Selingkuh atau Diselingkuhi?

Miris dengan fenomena selingkuh yang terjadi dimana-mana, diam-diam saya mengamati apa itu selingkuh dan bagaimana selingkuh bisa terjadi. Abaikan saja ulasan kali ini jika dirasa akan membuat marah atau memang tak sesuai dengan pendapat kalian. Saya hanya sekedar sharing menurut apa yang saya tahu. Hal ini bukan karena saya selingkuh ataupun diselingkuhi, tapi murni karena saya prihatin dengan kondisi saat ini *halah, gaya! :p

Kalau kalian cermati, lagu-lagu hits di Indonesia hampir sebagian besar bertema perselingkuhan. Sang pencipta lagu selalu memiliki alasan mengapa menciptakan lagu tentang mendua dan meniga. Bisa saja karena pengalaman pribadi atau pun cerita dari sahabatnya, yang tentunya semakin marak terjadi. Dari situ saja kita bisa melihat, berarti selingkuh menjadi hal yang biasa dewasa ini. Bahkan lagu-lagu tersebut hafal diluar kepala dan dirasa “aku banget” bagi sebagian kalangan *sedih ya?

Tanpa merendahkan kaum saya sendiri, pihak pertama yang patut dicugai atas banyaknya fenomena selingkuh ini adalah kaum hawa. Banyak sekali wanita yang suka bermain api dengan apa yang dirasa “menyenangkan” ini. Padahal sifat kaum hawa yang unpredictable ini justru membuat segalanya yang awalnya mudah menjadi serba susah.

Contohnya seperti ini, ada sepasang muda mudi yang menjalin cinta. Jika ada wanita cantik “lewat”, pasti pemuda ini akan “sejenak” melupakan kekasihnya dan mencoba untuk flirting dengan wanita cantik (menurut teman-teman lelaki saya, kecenderungan seperti itu selalu ada). Padahal wanita cantik ini sudah mempunyai kekasih sendiri. Kini, keputusan ada di tangan wanita cantik, memberi “lampu merah” atau “lampu hijau”. Nah.. Disinilah munculnya presepsi saya, bahwa peran kaum hawa menjadi pihak pertama yang patut dicurigai dalam fenomena selingkuh. Kalau wanita cantik memilih “lampu hijau”, berarti dia mengijinkan pemuda ini menjadi orang ketiga dan merusak hubungan cintanya, dan hubungan cinta si pemuda pemudi. Beda lagi jika wanita cantik menolak secara tegas kepada si pemuda, maka si pemuda itu akan mundur teratur dan dijamin untuk tidak menggoda wanita cantik lagi. Percayalah, pria baik-baik akan tau diri jika sudah ditolak dengan tegas. Mereka tidak akan “mengemis” cinta demi seorang wanita yang sudah memiliki pasangan. Ingat, cinta butuh ketegasan dan kejelasan.

Sering saya mendengar, hubungan cinta teman-teman saya kandas karena orang ketiga. Sebelum menyalahkan pasangan kita ataupun pihak ketiganya, kita wajib “berkaca”. Instropeksi diri dulu lah sebelum mencari kambing hitamnya. Kalau katanya akhi Salim A. Fillah, ”Bercerminlah! Yang dibaikkan bukan bayangan, tapi kita yang sedang berdandan”.

Kini pertanyaannya, sudahkah kita menghargai dan membuat nyaman pasangan kita masing-masing? Sudahkan kita memberikan cinta, perhatian, dan kasih sayang yang semestinya untuk pasangan kita? Jangan salahkan pasanganmu jika dia “pergi” untuk mencari pengganti diri karena kita yang tidak bisa menjaga cinta yang sudah dia beri. Menerima dan menghargai adalah sikap yang harus dipupuk untuk langgengnya suatu hubungan, karena no body`s perfect. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika kita tak pernah puas dan selalu mencari yang lebih dan lebih, bukannya menemukan manusia yang sempurna, tapi yang ada hanyalah segala ke tak sempurnaan yang akan kalian resahkan dari hari ke hari. Masih katanya akhi Salim A. Fillah,” Setiap yang mengaku mencinta, harus melayakkan diri untuk dicinta, itu yang lebih penting baginya”.

Bagi kau yang mau jadi orang ketiga, sudahkah bercermin pula? Apa enaknya sih jadi orang ketiga? Betapa teganya kau, untuk mengharapkan suatu hubungan hancur gara-gara keegoisanmu? Banggakah dirimu jika ada seorang lelaki ataupun seorang perempuan melepaskan pasangannya demi mengejar-ngejar kau? Pikirkan baik-baik! Jika saat ini dia berani melepaskan hubungannya dengan pasangannya demi kau, bukan hal yang mustahil jika suatu saat kau akan dilepaskan untuk orang lain. Kemungkinan-kemungkinan dalam hidup ini selalu ada. Meski dalam Islam tidak mengenal istilah hukum karma, tapi toh buktinya banyak sekali kejadian yang membuktikan bahwa karma itu berlaku di kehidupan nyata.

Bagi yang suka “menebar” cinta dimana-mana, berhati-hatilah. Karena setiap hati yang sakit karena “tebaran” cintamu, suatu saat akan diminta pertanggung jawabannya. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Alloh Maha Mengetahui Apa yang mereka perbuat”, QS. An. Nur: 30).  Kenapa surat ini ditujukan untuk laki-laki? Karena laki-laki selalu lemah dan mudah tergoda dalam penglihatan mereka, untuk itulah Alloh “menghimbau” kaum adam untuk menjaga pandangannya. Sekarang sudah tau kan, kenapa pemuda-pemuda masjid pandangannya selalu menghadap tanah? Selain menjaga pandangan, mereka juga mencari uang jatuh *just kidding :p. Dan tentu saja, sebagai kaum hawa, kita dituntut untuk tak membuat mereka “menoleh” kepada kita. Salah satunya adalah dengan memakai pakaian yang menutup aurat dan tak “menggoda” mereka lah. Ketika seorang wanita muslim terlihat auratnya, dosa bukan milik lelaki yang memandang aurat wanita itu saja loh, tapi wanita ini juga “menabung dosa”. Ketika wanita ini sudah baligh, belum menutup aurat, dan belum menikah, maka bapaknya lah yang menanggung dosa. Jika sudah menikah dan belum menutup aurat, maka suaminya yang kena imbasnya. Hati-hati.. Sedikit demi sedikit dosa juga bisa jadi bukit!

Balik lagi ke fenomena selingkuh ya? Bagi yang sudah merasa memberikan cinta dan kasih sayang yang cukup tapi tetap ditinggal selingkuh oleh pasangannya, buka lah matamu. Masih banyak lawan jenismu di dunia ini yang berhak mendapatkan cinta sejatimu. Kalau katanya pepatah,”Cinta memang mampu membuat seseorang menunggu begitu lama, tapi kadang kamu harus mencintai dirimu juga, dengan menyadari kapan tuk pergi”. Jadi, sekali pasanganmu selingkuh, tak ada lagi alasan untuk bertahan. Lepaskan dia dan cari jodoh yang sudah disiapkan Tuhan untukmu. Sungguh merugi orang yang tak bisa menjaga kepercayaan dari pasangannya sendiri.

Bagi yang sedang naksir pasangannya orang, ada alternatif lain yang lebih efektif dan halal selain flirting. “Doa seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya, adalah doa yang mustajab, karena disisinya ada malaikat yang mengaminkan”, HR. Muslim. Dengan berdoa meminta padaNya, apa yang tidak mungkin? Tuhan sangat ingin “dimintai” pertolonganNya. Justru Tuhan murka kalau makhluk yang diciptakanNya cuek-cuek saja, ga minta apa-apa. Kita minta saja pada Sang Maha Pembolak-Balikan hati, siapa tau orang yang kita taksir beneran jadi jodoh kita *apa yang lebih romantis daripada doa yang kau panjatkan diam-diam dan akhirnya terwujud?

Bagi mantan “penebar cinta”, ga ada salahnya untuk kembali ke jalan yang lurus. Selalu ada pengampunan dariNya. Selalu ada pengecualian di segala bidang. Minta maaflah kepada orang yang pernah kau sakiti, renungkan sikapmu, dan segera bangkit! “Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran”, kata tweet klik. Jangan ulangi kesalahan yang sama, berdamailah dengan diri sendiri, maka kau akan menemukan “kejutan” yang sudah dipersiapkan Tuhan untukmu. Bahagiakan orang lain, maka kau akan bahagia dengan sendirinya.

Dan yang terakhir.. Bagi yang sudah menjalani hubungan serius atau bahkan yang sudah menikah, jadilah pribadi yang setia. Menjadi setia itu menyenangkan. Kau tak perlu memikirkan selingkuhanmu marah jika kau lupa tak sms dia. Kau tak perlu malu untuk bersikap mesra dengan suami atau istrimu di depan umum karena memang tak ada yang perlu ditutup-tutupi dari siapa pun. Kau bisa menjalani kehidupan yang lebih bermanfaat dibanding harus memikirkan orang ketiga maupun orang keempat “sedang ngapain”. Dengan setia, menuntut ilmu jadi nyaman. Dengan setia, bekerja pun jadi semangat. Dengan setia dan saling percaya.. Tuhan akan mengayomi kita.. Nikmat mana yang kau dustakan?

-Tak ada yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita selain Alloh, jangan ragu kepada takdirnya. Bila sudah mantap, sempurnakan niat dan ikhtiar- Aa. Gym.

Jadilah pribadi yang setia!

setia



5 Responses to “Selingkuh atau Diselingkuhi?”

  • gto Says:

    wwkwkwk..Pemikiranmu iki cenderung mengarah ke pasangan yang sudah menikah…selama janur kuning belum melengkung..tidak ada hukumnya selingkuh itu dilarang.. lak yo ngono to? soale sebenernya Islam tidak mengenal konsep pacaran…namanya juga trial and error… 😛

  • diva Says:

    hehehehe…memang Islam tak mengenal pacaran..cuma ta`aruf… :p mungkin saya sedikit trauma dengan yang namanya selingkuh…maka jadilah pemikiran seperti ini.. hihihi.. :p

  • gto Says:

    wkwkwk..nggeh..paham banget… 😛

  • Rizza Says:

    Sippp bagus dif…setia dan slalu ingat segala tingkah laku kita nanti dipertanggungjawabkan…

  • diva Says:

    @rizza: he’em.. pokoknya ntar kita harus ketemu di taman-taman surga ya… :*

Leave a Reply