Menjadi Perantau Ala A. Fuadi

Bagi yang pernah merantau, khususnya ke luar negeri dalam waktu yang lama, pasti akan tertohok setelah selesai membaca ketiga buku best sellernya A. Fuadi, Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara. Seorang scholarship hunter yang saat ini sudah mendapat 9 beasiswa dari berbagai universitas dan negara, membuat dia piawai menceritakan kegigihannya dalam menggapai mimpinya. Diawali dengan ceritanya yang harus dipaksa mondok di sebuah Pondok Madani di Ponorogo, masuk di perguruan tinggi negeri di Bandung, ditinggal wafat ayahnya dan harus membiaya kedua adik beserta ibunya di Bukit Tinggi, kemudian mencari pekerjaan di Jakarta yang ketika itu sedang krisis moneter, proses pencarian jodoh, hingga mendapat beasiswa dan pekerjaan di luar negeri yang membuat dia bimbang antara pulang atau tetap tinggal di negeri orang.

Pengen curcol dikit nih, setelah mempunyai anak, kecepatan membaca saya turun beberapa derajat karena merawat anak. Malem-malem berniat menyelesaikan buku demi buku, eh udah ketiduran.. Malem-malem bangun mau ngetik, eh si anak ikut bangun juga.. Jauh banget ketika zaman belum punya anak, hehehe.. Jadi ya terputus-putus nih share ringkasannya, mohon maklum ya..

Alif, sebagai peran utama awalnya dipaksa mondok oleh bapak ibunya, dan sangat ogah sekali hijrah ke Jawa. Stigma masyarakat bahwa anak-anak yang masuk pondok adalah anak yang “nakal” dan “susah diatur” sempat meracuni dan membuat dia down ga bersemangat belajar. Tapi, karena rasa bakti kepada ayah dan ibunya, dia pun akhirnya masuk pondok dan menjalani tahun demi tahun dengan berbagai kejutan. Sistem pendidikan Pondok Madani yang digambarkan dengan ketegasan serta guru-guru yang sangat memotivasi, membuat Alif merasa beruntung masuk pondok ini. Dia pun mempunyai mimpi yang besar bersama kelima kawan dekatnya. Mimpi bersekolah di luar negeri. Alif yang berasal dari desa ini bermimpi suatu saat nanti bisa menempuh pendidikan di Amerika, yang saat itu entah bagaimana caranya belum bisa dia bayangkan. Pada buku pertama ini, saya mengacungkan jempol untuk para pengajar-pengajar yang diceritakan Alif, karena begitu memotivasi murid-muridnya. Perlu kita ketahui, di Indonesia memang bercecer guru-guru yang pandai, tapi begitu sedikit guru-guru yang bisa memotivasi murid-muridnya, karena itu bukanlah tugas yang mudah. Suntikan Man Jadda wa Jadda, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, telah Alif resapi dengan baik. Wahai pengajar, perlu diingat, bukankah ilmu termasuk amal yang tak bisa putus oleh mati? Didiklah mereka sebaik-baiknya yaaaa.. (pesan untuk saya sebagai ibu juga nih).

Pada buku yang kedua, Alif bercerita bagaimana dia bisa lolos masuk PTN di sebuah universitas negeri di Bandung.  Pada buku kedua ini pula, Alif untuk pertama kalinya mendapat kesempatan pertukaran pelajar di Kanada selama 6 bulan. Lumayan banget tuh untuk taraf mahasiswa. Jadi ingat dulu saya juga pernah ikut dalam ajang mencari beasiswa ke luar negeri, sayang belum beruntung, hihihi. Sekarang masih ada kesempatan ga ya untuk ibu-ibu dapet beasiswa? Sapa punya link nya? (serius tapi santai nih nanyanya)

Wafatnya ayah Alif membuat dia bersemangat untuk mencari penghasilan lebih dan hidup super hemat. Menumpang di kostan teman dengan biaya minim, sering berpuasa, dan bekerja sambilan menjadi sales. Sebagai manusia biasa, ternyata dia menyerah dengan kerja sambilan yang kerjanya sungguh berat dan sadar bahwa berdagang bukanlah keahliannya. Akhirnya dia banting setir. Kebetulan dia rajin menulis dan mau belajar menulis dengan baik melalui didikan seniornya yang super duper keras. Tuhan memang tak pernah menyia-nyiakan kegigihan umatnya, asal umat tersebut selalu diliputi kesabaran dan keikhlasan. Alif mendapat sambutan yang baik di kolom-kolom surat kabar. Pekerjaan yang dia tekuni berdasarkan hobinya itu berbuah manis. (Huwaaa… Betapa saya ngiriiiii.. Pengen tulisan saya dimuat lagiiii.. Kapan Difana waktu luangmuuuu? *tanya diri di depan cermin). Dia bisa hidup mandiri, membeli komputer baru, bahkan mengirimi ibunya uang bulanan. Man Shabara Zhafira, Siapa yang bersabar akan beruntung adalah slogan yang akhirnya bisa dia buktikan. “Hanya karena aku selalu ingat nasihat guruku di PM, untuk melebihkan usaha dari rata-rata…”, hal 355.

Pada buku ketiga, adalah tahun dimana negeri ini mengalami krisis moneter. Banyak karyawan-karyawan di PHK, harga makanan pokok selangit, dan gejolak ekonomi sosial yang tak menentu. Alif sebagai fresh graduate sekaligus karyawan di sebuah surat kabar Bandung harus menerima kenyataan bahwa dia di PHK. “Mungkin benar juga kata pepatah yang konon berasal dari Imam Al-Ghazali, “Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah”. Aku bukan anak orang kaya, bukan anak orang berkuasa, dan bukan pula anak orang terpandang, maka menulis sajalah yang harus aku lakukan”, hal 9.

Menginginkan kemuliaan seperti Imam Syafi`I dengan senang merantau, maka setelah wisuda, dia hijrah ke ibu kota, Jakarta. Di kota ini, dia berhasil diterima sebagai wartawan di perusahaan surat kabar yang sangat terpandang, Derap. Harus berani mewawancarai orang penting dengan cara yang unik, gigih meliput acara meski situasi dan kondisi tidak memungkinkan, serta harus memiliki harga diri dengan tidak meminta-minta uang kepada sumber berita sebagai pemeras. Meski dia bekerja sesuai dengan apa yang diinginkannya, dia tidak berhenti sampai disitu. Menurut Alif, menjadi karyawan saja kurang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia masih bisa mengirimi bulanan Ibunya, tapi dia juga harus berkorban untuk tidur di sebuah ruangan bersanding dengan buku-buku di kantor dan makan apa adanya. Mimpinya untuk bisa mendapat full beasiswa masih terus membayang-bayanginya. Disela-sela pekerjaannya yang menumpuk, dia masih semangat mendalami pertanyaan-pertanyaan TOELT.

Pucuk dicinta ulam pun tiba.. Akhirnya dia diterima di universitas terpandang di Amerika. Full beasiswa tanpa ada embel-embel apapun (hebatnyaaaa). Setelah satu semester disana, dia pun memutuskan untuk melamar calon istrinya yang tak lain mantan rekan kerjanya di Derap. Sampai disini, saya seperti flash back.  Calon mempelai  lelaki masih di luar negeri, sedangkan calon mempelai wanita di Indonesia. Terpisah oleh jarak dan waktu. Calon mempelai wanita mempersiapkan pernikahan “sendiri” (ciehhhh.. curcol lagi nih ceritanya, hehehe). Dan setelah menikah mereka pun merantau berdua di Amerika. Selesai kuliah, berkat kegigihan mereka, akhirnya mereka dapat diterima di sebuah perusahaan media Amerika. Kebetulan “duo maut” ini bekerja dalam satu perusahaan dan dalam satu tim.

Tapi ternyata sang istri, Dinara, menyimpan kerinduan yang teramat dalam pada negerinya. Di puncak karier dan kemudahan yang dia dapatkan di negeri orang tak lantas membuatnya terlena.

Masa susah kami sudah lewat, sekarang tinggal menikmati hasil setelah lelahnya berjuang. Mungkin ini saatnya bagiku untuk membalas dendam atas semua kesulitan masa lalu. Inilah saat aku menabung dan berburu investasi. Pulang bukan pilihan yang ada dalam pikiranku. Ini masaku. Ini momenku untuk aku manfaatkan. Pulang? Belum terpikir sekarang.

“Bang, cobalah pikir lebih panjang. Apa yang akan kita dapatkan di sini akan habis ketika kita mati. Apa yang kita nikmati ini hanya untuk diri sendiri. Saatnya untuk lebih bermanfaat.” Tiba-tiba di mataku Dinara berubah laksana seorang pengkhotbah nilai-nilai luhur bangsa. Dari mana dia dapat kata-kata itu?

“Kenapa harus Indonesia? Kalau mau bermanfaat, di sini juga bisa.”

“Kan Abang sendiri yang bilang, sebaik-baiknya manusia itu yang bermanfaat buat orang lain. Yang paling perlu manfaat itu ya Indonesia. Bangsa kita.” Dia tiba-tiba jadi nasionalis tulen.

Dia meneruskan,”Lagi pula, kita tidak akan jadi siapa pun yang besar di sini. Kita memang bisa hidup enak dan makmur, tapi kita tetap saja imigran.”

“Belum tentu. Kita bisa meraih American Dream. Kita cari, kejar, dan kesempatan itu ada. Kita bisa jadi siapa saja,” tangkisku.

“Bang, impian dan kesuksesan aja tidak cukup. Ada keluarga. Ada kampung halaman. Ada hubungan darah. Ada rumah”, hal 328-329.

Perdebatan alot sempat mewarnai percakapan mereka berdua. Dan akhirnya mereka pasrah, minta petunjuk kepada Alloh, dengan jalan isthikaroh.

Apakah ini benar-benar keinginan terdalamku, atau malah ini bentuk kekhawatiranku yang terdalam? Jangan-jangan aku khawatir untuk pulang ke Indonesia dan kehilangan semua kenyamanan dan kebebasan disini….

Mungkin aku sebenarnya tidak khawatir tentang pulang tapi lebih tepatnya, aku takut. Takut tidak nyaman”, hal 330.

Ya… Pilihan Alloh memang selalu yang terbaik untuk umatnya. Mereka akhirnya pulang, bahkan sudah digandoli oleh perusahaannya dan salah satu perusahaan media di Inggris, yang menawarkan berbagai fasilitas di atas rata-rata. Mereka memilih untuk berbakti kepada negeri, tanpa mengindahkan segala kenyamanan yang mereka terima di negeri orang.

Washington DC makin lama makin menjauh dari pandangan. Di ujung jendela aku menangkap pucuk Washington Monument yang mengerlip disiram sinar matahari. Aku pandang menara itu baik-baik untuk terakhir kalinya, sampai kerlipan itu hilang ketika pesawat kami berputar arah menembus langit menuju Jakarta. Menara impianku telah aku pagut, saatnya sekarang mencari menara lain, menuntut ilmu yang baru.

Hidupku kini ibarat mengayuh biduk membelah samudra hidup. Selamanya akan naik-turun dilamun gelombang dan ditampar badai. Tapi aku tidak akan merengek pada air, pada angin, dan pada tanah. Yang membuat aku kukuh adalah aku tahu ke mana tujuan akhirku di ujung cakrawala. Dan aku tahu aku tidak sendiri. Diatas sana, ada Tuhan yang menjadi tempat jiwa ragaku sepenuh nya bertumpu. Di sampingku ada Dinara. Temanku merengkuh dayung menuju muara. Muara diatas muara. Muara segala muara.

Seperti nasihat Kiai Rais dulu, muara manusia adalah menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Sebagai hamba, tugas kita mengabdi. Sebagai khalifah, tugas kita bermanfaat. Hidup adalah pengabdian. Dan kebermanfaatan, hal 395 .

Dan alhamdulillah, ternyata sang penulis memang benar-benar dibutuhkan oleh negeri ini. Dia membuat yayasan yang dinamai 5 menara, yang selengkapnya ada disini, dan website pribadinya disini. Intinya, bermanfaat.

Menuntut ilmu memang tak berbatas tempatnya, malah dianjurkan untuk merantau. Dengan merantau, kita bisa tahu bagaimana kehidupan orang di luar sana. Dengan merantau pula kita memahami kerinduan. Rindu untuk pulang, rindu untuk mengabdi padamu negeri, Indonesia.



Leave a Reply