Arti Sebuah Nama

Hal yang paling membingungkan diantara yang membingungkan menjadi orang tua baru adalahhhh jeng jeng jeng… Mencari nama baik untuk anak! Hehehe.. Gimana ga bingung, belum mikir nama panjangnya.. Belum nama panggilannya.. Belum ntar orang tuanya dipanggil apa.. *dasar ibu rempong ya?

Mestinya dinikmati aja ya proses pemilihan nama.. Tapi saya memang ga bisa lepas dari “kebingungan”. Lawong ngasih nama adopsi-an saya (Bipo dan Chika) dulu saja saya minta pertimbangan karena bingung. Dalam proses menulis pun, yang terakhir kali saya pikirkan adalah “judul”. Hihihi.. Apalagi sekarang mau memberi nama anak. Pasti pengennya yang unik, ga ada yang ngembarin (maksudnya ga pasaran), dan bagus artinya. Posisi saya dan suami yang sementara berjauh-jauhan tidak menyurutkan niat kami untuk memusyawarahkan nama terbaik untuk anak kami. Hampir setiap hari saya buka internet, pinjam buku kumpulan nama-nama bayi, dan mencoba berdiskusi dengan suami. Karena masing-masing punya “jagoan” nama, maka kami sepakat untuk menyeleksinya. Saya punya sepuluh nama yang menurut saya bagus, dan suami pun memiliki sepuluh nama yang menurutnya bagus.

Tak disangka tak diduga.. Suami tak menyetujui pilihan nama yang saya pilih. -___-“

“Yach.. Milih nama kok kayak nama pembantuku, beb”, katanya. Padahal menurut saya unik dan lucu lho.

“Lho beb, jangan nama itu.. Itu juga udah dipake nama anak temenku”, sahut saya ketika dia melontarkan salah satu pilihan nama jagoannya.

Benar-benar bukan perkara yang mudah untuk menentukan nama anak pertama. Membingungkan tapi juga menyenangkan sekaligus. Setelah berdiskusi cukup lama, lalu,

“Ya wez, gimana kalo ini aja, Farah Naureen Achda?”, usulnya.

“Kenapa pilih nama itu?”, tanya saya yang awalnya masih kekeh dengan pilihan nama jagoan saya, sinis.

“Farahnya dari gafFAr RAHmadi dan Naureennya dari difaNA jaUhaRIN”, jelasnya lewat skype.

“Wkwkwkwk.. Maksa banget.. Tapi bagus sih Naureennya, aku suka. Ada artinya ga beb?”, tanya saya lagi.

“Ada dunk, artinya cahaya, cerah, sinar, ya sejenis itulah”, sahutnya.

“Ihhhh.. Pinter.. Bagus.. Bagus.. Aku suka.. Ya wez Naureennya deal ya? Hmmm.. Sebenernya aku suka sih Farah, tapi kok kayaknya pasaran ya?”, mulai deh cerewetnya ibu-ibu keluar.

“Ya udah.. Tambahin aja za.. Jadi Faraza, gimana?”, tanya dia.

“Eh.. Jangan asal aja.. Ada artinya ga?”, sahut saya curiga. Kok bisa-bisanya nemu dan punya ide nama bagus gitu.

“Ya ada dunk..  Artinya sukses. Jadi Faraza Naureen Achda itu artinya cahaya kesuksesan”, terang dia (Achda adalah nama keluarga suami.)

“Wahhh.. Keren juga ya, cahaya kesuksesan dunia akhirat”, celetuk saya.

“Aaammiieennn…”, jawab kami berbarengan sambil tersenyum puas.

Alhamdulillahh.. Kami akhirnya menamai anak pertama kami dengan Faraza Naureen Achda. Berasal dari singkatan nama kami masing-masing. Memang harus ada yang merendahkan egonya sih untuk mencapai titik terang, meski memberi nama anak adalah hak penuh bapaknya.

Belum berhenti sampai disitu, timbul kebingungan lagi, mau dipanggil apa kami oleh anak-anak kami. Sebenarnya dari dulu saya ingin dipanggil Ibu-Bapak oleh anak-anak saya. Selain Ibu-Bapak itu Indonesia banget, panggilan ini juga terkesan wibawa. Seneng aja ntar ada yang manggil “Ibu.. Ibu.. Ibu..”, gitu.

“Yach.. Kok Ibu-Bapak sih, ntar aku dipanggil Pak.. Pak.. Ga ada beda dengan Pak sopir dunk?”, celetuk suami.

“Wkwkwkwk.. Kenapa mengacunya kesitu.. Ibu-Bapak itu keren beb.. Keliatan Indonesianya..”, sahut saya.

“Ogah ah.. Yang normal dan ga alay aja.. Mama-Papa gimana?”, tanya dia meminta persetujuan.

“Ya.. Itu kan panggilan aku ke ortu.. Bosen lho beb..”, jawab saya dengan muka manyun.

“Lho.. Itu udah universal.. Lagian ini anaknya udah nongol dan orang-orang pada nanyain kita mau dipanggil apa lho”, kata suami meyakinkan.

Setelah beberapa lamaaaaaaaa,

“Ya udahhh.. Jadi aku dipanggil Mama nih? Kok standart banget ya?”, garuk-garuk kepala.

“Enggak enggak.. Bagus kok..”, jawab suami sambil tersenyum menang.

“ Kok aku nurut aja ya?”, pasang tampang linglung.

“Ya iyalah.. Istri kan harus nurut suami..”, lanjut dia sambil meringis.

Begitulah sedikit percakapan yang terjadi seputar kebingungan-kebingungan yang saya alami bersama suami. Setelah berdiskusi cukup panjang dan alot (halah), akhirnya kami menemukan nama yang terbaik menurut kami, untuk sang buah hati.

Papa-Mama.. Hmmmm.. Sampe sekarang sebenarnya masih ingin dipanggil Ibu sih.. Hihihi.. Tapi ya wez lah.. Diplesetin jadi Popop-Momom biar ga biasa ga papa ya beb? :p *wajahbandel *kabur



Leave a Reply