*Shocked

Mungkin baru kali ini saya mempunyai teman yang benar-benar berbeda latar belakangnya dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada saya, kadang membuat saya sedih. Bukan sedih karena saya bukan bagian dari mereka, tapi sedih karena kasihan dengan mereka. Sebab ini menyangkut tentang keyakinan. Berikut adalah beberapa cuplikan dialog serta pengetahuan umum yang baru saya peroleh dari sekolah gratis saya.

Pada suatu sesi diskusi, tanpa sengaja teman saya bertanya kepada saya (pertanyaannya saya tulis pakai bahasa Indonesia ya, ga enak kalau misalnya yang diomongin tiba-tiba baca blog saya),

Bersama teman-teman baru

ย 

A: “Kamu punya agama?”

D: “Iya.. Saya punya agama.” —saya—

A: “Agamamu apa?”

D: “Islam dunk.. Agamamu apa?”

A: “Dulu sih Kristen.. Tapi sekarang aku ga punya agama.”

D: “Loh.. Kenapa? Kamu ga percaya Tuhan atau memang ga pengen punya agama?”

A: “Aku ga percaya Tuhan.” —jawabnya sambil cengengesan—

Dan saya merasa kasihan sama dia. Pernah ga mendengar ceramah tentang parahnya manusia zaman sekarang dibanding bisikan syetan yang memabukkan? Yup.. Syetan dan iblis memang diusir dari Tuhan, dilaknat oleh Tuhan hingga akhir zaman, tapi…. Mereka masih percaya Tuhan lho. Mereka masih percaya hari akhir. Mereka pernah hidup di surga. Mereka sempat mengobrol dengan Tuhan. Mereka hanya punya satu kesalahan, sombong! Sombong gara-gara ga mau sujud kepada Nabi Adam yang menurut dia berasal dari “komposisi” yang lebih buruk daripada komposisinya. Dan bisa dibayangkan pemikiran manusia zaman sekarang, percaya sama Tuhan aja ga!

Suasana Kelas (1)

Pada sesi dialog yang lain, kebetulan kami ngobrol lagi,

A: “Kamu sudah kerasan belum tinggal disini?”

D: “Saya sih kerasaan-kerasan aja, cuma kendala di makanan sih..”

A: “Loh.. Kenapa dengan makanan-makanan disini?”

D: “Banyak sekali restoran disini, tapi saya jarang menemukan yang halal. Agama saya melarang dengan sangat untuk menonsumsi babi.”

A: “Saya juga ga suka daging babi sih..Tapi kenapa agamamu melarang keras makan babi? Apakah babi itu wujud Tuhanmu? Seperti sapi yang disucikan di India karena itu termasuk makhluk suci menurut mereka?

D: “Tentu saja gaaaa… Menurut agama saya, babi sangat tidak sehat untuk tubuh kita, karena dia memakan segalanya.”

A: “Oh ya.. Babi memang tidak sehat.”

Kebetulan teman saya ini lulusan biologi di salah satu universitas di Chile. Jadi sedikit banyak dia lebih tahu bagaimana kehidupan babi. Kemudian dia menjelaskan panjang lebar tentang babi dengan menggunakan bahasa Inggris, dan bisa ditebak, ada yang bisa saya tangkap dan tidak.

Suasana Kelas (2)

Teman-teman sekelas saya rata-rata seumuran dengan saya. Tapi diantara mereka, cuma saya yang sudah menikah. Di negara ย maju, menikah menjadi suatu hal yang “besar” dan “rumit”. Makanya jarang ada yang mau membawa hubungan cinta mereka sampai ke jenjang yang lebih serius. Mereka lebih sreg dengan sebutan partner. Semua aktivitas sudah seperti pasangan suami istri, tapi sejatinya belum disahkan agama atau negara. Seperti salah satu guru saya. Dia dan partner-nya sudah punya tiga anak! Dahsyat!

Oiya.. Disini juga jarang banget keluarga yang mempunyai pembantu, kalau ga bener-bener kaya raya. Jadi, ketika ada diskusi tentang “Apakah kamu mempunyai pembantu di negaramu?”, tentu saja saya menjawab, bahwa hampir sebagian besar penduduk di Indonesia mempunyai satu hingga tiga orang pembantu. Entah itu pembantu part time atau yang stay hingga berbulan-bulan. Dan mereka ter”wow”kan dengan pernyataan saya. Disini, sangatlah jarang dan “aneh” jika ada orang asing yang tinggal dirumah mereka. Hehehe.. Jadi bisa dibayangkan semandiri apakah mereka.

Teman-teman dari Rusia

Ada lagi teman saya dari Iran. Waktu itu sedang ngobrol tentang aktivitas sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tentu saja saya sebagai muslim, harus (bisa) bangun pagi untuk melaksanakan shalat Subuh.

D: “Saya rata-rata bangun jam 5, ibadah, dan kemudian tidur lagi. Bangun sekitar jam 8 pagi untuk siap-siap sekolah.”

B: “Wah.. Pagi sekali.. ibadah apa itu?”

D: “Orang muslim ibadah shalat 5 kali sehari. Salat satunya pagi sebelum matahari terbit.”

C: “Shalat apa namanya?”

D: “Subuh.”

C: “Ya.. Ibu saya di Iran juga salat Subuh.”

B: “Subuh?”

C: “Iya.. Subuh berasal dari bahasa Arab. Ibadah di pagi hari.”

D: “Ibumu salat Subuh? Apa kamu muslim juga?”

C: “Ibuku muslim.. Saya… Eng… Hmmm.. Ga..”—sambil cengengesan (lagi)—

Kirain negara Iran itu semua penduduknya pemegang teguh agama Islam. Ternyata ada juga yang Islam KTP kayak di Indo. Kebetulan teman dari suami saya ada yang dari Iran pula, dan dia mendapati temannya itu juga jarang shalat. Walah.. Eman`e

Duh Gustiiii.. Miris.. Miris.. Mendengar sudut pandang mereka tentang kehidupan ini membuat saya banyak-banyak bersyukur.. Andai Kau tak memperkenankan diri-Mu untuk saya kenal, mungkin saya akan selamanya menjadi orang yang merugi.. Terlahir sebagai seorang muslim adalah karunia terbesar yang pernah saya dapatkan.. Sungguh akan berat sekali hidup ini tanpa ada petunjuk dari-Mu.. Maka jangan pernah Kau cabut nikmat iman yang selama ini Kau berikan kepada kami.. ย Dan jangan pernah Kau jauh dari kami yang sangat mencinta dan merindu-Mu..

Aaaammmiiieeennnn…



4 Responses to “*Shocked”

  • Laila Says:

    Wah menarik ceritanya, Dif. Keep enlightening. Siapa tahu setelah mendengar penjelasan darimu ada yang tercerahkan, kebanyakan imannya yang baru tercerahkan itu seringkali mengalahkan yang lahir beragama.

    Kalau orang Iran setahuku dari teman yang syiah, mereka kalau yang relijius, shalatnya dijamak jadi satu sekaligus di waktu isya’, tapi belum tahu juga ini akurat apa tidak. Kadang kan info suka gak akurat. Kalau sepenglihatanku sih, mereka cerdas-cerdas dan kadang religiusitasnya itu patut diacungi jempol. Misal, lele kan haram menurut mereka, mau digoda mati-matianpun gak akan mau makan lele hehe. Yah, begitulah keyakinan, suka beda-beda memang… Malah kadang-kadang suka ada yang orang yang pura-pura buruk untuk menutupi kebaikannya… (Aseli nglindur aku nulis ini ๐Ÿ˜› )

  • diva Says:

    Ya kalo mereka interest sih biasanya aku jelasin.. ada org lokal Auckland sini (kebetulan tinggal di apart yg sama, dy kyknya excited ama Islam.. Dan pertama ketemu, dia inget aku sampai beberapa hari selanjutnya (pdhl aku ga inget :p), jadi tiap ketemu pasti ngasih salam “Assalamua`alaikum”.. seneng ndengernya.. ๐Ÿ˜€

    Tapi kalo org yg cuma nanya2 untuk sekedar tahu, biasanya aku ga njelasin terlalu detail, ntar annoying bgt jadinya.. ๐Ÿ˜€

    Oya? Enak bener ya dijamak langsung di shalat Isya.. hehehe.. Tapi kata suamiku, orang Iran emng jarang ada yang religius.. Ada lho, temennya suamiku, cew, org Iran, seneng banget tinggal disini gara-gara tidak ada paksaan memakai jilbab seperti di negaranya..

  • Laila Says:

    Well-said Dif, aku juga seneng dengernya. The point is, I just wanna try to neutralize the shocked moment of my pregnant baby to be just relax.. Dari ceritamu, sepertinya mereka sama syoknya denganmuu. Kok ya ada keyakinan kayak punya kita ini. Hihi.. ๐Ÿ™‚ Tapi mengukur relijiusitas seseorang memang susah, tidak bisa hanya mengandalkan atribut yang tampak. Mungkin saja orang Iran yang gak suka pakai jilbab pengikut Quraish shihab dan Mahfud MD yang tidak mewajibkan jilbab? Hehe ngawur ya aku.. ๐Ÿ˜› Tapi bisa dikatakan benar juga sih kalau mayoritas orang Iran yang tinggal di NZ kurang teguh memegang nilai yang sebelumnya dianut. Hanya sepertinya gak hanya orang Iran yang begitu, orang kita juga mungkin saja hanya segelintir yang teguh ketika harus tinggal di negara barat. Godaannya banyak euy… Tapi bagaimanapun.. Kasusistik di negara yang bukan tempat asal suatu masyarakat, kurang bisa dijadikan acuan menilai mayoritas pribadi suatu bangsa. Wah no more comment ah… Kasihan Ibu hamil jadi mikir nantiiiii. Maaf ya Dif, kalau sok-sokan mengingatkan… Just relax and take a deep breathe kalau nanti syok lagi, barangkali indera kita ada yang salah… Orang hamil bayanginnya bunga-bunga bermekaran dan pemandangan yang indah-indah saja yaaaaa… hugs

  • diva Says:

    hihihihi.. iya deh…

    mawar2 putih yg bermekaraaaannnn… ^^

Leave a Reply