Siapkah Kita “SENDIRI”?

Sewaktu kecil, saya selalu ketakutan kalau menyadari bahwa saya sedang sendiri. Bukan ketakutan yang biasa, tapi ketakutan yang luar biasa. Ketika siang hari dan ingin ke toilet, saya selalu meminta pembantu saya yang sedang asyik memasak untuk menemani saya. Untuk tidur dimalam hari pun saya selalu ditemani kakak saya yang sudah dewasa dan sebenarnya enggan harus tidur berdua dengan saya. Sewaktu kecil, saya memang suka merepoti orang lain dengan hal-hal yang tidak penting (semoga sekarang, setelah dewasa, saya tidak seperti itu).

Dulu, saya selalu minta ditemani kemana-mana. Awalnya saya mengira kalau ketakutan saya bermula dari kakak saya yang suka menakut-nakuti saya akan hantu. Tapi setelah dewasa dan tahu bahwa hantu itu ada hanya kalau kita mau mereka ada, saya jadi bisa meminimalisir rasa takut saya akan hantu. Meski begitu, sebelum menyadari pentingnya kondisi “sendiri”, saya merasa takut entah bersumber pada apa, dan saya tahu itu bukan dari hal-hal gaib seperti waktu saya kecil dulu.

Saya masih ingat, ketika ujian akhir di kelas enam sekolah dasar. Waktu itu hanya siswa kelas enam saja yang masuk sekolah, dan adik-adik kelas saya sengaja diliburkan oleh pemerintah. Saya yang mulanya biasa saja, tiba-tiba disergap perasaan dag dig dug karena merasa “sendiri” dibangunan yang cukup besar di usia saya saat itu. Saya bisa merasakan dahi saya berkenyit dan dada saya berdetak lebih cepat. Meskipun saya tidak suka ujian “sendiri”, toh ternyata saya menikmati dan lebih berkonsentrasi di kondisi tersebut.

Ketidak sadaran saya akan pentingnya “sendiri” berlanjut hingga SMA. Dulu saya selalu merasa lebih pede jika bersama dengan teman-teman. Saya merasa lebih eksis dan dihargai publik jika saya jalan bergerombol. Pokoknya saya merasa malu jika saya harus berjalan sendiri. Begitu pula ketika saya melihat ada orang yang hanya seorang diri, saya pasti mengganggap orang itu aneh dan kuper. Tapi sekarang, setelah umur saya hampir menginjak seperempat abad, saya malah cukup terganggu dengan keberadaan remaja-remaja bergerombol yang sedang mencari jati diri itu. Mereka tidak membuat saya terkesan. Saya malah tertarik untuk memperhatikan seseorang yang sedang sendiri, dan sering memikirkan apa yang dia pikirkan. Saya suka iseng, dengan menjadikan pikiran saya ada di pikiran orang yang saya perhatikan (mungkin karena saya kurang kerjaan kali ya).

Menjadi “sendiri” masih menjadi momok yang mengerikan bagi saya di awal-awal kuliah. Ingin sekostan dengan orang yang dikenal-kenal saja. Mengambil mata kuliah dengan teman-teman yang hanya itu-itu saja. Lagi-lagi saya tidak ingin “sendiri”. Padahal di saat-saat sendiri, sebenarnya saya telah membaca buku yang keren-keren, saya telah “bercerewet” dengan menghabiskan kertas yang cukup banyak. Bahkan saya pernah naek taksi (bukan karena sombong, tapi ini karena bapak saya tidak memperbolehkan saya memakai sepeda motor) keliling kota dan makan sendiri di mall tanpa kuatir ada yang menunggu atau saya tunggui. “Enak juga jalan-jalan sendiri”, gumam saya saat  itu. Meski tak bisa dipungkiri bahwa berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai adalah waktu yang menyenangkan, tapi dalam kondisi “sendiri”, tanpa saya sadari, saya menikmatinya.

Hal ini berlaku pula saat sidang skripsi yang tentu saja membuat saya deg-degan. Mencari tema sendiri, menulis huruf demi huruf sendiri, dan tentu saja mempertanggung jawabkannya di depan para dosen, sendiri. Meski lelah, ternyata saya (lagi-lagi) bisa menikmati setiap detik dalam proses “sendiri”.

Ada saja orang yang datang dan pergi sesuka hati dalam kehidupan kita tanpa bisa kita cegah. Dengan kata lain, kita harus siap “sendiri”, sebisa mungkin untuk tak bergantung dengan orang lain. Seperti kata papa,”Pesuruh yang sempurna adalah diri sendiri”, maka saya dilatih untuk tidak merepotkan orang lain.

Dan ternyata ketakutan saya akan “sendiri” selama ini, bukan bersumber pada hantu seperti waktu saya kecil, tapi lebih kepada takut karena belum siap untuk “sendiri”. Tapi semakin dewasa ternyata saya bisa memahami, bahwa ada kalanya kondisi “sendiri” itu menjadi penting. Seperti ketika saya ujian di kelas enam SD, seperti saya yang suka membaca dan menulis, seperti saya yang jalan-jalan sendiri, seperti saya yang harus mempertanggung jawabkan skripsi saya, itu semua saya lakukan dalam kondisi “sendiri”. Hal ini bisa disejajarkan dengan mau tak mau, sepi atau seramai apapun dunia kita saat ini, toh kita juga akan dan harus menghadap kepada-Nya dalam keadaan “sendiri”. Disaat roh kita hanya bisa melihat tubuh kita yang telah membiru, disaat itu pula perbuatan, perkataan, dan semua yang kita lakukan di dunia akan ditimbang keberadaannya. Sekali lagi, kita mati dalam keadaan “sendiri”.

Kini, setiap saya merasa “sendiri”, saya selalu memotivasi diri dengan seruan,”Tenang Difana.. Maju terus.. Jangan takut sendiri.. Ntar matimu juga sendiri lhoNtar di kuburan juga sendiri lho.. Semangat… Semangatttt.. ”

So, sudah siapkah kita “sendiri”?



4 Responses to “Siapkah Kita “SENDIRI”?”

  • pety puri Says:

    semangat “sendiri” dek! 🙂
    untuk jalan2, aku memang suka ada temannya (walau cuma 1 orang), tapi kebanyakan aku suka sendiri (mungkin karena aku introvert, jadi lebih bisa mendapatkan ‘energi’ ketika sendiri) –> menulis, membaca, berpikir, merenung 🙂

  • Laila Says:

    Kalo di negara barat, kata guruku malah yang bergerombol yang dianggap aneh Dif..Semua orang di sana individualis.. Hehe.

    However, Aneh gak aneh tergantung budaya kayaknya. Di UI anak-anaknya pada jalan sendiri-sendiri. Meanwhile, kalau di kampusku anak-anaknya suka gerombol-gerombol, nah aku yang sangat suka sendiri dan ngefan dengan yang namanya privasi dianggap aneh trus dideketin dah hahahaa.

    Last but not least, pada dasarnya, semua orang itu lahir, hidup, dan mati sendirian…

  • diva Says:

    @mbk pety: bener mbk.. 🙂

    @laila: hehehehe.. klo yg sendirian kamu ya pasti digodain la.. iya.. bener.. lahir..hidup..mati.. semua sendiri.. 🙂

  • laila Says:

    Haha sekarang ga ada yang berani godain la Dif.. Orang udah emak-emak..Pada segen.. Maksudku dideketin anak-anak diajakin ngobrol, dikira mereka aku kasihan ga ada temennya. Hahaha.. 😀

Leave a Reply