti ga kapok-kapok dengan “proyek pribadi”ku ini, aku kembali menulis surat dan berharap menemukan sahabat pena sejati, yang mau meladeni “kekurangan kerjaan”ku ini. Dan lagi-lagi harapanku pupus. Surat yang kukirim sekitar seminggu sebelumya, telah dikembalikan pak pos, yang katanya rumah Nana kosong ga berpenghuni.

Ya Tuhan.. Begitu susahnya mencari sahabat pena..

Huufff..  Setelah episode ingin memiliki sahabat pena dengan Nana yang gagal, aku tak mau lagi mencari sahabat pena dengan orang, tak mau dengan makhluk hidup lagi lebih tepatnya. Tepat di hari pertama aku memasuki bangku SMP, aku mulai menulis “sesuatu” pada sebuah buku berkunci. Khalayak umum menyebutnya buku diary. Dan aku merasakan kenyamanan yang luar biasa ketika harus jujur dalam menulis. Tak takut salah dalam struktur bahasa, tak takut ada yang tersinggung karena “bicara” leluasa apa adanya, dan yang jelas tak takut untuk tak ditanggapi. Nyatanya aku masih menulis diary hingga kini (meskipun banyak yang  mengingatkan ku untuk tak melanjutkan hobi ga jelas ini).

Semakin lama koleksi suratku tak berkembang dan stagnan sampe disitu. Ini adalah sisa-sisa kejayaan surat-menyurat. Masuknya email dalam perkembangan teknologi dunia telah menggeser kedudukan surat sebagai “sosok agung” pemberi kabar yang dinanti orang-orang jaman dulu menjadi  terlihat sangat kuno .

IMG-20111029-01431

Email adalah cara berkirim surat jaman sekarang yang membuat segalanya jadi hemat, cepat, dan praktis. Dan itu sangat menguntungkan untuk pelaku bisnis.

Tapi… Jika untuk orang yang kau cintai, apakah kau juga akan melakukan hal yang sama? Beri tahu aku, apakah pemikiranku yang masih kuno atau ga modern? Bahwa surat dengan prangko unik dan tulisan rapi tetap menjadi cara berkirim kabar yang romantis dan tak lekang oleh jaman, dimana dan kapan pun kau berada? Hm… Kurasa kertas surat yang diantar pak pos sampai di rumah tetap menjadi sebuah harta karun yang selalu kutunggu datangnya.. 😀

-END-



3 Responses to “Harta Karun (2-End)”

  • qonita Says:

    eh samaaa..dulu aq koleksi kertas surat,sm kertas yg ada plong2nya,hampir tiap minggu keliling toko buku nyari koleksi terbaru,hihi
    smp banyaaaakkk bgt,bentuknya aneh2,,kpn hr bongkar2 kmr aq kluarin smua,bagi2in ke anak2 kecil di skitaran rumah
    surat2ku jaman dl,sm sahabatku yg pindah ke australia msh lengkap,,ktawa2 sndr deh bacanya,lucu y jaman dl 😀
    akhirnya tuh surat2 aq bakar aja,isin dw 😀

  • diva Says:

    @mbak qonita: dibakar??ga eman mbak??aku dulu berencana pengen ngebakar buku harianku mbk..tapi lihat segitu banyaknya kok emanbgt.. 🙁

  • qonita Says:

    ya eman,tp wes buat apa,,dibakar aja 😀
    buku diary jg aq bakar aja..

Leave a Reply