Indahnya Bershalawat

Banyak orang yang bertanya, “Kenapa kita mendoakan Nabi Muhammad? Kenapa kita bersusah payah melantunkan shalawat untuk Nabi Muhammad yang sudah jelas-jelas masuk surga? Apa pula manfaatnya buat kita?”

Bagi yang pemahaman Islam-nya dangkal seperti saya, pasti pernah memiliki pertanyaan seperti itu. Atau minimal selama ini kita memang bershalawat, tapi tidak tahu tujuan lainnya, selain agar dapat pahala saja. Kenapa.. Kenapa.. Dan kenapa.. Sampai beberapa hari yang lalu saya mengikuti pengajian dalam rangka Maulid Nabi di Masjid Al-Kautsar, Kertosono. Mendengarkan ceramah Ustad Mashuri yang berasal dari Jombang ini, membuat saya sedikit paham alur sunahnya bershalawat untuk Nabi kita tercinta.

Tahu diba`an? Itu lho.. Jenis shalawatan yang dilantunkan bersama-sama dan biasanya dilakukan di masjid seminggu sekali. Dulu waktu saya masih SD, sering banget diajak Mbak Dina (kakak saya nomer dua) ke masjid. Belum fasih dan belum hafal banget, masuk SMP saya sudah jarang ke masjid untuk diba`an karena ga ada Mbak Dina yang ngajakin (malasnya jangan jadi contoh ya). Nah.. Ustad Mashuri kemarin ini mengulas tentang isi diba’an. InsyAlloh, berikut adalah rangkuman yang masih bisa saya ingat dan saya tulis (eh, lebih tepatnya diketik ding!).

Jauh sebelum bumi diciptakan, di surga sana Alloh sebagai Sang Maha Penguasa memberikan pengumuman untuk penghuni-penghuni surga, bahwa Alloh akan menciptakan cahaya yang rahmatan lil`alamin (kasih sayang untuk semua). Seketika itu, “heboh” lah keadaan surga. Cahaya yang seperti apa? Cahaya yang bagaimana? Siapa yang beruntung sebagai pembawa cahaya tersebut?

Kemudian terjadilah percakapan antara Malaikat dan Alloh, sebagai berikut:

“Siapakah ya Alloh, cahaya yang Engkau maksud? Apakah cahaya itu berwujud Nabi Adam sebagai manusia pertama yang Kau ciptakan di surga? Tapi bukankah beliau terbuat dari tanah?”, tanya salah satu malaikat kepada Alloh.

“Bukan dia”, jawab Alloh.

“Lalu siapa ya Alloh? Apakah dia Nabi Nuh, nabi yang telah selamat dari banjir yang teramat besar itu?

“Bukan dia”, jawab Alloh lagi.

“Hmm… Apakah dia Nabi Ibrahim? Nabi pertama yang telah menamai ajaran Mu sebagai agama Islam?”

“Bukan pula”, jawab Alloh.

“Mungkinkah dia Nabi Musa, satu-satunya Nabi yang bisa berbicara dengan Engkau langsung ya Alloh?”

“Bukan”, jawab Alloh.

“Atau… Nabi Isa kah dia, nabi yang semua ucapannya selalu dipercaya seluruh manusia di muka bumi?”

“Bukan”, jawab Alloh. “Cahaya itu bernama Nabi Muhammad. Nabi terakhir sepanjang zaman”, jelas Alloh lagi.

“Tapi.. Bukankah dia manusia yang tercipta dari tanah ya Alloh?”

Dan Alloh pun mulai menjelaskan runtutan cahaya ini berproses. Cahaya ini lebih dahulu diciptakan Alloh sebelum Nabi Adam diciptakan. Ketika diciptakan dari tanah, Alloh telah menyisipkan cahaya suci itu di (tulang) pinggangnya Nabi Adam. Nabi Adam menjadi makhluk mulia karena adanya cahaya itu. Dia adalah satu-satunya nabi yang “dilahirkan” di surga.

Cahaya itu terus menerus turun sampai pada Nabi Nuh. Sama dengan Nabi Adam, Nabi Nuh pun menjadi makhluk yang mulia, karena dia berhasil selamat dan menyelamatkan orang-orang yang percaya pada ajarannya, dari banjir bandang yang teramat dahsyat (masih ingat film 2012? Saya rasa film itu terinspirasi dari cerita Nabi Nuh ini).

Cahaya itu masih turun temurun hingga sampai ke Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun menjadi makhluk mulia karena kecerdasannya dalam berdebat untuk melawan orang-orang yang masih setia menyembah berhala. Lagi-lagi Nabi Ibrahim menjadi makluk yang mulia karena Beliau “membawa” cahaya tersebut.

Sampailah cahaya tersebut pada Nabi Musa. Nabi Musa adalah nabi yang paling dekat dengan Alloh, karena Beliau adalah satu-satunya nabi yang bisa berbicara langsung kepada Alloh tanpa perantara siapa pun. Suatu ketika, Nabi Musa bertanya kepada Alloh, orang seperti apa yang bisa masuk surga Alloh. Dan Alloh pun menunjukkan salah satu calon orang yang pantas masuk surga-Nya. Di salah satu gua yang sempit seperti yang ditunjuk Alloh sebelumnya, Nabi Musa menemui seorang kakek yang sedang berdzikir.

“Kek.. Kata Alloh, Kakek adalah salah satu calon penghuni surgaNya”, sapa Nabi Musa.

“Ya tentu saja saya masuk surga ya Nabi, karena selama 700 tahun hidup saya, saya gunakan untuk selalu beribadah padaNya”, jawab si kakek mantap.

Beberapa hari kemudian, Nabi Musa bermimpi bahwa si kakek tersebut meninggal dan masuk neraka. Ketika bangun, bertanyalah Nabi Musa, “Kenapa si kakek yang sebelumnya adalah calon penghuni surga, ternyata masuk neraka ya Alloh?”

“Dia masih ‘calon’ penghuni surga. Kakek ini terlalu sombong hanya karena dia sudah beribadah 700 tahun untuk-Ku. Padahal untuk masuk surga, syaratnya adalah bisa mendapatkan rahmat dari-Ku, bukan berdasarkan jumlah tahunan dia beribadah”, Alloh langsung menjawab pertanyaan Nabi Musa, tanpa perantara Malaikat Jibril (yang biasanya bertugas menyampaikan wahyu). Nabi Musa menjadi mahkluk yang mulia, lagi-lagi karena Beliau “membawa” cahaya itu (waduh..kakek yang beribadah 700 tahun saja tidak jadi masuk karena setitik kesombongan, bagaimana kita yang rata-rata hanya berumur 60 tahun ya?).

Kemudian, cahaya tersebut sampai juga pada Nabi Isa. Nabi Isa mendapatkan tugas dari Alloh untuk memberitahu seluruh umat manusia, bahwa akan lahir cahaya yang dimaksud Alloh selama ini. Cahaya itu bukan dirinya sendiri, tapi cahaya tersebut akan disebarkan oleh nabi terakhir sepanjang zaman. Nabi Isa menjadi makhluk yang mulia, yang setiap perkataannya selalu dipercaya umat diseluruh dunia, karena (lagi-lagi) Beliau “membawa” cahaya tersebut.

Dan sampailah cahaya tersebut pada seorang yang bernama Sayid Abdullah. Beliau adalah ayah dari Nabi Muhammad kelak. Sayid Abdullah pernah dilamar oleh seorang wanita yang sangat cantik, kaya, serta ahli ibadah, tapi Sayid Abdullah menolak karena telah dijodohkan orang tua nya dengan wanita yang bernama Aminah, ibu Nabi Muhammad. Ketika Aminah akhirnya mengandung, wanita yang cantik serta ahli ibadah tersebut berkunjung ke rumah Abdullah.

“Ya Abdullah, aku kemari tidak untuk melamarmu lagi. Tahukah kau, kenapa dulu aku terpesona dan sangat tertarik padamu? Karena kau sangat bercahaya saat itu. Dan entah bagaimana akhirnya, cahaya tersebut kini berpindah di rahim Aminah, dan kau tak mempesona seperti dulu”, terang wanita cantik tersebut. Karena wanita cantik ini ahli ibadah, dia sampai melihat cahaya yang tak bisa dilihat manusia biasa.

Ketika mengandung Nabi Muhammad, Aminah pun sempat mengalami keanehan-keanehan. Seperti ketika malam hari dan Aminah hendak tidur. Padahal lampu kamar sudah dimatikan, tirai kamar sudah di tutup, tapi kamar Aminah pun masih terang benderang karena cahaya tersebut berasal dari perutnya.

Benar.. Cahaya itu berproses dari masa ke masa. Cahaya itu adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Cahaya itu meminjam jasmani Nabi Muhammad sebagai perantaranya. Cahaya itu adalah rahmat yang disebarkan oleh nabi akhirul zaman, Nabi Muhammad. Cahaya itu Alloh yang punya, dan Nabi Muhammad bertugas untuk menyebarkan cahaya tersebut untuk kebahagiaan seluruh manusia di muka bumi ini.

Jika bisa diibaratkan, cahaya itu adalah lampu-lampu dirumah yang setiap malam kita nyalakan. Kita tak bisa menyentuh listrik secara langsung, karena tegangannya yang sangat kuat. Tapi kita memerlukan cahaya tersebut untuk menerangi bagian-bagian “tergelap” kita.

Kini, cahaya tersebut telah menyebar di seluruh dunia. Kita bertugas untuk “mengumpulkan” cahaya-cahaya itu dengan cara selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad, nabi yang sudah membuat bumi ini bersinar-sinar. Alloh sendiri yang menyuruh kita untuk selalu bershalawat, bukan Nabi Muhammad. Kini, sudah tahu kan, untuk apa kita banyak-banyak bershalawat? Agar kita menjadi manusia mulia seperti Nabi Adam, agar kita menjadi manusia yang selamat seperti Nabi Nuh, agar kita bisa menjadi manusia yang cerdas seperti Nabi Ibrahim, agar kita bisa menjadi manusia yang dekat dengan Alloh seperti Nabi Musa, agar kita bisa menjadi manusia yang dipercaya orang seperti Nabi Isa, dan agar kita bisa menjadi manusia yang dirahmati Alloh seperti Nabi Muhammad.

 “Bismillahirrahmaanirrahim.. Allahumma shalli`alaa sayyidina muhammadin wa`alaa aali sayyidina muhammad”, menurut saya, shalawat yang ini paling enak kalau dibaca di sepertiga malam.

Tapi kalau lagi deg-degan, tergesa-gesa, atau tidak bisa tidur, saya paling senang bershalawat seperti ini, ”Shallaullah alaa Muhammad” sampai merasa tenang dan akhirnya tertidur.

Bershalawat bisa berbagai macam bentuknya. Dari yang panjang seperti shalawat nariyah dan diba`an, hingga yang pendek-pendek, seperti yang di atas. Shalawat juga dalam rangka kita mengingat Rasulullah sebagai suri tauladan manusia..

Innallaha wa malaaikatuhu yuu sholluu ‘ala nnabi, yaa ayyuhalladzi na’amanu shollu ‘alaihi wassallim mutaslimaa (sesungguhnya Alloh dan malaikat itu bershalawat atas nabi, dan orang-orang yang beriman juga bersholawat atasnya).

Ingat.. Tugas kita adalah “mengumpulkan” cahaya sebanyak-banyaknya, agar rahmat Alloh tercurah untuk kita! Yuk.. selalu bershalawat di segala suasana! 😉



2 Responses to “Indahnya Bershalawat”

  • DaengFandi Says:

    Ohh gitu, saya juga baru paham tuh. Yaa… wlpun msih butuh pencerahan lagi. Btw nulis buku aja mba, tulisanya bagus, punya soul.. wlpun curhatnya msih lebih dominan :p tinggal cari tema yg tepat! Dan tentunya tema yg kamu suka

  • diva Says:

    hehehehe.. terima kasih daeng fandi… karena terbiasa nulis diary kali ya.. jadi tulisannya setengah curhat..hihihi..

    kalo aku bacpaker ke raja ampat.. ada diskon ga? :p

Leave a Reply