Kekerasan “Fisik” Di Masa Pacaran

Kekerasan fisik dalam menjalin hubungan cinta mulai marak akhir-akhir ini. Bukan karena para artis yang menjadi sorotan media massa membuka aibnya dengan gamblang, tapi karena dalam sehari-hari kita sering menjumpai permasalahan serupa di sekitar kita. Tak hanya tetangga, teman terdekat pun bisa menjadi salah satu korbannya. Setelah menjadi sepasang suami istri atau ketika dalam tahap berpacaran saja kekerasan-kekerasan tersebut nampak oleh mata. Hal itu bisa menimbulkan trauma (cacat psikologis) yang cukup mendalam bagi penderita kekerasan.

Cinta yang awalnya manis bisa berubah menjadi mengerikan jika masing-masing dari pasangan sedang emosi. Padahal kunci menjadi pasangan adalah harus selalu “merasa bersalah”, jadi ketika akan marah, maka redamlah amarah tersebut. Tapi cukup susah mempraktekkan anjuran ini. Saat emosi mendominasi, yang dirasa masing-masing individu adalah “harus menang dan menang”.

Publik figur yang sedang jadi buah bibir karena masalah kekerasan fisik adalah Cici Paramida dan Oki “Pasha Ungu”. Masyarakat cukup dikejutkan dengan pemberitaan Cici Paramida yang mengalami kekerasan dari suaminya sendiri. Padahal dia baru beberapa bulan yang lalu menikah di Mekah. Ternyata Mekah pun tak jadi jaminan utuhnya suatu pernikahan. Pasha “Ungu”, yang keliatan adem ayem setelah perceraiannya, tiba-tiba harus menjalani persidangan akibat perilaku buruk terhadap mantan istrinya. Oki, seorang wanita yang telah menemani kehidupannya selama tiga belas tahun dan memberikannya dua putra serta satu putri, “harus” dipukuli mantan suaminya. Dramatis memang, tapi nyata.

Masa berpacaran tak jauh beda dengan pasangan suami istri. Apalagi di zaman yang semakin bebas ini. Rasa memiliki yang berlebihan membuat suatu hubungan berjalan tidak sewajarnya. Sebenarnya, esensi dari berhubungan adalah memberikan suatu kenyamanan antar pasangan, memberikan semangat, memberikan kasih sayang, bukan menjadikan orang yang disayangi sebagai pelampiasan atas kemarahan diri sendiri. Tapi faktanya, lain. Contohnya adik kost penulis, dia berpacaran dengan seorang lelaki yang sedikit aneh. Ketika gemes (yang mengaku sayang setengah mati), si lelaki mencubit kekasihnya sampe berwarna merah gelap. Esok harinya bekas cubitan tersebut jadi gosong-gosong, seperti memar. Hal itu membuat penulis merasa bergidik. Apakah rasa gemes, kangen, dan sayang harus sampai menimbulkan rasa sakit untuk pasangannya sendiri? Lalu dimana letak cinta itu? Dimana sikap melindungi yang diagung-agungkan seorang lelaki kepada wanitanya? Anehnya lagi, adik kost penulis merasa tidak sakit. Dia merasa baik-baik saja dan senyam-senyum di esok harinya. Tak jarang “cubitan-cubitan mesra” yang menimbulkan cap di tubuhnya jadi sering terukir ganas. Kok bisa ya?

Begitu juga dengan kabar yang barusan penulis peroleh. Di FIB Unair, ada seorang lelaki menjorokkan pasangannya (kejadiannya di kantin, tentu saja dilihat oleh berpasang-pasang mata) hingga tersungkur kemudian pingsan. Berita itu langsung menjadi topik hangat yang sedang diperbincangkan. Tak hanya antar mahasiswa, tapi dosen-dosen di ruang jurusan Sastra Indonesia pun membicarakannya. Masih berpacaran saja sudah melakukan hal-hal kejam, bagaimana kalau sudah menjadi sepasang suami istri? Pasti akan lebih parah. Itu menurut asumsi penulis.

Kekerasan fisik, apapun bentuknya, adalah suatu hal yang harus kita laporkan. Oleh karena itu, sebesar apapun cinta yang kita rasakan pada mereka yang melakukan kekerasan, tetap saja tidak dapat dibiarkan terjadi. Dengan demikian si pelaku dapat mendapatkan penanganan yang tepat (konseling dan terapi). Mendiamkan kekerasan yang terjadi, baik yang kita alami maupun yang dialami oleh teman kita, sama saja artinya kita membiarkan kekerasan itu terjadi, dan hal itu tentu bukan suatu hal yang kita inginkan. Tidak pada mereka, tidak pula pada diri kita. Langkah awal yang mungkin dapat kita lakukan untuk mengurangi bentuk kekerasan dalam pacaran adalah selalu membuka ruang dialog bersama pasangan untuk melakukan introspeksi selama hubungan pacaran berlangsung (makanya…gak usah pacaran aja ya…hehehe..).

Yuk… saling menyayangi tanpa menimbulkan kekerasan fisik yuk… ^_~



6 Responses to “Kekerasan “Fisik” Di Masa Pacaran”

  • cencen Says:

    wah tulisannya udah mulai kristis dan argumentatif nie.. ^^
    kekerasan fisik biasanya merupakan luapan emosi yang tak terkontrol.. tapi bagaimanapun juga menyakiti tak akan bisa dibenarkan apapun bentuknya.. alih alih niat untuk mendidik bukan jera yagn didapat, tapi kenyataan bahwa psangan kita telah berlaku kasar pada kita.. kemampuan mengontrol emosi menujukkan kedewasaan sikap kita.. kemampuan saling menjaga perasaan menunjukkan kasih sayang kita.. jangna pernah dan jangan sampai ada kekerasan.. 🙂

  • arya Says:

    YA!! anda benar… hebat kmu, so nice tulisannya. mungkin mang jgn pcaran dulu jk belum dpt mengontrol emosi masing-masing utk lbh amannya. 😉

  • diva Says:

    @cencen:iya…kasihan aku ama anak yang didorong itu…jadi pembicaraan sekampus,,, 🙁
    @arya:yoha… membahayakan ya?!

  • arya Says:

    iya bahaya,tegangan tinggi..!

  • emm Says:

    la lah…itu kenapa ditulis dokter kayak begono dif..hahaha,,
    jadi gosong tapi tetp cinta??..kamu tau kenapa orang kecanduan morfin dif??..itulah dahsatnya cinta,,kalo kamu jatuh cinta,,tubuhmu kan menghasilkan serotonin, zat endorfin alias morfim alami yang dihasilkan oleh tubuh,,membuatmu “fly”..mau gosong, di pecut, di jadiin selir,,kalo morfin lagi menguasai…itulah kenapa ada istilah cinta mati lah, cinta itu buta lah

  • diva Says:

    @mbak emma:oya??hik…hik… ngeri mbak….. >_< namanya dijiwiti itu pasti sakit...sekalipun dijiwit sama pasangannya sendiri... (paling ga seneng dijiwit,biasane tak bales kalo ada tmnku yang njiwit aku...hehehhehe)

Leave a Reply