Memaknai Setiap Tanda

“Tuhan, perkenankanlah aku menemani ibuku saat ia menjemput ajal…”, Ayu Utami, 121.

Kematian itu pasti bagi setiap mahkluk hidup. Datangnya bisa cepat atau lambat. Jika ingat mati, atau orang yang kita sayangi mati, rasanya hidup harus dibikin sebermanfaat mungkin untuk orang lain. Harus berlomba-lomba menabung kebaikan. Ayu Utami sering mendengung-dengungkan spiritualisme kritis di buku-bukunya, termasuk di bukunya kali ini, Simple Miracles, Doa dan Arwah.

“Spiritulisme kritis adalah penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis”, Ayu Utami, 56. Maksud dari spiritualisme kritis yang saya tangkap dalam buku ini adalah, bahwa spiritual itu jangan ditelan bulat-bulat begitu saja, ada hal-hal yang mendasari tiap hukum tersebut (sebab-akibat). Dan sebagai manusia yang beragama dan beradat, kita wajib mengkaji hukum-hukum tersebut, agar kita paham, mana yang benar, cocok, dan baik untuk masing-masing individu tanpa ada paksaan. Dalam buku ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan dari penulis, tentang kehidupan setelah mati, memandang skeptis kepercayaan orang Jawa bahwa 40 hari setelah wafatnya seseorang, sebenernya roh tersebut masih berputar-putar di dalam rumahnya, betulkah hari Jum`at Kliwon dan Selasa Kliwon adalah hari keramat untuk orang Jawa, dan lain-lain.

4

Buku ini adalah lanjutan dari buku Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan Eks Parasit Lajang (biar lebih runtut, baca dulu ketiga buku ini ya). Saya termasuk salah satu big fans nya Ayu utami, karena tulisannya keren, tidak ada yang ditutup-tutupi, dan realistis (meski sedikit vulgar). Semua bukunya jadi koleksi saya. Tapi, ketika buku ini terbit dan membaca sinopsinya, kok ada bagian agak ngerinya ya, hehehe. Habis, ada tokoh yang bisa melihat serta berkomunikasi dengan roh dan mahkluk halus lainnya. Sebenarnya saya bukan orang yang penakut. Kecuali setelah membaca cerita atau film yang bergenre horror, aduh… Jaminan deh kemana-mana minta ditemani.. Sekalipun ke kamar mandi, hahaha. Jadi, selama membaca buku ini, suami juga harus pas melek, kalau dia mau tidur, saya paksa untuk melek juga.. Hihihihi..

“Aku sangat suka baca Alkitab. Ada banyak cerita seru dalam Perjanjian Lama. Samson dan Delilah. Laut Merah yang terbelah. Yusuf dan mimpi yang menyelamatkan. Daniel menjinakkan singa. Ratu Esther yang cantik. Tapi juga ada banyak cerita seram. Kutukan Tuhan hanya saat mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden. Pelbagai aturan di zaman Nabi Musa. Upacara kurban. Penyerbuan antar sukubangsa. Kekerasan di era raja-raja. Aku tak bisa bersimpati pada Tuhan yang  menurunkan hukum rajam, pengucilan, dan lain-lain yang sungguh terasa sebagai pelanggaran hak asasi manusia dari kacamata sekarang. Terus terang, aku tidak bisa berdoa pada Tuhan yan seperti itu”, Ayu Utami, 77. Hampir seperti saya, ketika berdoa, saya hanya bisa membayangkan Tuhan sebagai sosok “sahabat” dekat, “kekasih” yang sangat saya cintai, hingga kadang-kadang ada tawa dan manja dalam dialog doa saya. Saya ga bisa membayangkan Tuhan yang keras. Padahal tentu saja Tuhan bisa bertindak keras dan tegas terhadap umat yang melanggar aturan-Nya. Tapi saya tak bisa begitu, bagi saya, Tuhan bersosok “manis” kepada umatnya.

Background penulis beragama Katolik, Jawa, dan Indonesia, membuat dia mampu merangkai kebetulan-kebetulan yang memberi makna dalam kehidupannya. Tapi, menurut penulis, tanda-tanda itu berlaku bagi yang percaya saja.

“Pada kakak-kakakku yang lain ia berhasil. Padaku ia gagal. Itu mungkin karena aku memang tidak begitu percaya dan jadi bersikap tertutup. Mungkin sikapku terlampau skeptis. Jangan-jangan, petunjuk gaib memang hanya berlaku pada yang percaya”, Ayu Utami, 95. Hmmmm.. Saya jadi ingin berbagi pengalaman tentang memaknai tanda -tanda. Karena saya seorang muslim, tentu saja saya sangat mempercayai Al-Qur`an. Kitab ini juga biasa dipergunakan sebagai alat isthikaroh untuk beberapa kalangan alim ulama. Suatu ketika (halah), saya mengumpat orang setengah mati. Rasanya saya berada di posisi yang sangat benar, dianiaya (secara psikologis), dan orang yang saya umpat itu adalah sosok yang memang pantas untuk diumpat. Saya umpat habis-habisan dan saya yakin kebencian saya (waktu itu) ada di ujung tanduk. Hingga Maghrib menjelang, akhirnya saya mencoba menenangkan diri dengan shalat dan mengambil Al-Qur`an yang ada terjemahannya pula. Saya membuka secara acak dan membaca beberapa ayat. Betapa kagetnya saya, bahwa arti dari ayat yang saya baca adalah hukuman bagi para pengumpat. Bayangkan! Dosa yang sangat besar baru saja terjadi, dan saya adalah pelakunya, bukan yang saya umpat. Beberapa menit yang lalu saya telah melakukan pengumpatan yang luar biasa kasarnya. Saat itu saya langsung menangis ga karuan. Istighfar berkali-kali, huhuhu.. Kalau ingat saat itu rasanya amazing sekali! Tuhan mengingatkan saya tanpa basa basi, entah kebetulan entah karena Dia begitu sayang terhadap saya. Tapi bukankah tidak ada yang kebetulan didalam hidup ini? Berarti memang benar bahwa tanda-tanda hanya bisa dimaknai orang yang mempercayai sistem makna itu.

“Tak lama kemudian Ibu tidak tampak gelisah lagi. Ia tidak berusaha melepas pipa oksigen. Aku berdoa sambil memandangi ibuku; nafasnya yang mengeras lalu dadanya jadi tenang. Dua atau tiga kali. Aku tak percaya, tapi aku merasa ibuku sedang berangkat. Persis pada pertengahan Rosario, ketika Salam Maria mencapai puluhan yang ketiga, kulihat dada Ibuku hening sama sekali, setelah nafas yang keras. Mataku basah. Setitik air mengalir kecil dari mata kiri ibuku juga”, Ayu Utami, 143. Saya merinding dan terharu sekali di bagian ini. Bisa menemani orang yang kita sayang untuk “berangkat” menghadapNya adalah suatu momen yang istimewa. Saya juga bercita-cita, kelak ingin mati tanpa merepotkan orang.

Alasan saya akhirnya meresensi buku ini adalah, dimana terdapat keharuan, kematangan, dan kedewasaan dalam ceritanya (saya jadi membayangkan orang-orang yang saya sayangi tiba-tiba menghadap-Nya, hiks). Jika di buku-buku sebelumnya terdapat pandangan feminis yang sangat terlihat jelas, dalam buku ini, penulis membicarakan tentang kematian dan tanda-tandanya bagi orang yang bisa melihat tanda-tanda, serta mempercayai tanda-tanda tersebut. Kalau menurut pengalaman orang-orang Jawa, memang orang yang akan meninggal selalu menunjukkan tanda-tanda. Entah itu dari omongan atau perilakunya. Dan hanya orang-orang yang sensitif saja yang bisa menangkap pesan-pesan tak kasat mata tersebut. Tapi kalau ditilik dari segi agama, tak ada seorang pun yang tahu kapan dirinya maupun orang lain akan mati, karena itu semua hanya Tuhan yang tahu.

Terlepas dari itu, saya sebagai orang awam percaya bahwa mati tetap lah bagai dua sisi mata uang. Pasti dan misteri.



Leave a Reply