25 Hari Menuju Penyempurnaan Agama

Kututup album foto berwarna merah marun yang mulai pudar pada warnanya. Aku menyanyangi guru ngajiku. Namanya Bu Nur. Mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Berjilbab dan berkulit sawo matang. Memiliki tinggi badan lebih kurang 160 cm dan berat badan 55 kg. Tinggal dirumah mungil dengan ibundanya. Kemana-mana menggunakan jasa sepeda bututnya. Laju kehidupannya pun monoton jauh dari kemewahan. Sebenarnya sosok Bu Nur sama seperti perempuan desa pada umumnya. Guratan-guratan kelelahan nampak di wajah, halus tapi jelas terukir. Mengajar ngaji dengan penuh keikhlasan tanpa pamrih dan hidup serba sederhana. Tapi ada yang membedakan antara dia dengan wanita sebayanya. Bu Nur belum menikah. Usia yang telat nikah di lingkungan pedesaanku kala itu, bahkan di perkotaan.

Bu Nur si perawan tua. Beliau tegar menghadapi sang waktu. Meskipun banyak gunjingan miring, dirinya hanya bisa tersenyum, pasrah. Istiqomah menjalankan peran kehidupan sebagai seorang guru ngaji ia lalui. Sadar bahwa lahir, jodoh, rezeki serta mati sudah ada yang mengaturnya. Dan dia hanya seorang manusia yang ingin menjalani takdir. Aku sendiri adalah bekas anak didiknya di Masjid At-Taqwa yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Aku ingat pertama kali diajar olehnya ketika berusia 6 tahun. Hebat nian wanita ini. Mengajarkan aku dari yang buta tentang Al-Qur`an hingga proses penghafalannya dengan sabar. Bersama teman-teman sebayaku, sore hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan senja beramai-ramai. Setelah menyelesaikan proses hafalan surat-surat pendek di Juz 30, kami sering mengobrol dengannya. Dalam lingkaran itu, ada sekitar tujuh orang perempuan yang senang menimba ilmu padanya. Tapi aku yang paling dekat dengan Bu Nur. Sering aku sekedar maen dan memberikan oleh-oleh yang dititipkan ibuku untuk Bu Nur. Aku menyayanginya. Posisiku sebagai anak tunggal menjadikan beliau sebagai kakakku. Mungkin bisa juga sebagai teman, bahkan orang tua. Cerita seputar teman laki-laki yang cukup menarik perhatianku menjadi topik yang istimewa antara aku dan Bu Nur waktu itu.

Kadang terdengar pertanyaan usil dari temanku (yang saat itu sedang duduk di bangku SMP) tentang statusnya sebagai perawan tua.

“Bu Nur kenapa nggak nikah sie? Katanya nikah itu enak lo bu. Hehehe…”, tanya Upik yang memang rada slengekan.

“Sebenarnya Bu Nur ingin sekali menikah sayang, tapi Bu Nur belum dikasih tau jodohnya ma Alloh sie… Jadi harus bersabar aja”, ucapnya sambil tersenyum simpul.

“Lagian, ntar kalo Bu Nur nikah, trus kita ditinggal karena harus ikut suaminya, kita mau diajar sapa lagi dunk?” tanyaku ketus.

“Iya sie… Tapi bisa kan, suaminya Bu Nur suruh tinggal disini aja… Heheheh…” timpal Ani yang duduk disebelah Upik.

“Hehehe.. Udah kalian jangan ribut lagi. Dah sore, pulang yuk… Ana, kamu pulang jalan kaki atau dijemput?”, tanya Bu Nur padaku.

“Keliatane Ana jalan kaki aja bu”, jawabku singkat. Sapaan pendek yang ingin kudengar lagi sekarang.

Begitulah keseharian dari seorang guru ngajiku. Pagi hari berjualan sayur di pasar dan sorenya mengajar kami mengaji. Aku sering mengamati Bu Nur yang rumahnya memang tak jauh dari rumahku. Bajunya sedikit. Hampir apa yang akan dipakai esok hari aku bisa menebaknya. Dia selalu tampil di acara-acara resmi menggunakan baju terusan berwarna cokelat tua dengan bordir bunga kuning yang banyak di tiap sudut bajunya. Mungkin dengan memakai baju itu, dia merasa terlihat cantik. Dan memang Bu Nur cantik. Cantik akhlak. Tiba-tiba saja aku ingin mengenangnya. Guru yang sudah mendidikku dengan bijaksana. Entah bagaimana jadinya jika aku dibesarkan tanpa sentuhannya. Bapak ibuku yang sibuk luar biasa memberikan amanah untuk Bu Nur agar mengajariku tentang agama Islam. Itulah mengapa aku dekat dengan Bu Nur.

Aku ingat sore itu. Sore yang membuat hubunganku dengan Bu Nur sempat mengalami “jarak” beberapa waktu. Datang seorang lelaki dari Pulau Sumatra ke desa kami, Bangsal, Mojokerto. Jauh-jauh dari pulau seberang tak mungkin jika tanpa alasan. Menurut kabar yang kuperoleh setelah beberapa hari kedatangannya, tujuan si kakek sangatlah mulia. Lebih pantas jika lelaki itu dipanggil kakek. Iya, kakek. Umurnya sekitar 60 tahunan. Berhelai-helai uban menghiasi “mahkota”nya. Kumisnya pun memutih mengikuti rentanya suatu usia. Masjid di desa tempat si kakek berasal memerlukan guru ngaji dan ia mendapat informasi jika di Desa Bangsal banyak terdapat guru-guru ngaji pilihan seperti yang ia butuhkan.

Hampir tiap sore ketika aku mengaji bersama Bu Nur dan yang lainnya, Pak Rahmat, si kakek pendatang baru itu ikut nimbrung. Sebenarnya banyak sekali guru ngaji yang sedang mengajar di masjid At-Taqwa, tapi entah mengapa pandangannya tak lepas dari Bu Nur. Waktu itu aku cemburu. Iya, aku cemburu.

Perkenalan Bu Nur dan Pak Rahmat ini menimbulkan kesan tersendiri bagi masing-masing personal. Aku tau cerita ini dari gosip-gosip tetangga di dekat rumah. Bu Nur menghormatinya sebagai sosok yang lebih tua, sedangkan Pak Rahmat sendiri menghormati Bu Nur sebagai sosok wanita yang solikah. Setelah berhari-hari tinggal di Desa Bangsal, Pak Rahmat pun menunjuk Bu Nur sebagai guru ngaji yang ingin dibawanya ke Sumatra. Namun Pak Rahmat sadar, ada yang salah jika ia mengambil Bu Nur begitu saja. Berduaan selama di perjalanan akan menimbulkan banyak fitnah. Oleh karena itu, ia pun berkeinginan untuk menikahi perawan tua yang berumur 40 tahun tersebut.

Ketika Pak Rahmat menyampaikan keinginannya, bukan hanya Bu Nur saja yang terkejut. Aku pun sempat geregetan dan cemas. Bu Nur tak menduga jika diumurnya yang semakin menua, ada lelaki (kuulangi lagi, lebih tepatnya seorang kakek) yang ingin menikahinya. Dia bimbang dan tidak langsung mengiyakan. Perlu beberapa hari untuk memutuskan apakah dia terima atau tolak. Dan aku menangis mendengar hal itu. Aku cukup kesepian di lingkunganku sendiri. Aku tidak ingin Bu Nur meninggalkan seorang Ana yang masih belum puas menimba ilmu padanya.

“Bu Nur, jangan tinggalin Ana sendirian”, pintaku padanya dengan mata yang cukup panas di kedua pelupukku.

“Bu Nur tau sayang”, dia tidak berani melihatku sedikitpun.

“Tau apa Bu Nur?”, tanyaku yang sengaja menyisihkan waktu untuk bertandang kerumahnya.

“Tau kalo kau ga akan tinggal diam, pasti menahanku. Kau seorang gadis kecilku yang cerdas dan manja. Meskipun sekarang kau akan duduk di bangku SMA, bagiku kau tetap seorang gadis kecilku.”

“Hik… Bu Nur benar-benar akan pergi?”, tanyaku memastikan.

“Bu Nur menunggu istikharoh sayang. Yang sekiranya terbaik bagi Bu Nur akan Bu Nur jalani. Bukankah kau percaya takdir Alloh? Dan Bu Nur yakin Alloh akan memberikan pertanda yang indah bagi hambanya yang sabar.”

“Tapi dia seorang kakek-kakek Bu. Ibu yakin menerimanya?”

“Menikah adalah penyempurna suatu agama, sayang. Sekhusyuk apapun kita dalam beribadah, kalau belum menikah, maka kita hanya menjalankan separuh agama Islam saja. Tidak bisa maksimal. Suatu saat kau akan mengerti arti dari sebuah pernikahan. Jika saatnya tiba, Bu Nur ingin melihatmu bersanding di pelaminan terindah dengan lelaki pilihanmu, aku yakin kamu pasti cantik sayang.”

Dan aku segera memeluknya. Cukup lama aku sembunyi di ketiaknya. Waktu itu dia sangat harum sekali. Harum bau sabun Giv warna biru kesukaannya. Entah seberapa merah dan sembabnya wajahku saat itu, tapi aku benar-benar merasa kehilangan seorang guru, seorang kakak, serta seorang teman. Sesenggukkan yang tak selesai-selesai kala itu membuat Bu Nur ikut meneteskan air mata. Aku kangen Bu Nur. Dan tiba-tiba saja air mata ini tak bisa diajak kompromi. Album foto merah marun ini yang mengajakku bernostalgia dengan masa-masa silam menjadi sedikit lepek karena air.

Lebih kurang 25 hari proses dari pertemuan hingga akhirnya Bu Nur pergi bersama Pak Rahmat. Ya, Bu Nur menerima lamaran Pak Rahmat yang pantas dipanggil kakek. Aku masih ingat (mungkin itu adalah pertemuan terakhirku dengan Bu Nur), ketika dia akan menikah, banyak sekali ibu-ibu kampung yang menawarkan bantuan dalam menyambut pernikahannya. Pakaian serba putih dengan dihiasi payet lokal menghiasi tubuhnya ketika pernikahan itu tiba. Sandal “Bata” baru yang menurutnya paling bagus nampak pas di kedua kakinya yang berkaos kaki. Ibunya yang sudah tua sebenarnya ingin Bu Nur boyong ke Sumatra juga, tapi si mbah menolak. Dia menginginkan tinggal di Jawa, meminta salah seorang keponakannya untuk merawat. Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Hanya berbekal cinta pada sang Khalik, dia memberanikan diri untuk menerima Pak Rahmat. Apalagi yang dicarinya saat itu selain ridhaNya. Hasil istikharoh yang dilakukan pun menunjukkan bahwa Alloh memberikan restuNya.

Cukup lama aku bisa menerima keputusan Bu Nur, hingga disaat dia benar-benar akan berangkat meninggalkan desa kami. Aku benci perpisahan. Aku tidak mengantarkan kepergiannya. Naluriku menginginkan pelukan terakhir kali darinya, tapi rasanya pelukkan terakhir akan membuat diriku semakin lemah. Aku juga benci orang pamit pergi. Aku benci itu.

Seminggu setelah kepergian Bu Nur mengikuti cintaNya, ibu memberikan sepotong surat untukku.

Sabtu, 3 September 2003

Assalamu`alaikum Wr. Wb.

Ana ku, Anakku sayang.

Sayang… Maaf ya jika Bu Nur menyakiti perasaanmu. Bu Nur tau Ana sangat sayang dengan Bu Nur. Tapi rupa-rupanya Bu Nur harus memilih. Seperti katamu sayang, hidup adalah pilihan. Bu Nur tau suatu saat Ana akan mengerti perasaan ibu. Ibu akan selalu doain kamu nak. Pak Rahmat orang yang baik, dia menitipkan salamnya untuk Ana. Kalau ada rejek lebih, insyAlloh Bu Nur akan segera balik pulang. Seberapa jauh ibu pergi, ibu senantiasa mendoakan yang terbaik untukmu.

Sekali lagi maafin Bu Nur y nak. Senyum ya Ana ku, anakku sayang,,,,

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bu Nur

 

Dengan berjalannya waktu, aku mengetahui letak kesalahanku, menyesal. Aku membuat seseorang menjadi dilema. Andai saja waktu itu aku menjadi seorang Bu Nur, mungkin dia akan sangat nelangsa berpisah dengan murid yang sudah bertahun-tahun diajarnya, tapi di akhir ngajarnya malah mendapat perlakuan tidak sopan. Kini aku mengerti, kenapa Bu Nur menerima lamaran dari Pak Rahmat. Buku-buku agama yang mendongeng untukku membuatku paham arti cinta sebenarnya. Jika memang jodohnya, selalu dipermudah dan dipercepat. Hingga sekarang aku tak pernah mendapat kabar dari Bu Nur.

Bu Nur, Ana kangen Bu Nur. Sampai detik ini.



11 Responses to “25 Hari Menuju Penyempurnaan Agama”

  • indah faruk Says:

    ,,
    wew..
    nggak ada yang akan tau kan siapa yang akan menjadi pasangan hidup kita.
    entah tua entah muda..
    semoga dia yang terbaik lah buat kita..

  • cencen Says:

    bagus ukh.. ^^
    btw.. Mbak Ummi yang pernah kuceritain dulu sudah nikah lo hari sabtu kemaren.. Suasana pernikahan bener bener beda.. Banyak yang haru akan “jihad” nya mbak ummi.. 🙂 Semoga niat menikah nya bener bener jalan yang benar di sisiNya ya ukh.. dan semoga itu yang terbaik.. untuk keduanya dan bisa membawa kebaikan untuk semua :D. amien..

  • laila Says:

    Jadi teringat masa kecil….=( kalau ada mba’ yang mau nikah dan boyongan pasti aku ngambek lama..

  • diva Says:

    @indah faruk:amien….. ^^
    @cencen:oiya?bener2 beda gmn?dia kan inspirasi dari cerita ini…tapi tak ambil dari sudut pandang yg berbeda..hehehehe…
    insyAlloh membawa kebaikan utk semua…amien… 🙂
    @laila:iya la…kalo kita sayang bgt ma seorang wanita…kalo ditinggalin pasti ga rela..pngennya gag boleh pergi aja…ternyata sama aja ya, namanya juga anak bungsu.. ;p

  • laila Says:

    Ironically, ada 50 mba’ yang meninggalkan aku n ga balik lagi….dan aku sampe ngambek n marah berhari-hari….=(((( itu kata mereka =D pas ke ke nikahanku….=P aku udah lupa wajah mereka..jadi malu…=P

  • diva Says:

    @laila:hehehe…iya sech..”mbak” mu banyak ya…

  • laila Says:

    aku dulu kan gak kopen dif…mesakne yo…=D

  • diva Says:

    @laila:hehehe..podo…aku yo ra kopen kok..biasa anak terakhir ki yo nggene ki… 🙂

  • chiquit Says:

    rin,,
    udah pernak coba kirim cerpen2 kamu ke penerbit?
    gagas media ato mizan gt?

    tulisan kamu layak dibaca dan dititipkan di rak2 nya gramedia tuh.. ^^

  • diva Says:

    @chiquit:ke penerbit?belum pernah mbak….masih belum pede..tapi suwun atas semangatnya.. ^^

Leave a Reply