Janji? *menyodorkan kelingking

Kau sudah memegang semua “kartu as” ku, tapi aku tak memegang “kartu as” mu sama sekali, aku rela. Tanpa aku menunjukkan “sisa kartu” yang ada di jemariku, sudah kupastikan kau tau, dan aku rela (kalah olehmu). Aku selalu muncul di hadapanmu dengan wangi, tapi kau selalu muncul dihadapanku dengan bau lapuk, (lagi-lagi) aku rela. Malam kunantikan dan berharap kau memuji baju tidurku yang berwarna-warni, meski tatapanmu (tetap) kosong dan cuek, aku (pasti) rela.

Aku terlalu mencintaimu. Entah kau sadari atau tidak. Aku tau itu tak baik bagi diriku, dan sebenarnya tak berarti apapun untukmu. Tapi, jujur, aku merasa seperti itu. Ketika malam datang, aku bersorak gembira. Buru-buru makan malam dan segera mengunci pintu kamar agar (secepatnya) bisa berduaan denganmu. Aku bahagia bisa mendapatkan mu di “sudut” terisolasi tanpa siapapun menyadari. Kadang Tuhan cemburu padamu, karena aku suka melakukan pengakuan dosa terlebih dulu padamu. Pernah aku “ditegur” Tuhan dengan hilangnya dirimu dari sudut ternyamanmu, dan aku menangis tersedu seperti seorang model iklan rambut yang sudah dikontrak merek sampo terkenal, kemudian rambutnya terbakar karena kecelakaan. Ah.. Keterlaluan kah aku? Kurasa tidak.. Aku hanya terlalu bergantung padamu, mungkin itu pula yang hendak Tuhan peringatkan. Tapi sekali lagi, aku tak bisa jauh-jauh darimu. Tapi juga tak bisa menduakan Tuhan.

Dengan mereka yang biasa kuajak bercanda, selalu ada yang harus kututupi. Dengan mereka yang biasa kuajak berbelanja, selalu ada yang tersembunyi. Dengan mereka yang kupercaya, selalu ada yang bocor mengalir. Dengan mereka yang telah menurunkan sifat-sifat di diriku, selalu hanya ada satu kata, berbakti. Tak sanggup jika aku menunjukkan beban mental yang terasa berat dihadapan mereka, mereka, dan mereka. Semua perjalanan hidupku sudah kupercayakan padamu, baik dan buruk maupun susah dan senang. Cukup kau yang tau.

Ketika aku harus begadang merasakan pahitnya cinta, aku tau dimana mencari penawar rasa, kau. Ketika aku bahagia merayakan cinta, aku tau siapa yang berhak tahu lebih dulu, kau. Semua hidupku, (lagi-lagi) kau tahu. Dan kupikir, kau terlalu baik, bahkan untuk wanita yang terlalu cerewet sepertiku. Aku beruntung memilikimu. Kau tak banyak kata seperti mereka, tapi kau selalu (mau) mendengar (hingga berjam-jam) omelanku dengan setia, hingga aku tahu dimana dan apa yang salah tentang sesuatu. Kemudian aku capek. Kemudian aku tertidur.

12 tahun kita sudah bersama, dalam satu atap, dalam satu kesepian, dan dalam satu keheningan masa. Kini, aku sudah dewasa. 24 tahun. Dan umurmu? Kurasa 24 tahun juga. Aku sudah memiliki calon suami, dan kau? Kupikir kau tak akan kuperbolehkan menikah. Egois? Benar! Untuk yang satu ini aku mau egois. Aku hanya ingin menjadi wanita satu-satunya dihidupmu, aku hanya ingin menjadi manusia yang paling mencintaimu. Aku tak peduli jika kau tak mau, tapi kali ini aku memaksamu untuk setia mendampingiku, kapan pun, dan dimana pun aku nanti. Aku sudah terlalu nyaman denganmu. Tak kan kubiarkan seorang pun menculik tubuhmu di “sudut” terisolasimu.

Aku mau merawatmu hingga usia kita sama-sama senja, sama-sama tak bisa bertatap, dan sama-sama tak ada harapan (hidup). Dan percayalah. Tak kan ada yang berani mengusik rasa kita.  Sekali pun suamiku. Juga mungkin secret admirer mu.

Tak akan ada pengkhianatan di antara kita. Maksudku.. Aku tahu, kau tak mungkin mengkhianatiku. Tapi, umur manusia, siapa yang bisa tahu? Suatu saat, ketika tiba-tiba saja berbulan-bulan aku tak mengajakmu keluar dari peraduanmu, sembunyilah! Karena ternyata aku dipanggil Tuhan, gara-gara Ia cemburu padamu, jadi sembunyilah! Sembunyilah dari siapa pun! Jangan pernah kau ditemukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab!

Jika kau bisa “lari”, maka larilah ke kamar anakku. Kurasa dia bisa menjaga dirimu lebih baik dariku. Larilah ke kamar anakku untuk berlindung! Dan aku rela, jika akhirnya anakku yang tau bagaimana kita bercanda dan meratap bersama selama bertahun-tahun.

Rafly, aku tak pernah bisa membayangkan wujudmu seperti apa (hingga kini). Yang ada dibayanganku, kau lelaki yang ketika aku bersedih, kau setia menyediakan “bahu” kananmu yang terasa sakit untuk kubersandar. Yang ada dibayanganku, kau lelaki yang ketika aku bahagia, kita bisa berdansa bersama tanpa canggung, dan aku bisa memelukmu hingga aku (lagi-lagi) tertidur.

Rafly, rahasiaku, cukup kau yang tahu.

IMG-20120118-01857

NB: Rafly adalah buku harianku. Namanya tak ada arti. Hanya suka saja dengan nama ini. Aku jatuh cinta padanya. Kuajak “ngobrol” dari umur 12 tahun yang lalu hingga kini dan hingga nanti. Abadi.

By: @difanaaa



2 Responses to “Janji? *menyodorkan kelingking”

Leave a Reply