Kampung Idiot yang Terpinggirkan

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Kampung Idiot di Desa Sidoarjo, Kecamatan Jabon, Ponorogo. Masuk dalam kategori “Kejadian Luar Biasa”, Kampung Idiot ini di blow up berbagai macam media massa, yang membuat saya jadi penasaran. Bersama dengan ibu-ibu pengajian ibu saya, akhirnya saya bisa juga berkunjung kesini.

Siang itu, saya beserta rombongan Pengajian Siti Khadijah tiba di lokasi dengan sedikit bertanya-tanya,”Loh.. Ini kampung idiot? Mana orang idiotnya? Kok yang datang di masjid (tempat berkumpulnya kami dengan orang-orang kampung idiot) yang normal-normal aja?” Tak beberapa lama, kepala desa (maaf.. saya lupa namanya) dan seorang “relawan” dari luar Kecamatan Jabon bernama Pak Zainuri menyambut kami. Setelah melakukan ramah tamah dengan kepala desa dan Pak Zainuri, kami mendapat pemberitahuan, bahwa awal mulanya mereka ingin mengumpulkan orang-orang idiot itu untuk bertemu dengan kami langsung. Tapi karena orang-orang idiot ini susah untuk keluar dari rumahnya, alhasil yang datang untuk menerima sumbangan ala kadarnya dari ibu-ibu Pengajian Siti Khadijah ini keluarganya saja, dan yang normal tentunya.

Ketika rombongan Pengajian Siti Khadijah datangTak puas hanya sekedar bertemu dan sharing dengan keluarga dari orang-orang idiot itu, kami berinisiatif untuk mendatangi rumah-rumah penderita idiot langsung. Astagaaaa.. Saya tak menyangka.. Kurang lebih setengah jam dari kota Ponorogo yang terkenal hingga mancanegara karena kesenian Reog-nya, masih ada orang-orang seperti ini yang kondisi-nya jauh di bawah garis kemiskinan. Pekerjaan sebagai buruh tani yang dipilih oleh sebagian besar masyarakat Kecamatan Jabon ini, menjadikan mereka hidup serba kekurangan dan hidup di lingkungan yang jauh dari sehat.

jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain melewati pematang sawah dan kebun yang banyak nyamuknya

Entah hipotesis apa yang bisa mengungkap fenomena ini, tapi dari 4000 jiwa yang ada di kecamatan Jabon, ada sekitar 380 jiwa yang idiot! Bayangkan.. 380 jiwa!! Dalam satu keluarga saja bisa ada dua hingga tiga saudara yang menderita idiot. Ya Alloh.. Terus.. Bagaimana kondisi psikis saudara normal yang lainnya ya? Huhuhu.. Sungguh jadi cobaan hidup yang teramat berat bagi mereka..

Saya cukup salut, karena pemerintah tanggap untuk mengatasi kasus ini. Pemerintah membuat rumah untuk keperluan orang-orang idiot di Desa Sidoarjo. Rumah Kasih Sayang namanya. Sampai saat ini, Rumah Kasih Sayang masih “hanya” berfungsi sebagai dapur umum. Untuk idiot kategori berat, mereka diberi makan dua kali sehari, sedangkan sisa idiot lainnya diberi makan satu hari sekali. Diberi? Ya.. Diberi.. “Mereka adalah orang-orang idiot yang tidak bisa melakukan pekerjaan apapun selain hanya mengandalkan bantuan dari orang lain”, begitu kata Pak Zainuri.

“Jangan takut mbak.. Mereka tidak akan melukai siapa pun kok mbak, mereka hanya bodoh. Mereka tidak bisa diajari untuk hidup mandiri”, lanjut Pak Zainuri.

“Rata-rata mereka sudah tua ya pak?”, sahut saya.

“Iya mbak.. Mayoritas mereka kelahiran tahun 1966, 1967, 1968. Saat gizi susah untuk dipenuhi mbak. Tapi ada juga beberapa, yang masih balita”.

“Ooo.. jadi penyebab utama banyaknya idiot di desa ini karena kekurangan gizi pak?”, tanyaku.

“Menurut penelitian yang banyak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa yang pernah meneliti disini, kejadian ini bisa terjadi karena berbagai hal mbak. Salah satunya ya kurang gizi itu. Penyebab lainnya bisa dikarenakan gen atau bawaan, insis, lingkungan hidup, dan lain-lain”.

Ya Allohhh.. Sudah 66 tahun negara kita merdeka.. Tapi masih ada saja orang-orang seperti ini dengan jumlah yang cukup banyak dalam satu desa.. Sekali lagi.. 380 jiwa!! *masih ternganga

Tentu saja Alloh menciptakan mereka bukan tanpa maksud dan tujuan.. Semiskin apapun.. Sejelek apapun.. Sebergantungan apapun mereka.. Mereka adalah ciptaan Alloh.. Mereka yang terlahir dengan ketidak sempurnaan fisik dan pikiran pasti “diutus” Alloh untuk melakukan sebuah misi. Tentu saja “tujuan” Alloh itu ditujukan untuk kita, manusia yang bisa membedakan mana yang benar dan salah dengan baik.

Kini.. Pantaskah kita yang selalu mengeluhkan sesuatu yang “ga penting” karena bingung dengan pilihan ini dan itu, sedangkan orang-orang seperti ini hidup tanpa pilihan? Pantaskah kita berjumawa, memamerkan apa-apa yang sudah kita punya, sedangkan untuk mereka  bisa makan tiga kali sehari saja sudah alhamdulillah?

Karena esensi dari hidup adalah memberi.. Lantas.. Apa yang bisa kita beri untuk orang-orang seperti mereka?

Dirumah salah satu penderita idiot



Leave a Reply