…UKS…

Senin pagi itu terasa lebih terik dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir murid-murid kelas tiga SMUN 2 Surabaya mengikuti upacara bendera, setelah beberapa minggu yang lalu mereka sibuk dengan ujian-ujian kelulusan, melelahkan. Diantara mereka banyak yang berpakaian lengkap, tak ingin melewatkan sang merah putih dengan masuk BK (Bimbingan Konseling) gara-gara tidak memakai atribut wajib. Sepatu hitam mengkilat, sabuk hitam bermerk, topi yang sudah sedikit apek, serta dasi yang sedikit kurang rapi bertengger di tubuh masing-masing siswa (sekalipun berjilbab). 🙂

Tentu saja tak hanya ada siswa kelas tiga saja yang siap, tapi ada juga siswa kelas satu dan dua, serta para ibu guru yang ikhlas mengikuti upacara pagi itu. Anggota pasus tampak rapi dalam jajaran balok dari yang rendah di awal hingga tinggi ke belakang. Pasukan PMR tengah siaga jika ada yang tiba-tiba pingsan. Posisi petugas PMR ini terpisah antara satu dengan yang lainnya. Dia berdiri di belakang siswa perkelas. Di deretan siswa yang sedang bertugas, ada Andah yang masih duduk di kelas 2 Ipa 2. Cantik dan penuh aura. Bertugas di belakang kelas 3 Ipa 7. Tak biasanya Andah mau bertugas di belakang kelas itu, selain ramai, kelas tersebut juga memiliki predikat yang kurang baik di mata sekolah. Meskipun tampak lesu, dia meminta kawan-kawannya, agar diijinkan berdiri di kelas yang diinginkannya. Kontan siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 ramai dengan adanya Andah yang bertugas dibelakang barisan mereka.

Karena upacara yang terakhir, wejangan-wejangan yang dilontarkan kepala sekolah lebih lama dari biasanya. Lama-kelamaan keadaan semakin tidak kondusif, siswa-siswa tidak berada dalam barisannya, memperhatikan wejangan-wejangan tersebut saja tidak. Dan yang paling terasa pagi itu adalah panasnya yang semakin menyengat. Andah yang sedari awal kurang sehat, tiba-tiba saja terjatuh. Padahal sejatinya dia sedang bertugas menolong yang kurang sehat, tapi ternyata dia sendiri yang pingsan. Kontan hal tersebut membuat siswa-siswa kelas 3 Ipa 7 bingung.

Bryan segera mengambil tindakan. Lelaki yang bertubuh tinggi besar ini dengan mudahnya mengangkat tubuh Andah yang mungil, dan segera membopongnya ke UKS. Berpuluh-puluh mata memandang Bryan, melongo. Bryan bukan anak PMR, bukan juga termasuk orang-orang yang aktif di organisasi sekolah, tapi dia tanggap melakukan sisi kemanusiannya. Dimana temen2 sekelasnya masih mengerubuti Andah yang sedang pingsan, tapi tetap cantik menawan. Akhirnya, petugas PMR yang lain pun hanya menguntit dari punggung Bryan.

Sesampai di UKS, tahap-tahap memulihkan Andah dari pingsan mulai dilakukan petugas PMR yang berjaga di ruangan tersebut. Menidurkannya, membuka sepatu, membuka ujung baju agar udara leluasa bersirkulasi, serta tak lupa memberi minyak angin agar cepat siuman. Selama ini, cara-cara konvensional itu manjur juga. Tak beberapa lama, Andah siuman.

“Kok aku di UKS?”

“Yup, kamu pingsan tadi…”

“Wah… petugas PMR nya sendiri yang pingsan y… Malu aku…”

“Kamu terlalu capek mungkin.”

“Sapa ja yang nandu aku tadi?”

“Gda yang nandu kamu kok… Twuh… Mas Bryan diluar… Nungguin kamu… Dia juga yang bopong kamu… Mantap gan… gak pake nandu.. hihihihi…”

“Busyet… kok Mas Bryan yang bopong?”

“Tauk!! Bentar ya… tak panggilin orangnya…”

“Jangan…!!! Malu aku…. Mana ga kenal lagi… Ga pernah ngobrol pula…”

“Minimal kamu berterima kasih lah…. dia kan sudah gendong kamu dengan mesra…hehehe..”

“Sinting kamu… Kan itu bukan mauku lagi…”

Belum selesai wajah merah Andah karena malu digoda temannya sekelas bernama Lia (yang sama-sama jadi petugas UKS), tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara lelaki. Ketika mendongak, dia hanya bisa menatap sebentar, malu.

“Gimana? Ada yang lecet?”

“Enggak… Cuma sedikit pusing…. Mungkin tadi di lapangan terlalu panas… “

“O….”

“Btw… Mas Bryan rencananya mau kemana setelah lulus SMA?”

“Mau nerusin kuliah.”

“Dimana?

“Kemarin beasiswanya keterima di London.”

“London??? Jauh banget…. “

Andah terlihat kecewa. Pucat pasi nya lebih nampak ketika dia terkejut.

“Iya… Mungkin lima hari lagi aku berangkat. Sebelum aku berangkat….Aku pengen bilang sesuatu ma kamu.”

“Apa mas?”

“Kamu masih ingat bunga-bunga yang terselip di tas mu? Boneka panda pink di depan pintu rumahmu? Atau mungkin surat-surat tanpa pengirim?”

“Loh kok tau?”

Andah heran sekaligus mengerutkan keningnya.

“Itu semua dari aku. Sejak kamu ikut ospek, aku sudah menaruh perhatian ma kamu. Tapi aku terlalu takut untuk menyatakan cintaku. Makanya, aku hanya diam saja… Tapi, sekarang beda keadaannya. Aku mau berangkat ke London. Jadi minimal kamu tau, kalo aku memiliki “rasa” ma kamu sejak dulu.”

Andah terperanjat, dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Bryan. Tertunduk malu.

“Aku ga butuh jawaban kok. Aku hanya ingin menunjukkan betapa aku menyanyangimu. Aku tau, gak akan mudah mendekatimu.”

“Mas Briyan, nanti kerumahku ya…”

“Kenapa dek?”

“Ga papa mas.. Sebentar aja… Dateng aja ke rumahku… Ada hal penting juga yang harus aku berikan ke Mas Bryan.”

Tak beberapa lama, mereka pun didatangi Lia, temen yang sedari tadi menunggui mereka berdua.

“Upacara selesai. Jam pelajaran mau dimulai, kamu mau disini atau ikut pelajaran, Ndah?”

“Aku ikut pelajaran aja, dah baikan kok Li.”

“Andah, nanti aku jadi kerumahmu ya?”

“Iya mas… Ntar jam 8nan, tau kan?

“Tau….”

Dan mereka pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing dengan tidak sabar menunggu datangnya malam.

Pukul delapan tet.

“Andah, aku sudah dibawah.”

“Iya… Sebentar.. aku turun mas…”

Beberapa menit kemudian…

“Lagi apa dirumah? Sibukkah?”

“Gak mas… cuma beres2 rumah aja…”

“Ada sapa aja?”

“Ada bibik aja,,,, orang rumah pada belanja sebentar.”

“O…. Kok gak ikut?”

“Lha kan sudah janjian duluan ma mas…”

“Sapa tau… hehehe… Gmn? katanya mau memberikan sesuatu untuk aku?”

“Hm… Bentar ya… Tak ke dalem dulu ya mas..”

“Okey..”

Sebuah buku tebal terlihat di genggamannya yang mungil. Andah nampak malu-malu, tapi akhirnya dia duduk juga dan memberikan buku tebal ke Mas Briyan.

“Buku ini keliatannya buku diary.”

“Iya mas… ini memang buku diary.”

“Kenapa kau berikan padaku?”

“Hm… isi buku tersebut rasanya pantas Mas baca dweh…”

“Oya?”

“Yup..”

Mas Bryan yang biasanya bermimik datar, tiba-tiba saja terlihat begitu antusias. Dia segera membuka buku diary tersebut dan mulai membaca lembar demi lembar. Sesekali dia menatap Andah yang sedang memainkan tangannya, kemudian melanjutkan bacanya.

“Kenapa kau diam saja Andah?”

“Sudah dibaca Mas?”

“Sudah.”

“Yach… Sedari awal masuk sekolah ini, aku juga sama ma Mas. Mas yang jadi pusat perhatianku. Semua ku tuangkan di buku tersebut. Karena posisi ku yang pasif, gak mungkin aku utarakan perasaan ini mas. Meskipun mas terlihat sendiri, makan dikantin, atau pun baca buku di pojok perpus, menjadi pemandangan yang menarik bagiku. Gosip-gosip tentang mas juga menghiasi buku diary ku ini.”

“Tapi terlambat ya Ndah….”

“Gada kata terlambat untuk memulai sesuatu mas…”

“Tapi beberapa hari lagi aku berangkat.”

“Kan bisa berkabar lewat apapun mas…”

Dan mereka saling berpandangan, tersenyum, kemudian tertawa.

Bahagia. 🙂

-From true story…. Thanks friend… U give me a inspiration- 🙂



Leave a Reply