Pernikahan itu Belajar

Belajar untuk bersyukur, belajar untuk bersabar, belajar untuk memahami kondisi pasangan masing-masing, belajar untuk berkomunikasi yang baik, belajar untuk menjadi pribadi yang selalu terpuji di mata-Nya, belajar..belajar..dan belajar.. Itulah pernikahan. Pernikahan itu belajar. Ya.. Begitu petuah seorang kawan baik untuk kado pernikahan saya. Intinya, belajar.

Setelah tinggal di Jakarta hampir tiga minggu (untuk mengurusi surat-surat yang perlu diurus sebagai syarat keberangkatan saya menyusul suami), insyAlloh besok saya pulang ke Kertosono. Begitu banyak ilmu yang saya dapatkan selama saya disini. Pelajaran pertama adalah memasak. Jangan tertawa, saya memang seorang wanita, tapi wanita yang biasa tahu bahwa makanan sudah siap di meja makan tanpa ngerti proses seperti apa sebelumnya. Kini, saat saya harus dilepaskan orang tua untuk hidup mandiri, mau tak mau saya harus bisa memasak. Sebagai seorang istri (cie…sudah jadi istri ya :p), saya harus bertanggung jawab atas apa yang akan dimakan suami dan juga anak-anak kami (soon :p, amien). Bertanggung jawab penuh atas komposisi, bahan, kehalalan, serta rasa masakan saya untuk dikonsumsi keluarga. Dan alhamdulillahnya.. Ibu mertua saya suka masak! Saya banyak belajar dari beliau. Meski belum secanggih mami.. Saya sudah bisa caranya memotong daging, ngulek bahan-bahan sampai halus, membedakan mana brokoli dan gobis (ya iyalah :p).. Hehehe.. Alhamdulillah sih, sudah muncul perasaan “suka” masak. Karena awalnya saya ogah-ogahan kalau disuruh masak. Saya pun “mencuri” tahu tentang masakan apa yang disukai suami saya. Eh, ternyata suami suka makan apapun, tapi yang paling disukai adalah semur daging! Hihihihi… Tak lupa saya mencatat bahan serta bagaimana cara membuatnya dari ibu mertua. Sebagai seorang istri, saya ingin masakan saya dikangenin suami dan anak-anak (soon :p, amien), hehehe. Jadi karena sudah menikah, saya pun akhirnya mau belajar memasak. Intinya, belajar :).

Kebetulan dirumah mertua selama saya tinggal ini, mami kedatangan keponakannya dari Australi. Eh, ternyata keponakan mami yang berarti sepupu saya ini suka sekali bercerita. Sepupu saya ini mantan pramugari, jadi sedikit banyak bercerita tentang profesinya. Setelah bercerita tentang profesinya, merambatlah ke cerita-cerita selanjutnya. Yang namanya wanita, yang diceritain pasti tidak jauh-jauh tentang pernikahan (atau mungkin karena saya adalah pengantin baru ya?). Dia bercerita tentang suaminya yang suka berkebun dan mencintainya dengan sepenuh hati, dia juga bercerita tentang pernikahan teman-temannya yang kebanyakan jauh dari keharmonisan (dari sudut pandang dia), dan saya yang belum punya cerita (banyak) tentang pernikahan hanya bisa mendengarkan sambil termanggut-manggut. Ada yang suaminya tergoda dengan perempuan lain dan sebaliknya, ada juga yang belum dikaruniai buah hati, ada yang dulu kaya sekarang miskin, ada pula yang sebaliknya. Ternyata cerita-cerita pernikahan yang biasanya hanya ada dibuku-buku novel yang saya baca, ada dikehidupan nyata! *melongo. Yach.. Yang namanya setiap pernikahan pasti ada ujiannya. Tidak ada pernikahan yang sesempurna impian anak SMU. Klasik sih, tapi setiap manusia memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Seperti halnya saya, suami saya, orang-orang terdekat saya, pasti ada up dan down-nya. Kalau tidak bisa menerima “paketan” yang diberikan Alloh, pernikahan yang langgeng akan hanya jadi impian belaka. Tinggal bagaimana kita bisa menjalani setiap celah kehidupan ini dengan sebaik dan “secantik” mungkin dihadapan-Nya. Satu yang pasti, Alloh tidak akan memberikan ujian jauh melebihi batas kemampuan umat-Nya. Semakin berat ujian tersebut, berarti semakin kuat iman umat tersebut. Trust to Alloh saja. Selalu belajar bersabar dan bersyukur setiap saat. Intinya, belajar :).

Selanjutnya adalah pelajaran yang memang hanya ada di Jakarta, yaitu, tepat waktu. Alamakkkk.. Saya yang terbiasa untuk berangkat dengan jam ngepres (tak jarang telat menuju tempat tujuan) dan terburu-buru, harus membuang kebiasaan buruk tersebut selama di Jakarta. Kemacetan yang “heboh” sudah membudidaya Jakarta dimana-mana. Jadi kalau mau janjian dengan orang, harus datang beberapa jam sebelumnya. Benar-benar bisa tua di jalan nih! Kedepannya, saya harus berhati-hati dengan ucapan saya. Saya dulu tidak pernah mau (baca: anti) punya suami yang bertempat tinggal di Jakarta. Berita lewat tv tentang kemacetan, kebanjiran, dan kriminalitas yang ada di Jakarta telah sukses meneror saya untuk tak bermimpi  tinggal atau berlama-lama di Jakarta. Ibu kota negara kita bukanlah kota yang sehat dan aman untuk ditinggali (menurut pribadi saya). Tapi takdir Alloh berkata lain.. Ternyata eh ternyata, suami saya orang Jakarta! Hehehe.. Bukannya saya mengeluh dan tidak bersyukur.. Saat itu saya memang sedang “membenci” Jakarta.. Didalam keluarga, saya adalah anak yang paling ga mau bersinggungan dengan Jakarta. Oalah.. Benci-benci kok ya jadi nyanding.. Pasrah saja dengan pilihan Alloh. InsyAlloh dia sudah yang paling baik.

Ya.. Pernikahan adalah bagian dari kehidupan. Belajar untuk lebih baik dan lebih baik dari waktu ke waktu. Setahap demi setahap menuju pendewasaan. Berjalan dengan dua “kepala”, berusaha menyatukan satu pendapat. Lelakiku, kau bukanlah seorang manusia yang sempurna, begitu pula dengan aku, istrimu. Maafkan aku jika suatu saat melakukan perbuatan yang tak kau sukai. Ingatkan aku dengan kesabaran yang kau punyai.

Always remember.. No matter what you are.. I love you coz Alloh.. 🙂



4 Responses to “Pernikahan itu Belajar”

  • Laila Says:

    OOO Jadi ingat permintaan mahar pernikahanku yang diketawain Bapak mertua: Buku masak…Hi hi hi…:P

    Setuju, bener banget tuh Dif, pernikahan adalah fase dimana kita harus banyak belajar…

    Kalau aku, pernikahan juga berarti persahabatan…Sebisa mungkin setiap hari bahagia, selalu tersenyum dan tertawa bersama. Memang tidak ada pasangan yang sempurna, tapi yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha memperlakukannya sesempurna mungkin…Jangan sampai kelak saling menuntut di hadapanNya 🙂

    Last but not least, kunci langgeng pernikahan adalah, jangan pernah sampai terucap kata “cerai/talak” sekali pun meskipun bergurau dari kedua belah pihak.. 🙂

    Aduh senangnya pengantin baru..theng theng theng theng theng theng..Hi hi hi..

  • diva Says:

    buku masak?? kayak ga ada internet aja la.. hihihi..

    insyAlloh la..aku akan memperlakukannya sesempurna mungkin.. 🙂

    alhamdulillahhhh…yuk..yuk..berbahagia.. 😀

  • Laila Says:

    Iyo katrok banget koq…
    Dari kecil pengen banget punya buku masak, tapi gak pernah keturutan…Sampai sekarang kalo ngeliat buku masak pasti pengen beli. Hahahahha…!

    Yuk..sambil rebananan dan qosidahan…:D

  • diva Says:

    wkwkwkwk.. rebananan dan qosidahan? NU banget yaaaa… :p

Leave a Reply