Menguak Moslem Millionare by Ippho Right

Jika membaca buku tulisan Ippho pada bagian awal saja, saya merasa bahwa orang ini money oriented banget. Kita seolah-olah “dipaksa” kaya oleh orang ini. Tapi setelah membaca hingga akhir halaman, saya menyadari bahwa yang ditulis orang ini bener banget. Moslem Millionare adalah buku keempat dari seri Otak Kanannya. Dalam buku ini, kita disuruh berpikir out of box, menjadi orang yang berpikiran lain daripada yang lain. Selain itu, kita diberi tips dan trik, sikap, serta langkah-langkah yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menjadi Moslem Millionare.

Semangatnya untuk menjadi kaya itu luar biasa. Dia tahu bahwa kaya miskin adalah ujian, dan tentu saja, seperti kebanyakan orang-orang pada umumya, dia memilih untuk menjadi kaya. “Produksi sebesar-besarnya, konsumsi sekedarnya, dan distribusi seluas-luasnya”, hal 39. Maksudnya, kita “diutus” menjadi orang kaya yang amanah, dimana kekayaan kita digunakan untuk kebaikan orang lain, bukan untuk memenuhi hasrat keserakahan kita. Banyak orang kaya yang tidak bisa mengatur keuangannya, alhasil diakhir hidupnya malah memiliki utang yang tak sedikit jumlahnya, karena berusaha memenuhi gaya hidupnya yang hedon. Ada tanggung jawab besar, ketika orang menjadi kaya dan sukses. Sebagai seorang muslim, kita harus percaya bahwa ketika kita sukses, berarti Tuhan telah mempercayai kita untuk membagi-bagikan “titipan” rejeki-Nya kepada orang yang berhak. “Rejeki itu dekat dengan cinta, dimana rejeki akan berpihak pada orang yang pandai mencintai dan mengasihi”, hal 14. Hmmmm.. Contohnya, ketika orang tua kita akan pergi, kepada siapa mereka akan menitipkan uang belanja kepada anaknya-anaknya? Tentu saja kepada anak yang bisa amanah dan pandai mengatur keuangan, kan? Lah manusia saja seperti itu, apalagi Tuhan..

Orang sukses memulai hidupnya dari nol besar, tapi pantang menyerah dalam berusaha. Dalam bukunya, bang Ippho menceritakan kisah-kisah pribadinya yang sangat menginspirasi. Garis besarnya sih sebenernya hampir sama dengan buku pertamanya yang berjudul “7 Keajaiban Rejeki” (lain kali akan saya bahas juga), dimana sedekah menjadi action utama. Sedekah itu sebenernya yang memberi yang butuh, bukan yang diberi. Karena, jika percaya bahwa sedekah itu pemancing rejeki, berarti kita juga percaya bahwa, “Di dalam sedekah telah tercakup tabungan, asuransi, dan investasi”, hal 57. Siapa yang tak percaya dengan pernyataan barusan? Itu janji Alloh loh.. Bukan janji bang Ippho.  “Orang yang bersedekah ala kadarnya, namun berharap rejekinya berlimpah-limpah, berharap hidupnya serba indah, dan berharap masuk surganya lebih dengan mudah, menurut saya, inilah orang yang tidak tahu diri”, hal 54, aduh makkk.. pasti banyak yang tertohok nih dengan pernyataan barusan. “Kalaulah Anda nekad bersedekah, maka rezeki pun akan nekad datang kepada Anda”, hal 58, ini berlaku untuk semua umat manusia, tanpa pandang bulu, apa pun agama, budaya, maupun asalnya. Siapa yang bersedakah, bersiap-siap saja menemukan kejutan-kejutan hasil skenario-Nya.

Menurut bang Ippho juga, berdasarkan manfaat, dalam kehidupan di dunia ini manusia hanya bisa diklasifikasikan menjadi dua, solusi atau masalah. “Jadilah bagian dari solusi, jika tidak, cepat atau lambat, Anda akan menjadi bagian dari masalah”, hal 59. Dalam bekerja, selain niat mencari nafkah untuk menggapai ridho-Nya, niatkan pula untuk membantu orang lain, maka niscaya pekerjaan akan terasa lebih enteng. Kalau tidak mau menjadi bagian dari masalah, menjadi bagianlah dari solusi, solusi untuk orang lain. Hi.. Naudzubillahimindzalik.. Mengerikan ya membayangkan kalau kita bagian dari masalah bagi orang lain.

Selain sedekah, ada hal-hal lain yang harus dilakukan calon Moslem Millionare, yaitu berbakti kepada orang tua, baik berupa uang maupun selain uang. “Manfaat berbakti itu lebih kepada kita, bukan kepada orang tua. Lihat saja, bukankah berbakti itu mengundang rejeki, bahagia, dan pahala? Yang perlu digaris bawahi tebal-tebal, orangtua baik atau tidak, kaya atau tidak, seiman atau tidak, tugas kita adalah berbakti”, hal 68. Sepengamatan saya, memang ga ada riwayat orang sukses yang berani terhadap kedua orang tuanya. Rata-rata mereka akan sangat sayang, berbakti, dan terus meminta doa restu ibu dan bapaknya. Saya, sebagai anak bungsu memang sangat dekat dengan kedua orang tua saya. Setiap habis salat berjamaah atau sedang ngobrol-ngobrol santai, saya selalu minta doa yang sama dengan apa yang saya panjatkan. Restu dari orang tua itu penting, membahagiakan mereka sangatlah penting. Kalau orang tua tidak menghendaki, sekuat apa pun doa kita, keinginan-keinginan kita akan sangat lama tercapai, dan penuh dengan halangan-halangan. So, jika pendapat kita berbeda dengan mereka, cobalah untuk mengomunikasikan dengan baik. Kalau saya sih, jika pendapat saya dan ibu saya berbeda, saya pasti langsung akan bilang,”Mama, jangan bikin aku berdosa sama mama gara-gara ngeyel sama mamaaaa”, dan tentu saja dengan nada sesopan mungkin. Simsalabim.. Ibu saya pasti langsung diem, kami sependapat, dan kami ngobrol seperti biasa lagi, hehehehe. Intinya komunikasi yang baik, insyAlloh semua beres.

“Tentukan bidang yang benar-benar Anda cintai dan bersungguh-sungguhlah disana. Pegang kata-kata saya, kita dapat sukses di bidang apa pun, tapi kita hanya akan sukses luar biasa di bidang yang benar-benar kita cintai”, hal 20. Dalam bekerja, kita butuh passion. Dengan adanya semangat melakukan apa yang kita cintai, maka kita enjoy menjalani hari-hari, dan tak ragu dalam melangkah. “Ambillah sebuah keputusan dengan yakin. Itulah ciri Moslem Millionare. Saat Anda ragu-ragu, sebenarnya Anda yakin untuk gagal”, hal 33. Yuk kita lihat cara otak kiri dan penjelasannya melalui otak kanan dalam berpikir:

Otak Kiri

Penjelasan dengan Otak Kanan

Rejekiku seret Bukan rejeki yang seret, mungkin sedekah kita yang masih seret.
Hidupku tidak nikmat Bukan nikmat yang kurang, mungkin syukur kita yang masih kurang.
Aku tidak dicintai Bukan cinta yang salah, mungkin pemahaman kita terhadap cinta yang salah.
Jodohku entah di mana Bukan jodoh yang tidak ada, mungkin kepantasan kita yang belum ada.
Relasi pun tidak seberapa Bukan relasi yang tidak ada, mungkin integritas kita yang belum ada.
Masa depan terasa suram Bukan masa depan yang suram, mungkin optimisme kita yang masih suram.
Keberhasilan tidak kunjung datang Bukan keberhasilan yang tidak ada, mungkin keyakinan kita yang tidak ada.
Hasil tidak jelas Bukan hasil yang perlu dipertanyakan, mungkin kegigihan kita yang perlu dipertanyakan.
Nasib begitu-begitu saja Bukan nasib yang begitu-begitu saja, mungkin ilmu kita yang masih begitu-begitu saja.

Hal. 30-31

Hayo siapa yang tertohok? *angkat jari telunjuk pelan-pelan. Inti dari tabel diatas adalah, instrospeksi diri. Kita harus pandai-pandai mengoreksi diri, menasehati diri sendiri, dilarang menyalahkan orang lain atau “menuntut” Tuhan. Otak kanan harus lebih dikedepankan. Jika otak kiri berperan lebih sering, maka yang ada hanyalah mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. “Bergaullah dengan orang-orang yakin, karena keyakinan itu menular. Sebaliknya, berada di tengah-tengah kelompok orang yang ragu-ragu hanya memperbesar keraguan Anda”, hal 33.

Disamping keyakinan yang kuat kepada Tuhan, sedekah, dan berbakti kepada orang tua, ada yang tak kalah pentingnya. Shalawat Nabi! Tepat pada bagian terakhir buku ini, saya terisak-isak membacanya. Rasa kangen pada Nabi junjungan kita, tiba-tiba menyeruak hingga saya tak bisa membendungnya. Betapa beliau sangat merindukan kita, umatnya yang tak pernah beliau temui, tapi “dipanggili terus” begitu beliau sakaratul maut. Bukan istri, anak, teman, menantu, atau malaikat-malaikatnya, tapi,”Umati.. Umati..Umati”. Beliau memanggili kita dalam akhir hayatnya. Hiks.. Sungguh tak tahu diri jika kita tak merindukan beliau. Seperti layaknya orang jatuh cinta, kita harus tahu sejarah beliau, sering menyebut-nyebut namanya, meneladani dan tidak mengecewakan beliau.

Bismillahhhh.. See You on The Top!



Leave a Reply