Hidup itu Masalah yang Harus Disyukuri

Saya pengguna aktif jejaring sosial yang bernama twitter. Menurut saya, jejaring sosial ini lebih efektif untuk “mencari ilmu” daripada jejaring sosial yang lain. Selain kita bisa mem-follow akun yang menurut kita penting, kita tidak perlu repot-repot untuk membaca timeline orang yang tidak kita kenal (maklum, jejaring sosial yang sangat populer lainnya sudah terkontaminasi orang-orang yang tidak saya kenal). Hm… Banyak informasi yang saya dapat dari sini. Akun-akun  yang tersedia pun sangatlah bervariatif. Ada akun berita, dakwah, humor, sejarah, pengetahuan, bahkan tweet orang-orang yang sangat menginspirasi.

Saya sering sebel kalau ada orang yang sudah mem-follow saya kemudian bilang “folback donk”. Yach.. Twitter kok cuma untuk mencari follower. Saya sebenernya paling ogah dibegituin. Kayaknya kok pamrih bener. Karena, kalau menurut saya tweet orang ini bermanfaat, pasti saya sudah follow dari jauh-jauh hari.

Oke.. Sekarang saya sedang tidak ingin membahas tentang follower-follower saya. Yang ingin saya bahas sekarang adalah tentang teman-teman yang saya follow. Saya paling seneng baca tweet temen-temen yang memang hatinya “lembut”. Dalam arti kata jarang mengeluh, jarang menyumpah serapahi orang, atau jarang menggiring pikiran orang kearah yang negative thingking. Minimal isi tweetnya fresh gitu, berisi candaan, harapan, atau berpikir positif. Dengan begitu, pembaca seperti saya pun tidak merasa “berdosa” jika mengikuti tweetnya. Tapi akhir-akhir ini saya sedikit terganggu dengan banyaknya tweet dari teman-teman yang mengeluh tentang banyak hal. Tentang anaknya, nasabahnya, kliennya, orang tuanya, dan tidak menutup kemungkinan tentang kehidupannya. Mau di unfollow kok saya tega bener ya?

Saya memang tidak ingin terlihat bagai orang suci yang tidak pernah menggerutu di jejaring sosial yang dibaca ratusan orang tersebut. Saya tidak munafik, sebagai manusia, saya pernah juga mengeluh, menggerutu, bahkan tidak bersyukur tentang kehidupan ini di akun pribadi saya. Tapi hal tersebut berdampak langsung kepada saya. Dengan arti kata, apa yang saya tulis pun melekat dalam pikiran saya dan terus membuat saya negative thingking. Akhirnya saya sadar, buat apa juga mengeluh di tempat yang bukan “tempatnya”. Intinya, saya tidak menemukan solusi disana.

Salah satu teman saya, tidak saya sebutkan namanya, adalah wanita cantik. Bekerja di sebuah bank ternama di Indonesia dengan posisi yang baik. Hampir setiap hari isi tweet-nya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Hampir tak habis pikir saya, dikehidupannya yang serba berkecukupan tak pernah merasa “kaya”. Seakan-akan masalah yang sedang dihadapinya sekarang adalah masalah terberat yang pernah diberikan Tuhan untuk umat manusia.

“Siapa pun yang masih beredar di kehidupan nyata, pastilah tidak akan bisa lepas dari masalah. Karena hidup ini hakikatnya adalah rangkaian masalah. Masalah adalah hal yang lumrah bahkan alamiah, Tuhan juga tidak pernah menjanjikan hidup ini sepi dari masalah. Tuhan tidak pernah menjanjikan langit cerah terus tanpa mendung. Tuhan menjadikan siang berganti malam, terang-gelap bergantian, Tuhan juga tidak menjanjikan jalan hidup ini lurus lempeng tanpa kelokan.Yang Tuhan janjikan adalah bersama kesulitan ada kemudahan (QS Al-Insyirah 4-5), bersama masalah ada solusi, bersama sakit ada obatnya, bersama musibah ada berkah, bersama krisis ada peluang. Semua serba satu paket. Karena itu jangan pernah bermimpi hidup tanpa masalah. Yang diperlukan justru bagaimana mengakrabi masalah, menikmati masalah bahkan jika bisa mensyukuri masalah. Ini adalah bagian proses pendewasaan diri untuk lebih arif menghadapi kehidupan.” –Misbahul Huda, 135).

Setiap orang pasti punya masalah. Boleh jadi masalah yang dihadapi orang lain jauh lebih berat daripada masalah yang sedang diujikan Tuhan untuk kita saat ini. Tapi bukan berarti kita yang (mungkin) sedang ditimpa musibah saat ini menjadi tak peduli bahkan ketus dengan orang-orang disekitar kita kan? Bukankah kita harus menjaga baik hubungan kearah “vertikal” maupun kearah “horizontal”?

Kalau kita hidup senang terus, itu hidup di surga namanya. Jika kita hidup sengsara terus, itu hidup di neraka jadinya. Tapi, malaikat Isroil, sang peniup sangkakala belum meniupkan terompet akhir zamannya. Kita masih hidup di dunia sekarang. Kita masih diperkenankan beribadah dengan berjuang untuk memecahkan masalah-masalah yang diberikan Tuhan. Jadi jangan egois, dengan mengganggap bahwa masalah kita adalah yang paling berat.

Saya jadi ingat apa yang Bapak saya ucapkan pada saya ketika kami menunggu rejeki datang kepada kami (Bapak saya adalah seorang wiraswasta, yang harus bekerja sepanjang waktu tanpa mengenal kata pensiun). Waktu itu saya masih SMP kalau tidak salah.

“Semakin bertambahnya umur, ujian-ujian hidup akan semakin susah. Hmm.. Ibarat kamu kelas 1 SD naek ke kelas 2, kemudian naek ke kelas 3, ujiannya semakin rumit kan? Tapi setelah kamu berhasil melaluinya, derajat kamu ditinggikan olehNya. Dari SD ke SMP,dari SMP ke SMA, begitu seterusnya. Dan kamu menjadi lebih berilmu daripada “adek kelas” kan? Begitulah juga dengan kehidupan”, begitu kata Bapak, yang saat itu saya tidak seberapa peduli dengan nasehatnya.

“Bukankah cukup sabar dan salat sebagai penolongmu? Jadi setelah kamu merasa bahwa usahamu maksimal, biarkan Tuhan yang bekerja. Biarkan bagianNya yang menjadi tanggung jawabNya. Dengan kata lain, kita pasrah setelah berusaha hingga batas limit”, lanjut Bapak saya.

“Dimana pun kamu berada, jika ingin masalah segera terselesaikan, jangan lupa nambahi shalat tahajud, dhuha, dan sedekah ya. Sedekah makanan, maka kamu akan ganti dapet makanan. Sedekah senyum, maka kamu akan ganti dapet senyum. Sedekah ilmu, maka kamu akan ganti dapet ilmu. Sedekah uang, maka kamu akan ganti dapet uang, tentu semuanya kembali dalam keadaan berlipat-lipat ganda”, terang Bapak. Mungkin ini sebabnya, Bapak jarang terlihat stress dalam melakukan aktivitasnya.

Yaaaah.. Saya jadi kangen Bapak saya, orang yang mengajarkan saya untuk mencintai buku dan membudidayakan baca dirumah. Orang yang suka bercerita tentang buku-buku baru yang belum sempat saya baca. “Pah.. Aku kangen sangat ama Papa”.

“Gunung tidak harus tinggi, yang penting ada dewanya. Sungai tidak perlu dalam, yang penting ada naganya. Orang hidup tidak harus serba hebat, yang penting bisa memberi arti”, anonim.

Nah.. Inti dari tulisan saya yang isinya campur aduk ga karuan ini adalah, semua orang pasti punya masalah. Tinggal kuat mana nih, iman kita untuk percaya kejaiban-keajaiban Tuhan atau godaan setan untuk berputus asa. Kembali ke topik awal, jangan sering mengeluh dan berpikiran negarif di jejaring sosial lagi ya.. Karena semua pasti ada pertanggung jawabannya.. Termasuk follower kita yang membacanya.. Mau tanggung jawab kalau pembaca tersebut berpikiran negative?

(NB: Bukan menggurui.. Tapi menulis adalah cara terbaik untuk menasehati diri sendiri.)



5 Responses to “Hidup itu Masalah yang Harus Disyukuri”

  • Laila Says:

    Well-written… Dulu saya begitu Diif.. Sampai ada guru yang bilang: “Mengeluh pada makhluk adalah tanda kurang bersyukur.” Ya betul..Hidup ini bukan tempat untuk bersenang-senang… Hidup ini adalah tempat diadakannya test, test ditujukan sesuai kadar kekuatan hamba. Jika Tuhan mencintai makhluknya, Ia akan mengetestnya dengan masalah. Jika tidak, Ia akan membiarkannya. Dan Nabi adalah yang paling berat tesnya… Ah, jadi inget surah Al Mulk baca postingan ini….Thumbs up. I love positive people, too… 🙂

  • Indah Says:

    (y)
    like your blogpost.

  • Shanty Kireina Says:

    Dear Difana Jauharin,

    Saya selalu menuggu updatan goresan penamu di web
    Setelah mengikuti perjalanan dari tulisan dari awal sampai sekarang
    saya semakin terkesan dengan kamu, semakin lama semakin berbobot dan inspiratif.
    Thx b4 karena mengigatkan akan pentingnya menikmati hidup.
    “Hidup adalah perjuangan yang harus dimenagkan
    Tantangan yang harus dihadapi
    Anugerah Tuhan yang harus disyukuri
    Bukan karena hari ini indah maka kita bahagia
    Tapi karena kita bahagia maka hari-hari kita menjadi indah”

    60 detik kita mengeluh, maka 60 detik itu pula kita melewatkan kesempatan untuk bahagia

  • deenieka Says:

    Terimakasih karena telah diingatkan. Terkadang kita lupa untuk bersyukur jadi lupa pula untuk berpositif thinking ya Dif.

    Keep posting. ^^

  • diva Says:

    @laila: yipyip.. Let`s be positive people.. 🙂

    @kenyot: tengkyuuu.. 🙂

    @shanty: alhamdulillahhh.. terima kasih sudah mengikuti perjalanan menulis saya.. 🙂 sesungguhnya semua kebenaran itu milik Alloh.. dan saya tempatnya lemah dan salah..

    @deenieka: sesama muslim kan harus saling mengingatkan..

Leave a Reply