Pejuang ASI

Dulu, saya berpikir bahwa menyusui adalah soal gampang. Tinggal “clep, clep”, kayak ibu-ibu yang biasa saya lihat. Setelah gagal melahirkan baby Fazna secara normal, IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang tak terwujud, maka memberikan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif harus bisa dilakukan, begitu tekad saya.

“Mbak, waktunya menyusui”, kata suster, beberapa jam setelah operasi caesar saya selesai.

“Mana-mana”, sahut saya penuh semangat. Dan “clep”, proses menyusui pun dimulai. Sehari dua hari, saya masih merasa enjoy dengan proses menyusui tersebut. Sampai pada hari ketiga,

“Mbak, posisi saya sudah bener ya?”, tanya saya ragu-ragu karena proses menyusui tersebut lama kelamaan mulai terasa kurang nyaman.

“Udah bener kok mbak”, jawab susternya dingin.

“ASI saya segini juga udah cukup ya mbak?” tanya saya lagi, yang melihat ASI saya yang cenderung sedikit.

“Cukup”, sahutnya lagi datar. Saya pun menjadi tenang dengan jawaban suster tersebut. Yang saya tahu, ASI di awal menyusui (baca: kolostrum) memang jumlahnya sedikit tapi bermanfaat untuk bayi.

Setiba dirumah hingga beberapa hari kedepan, muncullah permasalahan satu demi satu. Tiba-tiba saja baby Fazna terlihat kuning disekujur tubuhnya (hingga matanya) disertai suhu badan yang meningkat. Saya selaku ibu baru menjadi sangat panik. Bergegaslah saya ke dokter anak untuk memeriksakan baby Fazna. Kata dokter, baby Fazna kena kuning karena kurang minum, dan diberilah saya obat. Jika dalam seminggu masih kuning, maka baby Fazna harus disinar/di lab-kan (tambah panik). Huhuhu.. Kasihan sekali, bayi baru berumur beberapa hari sudah minum obat (belakangan, saya baru tahu bahwa 60% bayi kena kuning, dan mestinya ibu baru tak usah panik).

Selain diberi obat dan saran untuk menjemur baby Fazna tiap setengah jam diantara jam 7 sampai  9 pagi, saya diberi pilihan, bayi diberi sufor (susu formula) atau mencari donor ASI (karena menurut dokter, ASI saya kurang). Disinilah kegigihan saya diuji. Saya yang sedari awal bertekad memberikan ASI eksklusif untuk baby Fazna , tentu saja menolak penggunaan sufor. Beruntung sekali saya memiliki kakak ipar yang sedang ng-ASI juga (sufor dianjurkan WHO {Organisasi Kesehatan Dunia} setelah ASI, mencari donor ASI, dan yg terakhir bertemu konselor untuk relaktasi), alhasil numpang deh baby Fazna ke budhenya (kurang lebih satu bulan).

Sedih banget menerima kenyataan bahwa ASI saya kurang untuk anak saya sendiri. Sedih banget lihat baby Fazna terlihat lebih kenyang dan puas setelah disusui budhenya daripada ibunya sendiri. Sedih banget ketika merasa bahwa saya belum bisa memenuhi kebutuhan utamanya. Pokoknya, tema di awal-awal minggu itu sedih tingkat dewa! Belum jahitan habis operasi caesar yang masih nut-nutan. Stres dan capek tumplek blek jadi satu (hiks). Suami yang belum pulang pun turut memperparah kondisi kejiwaan saya (lebay tapi benar lho). Dukungan suami dari jauh pun terasa hambar karena memang yang saya butuhkan saat itu adalah pelukan (ciehhhh). Perasaan bersalah semakin memuncak ketika mendapati bahwa kedua puting (maaf ya sedikit vulgar) saya berdarah dan lecet akibat cara menyusui yang salah. Bertambah meranalah saya saat itu, benar-benar mengalami masa kritis (belakangan, saya baru tahu bahwa awal-awal minggu adalah masa-masa kritis, dan biasanya penggunaan sufor masuk waktu ini)!

Perlahan tapi pasti, dukungan-dukungan semangat ng-ASI pun mulai berdatangan. Tak hanya dari saudara, tapi juga dari teman-teman yang terus menyemangati saya. Itulah mengapa sekarang banyak istilah “pejuang ASI” di masyarakat, karena memang tak mudah dalam mewujudkannya. Tak beberapa lama, akhirnya suami saya datang juga. Bener kata Rizza, salah satu teman saya, bahwa menyusui bayi disamping suami itu menimbulkan perasaan bahagia dan tenang, sehingga produk ASI bisa bertambah banyak (ehem).

Mbak Zehan, kakak ipar saya, menyarankan untuk bertemu konselor ASI guna mengonsultasikan berbagai kendala yang saya alami selama awal-awal menyusui. Untuk teman-teman di berbagai kota yang tengah mengalami kendala-kendala menyusui seperti saya, coba cari informasi dan baca artikelnya di AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) deh, insyAlloh bermanfaat banget.

Saya pun akhirnya memutuskan untuk bertemu konselor ASI cabang Mojokerto. Berbagai pertanyaan saya ajukan. Mbak Henny selaku konselor pun mengajari saya cara meng-ASI yang benar, cara memperlakukan ASIP (Air Susu Ibu Perah), dampak buruk sufor, kelebihan bayi kita diberi ASI, dan lain-lain. Sebenarnya apa yang disampaikan dokter jebolan Unbraw ini ada semua di artikelnya AIMI, tapi cara dia menyampaikannya lebih meyakinkan, jadi lebih semangat.

Sesi Tanya Jawab

Pada prinsipnya, ASI dipengaruhi oleh dua hal, yaitu sering-sering menyusui (atau ASI dikeluarkan, bisa dengan tangan atau alat pompa), dan perasaan yang bahagia (para suami wajib menyenangkan istri ya, biar proses ng-ASInya sukses!). Makan sebanyak apa pun kalo dua hal ini ga mendukung ya sama aja. ASI adalah cairan hidup yang nutrisinya berubah setiap hari sesuai kebutuhan bayi masing-masing. Jadi misalnya ada bayi yang sama-sama berusia tiga bulan, sama-sama minum ASI, dan ketika ASI-nya dilabkan, kandungan ASI-nya berbeda lho satu dengan lainnya (subhanAlloh, luar biasa ya!). Kata mbak Henny, meskipun di Afrika sedang busung lapar, ASI yang dihasilkan ibu menyusui disana tetaplah berkualitas (subhAlloh lagi)! Jadi ga ada alasan untuk ibu ga menyusui bayinya, karena ASI adalah hadiah terbaik pertama yang diberikan ibu untuk anaknya.

Pose Dulu ahhhhh.. 😀

Selama proses pemulihan puting dari lecet-lecet, saya tetap memberikan ASI untuk anak saya. Rasa nyeri yang sangat harus saya lawan, karena memang ga ada cara lain untuk memperlancar ASI selain sering-sering disusukan (ibadah Difana… ibadah!). Alhamdulillahhh… Lambat laun semuanya mulai membaik. Baby Fazna mulai full ASI saya, dan tidak memerlukan donor ASI. Seneng banget mendengar sendawanya yang pertama.. Seneng banget lihat gumohnya yang pertama.. Karena itu pertanda dia kenyang.. Karena itu pertanda bahwa saya bisa memenuhi kebutuhan utamanya.. *tersenyum lebar. Kuningnya juga sudah hilang, bekas jaitan saya pun jg ga sesakit pas pertama-tama dulu.

Hasil Pumping-an Pertama.. ^^

InsyAlloh saya ingin memberikan ASI untuknya hingga dua tahun seperti yang ada dalam ayat Al-Qur`an:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 233).

Semoga kedepannya saya masih bisa beribadah memberikan ASI untuk titipan Alloh ini.. Semoga ga ada masalah yang berarti lainnya, amiennn. Temen-temen yang sedang hamil dan bertekad untuk memberikan ASI untuk anaknya, mulai sekarang dirawat deh payudaranya. Beri puting kalian madu atau mamil*n (iklan ya :p), biar lembab sehingga pas buka “segel” ga merasa sesakit saya. Alhamdulillah sekarang saya bisa menyusui baby Fazna jauh lebih nyaman daripada di awal-awal dulu. Apa pun yang terjadi, pantang menyerah ya!

Semangat ng-ASI guys!



5 Responses to “Pejuang ASI”

  • Mila Says:

    mmmm, thanks share nya. walau belum menjadi Ibu dan insyaAllah calon Ibu. terharu saya bacanya:) ternyata tdk semudah itu tetapi patut diperjuangkan

  • diva Says:

    Sama2 milaaaa.. Menjadi ibu baru itu ternyata buanyak yg hrus dipelajari.. Intinya, sabar.. :))

  • ariaeco Says:

    Semangat pejuang ASI, saya jg sedang menunggu detik 2 kelahiran ,, semoga saya bisa memberikan ASI full ,, doakan saya ya ..

  • diva Says:

    amieeennnn… semangat mbak ariiii.. 🙂

  • Anonymous Says:

    Keren ponah, thanks ilmunya yah
    Meskipun ak masih jauh tp ttp berguna suatu saat nnti ^_^

    Amin

Leave a Reply