My New Friends, My New Class, and My New Experience

Sudah hampir dua minggu saya tinggal disini. Lebih tepatnya menimba ilmu yang sekiranya saya perlukan untuk beberapa bulan ke depan. Tak salah dan tak keliru, saya sedang memperlancar kemampuan bahasa Inggris saya. Karena waktu yang saya punya tidak banyak, akhirnya saya memilih paket belajar yang hanya selama tiga bulan saja, yaitu dari bulan Maret, April, dan Mei.

Hayooo, saya yang mana? :p

Desa ini terkenal dengan sebutan Kampung Inggris, dan berlokasi di Pare, Kediri. Menurut saya, kampung ini lebih dari sekedar kampung “Inggris”, karena member-membernya (banyak) yang dari luar Jawa dan ada beberapa member yang berasal dari luar negeri. Jadi bisa dibayangkan betapa heterogennya (bahasa) teman-teman saya. Ada yang dari Riau, Makasar, Kalimantan, Ambon, Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan lain-lain. Jadi selain memperlancar bahasa Inggris, kami saling belajar bahasa daerah dan berbagi ciri khas kota masing-masing. Agak sebel juga sih, kalau menemukan percakapan seperti ini,

“What`s ur name?”

“My name Difana.”

“Where do you come from?”

“I come from Kertosono.”

“Where`s Kertosono?” T_T

Dan ternyata banyak sekali yang tidak tahu dimana Kertosono. Saya merasa jadi “duta” Kertosono jika harus menjelaskan dimana dan apa ciri khas nya Kertosono.

Oiya, di kelas saya saja, ada dua member dari Thailand lho! Jadi lucu gitu mendengarkan mereka berbicara bahasa Thailand. Bahasa Thailand mengenal bahasa bunyi, yang maksudnya jika bunyinya beda maka artinya beda pula, jadi ketika mereka berbicara, saya seperti mendengarkan mereka bernyanyi, hihihi.

Namanya Miss Arina (tengah-jilbab pink). Dia seorang muslim Thailand.

Mengapa desa ini bisa menjadi begitu populer? Kalau menurut analisis saya, metode yang diajarkan di HEC, (cabang dari BEC, kursusan pertama yang ada di desa ini), mirip dengan Pondok Madani di Ponorogo. Kok saya bisa tahu? Tepat beberapa hari sebelum saya masuk HEC, saya baru saja membaca buku Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Metodenya persis banget. Setiap yang baru saja diajarkan harus dibunyikan keras-keras agar kami segera ingat dengan ilmu yang baru saja kami dapat. Setelah mendapat ilmu dari guru kami di kelas, kami juga ada study club yang fungsinya untuk memperjelas tema-tema pelajaran di kelas. Dan yang menjadi tentor kami adalah “kakak-kakak” yang periodenya masuk di atas kami. Rata-rata usia mereka jauh lebih muda dibanding usia saya, tapi bahasa Inggrisnya sudah cas cis cus. Saya jadi malu sendiri.. Kemana saja saya waktu SMA, kok sampai sekarang masih menghafalkan grammer-grammer?

Dengan Miss Nadya, teman satu kostan yang berasal dari Kendal.

Selama belajar, setiap member harus memakai papan nama masing-masing, jika tidak maka akan diberi sangsi, persis di Pondok Gontor. Kalau terlambat masuk diatas lima menit, benar-benar disuruh pulang, tanpa ampun deh! Pakaian untuk para lelaki pun pun harus dimasukkan celana, biar rapi.

Oiya.. Kursusan disini juga unik banget. Kelasnya tidak memakai meja! Pertama kali saya masuk, saya hanya menduga-duga,”Oh, mungkin ini masih hari pertama, jadi ga pake meja”. Eh.. Ternyata hari kedua dan seterusnya tetap tidak memakai meja, hehehe.. Agak kurang nyaman sih sebenarnya.. Dan saya belum menemukan jawabannya, kenapa hanya ada kursi di kelas kami.

Foto ini saya ambil secara diam-diam dari belakang 😀

Setiap hari Jum`at, kami ada ujian. Ujiannya macam-macam, ada ujian tulis, ada juga ujian oral. Dan setiap ujian, kami diwajibkan memakai baju hitam putih, persis seperti orang mau melamar pekerjaan, hehehe.

Suasana Ujian Tulis di Luar Kelas

Alhamdulillah.. Selama dua minggu ini saya masih enjoy-enjoy saja nih, belum menemukan kendala yang berarti. Bismillahhh.. Dengan restu Alloh, semoga saya berhasil menyelesaikan apa yang saya mulai sehingga saya bisa lancar menggunakan bahasa internasional ini. Amien!

Keep on fighting till the end! #motto kelas saya :p



11 Responses to “My New Friends, My New Class, and My New Experience”

Leave a Reply