Bumi Berputar..Demikian juga dengan Kehidupan

“Bapak asli sini?”
“Iya mbak….”
“Ga pernah kemana-mana gitu?”
“Hm… sempet kerja di Kalimantan Timur sie mbak… tapi cuma sebentar. Mbak asli mana?”
“Surabaya pak (ngaku-ngaku…kalo aku bilang asli kertosono mungkin orangnya bakalan nanya: Kertosono itu ada di “atlas” ga mbak?). Bapak udah lama kerja sebagai sopir bemo?”
“Hm… Lumayan mbak..” (dan raut wajahnya mulai berubah).

PC120024
Perjalananku ke Martapura kemarin tak luput dengan kendaraan yang bernama bemo. Bemo yang murah dan berjasa ini lebih nyaman dinaiki daripada bemonya Surabaya low (atau mungkin kebetulan yang pas tak tumpangi ini friendly abis,hehehe..). Sebenernya aku bukan orang yang selalu mengadakan “wawancara” (sebutan tmn2ku kalo aku udh mulai sok kenal) di suatu tempat yang baru. Hanya saja kalo aku lagi mood ngobrol… orang yang keliatan judes pun tak deketin juga.. tak ajak ngobrol ngalor ngidul… tapi kalo mood lagi jelek… perjalanan Surabaya-Jakarta (naek kereta) juga bisa jadi hari bisu berjuta bahasa. Anehnya… orang disampingku kebanyakan ngajak ngobrol duluan twuh.. ^^

Sunah seorang muslim, ketika bertemu atau berkenalan dengan orang baru adalah hafal namanya (itu yang selalu diajarkan oleh bapakku). Coba bayangin.. diajak ngbrol kesana kemari tapi gtau namanya…. Payah y?? Dan itu aku :(. Iya… aku lupa nanya nama orang itu… habis orangnya keburu curhat sie… Jadi pendengar yang baik dweh… Ya udah… Apalah arti sebuah nama? (ngeles mode on…hehe..)

Kita sebut namanya pak “X” aja ya?? Dengerin beliau ngomong, keliatan bgt kalau orang ini berpendidikan. Diksi serta cara dia bertutur menandakan bahwa dia pernah menempuh sekolah yang cukup tinggi. Dan ternyata benar. Dia pernah sekolah di universitas negeri jurusan komunikasi.
“Saya dulu pernah kuliah juga mbak.. Jurusan komunikasi.”
“Oiya pak?! Trus kenapa sekarang jadi sopir angkot?”

Semasa SMA, pak “X” sudah mulai bekerja di bidang onderdil mobil. Bolak-balik perjalanan Surabaya (wedoro)-Martapura menjadi makanannya tiap seminggu sekali. Waktu dia SMA, alat komunikasi tercanggih saat itu hanyalah telegram, jadi untuk memesan barang, harus liat sendiri kondisi serta kebutuhan yang dia inginkan. Mulai kuliah, saatnya ganti pekerjaan. Perjalanan bolak-balik yang melelahkan dia tinggalkan dan beralih ke pekerjaan proyek. Waktu itu daerah Kalimantan Timur pedalaman mulai interest dengan yang namanya telepon rumah. Dan pak “X” ini yang dapet pengadaan tersebut, pasang telepon rumah. Bisa dibayangkan kan, Kaltim yang sangat luas sedang memerlukan “sentuhan komunikasi” dan ternyata pak “X” yang bisa membaca peluang. Jadi, saat itu dia sedang jaya-jaya nya, roda kehidupannya berada di posisi teratas.

Tapi tidak semua pekerjaannya berjalan mulus. Di tengah-tengah ia merasakan nikmatnya “beruang”, ia harus mengalami ujian hidup yang pertama. Fleksi masuk. CDMA yang murah dan bisa ditenteng kemana-mana menjadi pesaing telpon rumah yang tak bisa dipandang sebelah mata. Akhirnya dia harus bisa mencari celah untuk memulai pekerjaan yang baru. Disinilah letak perbedaan antara wiraswasta dan pegawai negeri. Seorang pegawai negeri cenderung mengalami kehidupan yang lempeng serba teratur, sedangkan seorang wiraswasta harus lebih survive (melakukan inovasi) karena pekerjaan yang tidak menentu, jadi selalu memikirkan bagaimana kehidupan di esok hari. Fleksi semakin merajalela, dan pak “X” harus ekstra keras memutar otak. Kalau dia tidak bekerja ya ga dapet pemasukkan. Karena tabungannya cukup banyak kala itu dan melihat potensi yang ada di Kaltim, dia memberanikan diri untuk membuat PT yang berkecimpung di bidang batu bara. Surat-surat ijin sudah di sahkan, mulailah dia menambang.

Tapi rupanya Alloh sayang banget ma bapak yang satu ini. Dia kembali diuji untuk mendapatkan derajat yang lebih tinggi di mataNya, mengalami goncangan kehidupan untuk kedua kalinya. Batas yang dia tambang melebihi yang tertera di surat ijinnya. Otomatis dia kedenda, apalagi waktu itu BBM naek dua kali lipat (waktu SBY jadi presiden diawal pemerintahannya), masa-masa yang cukup susah untuk orang-orang yang sedang memulai usaha barunya seperti pak “X” ini.
“Trus gimana pak?”
“Berat mbak, pekerjaan baru mulai, hasil belum sempat dicicipi, tapi saya harus bayar denda dan hutang-hutang di bank. Ludes sudah.”
“Hah?!” (sambil melongo aku. Bayangin, merintis usaha dari awal dan harus lenyap untuk bayar hutang..hik…merinding..).
“Dan yang tersisa di dompet saya cuma SIM, mbak.”

Sekali lagi perlu penekanan, seorang wiraswasta harus pandai membaca peluang. Dan pak “X” yakin SIM nya pasti bisa menghasilkan uang. Demikian pak “X” mensugesti dirinya sendiri. Alhasil dia melamar pekerjaan sebagai sopir angkutan. Bener-bener seorang wiraswasta sejati. Jatuh, tapi semangatnya ga jatuh. Mentalnya menang menantang zaman.

Pak “X” memang mengalami tekanan hidup yang luar biasa. Dimasa-masa terberatnya, kehidupan pribadi orang yang satu ini juga mengalami prahara. Percekcokan sering terjadi antara pak “X” dan istrinya. Ketika dia sedang “jatuh tersungkur”, istrinya ia kembalikan ke keluarganya. Dia ga mau sering bertengkar, dan kasihan melihat istrinya jadi kepikiran (padahal sosok seorang istri mestinya diperlukan disaat-saat seperti ini ya? Dukungan serta doa seorang istri sekiranya bisa membantu meringankan beban suami, tapi tiap rumah tangga memiliki aturannya sendiri-sendiri, ga komentar macem-macem dweh).

Dia harus bekerja ekstra keras untung bisa menyambung hidup. Hari-harinya dia habiskan untuk menyopir angkutan itu. Meski berpisah dengan istrinya selama sembilan bulan, tapi ia tak melupakan kewajibannya sebagai seorang suami. Setiap minggu ia selalu mengirimi istrinya uang mingguan, sekitar 50rb perminggu. Roda kehidupan mulai menunjukkan perubahan. Tapi dia tak bisa merasa tenang begitu saja, karena nyamannya orang memakai sepeda motor juga menjadi ujian hidup yang ketiga baginya. Geliat pemakai angkutan umum mulai berkurang. Lama kelamaan banyak sopir angkutan yang mengundurkan diri. Mobil-mobil angkutan nganggur, pemilik angkutan-angkutan pun membutuhkan banyak sopir untuk mengendarainya. Pak “X” mampu membaca kondisi kritis seperti ini. Baginya, mengendarai satu mobil saja sangat kurang. Alhasil dia menyopiri empat mobil angkutan yang berbeda low. Bener-bener ulet nie orang. Kemauannya keras. “Sumbut” dengan semangatnya.
“Ini mobil angkutan bapak sendiri?”
“Iya mbak. Beberapa tahun yang lalu saya dipanggil bank, bukan karena harus membayar hutang, tapi ditawari kreditan mobil. Soalnya, pemasukan rutin sebagai sopir angkut saya masukkan bank, tapi tiap akhir bulan, tabungan mesti saya ambil untuk bayar sewa mobil ini. Akhirnya pihak bank menawarkan kebijakkan tersebut. Saya sampek diwawancarai macem-macem mbak.”

Semangat orang setengah baya ini pun mampu menarik perhatian kepala bank. Dari yang tadinya hanya bisa menyopiri, beberapa bulan kemudian dia bisa menyewa. Ya… Mobil-mobil angkutan yang nganggur banyak itu pun dia sewa. Dengan menyewa mobil tersebut, uang yang dihasilkan pun lebih maksimal. Suatu pekerjaan itu menjadi terasa barokah jika istiqomah dan ikhlas dalam menjalankannya. Awalnya dia memang menyewa, tapi lama kelamaan dia bisa membeli mobil angkutan tersebut. Belinya ga tanggung-tanggung low… punya enam mobil angkutan!!! Salah satunya yang dia sopiri itu. Tapi tentu saja belinya bertahap.

Keadaan ekonomi sudah mulai aman, dan ia pun memberanikan diri untuk “mengambil istrinya” lagi. Salut aku ama bapak yang satu ini. Kok yo bisa memaafkan istrinya ya? Kok yo masih sayang sama istrinya? Disaat yang rumit seperti kemarin-kemarin malah ga didampingi. Mestinya sang istri bersyukuuuur bgt punya suami seperti pak “X” ini. Akhirnya sang istri pun mau balik di pelukan bapak ini.

Perputaran suatu kehidupan menjadi lebih berwarna dengan tempaan-tempaan yang dilalui oleh seseorang. Perjalanan hidup menjadi lebih berarti dengan adanya perjuangan. Aku yakin, tidak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan hambaNya. Setiap pertemuan pasti memiliki tujuannya sendiri-sendiri. Aku cukup tersentil dengan takdir pertemuan ini. Cerita serta semangat pak “X” cukup membukakan mata batinku untuk lebih sensitif dengan kondisi sekitar.
“Berarti bapak sudah punya rumah dunk?”
“Belum mbak…. masih kontrak. Sebenernya uangnya dah ada mbak, tapi uangnya mau buat beli angkutan lagi. Yang penting keuangan mengalir mbak. Ada pemasukan dan pengeluaran yang rutin. Kalo saya buat beli rumah sekarang, uangnya mandek donk mbak. Saya pesen aja ma mbak… Kalo pengen jadi wiraswasta itu cirinya harus berani mbak, harus bisa membaca peluang di setiap sikon. Kenapa Amerika bisa menjadi negara adikuasa? Karena generasi mudanya tangguh-tangguh mbak. Beda dengan generasi muda di Indonesia yang isinya njagain orangtua.”

Dan perjuangan itu masih berlanjut……..

IMG_1605



7 Responses to “Bumi Berputar..Demikian juga dengan Kehidupan”

  • gunturhp Says:

    mirip dengan lagu ini artikel diatas:
    Roda-roda terus berputar
    Tanda masih ada hidup
    Kar’na dunia belum henti
    Berputar melingkar searah

    wah tapi salut dengan web difana.com mu
    keren & informatif
    bisa jd wadah buat ngasah kemampuan olah kata dan pikiran.. maju terus sastra indonesia.. ^^

  • cencen Says:

    kisah sebagus itu gak akan tersamapikan dengan bagus kalau penulis tidak bisa menyampaikan dengan indah.. kamu udah berhasil ukh.. serasa tidak sekedar mendengar cerita sopir bemo ^^
    pak sopir nya gak kamu apa apain kan sampe bisa semangat cerita? di kalimantan lo.. hehehehe jangan jangan nyasar ke sopir bemonya malahan.. ;p

  • diva Says:

    @masgun:makasie ya mas… ^_~
    @cencen:hehhe…gag tau..sopir bemonya baik bgt… aku nanya sekali..orangnya langsung curhat…mungkin karena dy dari pagi belum dapet penumpang..rombonganku yang pertama low..padahal itu dah jam3 sore…kasihan ya… 🙁

  • cencen Says:

    oalah.. jangan jagan udah tau gitu tapi difana bayar nya pake nawar lagi? heheh

  • diva Says:

    hahaha…gag lah…gag tega aku…

  • rizza Says:

    bagusssssssssss banget dif….

  • diva Says:

    @rizza:masak tho??thanks a lot ya…. ^_^

Leave a Reply