Ibuku, Malaikat Tak Bersayap

Dear Ibu, aku sayang karena ibu adalah orang yang tak mempunyai alasan untuk tak disayangi. Ibu, ajari aku untuk menjadi wanita yang mempunyai hati selembut hatimu, tegar seperti karaktermu, dan kuat seperti pendirianmu. Aku tak tahu akan menjadi wanita seperti apa jika bukan karena pengasuhanmu.

Hampir 2 tahun yang lalu, ketika detik-detik pertama aku akan menjadi seorang ibu, engkau adalah satu-satunya sosok yang menyemangati aku dengan kasih sayang. Aku yang saat itu belum berpengalaman, mendapati tuntutanmu yang begitu berarti. Berpisah dengan suamiku sejak usia kehamilanku menginjak 7 bulan, membuat mentalku sedikit terbebani. Istri mana yang tidak mengharapkan kedatangan suaminya disaat-saat genting seperti itu? Istri mana yang tidak sedih ketika suaminya tidak bisa pulang cepat karena kerja diluar negeri? Tapi aku sangat bersyukur, memiliki orang tua, terutama ibu yang sangat peduli. Aku tak pernah menyalahkan keadaan, justru aku dapat mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa, meskipun aku sudah menikah dan mempunyai anak, ternyata aku masih sangat membutuhkan ibu sampai kapan pun.

11

 

(Foto ini diambil beberapa hari setelah melahirkan dan hendak pulang. Wajahku sangat kucel, Fazna masih merah, tapi ibuku tetap cantik).

Beliau adalah orang yang bangun malam-malam membangunkanku ketika bayiku menangis minta susu. Beliau pula yang dengan sigap mengganti popok bayiku karena waktu itu aku belum bisa leluasa bangun karena jahitan di perutku belum kering. Hal-hal tersebut terdengar sepele, tapi sangat berarti untuk ibu baru sepertiku saat itu. Dan ketika pertama kalinya aku memberikan ASI (Air Susu Ibu) untuk bayiku, lagi-lagi ibuku menyemangatiku. Lecet-lecet pada (maaf) putting akibat cara menyusui yang dirasa kurang benar terasa sangat menyakitkan. Aku hampir selalu menangis ketika akan menyusui bayiku, karena rasanya sakit sekali. Tapi ibuku selalu mengingatkan bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi. Setiap tetes adalah ladang amal bagi seorang ibu. Lambat laun lecet-lecet tersebut sembuh dan aku bisa menyusui anakku dengan lancar sebulan kemudian.

Ibuku menyambut bayiku dengan sukacita. Tak lain dan tak bukan, karena Faraza Naureen Achda, nama bayiku ini, adalah cucu perempuan yang ditunggu-tunggu oleh ibuku. Ini seperti hadiah yang bisa kuwujudkan untuk ibuku (ibuku memiliki tujuh cucu, lima laki-laki dan dua perempuan). Tapi sayang, cucu ibu yang perempuan satunya, tidak boleh dipinjam oleh mantan kakak ipar. Padahal, ibuku selalu mengingat Nayla, kakak sepupu perempuan Faraza. Mengumpulkan barang demi barang untuk dikirim ke Nayla adalah agenda rutin ibu setiap tahun. Itulah mengapa, bayiku ditunggu-tunggu ibu.

Dalam hal menyayangi, beliau tak pandang pilih. Kini aku tinggal di Jakarta dengan anak dan suamiku, sedangkan Ibu di Kertosono, salah satu kota kecil di Jawa Timur. Jika ibuku sedang jalan-jalan ke mall atau pasar, semua cucunya selalu dibelikan mainan, termasuk Faraza. Hampir sebulan sekali ibu selalu mengirim paketan untukku dan cucu perempuannya. Kadang ibu mengirimi aku dan Faraza baju lucu dan bagus, cemilan bergizi, buah mangga yang segar, mainan baru, dan lain-lain. Hehehe.. Kadang aku menolak untuk dikirimi, karena aku takut merepotakan, lagian semua itu sebenarnya ada di Jakarta, dan alhamdulillah aku tak kekurangan apa-apa. Tapi Ibuku selalu begitu, ingin memastikan aku dan cucu perempuannya senang.

Aku sering mendengar tentang perangi Ibu yang sangat terpuji dari adik-adik ibu, yang berarti tanteku. Dulu, kata tanteku, setiap pulang kuliah (pulangnya sebulan sekali itupun belum tentu), ibuku yang merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara selalu membawa mainan untuk adik-adiknya. Padahal saat itu, kondisi keuangan ibu sangat pas-pasan. Tapi dengan kasih sayang dan keahlian mengatur keuangan, beliau masih bisa berbagi. Ya.. Ibuku sangat suka memberi.

Tak jarang ibu menghubungiku untuk menanyakan kabar, video call untuk mengetahui perkembangan cucunya, bahkan memintaku untuk sering-sering mengirim foto Faraza. Beliau sangat mencintai Faraza. Jika sampai beliau tahu bahwa Faraza sedang sakit atau tak nafsu makan, maka ibuku tiba-tiba menjadi sosok yang sangat cerewet. Harus segera ke dokter, harus segera minum obat, harus segera dibikinkan makanan ini itu, pokoknya beliau ingin keadaan segera membaik.

Begitu juga dalam pemilihan produk sehari-hari yang dipakai Faraza. Terkadang ibu bisa juga bersikap fanatik untuk beberapa hal. Dari dulu ibu selalu menyuruh aku untuk membeli produk-produk Zwitsal. Selain wangi, kata ibu, aku dulu juga memakai produk ini. Jadi, tak ada alasan untuk ganti-ganti produk. Dan aku sendiri memang menyukai manfaat-manfaatnya. Lebih dari sepuluh orang teman menanyakan tips bagaimana rambut Faraza bisa sangat tebal dan hitam. Tentu saja langsung aku jawab, bahwa dia Zwitsal addict, dan salah satu alasan kenapa rambutnya begitu bagus karena menggunakan hair tonic setiap habis keramas.

Hmmm.. Mungkin karena aku adalah bungsu dari empat bersaudara, atau mungkin karena Faraza adalah cucu perempuan yang beliau tunggu, kami menjadi sangat dekat. Ibuku jarang sekali menangis di depan umum, tapi setiap kali aku berangkat merantau ke Jakarta, Ibu selalu menangis. Dinding pertahanannya seakan runtuh. Ibu pun pernah berbicara padaku, bahwa bila ibu sudah sangat tua, ibu ingin aku dan Faraza ada di dekatnya. Hiks…

Ibu.. Ingin sekali aku mengabulkan keinginanmu, tapi saat ini aku belum bisa Ibu..

Aku harus menemani suamiku di ibu kota. Ada rasa bersalah yang besar karena kali ini aku belum bisa memenuhi permintaanmu.. Tapi.. Aku akan berusaha bisa sesering mungkin untuk pulang.

Tuhan.. Ibuku orang baik yang tak pernah ingin menyakiti hati orang lain..

Tuhan.. Maafkan kesalahan-kesalahan orang tuaku, terutama ibuku yang begitu mulia..

Cintai dia..

Berikan dia umur yang berkah..

Badan yang sehat..

Rejeki yang melimpah.. Amien..

Ibu.. Kami sayang Ibu..

—–E N D—–

NB: Tulisan ini sebenarnya dinilai juri Zwitsal sebagai pemenang utama karena menurut penilaian mereka, tulisan saya ini paling spesial diantara yang lain (pada postingan yang selanjutnya, akan saya posting email-email dari pihak Zwitsal, dan rasa bersalah saya terhadap manajemen ini) . Tapi berhubung saya tak bisa menerima hadiah utama, maka hadiah utama tersebut dioper ke peserta yang lain, dan tulisan saya ini tetap dijadikan salah satu dari 10 pemenang terpilih di seluruh nusantara. Terima kasih. 🙂



2 Responses to “Ibuku, Malaikat Tak Bersayap”

Leave a Reply