Petunjuk Mengkonsumsi yang Halal

Saya seneng banget kalau di kemasan makanan ada tulisan “halal” di komposisi bahannya, rasanya amannnnn gitu! Karena memang jarang sekali saya menemukan label tersebut di Auckland. Maklum, Auckland bukan negara berpopulasi mayoritas muslim seperti di Indonesia, jadi label itu susah untuk ditemui. Saya jadi agak paranoid kalau mau beli bahan makanan. Soalnya produsen makanan disini lazim menggunakan kode-kode bahan (ada yang haram dan ada pula yang halal), yang memang membingungkan untuk orang awam seperti saya. Dengan niat berhati-hati, saya menggunakan dua panduan ini, satu dari fianz (MUI-nya Auckland), dan dari seorang blogger di Inggris, untuk sebisa mungkin memilih bahan makanan yang memang halal dan thoyyib menurut agama saya.

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:168)

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah:172)

Makanan bisa dikatakan haram menurut sumbernya, satu karena makanan tersebut memang sudah jelas haram dzatnya (seperti pernak-pernik babi, binatang bertaring, khamr, bangkai, darah, dan semua hal yang menjijikkan), dua karena sumbernya (bisa dari mencuri, korupsi, tidak disertai nama Alloh dalam penyembelihannya, dan sejenisnya). Ada begitu banyak dampak buruk yang sudah diperingatkan Alloh jika kita mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak dianjurkan untuk umat muslim, yaitu:

1. Tertahannya Doa

Sering merasa bahwa doa kita “dicuekin”? Cek asupan makanan kita.. Karena bisa jadi, makanan yang kita konsumsi adalah bentuk “pengkhianatan” kita padaNya. “Sudah dibilang ga boleh kok masih dimakan, ya berarti doamu tertahan dulu ya Fulan, Aku mau ngabulin doa-doa pengkonsumsi makanan halal dulu aja”, mungkin begitu kata Beliau.

a. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada Sa’ad,

Perbaikilah makananmu, maka do’amu akan mustajab.” HR. Thobroni dalam Ash Shoghir.

b. Ada yang bertanya kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh,

Apa yang membuat do’amu mudah dikabulkan dibanding para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya?” “Saya tidaklah memasukkan satu suapan ke dalam mulutku melainkan saya mengetahui dari manakah datangnya dan dari mana akan keluar,” jawab Sa’ad.

c. Sebagian salaf berkata,

Janganlah engkau memperlambat terkabulnya do’a dengan engkau menempuh jalan maksiat.” (Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, 1: 275-276)

 

2. Mempengaruhi Sikap dan Perilaku

Makanan adalah sumber energi untuk kita. Jika makanan yang kita konsumsi halal dan baik, besar kemungkinan energi yang dikeluarkan pun baik pula. Semangat untuk berjuang di jalanNya pun menjadi menggebu-ngebu. Lain halnya jika yang dikonsumsi adalah makanan haram, organ-organ tubuh kita sebagai pencerna dan penerima nutrisi makanan juga akan menghasilkan energi yang negatif.

Sering dengar bahwa kaum muslim sekarang mentalnya merosot? Sering dengar sikap dan perilaku kaum muslimin sekarang jauh dari yang sudah dicontohkan Rasullulloh? Ini benar-benar ancaman besar untuk kaum muslim, karena musuh-musuh muslim yakin tidak bisa memerangi kita dengan tangan terbuka, maka mereka memerangi kita salah satunya dengan makanan yang dikonsumsi. Waspadalah bagi para orang tua yang sudah memiliki keturunan, ga mau kan generasi penerus kita menjadi durhaka atau melakukan tindakan-tindakan yang dibenci Alloh? Maka perbaikilah sumber makanan dan hindari makanan yang benar-benar haram dzatnya, untuk generasi penerus yang lebih berkualitas.

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mu’minun: 51). Sa’id bin Jubair dan Adh Dhohak mengatakan bahwa yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 10: 126).

 

3. Sumber Penyakit

Sudah tidak diragukan lagi, efek dari menkonsumsi makanan haram seperti babi jelas mengganggu keseimbangan tubuh kita. Hiiiii…

Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah (2) ayat 173 .

 

Nah, untuk menghindari  hal-hal diatas, beberapa waktu yang lalu suami saya diajak temannya yang sudah lama tinggal di Auckland untuk membeli daging dengan berlabel halal. Daerahnya bernama Calgary St. Menurut saya lokasinya agak jauh dari city, tapi demi yang halal lhooo.. 😀 Wah.. Saya senang sekali.. Alhamdulillahhhh.. Nemu daging halal.. Hehehe..

Kebetulan sekali, apartemen saya dekat dengan toko Asia yang menjual banyak sayur-sayuran dan juga bahan-bahan sejenis kecap-kecap yang tentu saja, saya mencari yang halal. Bisa dipastikan, kini setiap belanja saya membutuhkan waktu yang agak lama karena selalu melihat ingredient-nya.. Hehehe..

Ya Rabbi.. Kami benar-benar ingin kaffah berjalan di jalan-Mu.. Selalu jaga kami dimanapun kami berada yaaa.. Selalu lindungi kami dari godaan syaitan yang datang dari segala penjuru arah yaaaa.. Amiennnn… 🙂



3 Responses to “Petunjuk Mengkonsumsi yang Halal”

  • laila Says:

    Amiin…
    Makanan halal juga harus dijaga lo… Kalau berlebihan mengonsumsinya, jadi males ngapa-ngapain, males beribadah dan jadi suka tidur dweh…(pengalamanseharihari.com hihi)

  • rizza Says:

    kok ya enek tas kresek ireng to yo???

  • diva Says:

    @laila: hihihi.. klo kekeyangan meski halal jadinya ya tetep ngantuk la.. :p

    @rizza: hahahaha.. podho ae emng.. ojo dipikir Auckland “wah”.. :p

Leave a Reply