Cuma Ingin Bilang,”Terima Kasih”.

Tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini. Mungkin karena keseringan makan jajannya keponakan yang masih berumur satu tahun, tiba-tiba saya ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Memang benar, ketika kita dewasa, kita tak dapat mengingat kejadian demi kejadian sewaktu kita kecil secara detail. Ada bagian yang terasa nyata, ada juga bagian yang terasa “mengada-ada”. Begitu pula dengan yang saya alami. Potongan demi potongan kejadian berusaha saya ingat dan saya kumpulkan mengenai si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya), sayangnya ingatan tersebut belum bisa menjadi “film” yang utuh.

Ini berhubungan juga dengan biskuit Regal. Maaf, bukan promosi, tapi saya memang suka sekali makan biskuit, apa saja, termasuk biskuit Regal ini. Selain mengeyangkan, rasanya enak, harganya murah pula. Sifat lambung saya yang gampang lapar dan gampang kenyang, mengharuskan saya membawa camilan kemana-mana. Dulu saya juga suka sekali makan Chiki (maaf sebut merk) rasa keju, dan ketika mencoba Lays (eh, sebut lagi) yang rasa rumput laut, lidah saya langsung jatuh cinta. Tapi karena semakin mengerti bahayanya makan makanan bermicin yang dikonsumsi setiap hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengganti camilan dengan biskuit (lagi).

Ada beberapa potongan kejadian yang sempat saya ingat dari masa lalu:

  1. saat itu saya masih TK;
  2. setiap mau berangkat sekolah;
  3. di depan cermin;
  4. dikuncir Ibu;
  5. disuapin Yu` (panggilan untuk abdi dalem di rumah saya);
  6. biskuit Regal;
  7. si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) yang datang setiap pagi.

Bukan karena manja, tapi kata Ibu, saya anak yang suka nelat. Alhasil tiap mau berangkat, pasti Ibu dan Yu` sibuk mendandani serta menyiapkan perlengkapan sekolah saya. Disaat yang bersamaan, ketika rambut saya yang sedang diproses menjadi “Kuncir Kuda Poni” ala Ibu dan disuapin Yu` agar tidak kelaparan di sekolah, saya selalu menunggu si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Setiap hari si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) selalu datang tepat ketika saya sedang dikenai kegiatan 2 in 1 ini. Saya lupa wajahnya seperti apa, yang jelas dia seorang kakek tua yang cukup jangkung, berkaca mata tebal, dan berpakaian model safari warna hijau lumut atau cokelat muda. Selebihnya saya tidak ingat ciri-ciri lain si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya).

Biskuit Regal yang dibawa si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) tidak utuh berupa satu bungkus merah seperti di toko kelontong saat itu, tapi biskuit ini dibungkus dalam satu plastik bening yang masing-masing diisi dengan dua buah biskuit dan kemudian di steples. Seperti anak kecil normal lainnya, saya suka diberi. Meskipun hanya diberi dua plastik, yang berarti saya membawa empat buah biskuit ke sekolah, saya tetap senang. Tapi kemudian saya tidak ingat, apakah biskuit tersebut sempat saya bagikan kepada teman-teman saya, atau saya makan sendiri. Kata teman-teman TK saya, waktu kecil, saya galak. Suka menang sendiri dan tidak suka berbagi. Mendengar cerita mereka yang seperti itu, kemungkinan besar jawaban dari pertanyaan saya adalah biskuit tersebut saya makan sendiri. Maaf.

Si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini bukan kakek kandung saya dan tak memiliki hubungan darah dengan keluarga saya sedikit pun. Tapi setiap pagi, beliau rajin datang membawa biskuit Regal yang bisa saya bawa untuk bekal sekolah sebagai pengganjal perut saya yang gampang lapar itu. Kebetulan saya anak terakhir dari tiga bersaudara yang tinggal di suatu desa yang tidak cukup besar. Karena kata Ibu saya suka nelat, saya suka ditinggal oleh kakak-kakak saya yang sudah siap lebih dulu. Oleh karena itu, biskuit yang dibawa si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) selalu hanya buat saya.

Suatu ketika saya bertanya pada Ibu, “Bu, Ibu inget ga, dulu ada kakek yang suka ngasi aku biskuit?”

“Loh.. Masih inget tho kamu?”, tanya ibu balik.

Inget lah.. Kan waktu itu udah TK. Namanya siapa ya Bu? Aku lupa”, lanjut saya.

“Aku juga lupa`e sopo nama`e.. Pokoknya orangnya itu dulu yang suka bersih-bersih masjid samping rumah dan sayang banget sama kamu. Kata dia sama Ibu dulu, dia sengaja dateng telat biar bisa ngasih biskuit itu cuma buat kamu, bukan untuk mbak-mbakmu. Dia minta tolong Ibu agar merahasiakan hal ini dari saudara-saudaramu, biar mbak-mbakmu ga ada yang iri. Bahkan sampe beberapa hari sebelum dia akhirnya “berpulang”, dia masih suka mbawain kamu biskuit Regal lho”, sahut Ibu yang sedang menyapu sambil berlalu. Saya kaget. Saya terharu.

Tapi ingatan saya kabur, tepat di bagian kapan terakhir si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini memberi saya biskuit. Tahu-tahu saya tumbuh besar dan si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) menghilang dari setiap penantian pagi saya. Saya baru ingat si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya)  lagi ketika ada biskuit Regal yang sekarang selalu ada di toples meja makan.

Hmmmm.. Mengenai keberadaannya yang tiba-tiba “hilang”, mungkin dulu saya masih setia menunggu beliau di pagi hari, sampai akhirnya si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) “berpulang”, saya tidak tahu atau tak mau tahu, kemudian saya lupa. Mungkin juga dulu saya masih terlalu kecil hingga belum tahu arti sebenarnya dari “berpulang” yang Ibu maksud. Ah.. Ternyata menyebalkan menemukan suatu “film” yang tak utuh. Bagian-bagian terpenting putus, dan yang ada hanya potongan-potongan “gambar” yang harus saya rangkai sendiri karena penasaran.

Terlepas dari bagaimana si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya) ini tiba-tiba “menghilang”, ada satu hal yang mengganjal di hati saya. Saya belum pernah berterima kasih, kepada si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya). Sekali pun belum pernah. Bayangkan, bagaimana rajin dan rutinnya beliau memberi saya kesenangan, dan saya tak membalas apa pun atas kesenangan yang pernah beliau beri, sedikit pun. Bahkan namanya saja saya tidak tahu.

Dulu, saya pikir, ucapan yang paling berat di ucapkan di dunia ini adalah tentang “minta maaf”. Tapi ternyata saya salah. Karena, ternyata ucapan yang paling berat di ucapkan di dunia ini adalah tentang “terima kasih”.

Al Fatehah untuk si Mbah (yang-tak-saya-tahu-namanya).



2 Responses to “Cuma Ingin Bilang,”Terima Kasih”.”

Leave a Reply