Jelang Hari H

Seminggu sebelum hari H. Seminggu sebelum menyandang gelar seorang istri. Seminggu sebelum kehidupan baru dimulai. Seminggu sebelum hak atas saya beralih dari bapak kepada suami. Seminggu sebelum saya halal bagimu. Seminggu sebelum.. Untuk berjanji setia selamanya.. Atas nama Dia dan cinta..

“Bagaimana perasaanmu?”, tanya setiap orang setiap bertemu dengan saya.

Setiap orang yang menikah pasti akan merasakan apa yang saya rasakan, dan setiap orang yang sudah menikah pasti pernah mengalami apa yang akan saya alami. Deg-degan, sudah pasti. Gelisah iya. Seneng, jelas. Terharu, tak terbendung. Syukur, tak terkira. Perasaan saya bercampur-campur dan saya tak pernah berhasil mendefinisikan perasaan saya akhir-akhir ini.

Terima kasih saya tak terkira, untuk Sang Maha Pemurah dan Pengasih. Betapa dia telah menurunkan kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah saya kira akan saya dapatkan di tahun ini. Melihat begitu banyak tawa dan senyuman orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya akhir-akhir ini, sungguh pemandangan yang mengundang rasa syukur luar biasa. Mengingat perjalanan cinta saya dalam menemukan jodoh yang tak mudah dan berliku, saya sangat berterima kasih padamu ya Rabb. Terima kasih telah memilihkan orang terbaik dari yang baik-baik. Terima kasih telah dipertemukan dengan lelaki yang memiliki cinta dan sayang kepada-Mu. Terima kasih telah menjodohkan saya dengan seseorang yang tepat menurut-Mu. Terima kasih telah mengabulkan doa yang selalu saya dendangkan untuk-Mu disetiap saat. Saya sangat berterima kasih, ya Rabb.

“Beruntung sekali ya lelaki yang bisa menjadi suamimu”, kata beberapa teman kepada saya.

Sebentar.. Sebentar.. Bukan lelaki itu yang beruntung.. Tapi saya yang beruntung. Saat ini, ribuan wanita cantik, sholehah, cerdas, baik, dan kriteria positif lainnya bertebaran di muka bumi ini. Dan dia memilih saya untuk menjadi istrinya. Saya yang ceroboh.. Saya yang manja.. Saya yang cengeng.. Saya yang cerewet.. Dan sederet sifat negatif saya yang lain.. Dia mau menerima saya.

“Lelakiku”, begitu aku memanggilmu dalam monologku. “Terima kasih sudah memilihku. Terima kasih sudah memantapkan hatimu untukku. Seminggu lagi hidupku akan mengabdi padamu seutuhnya. Surgaku ada di restumu, lelakiku.. Membangun rumah cinta yang terdiri dari batu bata kejujuran, semen komunikasi, pasir pengertian , dan tiang kesetiaan untuk menggapai ridho-Nya. Lelakiku.. Jalan menuju surga tidak selalu dipenuhi dengan taburan bunga.. Ujian-ujian untuk kita sudah dipersiapkan Tuhan untuk kenaikan kelas kehidupan kita.. Genggam tanganku, lelakiku.. Saling menguatkan di kala sedih.. Saling mengingatkan di kala bahagia.. InsyAlloh aku siap melaluinya bersamamu..”

Bismillahirrohmanirrohim.. Ya Rasul.. Kami berniat melaksanakan sunahmu.. Lancarkanlah niat suci kami untuk mengikuti jejak ibadahmu.. Sungguh kami ingin menjadi umatmu seutuhnya.. Amien ya robbal alamin. Ashaduala ilahaillalloh.. Wa ashaduanna muhammadurrosullulloh..



4 Responses to “Jelang Hari H”

  • pety puri Says:

    barakallahu lakuma wabaraka ‘alaikuma wajama’a bainakuma fi khaiir…
    semoga Allah memberkahi kalian dan senantiasa mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan, amin 🙂

    semoga acaranya lancar ya dek.
    btw, calon suaminya anak Sastra juga kah? heuheu

  • qonita Says:

    menikah itu pelajaran hidup paling berharga..dan ga akan pernah ada batasnya,,harus slalu blajaaarr dan blajar mengendalikan ego.krn emang yg namanya 2 watak berbeda ga akan pernah bisa sama.
    harus slalu sabar dan ikhlas..
    smangat yaa
    intinya komunikasi.suka ga suka harus diomongin
    jgn pernah gengsi untuk blg maaf dan terima kasih 🙂

  • Sandra Adisti Says:

    Semoga lancar mb Pon…

  • diva Says:

    @mbak pety: amiennnn..untuk doanya.. bukan yg itu mbk.. 😀

    @mbak qonita: iya mbak.. maaf dan terima kasih memang ga bs lepas dari kehidupan ini.. makasih wejangannya mbk.. 🙂

    @adis: alhamdulillah lancar dis.. 🙂

Leave a Reply