1001 Alasan Memakai Cloth Diaper (Clodi)

Loh.. Udah habis..

Hah.. Habis lagi?

Yach.. Lagi ga promo..

Huehehehe.. Mungkin itu celetukan-celetukan saya ketika Fazna masih menggunakan “pampers”, alias pospak (popok sekali pakai), alias diaper. Sebulan dia bisa menghabiskan rata-rata 4 dos “Mamy Poko” yang isi 34 biji. Sebagai ibu hemat, saya pasti belinya pas lagi promo. Dari harga rata-rata Rp. 92.000,- menjadi Rp. 69.000-, lumayan lah diskonnya bisa buat snacknya Fazna, hehehe.

Tapi lama-lama capek juga berburu pospak promo. Apalagi, barang rutin mahal yang dipakai tersebut berakhir di tempat sampah. Tempat sampah yang  menggunung juga menjadi resiko dari penggunaan pospak setiap hari, aduh..duh.. duh.. Betapa sampah rumah tangga itu banyak sekali. Nggakunya orang “go green”, nggakunya pengen hemat dan berlaku sehat, kok sampah rumah tangganya seperti itu.. Padahal, menurut penelitian, pospak baru terurai sempurna di tanah setelah 500 tahun! Bayangkan.. 500 tahun.. Huhuhu.. Kasihan ya si bumi. Teruuuussss… Penggunaan pospak setiap hari juga membuat kulit pantat bayi gampang ruam-ruam.. Merah-merah.. Kan kasihan.. Coba, kita sebagai wanita, 2 tahun full pake pembalut.. Hiiiiii.. Seminggu aja rasanya sudah gatal-gatal..

Untuk itulah saya mulai mencari tahu, popok yang terkenal sehat, murah, dan go green (eh, yang pertama ngusulin sebenernya suami sih, hehehe). Namanya cloth diaper atau yang umum disebut clodi di Indonesia. Popok kain yang bisa dicuci yang ramah lingkungan. Setelah gogling, ternyata reviewnya buanyakkk.. Karena memang merknya beraneka ragam, baik bikinan lokal maupun non lokal.. Mulai dari cara pemilihan, pemakaian, perawatan, semua tersedia di internet untuk dibaca.. huehehe..

Nah, saya sudah mencoba 8 merk yang berbeda-beda dan ingin sharing dengan pembaca-pembaca sekalian untuk lebih mengenal dan memahami si clodi (InsyAlloh akan saya bahas pada artikel selanjutnya). Memang sih, di awal penggunaan kita harus investasi dulu. Namanya juga investasi, untungnya baru kerasa kalau sudah dibelakang hari. Kita lihat perhitungan simple seperti ini:

Pospak  premium: @Rp. 2.700 x 5 (jumlah pemakaian pospak sehari) x 2 tahun = Rp. 5.670.000,-

Pospak ekonomis : @Rp. 1.950 x 5 (Jumlah pemakaian pospak sehari) x 2 tahun = Rp. 4.095.000,-

Clodi lokal : @Rp. 100.000 (bisa lebih mahal atau lebih murah) x 18 = Rp. 1.800.000,-

Tuh lihattt.. Perbedaannya mencolok kan.. Lumayan selisihnya buat nabung.. hehehe.. Itu baru anak pertama, kalau anaknya  4? Tinggal dikalikan aja.. Menurut pengalaman saya sih, minimal harus punya 18 clodi untuk bisa full dipakai setiap hari dari pagi sampe pagi. Konon kalau perawatannya benar, bisa diwarisin tuh ke adiknya (saya sih belum membuktikan karena adiknya Fazna belum muncul, hihihi). Banyak juga kok teman-teman saya yang meski belum punya sampai 18 clodi tapi sudah merasakan kehematan si popok keren ini. Jadi tunggu apalagi? Kapan beralih pilihan untuk meminimalkan sampah rumah tangga kita? Buang kemalasan untuk mengurangi “jejak” hidup kita kepada si bumi.. Kasihan.. Si bumi sudah terlalu tua.. Dengan cara seperti ini juga, secara tidak langsung kita mengajarkan anak kita untuk menyayangi lingkungannya.

Tips dari saya adalah, sering-sering baca review clodi di blog orang. Sangat membantu untuk pemula pemakai clodi. Jangan beli satu merk langsung banyak, karena tidak semua bayi cocok dengan merk yang direkomendasiin orang lain. Cutting tiap-tiap bayi maupun clodi berbeda. Jadi lebih bijak beli satu merk satu biji, terus cobain. Kalau cocok, baru deh beli banyak (sssssttt.. pada artikel selanjutnya akan saya bahas jagoan clodi lokal maupun import versi saya beserta tempat belinya!).

Jangan lupa untuk prewash clodi sebelum pemakaian. Clodi dengan insert microfiber lebih aman di prewash 3x, cuci-kering-cuci-kering-cuci-kering-(baru) pakai. Hal ini bertujuan untuk menambah daya serap insert. Sedangkan clodi dengan insert bamboo, lebih aman di prewash minimal 5x. Lama amat Dif? Iya donk.. Namanya juga sudah ibu-ibu, harus lebih banyak belajar sabar, hihihi (soalnya saya juga begitu, yang ga sabar di bagian prewash-nya).

Cara penyimpanan clodi kotor sampai waktu mencuci ada 2 cara. Saya sih pilih cara yang praktis menurut saya. Setelah selesai ganti clodi, biasanya clodi-clodi kotor saya kumpulkan di ember yang ada tutupnya, biar baunya tidak merajalela. Kalau kena pup, baru deh langsung dibersihin kotorannya pake jet washer (itu lho, semprotan deket closet), trus dikumpulin ama clodi-clodi kotor lainnya. Paginya baru dicuci. Kalau cara yang satunya, ember diisi air, trus clodi-clodi kotor direndam sampai tiba waktu mencuci. Kamu pilih cara yang mana hayo..

Untuk urusan mencuci, bisa pakai tangan bisa pakai mesin cuci. Karena saya ibu rumah tangga yang ga kemana-mana, maka saya memilih untuk mencuci clodi pakai tangan. Dengan mencuci pakai tangan, maka deterjen yang digunakan juga bisa dikontrol. Rata-rata 1 sendok teh cukup untuk mencuci 4 clodi beserta insertnya. Ada deterjen khusus clodi, tapi menggunakan deterjen biasa juga ga papa kok, asal takarannya ga berlebihan. Ga perlu pewangi dan ga perlu disetrika (it`s really big NO). Oiya, inti dari mencuci clodi ada pada proses pembilasan. Jadi, sebisa mungkin bilas sampai benar-benar ga ada busanya. Saya sih biasanya membilas minimal 3x putaran. Masih bau atau ada noda pup yang membandel? Serahkan saja pada sinar matahari.. Dijamin pesingnya hilang dan nodanya memudar!

Baru sebentar dipakai sudah bau pesing, pantat bayi mulai merah-merah padahal sudah pakai full clodi, serta gampang bocor adalah indikasi performa clodi yang turun. Clodi lokal maupun import akan mengalaminya. Jadi, sebelum keadaan tersebut terjadi, maka kita bisa mencegahnya dengan cara stripping. Apa itu stripping? Stripping adalah metode merendam clodi dengan air panas (bukan mendidih) berulang-ulang untuk melunturkan residu-residu atau sisa deterjen yang mengurangi performa si clodi. Kalau mau praktis, stripping bisa dilakukan dengan bubuk sejenis deterjen, namanya RLR, belum nyoba sih. Tapi konon katanya sisa-sisa busa yang menempel di clodi langsung lepas berhamburan. Ntar ya kalau sudah saya coba, saya share buat teman-teman, hehehe. Untuk perawatan, stripping bisa dilakukan sebulan sekali. Sayangkan.. Clodi mahal-mahal kalau tidak dirawat dengan benar.

Repot?? Atau masih malas beralih ke clodi?? Hehehe.. Kalau dibandingkan dengan pospak, sisi praktisnya memang ga ada yang ngalahin. Tapi dari sisi kehematan dan kesehatan lingkungan, clodi ga bisa diganggu gugat. Untuk pertama-tama, ga ada salahnya bertahap. Misalnya dikombinasi, dari pagi sampai sore pakai clodi, kemudian malamnya pakai pospak. Naik tingkat, pakai pospak kalau keluar saja. Naik tingkat lagi jadi full clodi, sekalipun di tempat umum. Saya sih masih ada di tingkat kedua, jadi kalau keluar-keluar ke tempat yang tidak bisa diprediksi keadaannya (apalagi di Jakarta ya.. macet dimana-mana), masih menggunakan pospak. Soon sih pengennya pakai clodi meskipun tidak dirumah.. Tapi dinikmati lah step by step-nya..Toh saya juga jarang keluar, jadi sampah karena pospak tidak menggunung seperti dulu. Hehehe..

Pilihan tetap ada ditangan ibu-ibu cerdas. Tapi ga ada salahnya mencoba dan merasakan sendiri kehematan dan kesehatan dari si popok go green ini. Salam clodi, salam happy!



2 Responses to “1001 Alasan Memakai Cloth Diaper (Clodi)”

Leave a Reply