Bahagia dalam Potongan-Potongan Hidup

cover depanSepertinya saya sudah lama sekali tidak me-review sebuah buku. Mungkin ngerasa sudah ga kuliah lagi kali ya.. Jadi, tiap selesai baca buku cuma bergumam “hmmm…”, “oooo..”, “keren…”, “wihhh..”. Dan seminggu kemudian, sedikit demi sedikit lupa pada bagian-bagian yang seharusnya diingat karena udah distabilo atau dicatat ulang (pembaca macam apa saya ini?). Kalau dulu jaman kuliah sih, masih telaten menandai bagian-bagian yang penting. Lebih tepatnya “dipaksa” telaten dan teliti karena me-review novel-novel yang tebel bisa jadi tugas yang awalnya terasa membosankan (curhatan khas anak sastra :p) tapi lama-kelamaan jadi sebuah kebiasaan yang  menyenangkan.

Nah, kali ini saya ingin me-review buku yang cukup best seller di Indonesia. Buku ringan bergenre komedi yang jarang ada di toko buku. Apalagi kalau bukan hasil tulisan Raditya Dika yang terbaru, Manusia Setengah Salmon. Ini adalah buku keenam yang ditulisnya, setelah kelima buku sebelumnya selalu jadi best seller dan yang judulnya ga jauh dari binatang-binatang. Kenapa baru kali ini saya me-review bukunya, karena bukunya kali ini benar-benar keren! Lebih dari sekedar lucu dan lebih bisa bikin terharu. Ada beberapa bagian yang bisa membuat saya ngakak sendiri sampai muka saya terasa panas dan jadi merah (bukan karena disetrika lho ya :p). Ada juga bagian yang membuat saya berhenti sejenak dari aktivitas membaca, meletakkan buku, dan kemudian merenung. Unik sekali!

Buku-buku yang bagus biasanya diisi dengan bahasa dan tema yang serius. Beda dengan bukunya Raditya yang ringan ini. Bayangin saja, tema pindah rumah aja bisa jadi paragraf yang “nyentil” banget.

“Putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan. Bagaimana kita pindah dari satu hati, ke hati yang lain. Kadang kita rela untuk pindah, kadang kita dipaksa untuk pindah oleh orang yang kita sayang, kadang bahkan kita yang memaksa orang tersebut untuk pindah.  Ujung-ujungnya sama: kita harus bisa maju, meninggalkan apa yang sudah menjadi ruang kosong.

Sama seperti memasukkan barang-barang ke kardus, gue juga harus memasukkan kenangan-kenangan gue dengan orang yang gue sayang ke semacam kardus kecil. Dan, sama ketika kita baru putus, kenangan yang timbul paling kuat adalah yang paling awal.

… Lucu ya, bagaimana semua putus cinta yang menyedihkan juga diawali oleh jatuh cinta yang menyenangkan. Ya, sudahlah. Bagaimanapun juga, kenangan-kenangan yang memaksa untuk diingat itu harus dipaksa masuk ke kotak.

Karena gue berdiri diam mengawang-awang di depan kardus, Nyokap kembali membuyarkan lamunan gue dengan bertanya, ”Kamu udah siap belum, Dik, buat pindah?”

Gue berhenti melamun, melanjutkan memasukkan beberapa buku ke kardus. Lalu, gue melihat Nyokap, mengangguk pelan. Kardus terakhir gue tutup dengan lakban. Sambil berharap, tidak ada yang tertinggal”, Raditya Dika; 36-37.

Saya ga menyadari, kalau pindah rumah itu rasanya bisa segalau putus cinta sampai saya selesai baca di halaman ini. Kebetulan keluarga saya memang ga pernah pindah-pindah rumah, jadi dari dulu ya di Kertosonooooo mulu. Dan ini yang menjadi alasan, kenapa saya ga suka “pindah-pindah”. Waktu SMA pernah kost, dan selama tiga tahun saya ga pernah pindah kost. Bu kost dan pak kostnya ganti-ganti, saya tetap setia tinggal di Welirang Utara, Kediri. Meskipun ga nyaman dengan bangunan atau dengan penghuninya, saya berusaha tetep enjoy. Begitu juga dengan pas kuliah. Intinya, saya ga suka “pindah-pindah”, apa pun bentuknya. Teman-teman yang dekat dengan saya, pasti dapat dengan mudah menemukan barang-barang yang mau dipinjam karena letaknya yang ga pernah saya pindah. Demikian juga soal hati (bukan curhat!). Semoga “perpindahan” hati yang barusan saya alami ini bisa untuk selama lamanya.. Amien.

Perpindahan yang paling terasa adalah ketika saya sudah lulus kuliah dari Unair dan harus cabut dari kost. Saat itu, rasanya jadi melankolis dan seba me-lebay. Pakai acara foto-foto kamar sebelum dan sesudah diberesin (sempet mengeluarkan air mata juga sih, namanya juga cewek) . Barang-barang lama yang sengaja tersimpan rapi dibelakang lemari, jadi pada nongol semua. Benar kata Raditya Dika, ternyata rasanya hampir sama seperti putus cinta. Susah, tapi harus move on!

Ada juga bagian-bagian cerita yang membuat saya harus berpikir ulang tentang konsep “mandiri”. Sebagai wanita dewasa, saya ingin diakui sebagai pribadi yang mandiri, salah satunya bisa kerja “jauh” dari orang tua tanpa ketergantungan. Dan sebenarnya saya cukup berkeberatan, karena (setahun yang lalu) pada akhirnya orang tua tidak mengijinkan saya untuk menjadi “petualang” di kota besar dan harus membantu usaha orang tua di rumah tercinta, Kertosono.

“Sebaiknya, semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan orang tua kita. Kita ga mungkin selamanya bisa ketemu dengan orang tua. Kemungkinan yang paling besar adalah orang tua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orang tua kita  bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.

Gue gak mau suatu malam, setelah Nyokap pergi, gue melihat handphone dan berpikir seandainya gue bisa denger suara Nyokap sekarang. Saat ini juga, gue pengen setiap waktu yang gue habiskan, gue habiskan dengan mendengar Nyokap berkali-kali nelepon dan nanya, ‘Kamu lagi apa?’

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima”, Raditya Dika; 133-134.

Bersyukur.. Karena sampai detik ini, saya masih dekat dengan orang tua (masih serumah lebih tepatnya). Dan mungkin, ketika saya sudah “dibawa” pasangan saya entah kemana pun dia pergi, saya akan selalu berharap bisa “dekat” dengan orang tua saya dan orang tua dia.

Seperti puisi Imam Syafi`i yang beberapa hari yang lalu ku posting, “pindah” itu menjadi sesuatu yang pasti dan baik bagi yang bersungguh-sungguh, persis hidup ikan salmon.

“Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya”, Raditya Dika: 256.

InsyAlloh saya siap untuk pindah! Meskipun ga pindah rumah, ga pindah kerja, dan berharap ga pindah hati (lagi), saya ingin pindah menjadi manusia yang lebih baik lagi dari kemarin! Amiennn.. Ingatkan saya, jika semangat saya mulai nggleyor yaaaa… 🙂



3 Responses to “Bahagia dalam Potongan-Potongan Hidup”

  • annas nur azis Says:

    sudah koment via faebookk..tapi saya hapus lagi.. 🙂 bingung mbk sebenarnya 🙂 apa lagi tentang pindah pindah ke hati (LAGI) sebenarnya siapakah gerangan orang itu 😀 ya.. siapapun dia.. semoga yang terbaik buat mbk kehidupan dunia dan akhirtnya 🙂 #rafly 😉

  • diva Says:

    amieeennnn…

    wah..sepertinya Rafly mulai punya banyak penggemar ini… :p

  • annas nur azis Says:

    wehehe.. ternyata melihat pribadi seseorang dari tulisan tulisanya lebih asik., walupun belum pernah ketemu 😀
    wehehe.. rafly ,selaamat ya raf

Leave a Reply