Happy Born Day Mommmmm…. *peluk cium

Rencananya ingin memberi surprise untuk mama bareng ketiga saudaraku lainnya, Mas Dolfi, Mbak Dina, dan Mas Rori tanpa mama atau pun papa tahu. Tapi rencana berubah ketika papa menelepon saya, sesaat saya (di Pare) akan dijemput Mbak Dina dan Mas Dolfi dari Kediri ke Kertosono.

“Nduk, neng ndi (dimana)?”, tanya papa.

“Lagi dikostan nunggu Mas Dolfi, mau dijemput Mas Dolfi”, jawab saya santai.

“Loh.. Lha Dolfi lho masih di Kediri, ini udah deket kostanmu, udah ku jemput aja!”, kata papa.

“Loh.. Aaaa.. Emm.. Aaaa.. Aku udah di jalan pah sama Mas Dolfi”, saya mulai gusar.

“Loh.. Lha jaremu (katamu) lagi dikostan?”, tanya papa curiga.

“Aaa… Eemmm..Iiii.. Iya ini bareng temen-temenku mau ke Kediri..”, saya mulai meyakinkan.

Piye tho (gimana sie) ndukkkk.. Ojo ngapusi (jangan membohongi) papa, umur papa sudah 61 tahun. Papa ngerti kowe ngapusi (tahu kamu berbohong). Kowe iki katene rabi, ojo numpak angkot sembarangan (kamu ini mau menikah, jangan naik angkot).. Hayo ngaku saiki neng ndi (sekarang dimana)? Jangan bikin kuatir!!”, nadanya papa marahhhh..bangeeetttt..

Dan mengakulah saya dengan terisak-isak, bahwa kami, anak-anaknya mau memberi kejutan untuk mama yang hari ini berulang tahun. Tapi tentu saja saya mengajukan satu syarat, jangan membocorkan rahasia ini, karena kami tahu, papa bukanlah seorang penjaga rahasia yang baik. Saya memang sensitif kalau mendengar suara orang marah. Pasti kaget dan jadi nangis.

“Kak, padahal umurnya kakak sudah mau 25 tahun, sudah mau nikah juga, tapi kok masih nangis?”, tanya adik kost saya, Nabila, sambil tertawa.

“Lha aku dimarahi lho. Lagian kalo sudah mau 25 tahun, ga boleh nangis gitu?”, jawab saya sambil melap sisa air mata saya.

Ya..ya..ya.. Saya tahu, papa marah sebegitunya karena takut saya keluyuran kemana-mana, apalagi naik angkutan umum, apalagi mau nikah gitu. Papa memang mempunyai kekuatiran yang berlebihan kepada anak-anaknya. Hehehe.. Dulu saya memang suka “berpetualang” (kemana saja) tanpa minta ijin terlebih dahulu, untuk itulah papa trauma kalau tiba-tiba saya tidak ada di tempat yang semestinya (contohnya: kostan). Karena kalau minta ijin, pasti bakalan susah untuk dilegalkan. Ternyata papa masih saja lupa, kalau sekarang anak bungsunya sudah besar. Meski masih suka “berpetualang”, anak bungsunya sudah mau minta ijin dulu kok (hehehe).

Setelah dimarahi oleh papa, gantian deh saya dimarahin Mbak Dina karena dituduh sebagai pembocor rahasia. Haduh.. Duh.. Duh.. Dimarahi sana sini. Maaf.. Saya membocorkan rahasia ini karena ada dalam kondisi yang tidak terencana sebelumnya. Katanya Mas Dolfi, hari ini yang jadi korban adalah saya -_-“.

Beruntung ketika sampai rumah Kertosono, Mama masih dalam kondisi yang belum sepenuhnya tahu. Ada saya, Mas Dolfi, Mbak Dina, Biyan, Dubey, serta Ibhy yang menjadi kado untuk Mama. Mas Rori dan Mbak Lutfia sudah menunggu dirumah terlebih dahulu. Tanpa Papa, kami pun berkumpul bersama di rumah tercinta. Hehehe.. Maaf ya Pah.. Jadi tidak ikut berfoto bersama kami.. Padahal papa mestinya ikut karena ulang tahun papa yang sebenarnya dekat dengan mama, tanggal 25 April. Momen yang paling penting hari ini adalah, mama bisa tersenyum bahagia…

Di usia yang ke 57 tahun ini.. Semoga mama diberi umur yang panjang serta barokah, bahagia dunia akhirat dan semakin dicintai oleh Alloh.. Amieennnn…  Mama.. We love you so much… 🙂



3 Responses to “Happy Born Day Mommmmm…. *peluk cium”

Leave a Reply